Selamat

Selasa, 5 Juli 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

23 Juni 2022

20:51 WIB

Menimbang Investasi Dengan ESG

Investor bisa menyusun portofolio investasi berdasarkan kinerja ESG (Environmental, Social and Governance) karena dianggap memiliki dampak keuangan material pada organisasi atau perusahaan.

Editor: Fin Harini

Menimbang Investasi Dengan ESG
Ilustrasi investasi. Shutterstock/dok

JAKARTA – Lanskap investasi dan pembiayaan kini telah bergeser. Investor menjadikan penerapan Environmental, Social and Governance (ESG) sebagai alat ukur bagi keberlanjutan sebuah usaha.

Dalam publikasi Ernst & Young (EY) di 2019, investor memasukkan ESG ke dalam keputusan investasi di tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Studi itu menunjukkan 97% investor global memasukkan ESG dalam pengambilan keputusan investasi pada tahun 2018, dibandingkan dengan 78% di 2017.

Senada, studi yang dilakukan Capital Group menyebutkan secara keseluruhan adopsi ESG meningkat. Di 2022, sebanyak 26% investor global menyatakan ESG menjadi bagian penting dalam menentukan investasi. Persentase ini memang menurun dibandingkan 2021 sebanyak 28%. Namun, persentase investor yang telah menerapkan ESG dalam berinvestasi meningkat menjadi 34%, naik dibandingkan 32% di 2021. Lantas, investor yang mempertimbangkan penerapan ESG dalam investasi menjadi 29%, meningkat dibandingkan 24% di 2021.

“Secara keseluruhan, porsi investor global yang mengadopsi ESG naik menjadi 89% dibandingkan 84% di 2021,” tulis kajian Capital Group tersebut.

Baca Juga: Ketua Perbanas: Pandemi Tingkatkan Penerbitan ESG Bonds

Apa itu ESG?
Dari publikasi EY, ESG adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi hal-hal yang secara tradisional dapat dikaitkan dengan keberlanjutan atau tanggung jawab perusahaan. Ketiganya, yakni lingkungan, sosial, dan tata kelola dianggap memiliki dampak keuangan material pada organisasi atau perusahaan, baik jangka pendek dan jangka panjang.

isu-isu seperti efisiensi energi, keselamatan pekerja, dan kemandirian dewan direksi perusahaan memiliki implikasi finansial. Tetapi, hal tersebut tidak disorot selama tinjauan keuangan tradisional.

Karena itu, munculah peringkat ESG untuk mengukur eksposur perusahaan terhadap risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola jangka panjang. Risiko-risiko ini akan melengkapi investor dalam melakukan analisis keuangan karena memberikan pandangan yang lebih luas tentang potensi jangka panjang perusahaan.

Menurut Motley Fool, peringkat ESG yang baik berarti perusahaan mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola dengan baik dibandingkan dengan perusahaan sejenis. Peringkat ESG yang buruk adalah kebalikannya -- perusahaan memiliki eksposur risiko ESG yang relatif lebih tinggi.

Salah satu sistem peringkat ESG yang paling banyak dirujuk adalah skor MSCI ESG. MSCI menilai sekitar 8.500 perusahaan dan lebih dari 680.000 sekuritas pendapatan tetap dan ekuitas secara global, termasuk ESG fund.


Ilustrasi investasi. Shutterstock/dok 

Pengukuran Skor ESG
Landasan skor MSCI ESG adalah kerangka isu utama yang mengukur risiko di 10 kategori bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Pertimbangan untuk skor lingkungan
Masalah lingkungan utama MSCI termasuk dalam kategori perubahan iklim, modal alam, polusi dan limbah, dan peluang lingkungan.

Perubahan iklim:
Emisi karbon
Jejak karbon produk
Pembiayaan dampak lingkungan
Kerentanan perubahan iklim

Modal alam:
Sumber air
Keanekaragaman hayati dan penggunaan lahan
Sumber bahan baku

Pencemaran dan limbah:
Emisi dan limbah beracun
Bahan kemasan dan limbah
Limbah elektronik

Peluang lingkungan:
Teknologi bersih
Bangunan hijau
Energi terbarukan

Baca Juga: BEI Dan KEHATI Luncurkan Dua Indeks ESG Baru

Pertimbangan untuk skor sosial
Terdapat empat kategori untuk skor sosial yaitu modal manusia, kewajiban produk, oposisi pemangku kepentingan, dan peluang sosial.

