Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

18 Mei 2022

17:53 WIB

Museum Dan Pengetahuan Untuk Umum

Sampai sejauh mana museum di Indonesia berkembang dan mencapai tujuan dari dicanangkannya Hari Museum Internasional pada 1977?

Penulis: Ixora Lundia Suwaryono, M.S.,

Editor: Faisal Rachman

Museum Dan Pengetahuan Untuk Umum
Ilustrasi. Pengunjung Museum Wayang di Kota Tua, Jakarta. dok.Shutterstock

Mungkin banyak yang tak menyadari bahwa setiap 18 Mei, seluruh dunia merayakan Hari Museum Internasional yang dikoordinasi oleh International Council of Museums. Padahal, momen tahunan ini seolah mengingatkan kita mengenai peran museum dalam kehidupan dan pendidikan.

Pertanyaannya, sudahkah museum menjadi bagian penting dalam kehidupan, seperti pada awal keberadaannya di masa lalu? Sampai sejauh mana museum di Indonesia berkembang dan mencapai tujuan dari dicanangkannya Hari Museum Internasional di tahun 1977?  

Dari sisi etimologi, kata museum yang berasal dari masa Yunani Kuno merujuk pada tempat untuk berkontemplasi. Demikian pula pada bahasa latin yang mendapat diartikan sebagai tempat untuk belajar dan berdiskusi.

Setiap tahunnya, ICOM (International Council of Museums) mengajak seluruh museum di dunia untuk merayakan hari tersebut dengan mengadakan berbagai kegiatan yang menarik di museum. Tujuan awal dari hari museum sendiri, pada dasarnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran museum dalam perkembangan masyarakat.

Museum adalah bagian penting dari terjadinya interaksi budaya. Dengan memahami budaya yang berbeda, maka pada saat terjadi interaksi antar budaya, tercapai pula rasa saling memahami dan menghormati, sehingga konflik pun dapat dihindari.

Pada tahun ini, dengan mengusung  tema “The Power of Museums” yang bermakna kekuatan dari museum untuk mengubah dunia dan lingkungan sekitar kita, museum diharapkan dapat menjadi tempat belajar. Termasuk mengenai masa lalu dan membuka mata serta akal untuk masa depan yang lebih baik.

Konkretnya, museum harus dapat menjadi agen perubahan yang positif, memupuk kedekatan dengan masyarakat sekitarnya dan mendorong interaksi budaya yang baik sebagai katalisator kehidupan yang damai di masyarakat.

Dari sisi global, dapat dilihat budaya adalah materi penting yang perlu dipahami dan museum memiliki peranan utama untuk menyampaikannya. Sayangnya, seperti kita ketahui, di Indonesia kesadaran akan pentingnya museum belum terbangun secara kokoh, sehingga diperlukan upaya untuk membangun fondasi tersebut dari tingkat dasar.

Mayoritas masyarakat Indonesia pada dasarnya telah menyadari pentingnya pendidikan. Hanya saja, pendidikan yang dimaksud sebatas pendidikan dalam bentuk formal di sekolah. Masyarakat cenderung abai pada bentuk pendidikan lain yang tidak berkontribusi pada nilai atau peringkat yang diperoleh di sekolah.

Berkaitan dengan hal ini, maka perlu didorong implementasi dari Merdeka Belajar yang menyinergikan pendidikan dari sisi sekolah, perguruan tinggi, pusat penelitian, sampai museum. Dengan demikian maka dapat dikembangkan berbagai program edukatif bagi para siswa dan masyarakat.

Tak Dianggap Penting
Masyarakat Indonesia yang berkunjung ke museum sendiri jumlahnya tak banyak. Dalam setahun, frekuensi mereka yang berkunjung  ke museum, sebagian besar bisa dihitung dengan jari atau bahkan hanya beberapa kali saja sepanjang hayatnya.

Bukan masalah biaya, mengingat tarif masuk museum di Indonesia sangat terjangkau karena umumnya disubsidi, tetapi manfaat yang mereka peroleh dari kunjungan tersebut belum dianggap sebagai bagian penting dalam kehidupannya. Belum lagi, citra museum yang old school, lawas dan kurang kekinian sudah lama terpatri di benak banyak orang.

Padahal, dengan sentuhan kekinian, minat masyarakat untuk berkunjung ke museum tak selamanya rendah. Tengok saja, pada kenyataannya, kuota tiket untuk pameran di Ruang Imersif Museum Nasional Indonesia selalu habis dalam beberapa jam saja tiap pekannya.

Di ruangan tersebut dipamerkan proyeksi video alam dan budaya Indonesia yang dilengkapi dengan tata suara yang memberikan pengalaman menarik bagi para pengunjung. Jika ditarik kembali ke tema Hari Museum Internasional tahun ini, bisa dibilang inovasi dalam bentuk digitalisasi kekinian, jadi kekuatan baru museum untuk mendongkrak kunjungan.

Museum Nasional Indonesia sendiri, memang  memberikan pelayanan tur virtual yang memberikan akses untuk melihat koleksi museum, kepada seluruh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Pendeknya, tanpa pergi ke bangunan museum, orang dari mana saja bisa berwisata menengok koleksi museum lewat teknologi virtual dengan view 360°.

Penggunaan teknologi semacam ini, tentu menjadi solusi mempertahankan eksistensi museum di tengah perkembangan digital yang cepat. Tapi, bagaimana dengan museum-museum lain yang tidak dapat mengejar ketertinggalan menggunakan teknologi digital  yang butuh anggaran tak sedikit.

Bagaimana museum dapat menawarkan kegiatan yang edukatif bagi masyarakat , tanpa anggaran atau pendanaan yang memadai?

Harus diakui, di kota besar seperti Jakarta, museum yang dianggap menarik sering kali diasosiasikan dengan tampilan modern dan mengintegrasikan teknologi tinggi. Masyarakat sering kali silau dengan tampilan yang estetik sebuah museum, agar bisa dipamerkan di media sosial.

Hal ini memaksa museum terus berbenah untuk tampil kece dan lebih kekinian alias instagramable. Seolah tanpa hal-hal tersebut, museum akan ditinggalkan.

Museum pun seolah dituntut untuk sekadar memenuhi keinginan masyarakat, tanpa punya banyak daya untuk memaksa masyarakat ikut terlibat dan berkontribusi kepada museum yang ada di lingkungannya, sebagaimana terdapat pada Pasal 52-55 PP 66 Tahun 2015 tentang Museum.

Romantisme Masa Lalu
Perlu diketahui, jika dibandingkan dengan Singapura, misalnya, maka jumlah dan keberagaman koleksi yang dimiliki oleh museum-museum di Indonesia sejatinya  jauh lebih banyak dan beragam. Selain itu, dari sisi teknologi, beberapa museum di Indonesia juga telah mengintegrasikan teknologi maju, seperti menggunakan kode QR untuk menampilkan informasi koleksi dan implementasi AR (Augmented Reality) yang dapat memberikan ilustrasi yang lebih menarik mengenai suatu koleksi.

Tapi, formula tersebut nyatanya tak 100% manjur. Inovasi-inovasi lain yang lebih melibatkan ‘rasa’ dan romantisme juga tetap perlu dieksplorasi.

Seperti halnya yang dilakukan oleh National Museum of Singapore misalnya. Penggabungan unsur kekinian dengan romantisme masa lalu dipadukan lewat salah satu program edukasi yang digelar 26 Desember 2021 hingga 31 Desember 2022, bertajuk “Dear Senior: A Digital Inter-generational Pen Pal Corner”.

Bentuk dari program tersebut adalah semacam sahabat pena yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan masa sekarang. Pada kegiatan tersebut, anak-anak (generasi muda) berkomunikasi dan belajar langsung dari para lansia tentang kehidupan pada masa lalu.

Anak-anak yang berkunjung ke museum dapat menuliskan pertanyaan di lembar kartu pos yang disediakan. Kemudian, pihak museum akan menyampaikan kartu pos tersebut kepada para lansia (yang tinggal di panti werdha), yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Selanjutnya, museum akan menayangkan kartu-kartu yang berisikan pertanyaan dan jawaban tersebut secara daring di laman web. Misalnya, seorang anak yang berusia 7 tahun bertanya, “apa yang suka ditonton pada zaman dulu?” dan dijawab oleh lansia berusia 75 tahun, “saya suka menonton opera Teo Chew”.

Dari hasil tanya jawab tersebut, terlihat bentuk hiburan beberapa dekade lalu telah jauh berbeda dengan masa sekarang. Anak-anak selain mempelajari suatu koleksi dari masa lalu di museum, juga memperoleh pengalaman interaktif dengan para saksi sejarah tersebut atau dibawa ikut merasakan pengalaman para senior.

Satu catatan penting, program tersebut bukan semata-mata bagian dari program edukasi kunjungan anak sekolah ke museum. Di balik hal tersebut, kita dapat memperoleh dampak positif di masa yang akan datang.

Bagi para warga berusia lanjut, dampak positif yang mereka rasakan adalah kebahagiaan memperoleh perhatian dari lingkungannya, menjadi teladan dan orang tua yang dihormati, serta dapat mengurangi demensia (pikun) saat mereka menuliskan pengalaman masa kecilnya.

Di sisi lain, anak-anak memeroleh pembelajaran karakter sejak usia dini, mengajarkan untuk menghargai (respect) kepada orang tua, memahami kondisi kehidupan di zaman dahulu yang berbeda dengan masa kini. Termasuk menghormati perjuangan dan sejarah bangsa, menghargai perbedaan, dan secara tidak langsung juga mengasah motorik saat menulis dengan tangan.

Jika dicermati, Museum di Indonesia memiliki potensi yang besar, terutama dari segi koleksi, untuk dikembangkan. Mengikuti perkembangan zaman yang modern memang diperlukan untuk membuat museum menjadi lebih menarik.

Namun, hal yang lebih mendasar adalah mengembangkan kekuatan museum sebagai agen perubahan yang positif, untuk mendorong berkembangnya pendidikan bagi masyarakat. Nah, hal ini perlu didukung oleh berbagai pihak, terutama masyarakat dan keterlibatan berbagai komunitas.

Keterlibatan masyarakat dapat menjadikan museum lebih dinamis, sekaligus akan terintegrasi dengan berbagai institusi pendidikan lainnya. Selamat Hari Museum Internasional 2022!

*) Penulis merupakan Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan merupakan cerminan kebijakan institusi tempat penulis bekerja.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER