Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

OPINI | Validnews.id

OPINI

14 Juni 2022

20:50 WIB

Memulihkan Ekonomi Dengan Teknologi Daring

Di tengah pandemi yang belum sepenuhnya usai, pertumbuhan ekonomi nasional kian menunjukkan perbaikan.

Penulis: Nugroho Pratomo,

Editor: Rikando Somba

Memulihkan Ekonomi Dengan Teknologi Daring
Foto pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Jumat (10/12/2021). ANTARAFOTO/Galih Pradipta

Meredanya pandemi covid-19 telah membuka harapan bagi masyarakat luas untuk kembali melakukan berbagai kegiatan ekonominya. Bagi masyarakat yang selama dua tahun terakhir lebih sering melakukan berbagai aktivitas secara daring, maka seiring dengan perubahan kondisi ini berbagai aktivitas yang memerlukan tatap muka langsung dapat kembali dilakukan. 

Teknologi Daring
Selama beratus-ratus tahun atau bahkan mungkin semenjak awal peradaban manusia di muka bumi ini, relasi sosial manusia berlangsung dengan cara bertatap muka. Termasuk di dalamnya yang terkait dengan kegiatan ekonomi dan bisnis. Dalam sejarahnya, manusia bahkan dengan bersusah payah menyeberangi lautan untuk dapat melakukan ekspansi demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Hingga pada akhirnya kita mengenal apa yang disebut dengan kolonialisme dan imperialisme. Semuanya dilakukan untuk mendapatkan sumberdaya dan membuka pasar baru bagi produk-produknya. Hal ini terjadi terutama setelah terjadinya revolusi industri.

Perubahan cara berproduksi pascarevolusi industri hingga pada semakin berkembangnya teknologi digital atau yang kemudian banyak disebut sebagai revolusi industri 4.0, disadari atau tidak telah turut mengubah cara manusia berinteraksi sosial. Demikian pula dalam melakukan aktivitas ekonomi dan bisnis. 

Menjelang akhir abad ke-20 hingga memasuki abad ke-21, manusia di seluruh dunia telah semakin mengenal apa yang disebut dengan e-commerce. Berbagai bentuk transaksi dilakukan secara daring. Hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya berbagai situs perdagangan daring hingga kini makin meluasnya pemanfaatan market place. Selain untuk keperluan transaksi perdagangan barang, kini berbagai produk jasa juga semakin memperluas pemanfaatan mekanisme daring. 

Salah satu hasil penelitan yang dilakukan terkait pemanfaatan e-commerce dan penggunaan media sosial dalam pemasaran produk-produk UMKM menyebutkan bahwa terdapat peningkatan penjualan sebesar 10-50%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa keuntungan yang diterima oleh UKM berkorelasi sangat kuat dengan adopsi dari Teknologi Informasi. 

Lebih lanjut lagi, penelitan ini juga menunjukan bahwa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terkait penggunaan marketing online yang digunakan, UMKM yang berhasil meningkatkan penjualan hingga lebih dari 100%.  Karenanya penerapan marketing online sebagai salah satu kekuatan pemasaran dan komunikasi informasi UMKM. Mereka juga selalu melakukan pengkinian informasi produk dan perusahaan setiap hari. Sedangkan UMKM dengan peningkatan penjualan kurang dari 50%, sebagian besar disebabkan mereka masih relatif jarang melakukan update informasi dengan frekuensi update mingguan bahkan bulanan (Mukhsin, 2019).

Pemulihan Ekonomi
Hingga terjadinya lockdown di berbagai belahan dunia akibat pandemi Covid 19, pada akhirnya juga turut mempercepat meluasnya pemanfaatan mekanisme daring tersebut. Begitu pula dengan pemanfaatan berbagai bentuk media sosial terutama dalam rangka pemasaran produk.

Memang, selama pandemi, cara manusia beraktivitas telah mengalami perubahan yang drastis. Hampir semua aktivitas manusia di hampir seluruh belahan dunia ini telah berlangsung secara daring. Bahkan tidak sedikit yang harus berhenti sama sekali.Hal ini tentunya sangat berdampak negatif pada banyak sektor ekonomi dan bisnis. 

Berdasarkan laporan BPS tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa di tahun 2020 ketika covid dinyatakan resmi menjangkiti Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami minus hingga mencapai -2,07%. Jika dilihat per sektor, maka sektor transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan terendah, yaitu -15,05%. 

Sektor lapangan usaha lain yang mengalami pertumbuhan minus antara lain adalah penyediaan akomodasi dan makan minum  -10,26%. Sementara beberapa sektor lainnya yang mengalami pertumbuhan minus besarannya “hanya“ mencapai -5%. Sebagai perbandingan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mencapai 5% dan tahun 2021 sebesar 3,7% (BPS, Berita Resmi Statistik, 2022). 