Modal manusia:
Bagaimana tenaga kerja dikelola
Praktik dan protokol kesehatan dan keselamatan
Pelatihan pekerja
Standar tenaga kerja rantai pasokan

Tanggung jawab produk:
Keamanan dan kualitas produk
Keamanan bahan kimia
Perlindungan keuangan konsumen
Privasi dan keamanan data
Investasi yang bertanggung jawab
Mengasuransikan risiko kesehatan dan demografi

Oposisi pemangku kepentingan:
Sumber kontroversial
Hubungan masyarakat

 Peluang sosial:
Akses komunikasi
Akses ke keuangan
Akses ke layanan kesehatan
Peluang dalam nutrisi dan kesehatan

Baca Juga: BEI Dorong Penerapan ESG Bagi Pelaku Bisnis di Indonesia

Pertimbangan untuk skor tata kelola
MSCI membagi tata kelola menjadi dua kategori yaitu tata kelola perusahaan dan perilaku perusahaan.

Tata kelola perusahaan:
Komposisi dewan dalam hal keragaman dan kemandirian
Kompensasi eksekutif
Kepemilikan
Praktik akuntansi

Perilaku perusahaan:
Etika bisnis
Transparansi pajak

Capital Group menyebutkan, meningkatnya kecanggihan investor ESG juga dapat dilihat dari sikap terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) PBB. Hampir sepertiga mengatakan kemampuan untuk melaporkan SDG tertentu adalah salah satu elemen terpenting dari fund sustainability reporting.


Ilustrasi investasi. Shutterstock/dok 

 Penilaian Peringkat ESG
Dalam penilaian peringkat ESG, penilaian tidak disamaratakan untuk semua industri. Contohnya, yang dilakukan oleh MSCI berikut:

1. Penilaian didasarkan pada masalah utama masing-masing industri. Misalnya, penilaian terkait bahan kemasan dan sampah menjadi masalah utama perusahaan minuman ringan, dan bukan menjadi masalah utama bagi perusahaan infrastruktur.
2. Perusahaan akan dinilai berdasarkan performa pada masing-masing masalah utama terkait industrinya.
3. Terdapat pembobotan masalah utama. MSCI mempertimbangkan isu-isu utama sesuai dengan timeline dan potensi dampaknya. Isu-isu yang dapat memiliki dampak lingkungan atau sosial yang besar dalam dua tahun memiliki bobot tertinggi. Masalah dengan potensi dampak yang lebih rendah dan jangka waktu lima tahun atau lebih memiliki bobot terendah. Keselamatan pekerja di lingkungan manufaktur, misalnya, menghadirkan risiko langsung dengan konsekuensi keuangan dan hukum yang parah. Itu akan membenarkan bobot yang lebih berat.
4. Skor masalah dan bobot digabungkan untuk menghasilkan skor numerik yang disesuaikan dengan industri dari 0 hingga 10 untuk perusahaan yang diperingkat.


Baca Juga: BRI Terbitkan Green Bond Rp5 Triliun

Memanfaatkan ESG Untuk Investasi
Investor pasar modal bisa menggunakan penilaian ESG saat berinvestasi, yakni dengan menambahkan tinjauan ESG ke dalam proses investasi tradisional. Ada beberapa pendekatan menggunakan penilaian ESG ke dalam pengambilan keputusan investasi:
- Menggunakan peringkat ESG untuk melengkapi analisis keuangan. Tinjauan ESG memberi investor lebih banyak wawasan tentang risiko yang dihadapi perusahaan di masa mendatang.
- Menggunakan peringkat ESG sebagai saringan, misalnya berinvestasi hanya pada jenis saham perusahaan yang merupakan warga korporat yang baik dan berkomitmen pada praktik bisnis yang berkelanjutan. Dalam hal ini, meninjau peringkat LST akan menjadi langkah pertama dalam proses investasi. Setiap perusahaan yang tidak memenuhi standar tidak akan menjadi kandidat untuk masuk dalam portfolio investasi.
- Menggunakan peringkat ESG untuk menambah wawasan tentang perusahaan yang sahamnya sudah dimiliki. Perubahan negatif dalam peringkat ESG akan menjadi tanda bagi investor untuk menyelam lebih dalam dan mencari tahu alasannya.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

BKKBN Fokus Tekan Angka Stunting Indonesia Dengan Kolaborasi

MA Rekrut Hakim Ad Hoc Tipikor

Emas Antam Mentok Di Level Rp989.000/gram

Jam Malam Anak Efektif Di Yogyakarta

Legenda Bob Tutupoly Tutup Usia

R&I Pertahankan Peringkat Utang Indonesia

Presiden Ingatkan Hukum Dan Keadilan Harus Dirasakan Nyata

DPR Minta Pemerintah Akomodasi Petani Sawit Ekspor TBS