Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

FOKUS

26 Maret 2021|17:00 WIB

Mengapa K-Pop Begitu Mendunia?

Meski masih banyak yang tak suka dengan keberadaannya, musik dan aneka hiburan yang ditawarkan berbagai kelompok vokal asal Korea Selatan ini terbukti punya pengaruh besar di ranah internasional.
ImageK-Pop Evolution Official Trailer. Sumberfoto: Youtube/(Youtube Originals)

Oleh Kevin Sihotang *)

Boyband atau kelompok vokal pria asal Korea Selatan, BTS, menjadi satu-satunya wakil dari Asia yang masuk dalam nominasi Grammy Awards 2021. Boyband dengan prestasi segudang itu masuk ke dalam kategori Best Pop Duo/Group Performance.

Meski tidak berhasil membawa pulang piala, BTS berhasil menunjukkan kemenangan mereka membawa K-Pop ke kancah dunia. Mereka berhasil membuktikan bahwa mereka siap bersaing di industri musik Amerika Serikat yang terkenal sulit ditembus musisi non-AS-Eropa.

Dengan masuknya BTS ke dalam nominasi Grammy, pintu masuk akan terbuka lebih lebar bagi para musisi K-Pop untuk semakin dikenal dunia.

Selain BTS, ada grup-grup dengan nama besar lainnya yang dikenal dunia internasional, seperti Blackpink, Twice, Red Velvet, Big Bang, Wonder Girls, EXO, Super Junior, Girls’ Generation, dan masih banyak lagi.

Revolusi Musik Korea
Apa yang terpapar dari musik Korea Selatan kini, jauh berbeda dari beberapa waktu lalu. Pada awal tahun 1980-an, masyarakat negeri ginseng ini terbiasa mendengarkan musik-musik ballad atau bertempo pelan dan bertemakan kesedihan atau romansa.

Perubahan mulai terasa pada tahun 1987, ketika stasiun radio berkembang pesat. Saat itu, musik-musik yang masuk ke Korea mulai bervariasi. Salah satunya adalah musik Amerika.

Gebrakan K-Pop dimulai pada awal 1990-an. Kala itu, ada satu boyband yang menggemparkan Korea Selatan. Banyak yang beranggapan bahwa K-Pop tidak akan pernah ada bila boyband satu ini tidak muncul di televisi.

Boyband itu adalah Seo Taiji and Boys. Tahun 1992, grup ini tampil di sebuah acara pencarian bakat. Seo Taiji and Boys menyajikan sesuatu yang baru. Musik mereka bergaya Pop Eropa, gaya bernyanyi mereka memadukan Rap dan Hip-Hop Afrika-Amerika.

Uniknya, meski didominasi warna barat, unsur lokal juga kental dalam penampilan mereka. Lirik mereka tetap dalam bahasa Korea. Mereka juga menari-nari dengan lincah di atas panggung.

Sayangnya, para juri nampak tak terkesan dengan penampilan mereka. Sebaliknya, boyband ini malah memperoleh nilai paling rendah.  Seo Taiji and Boys harus angkat koper malam itu.

Berbeda dengan reaksi para juri, para penonton yang menyaksikan penampilan grup itu, baik di studio maupun yang di rumah, memberikan reaksi fantastis. Mereka ternyata menyukai terobosan baru yang diberikan oleh Seo Taiji and Boys.

Dewi fortuna pun menghampiri Seo Taiji and Boys. Selang beberapa hari setelah kompetisi itu digelar, mereka berhasil merilis sebuah lagu berjudul “I Know”.

Lagu tersebut mendapat reaksi positif dari masyarakat muda Korea dan memuncaki tangga lagu Korea selama 17 minggu berturut-turut. Padahal, sebelumnya mereka kalah di ajang cari bakat.

Kehadiran Seo Taiji and Boys di industri musik Korea Selatan membukakan pintu bagi para musisi lain yang juga berkreasi dan terinspirasi dari musik-musik dari luar Korea, khususnya musik-musik Amerika-Eropa.