Anjloknya pertumbuhan di beberapa sektor tersebut memang merupakan dampak secara langsung kebijakan lockdown yang dikeluarkan oleh pemerintah. Keterbatasan berbagai pihak untuk melakukan berbagai aktivitas ekonomi dan bisnis di luar rumah, sudah pasti menjadi penyebab utama anjloknya pertumbuhan ekonomi. Terlebih pada beberapa sektor seperti transportasi dan akomodasi. 

Sebaliknya, sebagai akibat semakin gencarnya penggunaan mekanisme daring, maka sektor informasi dan komunikasi mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, yaitu mencapai 10,61%.  Sektor ini mengalami pertumbuhan tertinggi kedua di bawah sektor jasa kesehatan yang tumbuh sebesar 11,56% (BPS, Berita Resmi Statistik, 2022).

Mencermati lebih lanjut pertumbuhan ekonomi Indonesia terkait kondisi pandemi tersebut, sebenarnya sudah mulai menunjukan pemulihan pada triwulan II 2021. Laporan BPS menyebutkan bahwa pertumbuhan PDB triwulan II 2021 terhadap triwulan I 2021 sudah mengalami positif, yaitu mencapai  3,31%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2021 terhadap triwulan II 2020 (yoy) bahkan hampir mencapai 7,1% (BPS, Berita Resmi Statistik, 2021). 

Pertumbuhan ekonomi yang mulai menunjukan pemulihan tersebut pada dasarnya adalah salah satu indikasi awal bahwa kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah sudah mulai mampu melakukan adaptasi atas perubahan kondisi yang terjadi secara tiba-tiba akibat pandemi dan lockdown. Meski sempat dilanda kepanikan di tahun 2020, penyesuaian kebijakan menghadapi guncangan kondisi sosial ekonomi dampak pandemi sudah dapat dikatakan telah berjalan pada jalur yang tepat. 

Dimulai dari program bantuan sosial, perluasan program vaksinasi ke seluruh lapisan masyrakat dan dilanjutkan oleh vaksinasi penguat (booster), menjadi prasyarat untuk memulai program pemulihan ekonomi.  Berbagai hal tersebut juga dibarengi dan dilanjutkan oleh berbagai kebijakan ekonomi langsung, seperti penurunan suku bunga hingga 25 basis poin, penurunan rasio persyaratan cadangan sebesar 50 basis poin, pemberian insentif pengurangan pajak, relaksasi dan restrukturisasi kredit terutama kepada sektor industri termasuk UMKM, pembiayaan modal kerja dan penyediaan  penyangga bagi produk-produk UMKM  dan lain sebagainya (Sutrisno, 2021).   



Dalam kerangka pemulihan ekonomi pasca pandemi, di mana masyarakat juga semakin dibebaskan dalam melakukan kembali berbagai aktivitas ekonomi dan bisnis di luar rumah, maka harapan untuk mempercepat pemulihan ekonomi semakin terbuka. 

Salah satu hal yang perlu disadari dan dipahami bahwa dalam proses pemulihan ekonomi pasca krisis, kemampuan masyarakat dalam perekonomian memiliki keterbatasan. Hal ini disebabkan krisis akibat pandemi ini tidak hanya menyerang sisi permintaan, tapi juga penawaran. Melonjaknya pengangguran terbuka yang mencapai 7,1% (BPS, 2022) per Agustus 2020, merupakan indikator besarnya dampak sosial ekonomi yang disebabkan pandemi. 

Kalau kembali kepada pengalaman pada krisis 97-98, reformasi telah berhasil mengubah arah kebijakan ekonomi Indonesia secara luas. Berbagai argumentasi yang berkembang pascakrisis tersebut menyebutkan bahwa sektor konsumsi masyarakat memiliki peran yang cukup besar dalam proses pemulihan. Sehingga dapat dikatakan bahwa, meski krisis akhir dekade 90-an tersebut cukup besar,  beberapa sektor masih memiliki kemampuan untuk bertahan. Sektor-sektor tersebut terutama yang tidak banyak tergantung pada bahan-bahan impor. Pada saat yang bersamaan, para eksportir khususnya bahan mentah sangat gembira. Karena mereka sempat berhasil menikmati keuntungan dari besarnya selisih nilai tukar. 

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, dampak pandemi ini telah dirasakan baik dari sisi pasokan (supply) dan permintaan (demand). Celakanya lagi, ini terjadi di seluruh dunia. Artinya, pasar yang terganggu adalah pasar global. 

Jadi, lockdown akibat pandemi ini seakan tidak memberikan sedikitpun celah pada setiap sisi aktivitas ekonomi bisnis di pasar global. Setiap negara atau bahkan setiap individu manusia seakan dipaksa untuk mampu menghidupi dirinya sendiri. Karena setiap interaksi sosial (bahkan ekonomi atau bisnis) yang terjadi secara langsung, berarti ancaman bagi keselamatan bagi manusia itu sendiri. 

Bagi mungkin sebagian besar kalangan melihat bahwa perlombaan berbagai pihak atau negara menciptakan vaksin untuk menghadapi virus ini, adalah salah satu bagian dari proses kemanusiaan global. Sebab keberadaan vaksin tersebut tentu juga akan dipergunakan secara luas di seluruh dunia. Melalui penemuan berbagai vaksin tersebut, maka diharapkan menjadi salah satu solusi bagi pandemi global.

Baca Juga : Pandemi Jadi Pelajaran Untuk Menatap Masa Depan

Namun dilihat dari pandangan ekonomi, terjadinya pandemi ini sesungguhnya mengajarkan kepada kita, bahwa tiap negara dan mungkin tiap individu manusia ketergantungan kepada pihak lain merupakan sesuatu yang sangat rentan. 

Sebagai bagian dari rantai pasok global, tiap negara memiliki keunggulan atas salah satu atau beberapa produk atau komoditas. Mulai dari yang berupa bahan mentah hingga produk jadi. Produk-produk tersebut kemudian menjadi komoditas unggulan ekspor negara tersebut. Karenanya tiap negara memiliki perannya masing-masing sesuai dengan kepasitas negara tersebut. Hal ini pula yang menjadi posisi tawar  dari masing-masing negara tersebut menjadi kuat atau sebaliknya, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu teori ekonomi klasik tentang keunggulan komparatif.

Berhentinya rantai pasok global akibat pandemi dan kemudian berlanjut dengan adanya perang antara Rusia dan Ukraina di awal tahun 2022, menunjukkan seberapa besar kemampuan suatu negara untuk dapat mampu menimalisasi ketergantungannya terhadap negara lain. Meski demikian, harus tetap disadari i bahwa pada dasarnya saat ini tidak satupun negara yang mampu berdiri sendiri dalam memenuhi segala kebutuhannya. Karenanya, efisiensi dan efektifitas dalam pemenuhan rantai pasok global akan semakin menjadi tuntutan. 

Pemanfaatan teknologi daring dalam menjaga relasi sosial dan mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi dan bisnis hingga ke tingkat global, terbukti telah menjadi instrumen yang cukup efektif. 

Teknologi daring terbukti secara efektif mampu menjembatani antara kebijakan khususnya terkait pembatasan kegiatan sosial yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang tidak dapat berhenti sama sekali. Berkembangnya pemanfaatan teknologi daring mulai dari untuk pembelian kebutuhan sehari-hari termasuk pengantarannya hingga ke depan rumah, melakukan berbagai pekerjaan untuk keperluan bisnis atau pendidikan, hingga proses pembuatan suatu produk, menyebabkan manusia semakin akrab bahkan tergantung pada teknologi daring ini.  

Adanya perubahan teknologi memang sudah menjadi asumsi dasar dalam teori ekonomi untuk mampu menurunkan biaya produksi dan sekaligus mengefisiensikan proses produksi. Melalui perubahan teknologi, berbagai biaya yang sebelumnya dikeluarkan oleh produsen akan dapat dihemat. Sehingga pada akhirnya akan mengurangi harga jual produk. 

Akselerasi penggunaan teknologi daring di masa pandemi secara masif, pada satu sisi telah mengubah kebiasaan dalam beraktivitas. Sehingga tidak seluruh aktivitas produksi benar-benar berhenti. Hal inilah yang sebenarnya turut menjaga dan mempermudah proses pemulihan ekonomi selama masa pandemi. 

Meski banyak masyarakat melakukan aktivitasnya dari dalam rumah, sesungguhnya proses produksi atau aktivitas ekonomi lainnya tidak benar-benar berhenti. Bersekolah, berbelanja barang kebutuhan sehari-hari dan lain sebagainya yang dilakukan melalui daring, telah menjaga keberadaan sisi permintaan. Terjaganya sisi permintaan masyarakat setidaknya tergambarkan pada struktur PDB. Pada triwulan II 2021, konsumsi rumah tangga sudah mengalami pertumbuhan hampir sebesar 6% (yoy) (BPS, 2021). 

Berangkat dari berbagai hal tersebut di atas, jadi dapat dilihat bahwa terjadinya kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid 19 ini, dapat dikatakan relatif masih dapat terkendali. Kerjasama global dalam menghadapi virus corona pada dasarnya merupakan modal utama penyelesaian prasyarat pemulihan ekonomi. 

Dalam kerangka pemulihan ekonomi pascapandemi, meski wabah sempat berdampak pada sisi pasokan dan permintaan,  perkembangan teknologi daring disadari atau tidak juga memiliki peran dalam menahan kontraksi ekonomi Indonesia agar tidak terjerumus pada resesi yang terlalu dalam.   

 

Referensi:

BPS. (2021, Agustus 5). Berita Resmi Statistik. XXIV(60).
BPS. (2022, Februari 7). Berita Resmi Statistik. XXV(14).
Mukhsin. (2019, Maret). Manfaat Penerapan Marketing Online (Menggunakan E Commerce dan Media Sosial) Bagi Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah (UMKM). Teknologi, 2(1), 1-9.
Sutrisno, E. (2021, Maret 31). Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemu Melalui Sektor UMKM dan Pariwisata. Jurnal Kajian Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, 9(1), 641-660.

 

  

 

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER