Selamat

Selasa, 5 Juli 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

24 Juni 2022

19:28 WIB

Menanamkan Pemahaman Investasi Sejak Dini

Dengan memulai pelajaran investasi sejak dini, bahkan dari usia 3 tahun, membuat anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang lebih siap serta cerdas finansial.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

Menanamkan Pemahaman Investasi Sejak Dini
Ilustrasi anak berinvestasi. Shutterstock/Dok

JAKARTA - Setiap orangtua pasti mendamba masa depan anaknya yang jauh lebih menjanjikan. Tak hanya di sisi pendidikan dan kesehatan, orang tua juga menginginkan anaknya pasti stabil secara finansial di masa depan.

Kepintaran finansial akan berpengaruh positif pada kehidupan dalam horison si anak yang lebih panjang. Salah satu hal, yang bisa menunjang stabilitas keuangan tersebut adalah investasi.

Sejatinya, mengenalkan anak untuk berinvestasi itu penting, karena pelajaran keuangan tidak diajarkan di sekolah. Padahal keuangan adalah suatu hal fundamental bagi manusia untuk bertahan hidup.

Tidak ada kata terlalu cepat bagi anak untuk mengerti mengenai keuangan. Menurut Melanie Mortimer, dengan memulai pelajaran investasi dari usia 3 tahun, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang lebih siap serta cerdas finansial.

Bahkan, Melanie yang mengepalai yayasan Securities Industry Financial Markets Association (SIFMA) juga menilai, anak kelas empat atau usia 9-10 tahun merupakan 'sweet spot' untuk mulai belajar tentang investasi.

Salah satu cara yang bisa digunakan, misalnya mengajari anak soal konsep saham perusahaan dengan irisan kue.

Mortimer berujar, siswa memiliki kapasitas untuk memahami konsep dasar yang membuat pasar global bekerja, seperti memiliki sebagian kecil dari perusahaan dan memperdagangkan saham.

“Ini adalah waktu yang luar biasa untuk pertumbuhan otak yang cepat. Ada begitu banyak pelajaran yang belum dipelajari siswa, sehingga mereka tidak melupakannya,” kata Mortimer.

Bahkan, mempelajari tentang uang saat muda dapat bermanfaat bagi perekonomian nasional. Temuan Bank Dunia, tidak melatih kaum muda untuk menangani keuangan dapat merugikan negara sebesar 2% dari PDB-nya.

Karena itu, menurutnya, intervensi ilmu keuangan pada anak memiliki manfaat jangka panjang terbesar karena meletakkan dasar. Lambat laun, hal ini akan membuka pintu bagi kaum muda untuk membuat keputusan dengan baik di kemudian hari.

Baca Juga: Tips Memulai Investasi Di Tahun Macan Air

Adapun mengutip radio edukasi Kemdikbud, waktu yang cocok untuk mengenalkan investasi adalah setelah anak menguasai ilmu berhitung tambah, kurang, kali dan bagi; dengan jumlah yang cukup besar. Setelah itu, dapat dimulai untuk pembelajaran menabung dan investasi.

Nah, cara mengenalkannya bisa dengan memberikan anak pengetahuan tentang cash flow, saving dan investasi. Sehingga, mereka bisa mempersiapkan tujuan keuangan masa depan yang sesuai dengan profil, kebutuhan dan kondisi keuangan. 

Awalnya memang dimulai dengan menabung, tetapi harus ditambah dengan pengetahuan dan cara mengembangkannya, agar nilai tabungan tidak digerus inflasi. Selain itu, hasil investasi akan bermanfaat sebagai alat keuangan membiayai kebutuhan masa depan.

Dalam kasus konkret, para orang tua bisa menengok pengalaman hidup investor kawakan AS Warren Buffet, dalam mengajari hingga mengajak anak berinvestasi.

Pada usia 11 tahun di 1941, Warren membeli saham pertamanya sebanyak enam lembar dari rekomendasi Cities Service. Masing-masing tiga lembar saham untuk dirinya dan saudara perempuannya Doris, dengan harga saham US$38/lembar. 

Saham perusahaan sempat jatuh ke US$$27, tetapi segera naik kembali ke US$40. Warren dan Doris menjual saham mereka, ketika harga sahamnya mampu mencapai lebih dari US$200/saham.

Belajar Bertahap
Founder Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan, tidak ada salahnya anak-anak belajar tentang investasi untuk mengetahui konsep, cara kerja, hingga mempelajari risikonya. Dalam tataran yang lebih rumit, pembelajaran juga bisa diperluas ke cara memperbesar keuntungan dan lainnya.

"Sudut pandang kami adalah investasi itu seperti kendaraan kita untuk mencapai dan mewujudkan mimpi-mimpi atau tujuan keuangan kita," kata Melvin kepada Validnews, Jumat (24/6).

Lebih lanjut, pembelajaran yang sama bisa membuat anak bisa lebih dahulu mengetahui fundamental untuk berinvestasi. Dengan pemahaman fundamental yang kuat, anak tidak akan bingung menghadapi instrumen investasi yang semakin bervariatif saat ini dan mungkin di masa depan yang begitu dinamis.

Cara yang sama juga bisa mencegah seseorang mengalami kerugian investasi bodong yang marak seperti saat ini. Dengan sendirinya, pemahaman seseorang atas berbagai macam risiko investasi bisa semakin mantap.

"Karena kalau sudah kuat fundamental, (pengetahuan) produk (investasi) jauh lebih gampang," ujarnya.

Baca Juga: Tips Terhindar Dari Investasi Bodong

Dari sini, anak juga bisa diperkenalkan dengan ekosistem investasi yang beragam. Antara lain investasi saham di pasar modal, reksadana, surat utang berharga atau obligasi, kemudian peer to peer lending dan investasi lainnya.

Agar lebih menarik perhatian dan minat anak belajar, para orang tua bisa menggunakan sarana pembelajaran investasi via bermain gim interaktif. Finansialku sendiri pernah menjabarkan sejumlah gim online interaktif sebagai sarana belajar investasi untuk anak.

Apalagi, saat ini Bursa Efek Indonesia terus melakukan beragam cara untuk meningkatkan jumlah investor di pasar modal. Selain edukasi dan sosialisasi, kini BEI bekerja sama dengan OJK menggunakan strategi permainan untuk menjaring investor muda.

Jumlah investor pasar modal Indonesia yang tercatat di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus meningkat, bahkan telah menembus 8,62 juta hingga akhir April 2022. Jumlah ini tercatat naik 15,11% dari posisi akhir tahun 2021 lalu, yakni sebesar 7,48 juta.

Laporan yang sama menunjukkan, sektor finansial masih menjadi pilihan favorit bagi investor gen Z dan milenial untuk berinvestasi, disusul dengan saham dari sektor infrastruktur.

Data yang sama juga menunjukan, investor dengan latar pendidikan terakhir SMA semakin banyak yang tertarik untuk berinvestasi di pasar modal.
 
 Secara demografi dilihat dari tingkat pendidikan, jumlah investor pasar modal didominasi oleh investor dengan pendidikan terakhir SMA yang mencapai persentase sebesar 60,57%, dengan nilai aset saham Rp160,69 triliun serta nilai aset reksadana Rp38,08 triliun.


Ilustrasi Investasi. Shutterstock/dok 

Mulai Dari Risiko Rendah
Kepada Validnews, Perencana Keuangan Imelda Tarigan menyebut, aktivitas investasi itu bisa dimulai sejak sekarang, oleh siapapun, dan usia berapapun. Dengan catatan sudah memahami betul kandungan risiko dalam kegiatan investasi.


Risiko investasi adalah kondisi di mana investor berpotensi mengalami kerugian dari aktivitas investasi. Dengan kata lain, keuntungan atau imbal hasil yang diharapkan dari investasi tidak sesuai.

Dalam hal ini, risiko investasi berbanding lurus dengan imbal hasil investasi. Jika keuntungan investasi tinggi, maka risikonya tinggi. Begitu pun sebaliknya, apabila keuntungan investasi rendah, umumnya risikonya pun rendah.

Selain itu, penting bagi investor untuk mengenali dan memahami profil risiko investasi. Hal itu bermanfaat dalam menentukan produk investasi apa yang paling cocok dengan kebutuhan investor dan profil risiko tersebut.

Terpenting, investasi harus jadi gaya hidup seseorang, dan bukan sekadar ajang ikut-ikutan saja. Artinya, jika ada anak kelas 4 SD sudah mengerti risiko berinvestasi, maka dia sah-sah saja memulai berinvestasi dengan menyisihkan uang sakunya.

Adapun, investor cilik juga bisa menginvestasikan dananya seberapapun nominalnya. "Meskipun mulai berinvestasi dari Rp 10.000, misalnya. Jadi harus paham risiko investasi sebelum mulai berinvestasi," sebut Imelda kepada Validnews, Kamis (23/6).

Imelda terus menekankan, semua pemodal mesti mengetahui potensi negatif semua investasi pasti ada risiko. Dirinya pun menyarankan, agar investor pemula bisa memulai petualangan investasinya dengan memilih instrumen investasi yang paling rendah risikonya, seperti tabungan emas.

Baca Juga: Stop Ikut-ikutan, Ini Tips Investasi Di Pasar Modal Ala OJK

Melvin juga berujar, investor yang mau menyeriusi kegiatan investasi akan lebih terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Dengan begitu, akan mudah menyusun rencana investasi yang akan dijalani selanjutnya.

"Contoh berapa yang harus diinvestasikan setiap bulan? Berapa target investasinya? Kemudian, berapa risiko maksimalnya? berapa periode investasinya? Dan lain sebagainya," papar Melvin.

Karena itu, hendaknya sebelum berinvestasi, seseorang sudah mengamankan keuangannya sebagai persyaratan dasar untuk meminimalisir dampak risiko yang bakal ditanggung. Pertama, pastikan pemasukan lebih besar daripada pengeluaran.

Kedua, mempunyai dana darurat atau tabungan untuk hidup kurang lebih 6 sampai 12 kali pengeluaran bulanan. "Nah. dana darurat itu boleh disimpan di tabungan, deposito, logam mulia Antam, atau juga reksadana pasar uang," jabarnya.

Ketiga, jika memungkinkan investor juga bisa terlebih dahulu melunasi hutangnya, terutama utang konsumtif. Setidaknya, kondisi utang itu dalam kondisi sehat; cicilan maksimal 35% dari penghasilan. "Terakhir, punya asuransi untuk proteksi," pungkasnya.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

BKKBN Fokus Tekan Angka Stunting Indonesia Dengan Kolaborasi

MA Rekrut Hakim Ad Hoc Tipikor

Emas Antam Mentok Di Level Rp989.000/gram

Jam Malam Anak Efektif Di Yogyakarta

Legenda Bob Tutupoly Tutup Usia

R&I Pertahankan Peringkat Utang Indonesia

Presiden Ingatkan Hukum Dan Keadilan Harus Dirasakan Nyata

DPR Minta Pemerintah Akomodasi Petani Sawit Ekspor TBS