Menjelang akhir tahun 1990-an, muncul grup Korea lain, seperti Clon yang berhasil mendapat respons positif di China dan Taiwan. Pada akhirnya, mereka juga bisa mendapat perhatian di pasar musik Jepang, terlebih pada 2002, ketika Korea Selatan dan Jepang sama-sama menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Kemudian, pada awal 2000-an, muncul lah sang “Ratu K-Pop”, BoA. Pencapaian BoA yang fantastis baik di Korea maupun Jepang membuat namanya begitu besar dan seolah membukakan pintu yang lebih lebar lagi bagi para musisi Korea lainnya.

Mereka seakan berkata, “Bila BoA bisa melakukannya, maka kita pun bisa.”

Peran Media Sosial
Memasuki tahun 2008, K-Pop mulai menjangkau pasar yang lebih luas, yakni Asia. Kini mereka menggunakan media sosial kelas dunia, seperti Facebook, Twitter, dan Youtube, untuk melakukan promosi. Sebelumnya, mereka hanya menggunakan situs-situs platform lokal ketika menjangkau negara tetangga Jepang dan China. 

Media sosial modern berperan besar dalam kesuksesan K-Pop. Kini, orang-orang dari berbagai negara bisa mengakses musik-musik dan video K-Pop. Pelaku industri musik bahkan menyebut media sosial merupakan cara terbaik dalam international marketing.

Puncaknya, ketika Psy membuat dobrakan dengan lagunya, “Gangnam Style” pada 2012 silam. Gangnam Style begitu fenomenal dan video klipnya menjadi video pertama di dunia yang berhasil mendapat lebih dari 1 miliar views di Youtube.

Digarap “Sangat” Serius
Awalnya, banyak orang meragukan eksistensi K-Pop di blantika musik dunia. Bagi sebagian orang, K-Pop hanyalah sebuah fenomena sementara atau yang biasa disebut dengan istilah one hit wonder. Anggapan itu ternyata salah, mengingat kini grup-grup K-Pop mulai mendominasi tangga lagu internasional, seperti BTS dan Blackpink.

Untuk bisa bersaing di kelas internasional seperti itu, industri musik Korea benar-benar menggarap artisnya dengan serius, bahkan teramat serius.

Di Korea Selatan, ada tiga agensi artis besar, yaitu YG Entertainment (Blackpink, Big Bang, iKon, dll.), JYP Entertainment (Twice, 2PM, GOT7, dll), SM Entertainment (EXO, Red Velvet, Super Junior, dll.).

Lalu, ada beberapa agensi lainnya seperti Big Hit Entertainment yang mengorbitkan BTS dan TXT, ada Cube Entertainment yang mengorbitkan 4Minutes dan Beast, ada FNC Entertainment yang mengorbitkan CNBLUE dan AOA.

Agensi-agensi ini mencari para calon artisnya sejak usia anak-anak. Mereka bisa merekrut anak-anak usia 10 hingga 14 tahun yang terlihat memiliki bakat dan penampilan menarik. Masing-masing agensi bisa memiliki 200 anak didik.

Sebagian dari anak didik itu akan dikarantina di asrama khusus dan sebagian bisa bolak-balik dari rumah. Di sana, mereka akan melalui masa-masa sulit demi memenuhi standar agensi tempat mereka bernaung.

Para peserta didik tersebut terbiasa bangun pukul 5 pagi lalu menghadiri kelas menyanyi dan kelas koreografi. Masing-masing peserta memiliki porsi latihan yang berbeda, tergantung peran mereka di grup yang akan dibentuk.

Saban hari, mereka berangkat ke sekolah seperti anak-anak pada umumnya hingga pukul 3 sore. Lalu, siswa-siswa ini kembali ke kantor agensi untuk melanjutkan latihan hingga pukul 11 malam.

Bagi mereka yang menggunakan transportasi umum seperti kereta, jadwal kereta terakhir tengah malam adalah satu-satunya pilihan untuk pulang. Di rumah, mereka akan tidur selama 5 jam, bahkan kurang dari itu. Esoknya, aktivitas rutin yang sama dijalani di hari-hari berikutnya.

Awalnya, agensi-agensi itu akan mengontrak para calon artis langsung selama 13 tahun. Masa kontrak ini terbilang ekstrem dan menuai kontroversi hingga beberapa pihak menyebutnya sebagai “kontrak budak”. Pada akhirnya, masa kontrak secara legal dikurangi menjadi 7 tahun.

Perlu diperhatikan, proses yang berat itu mereka lalui bahkan ketika mereka belum dipastikan tampil sebagai artis atau yang biasa disebut dengan debut. Isu kesehatan mental pun akhirnya menghantui industri K-Pop. Bisa dilihat pada pemberitaan, tidak sedikit artis Korea yang melakukan bunuh diri karena tak tahan dengan tekanan yang terus datang.

Didukung Pemerintah
Kesuksesan K-Pop menarik perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah Korea Selatan sendiri. Pemerintah memberikan keringanan pajak pada perusahaan-perusahaan yang bernaung dalam industri tersebut.

Mereka juga memberikan bantuan dana kepada para akademisi di sana untuk mendorong popularitas K-Pop. Kedutaan-kedutaan Korea Selatan di berbagai negara juga mengambil andil dalam mempromokan musik-musik.

Upaya pemerintah itu, selain mendatangkan potensi keuntungan dalam hal uang dan bisnis, tentu juga membawa dampak positif dalam popularitas dan perluasan pengaruh Korea Selatan (soft power) di luar negeri. Kesuksesan K-Pop juga menjadi faktor kesuksesan industri-industri lain, seperti bisnis fesyen dan kecantikan di Korea, termasuk bisnis operasi plastik.

Menaklukkan Dunia
K-Pop membawa dampak yang sangat besar bagi masyarakat Korea, khususnya bagi generasi muda. Tidak sedikit dari mereka yang benar-benar terobsesi ingin jadi sekeren para bintang K-Pop dengan berbagai cara.  Salah satunya melakukan modifikasi bentuk tubuh dan wajah melalui operasi plastik. Tindakan ini dikhawatirkan akan berdampak buruk.

Dampak buruknya adalah mulai pudarnya rasa cinta di kalangan anak muda Korea pada budaya asli tradisional negara mereka. Apalagi, dalam satu dekade terakhir, K-Pop berkembang begitu pesatnya.

Tak hanya kesuksesan, K-Pop juga memunculkan banyak masalah di dalamnya seperti skandal seks, korupsi, narkoba, hingga kasus bunuh diri yang dianggap bisa mencoreng nama Korea. Pemerintah Korea menyadari hal ini, namun mereka seolah tak punya pilihan lain selain tetap “berinvestasi” di industri K-Pop ini.

Jadi, bagaimana K-Pop bisa begitu mendunia? Yakni dengan kemasan, desain, dan teknik marketing yang begitu brilian. Ditambah lagi, adanya dukungan dari pemerintah. Tentu membuat budaya K-Pop semakin kuat dan mendunia.

Pada kenyataannya, di balik itu semua ada “penderitaan” yang harus dilalui, terutama bagi para artis dan calon artis yang bahkan masih anak-anak. Akan tetapi, segala penderitaan dan skandal yang ada itu menjadi harga mahal yang rela mereka bayar demi menaklukkan dunia.

*) Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

 

Referensi:

BBC. (2019). How did k-pop conquer the world?. Diakses dari: https://www.bbc.com/culture/article/20190529-how-did-k-pop-conquer-the-world

Vox. (2018). How k-pop became a global phenomenon. Diakses dari: (https://www.vox.com/culture/2018/2/16/16915672/what-is-kpop-history-explained

We Project. (2020). Top 7 of the biggest Korean entertainment companies. Diakses dari: https://weproject.media/en/articles/detail/top-7-of-the-biggest-korean-entertainment-companies/

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA