Selamat

Jumat, 24 September 2021

06 Agustus 2021|21:00 WIB

Tuturan Masygul Sopir Ambulans

Tingginya risiko terpapar penyakit berbanding terbalik dengan keberadaan alat pelindung dan vitamin.

Penulis: Oktarina Paramitha Sandy,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImagePetugas ambulans menunggu antrian untuk menjemput jenazah. Validnews/Oktarina Paramitha

JAKARTA – Suara sirine dari satu mobil ambulans nyaring terdengar memasuki sebuah rumah sakit (RS) di Jakarta Selatan pada Senin (3/8) siang itu. Petugas keamanan rumah sakit bergegas, dan menghentikan ambulans. Sirine dipadamkan.

Sang pengemudi kemudian berbincang dengan petugas. Dia menjelaskan kedatangan ambulans ini bertujuan menjemput jenazah pasien covid-19 yang meninggal di sana.

Petugas keamanan pun menyilakan. Si sopir kemudian melaju pelan ke arah bagian pemulasaran jenazah. 

Sesampai di sana, mesin mobil dimatikan. Sopir turun dan membuka pintu belakang ambulans.  Dia mengatur ruang kendaraan agar bisa memuat peti jenazah, dan beberapa keluarga. Karena proses pemulasaran masih berjalan, dia santai sejenak, menyalakan rokok.

“Jenazahnya mau kami antar ke pemakaman Pasir Putih, Sawangan, Depok. Sekarang sedang dibungkus dulu dan disalatkan keluarganya,” ungkap Dede Supriadi (38), sopir ambulans ini kepada Validnews.

Sambil menunggu, Dede berbagi kisah pengalaman sebagai relawan sopir ambulans RW 005, Ragunan, Jakarta Selatan.

Aktivitas ini berawal saat dia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Waktu itu, Dede bekerja di Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Selatan.  Dia dipecat sebagai imbas perbuatan curang atasannya. Dede dinilai ikut menjadi bagian dari kecurangan itu. Mei 2020, dia jadi pengangguran.

Saat pandemi, Dede kian kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Satu waktu, tetangga Dede menawarkan pekerjaan. Dia ditawari menjadi relawan sopir ambulans covid-19. Si tetangga sudah lebih dulu menjadi relawan sopir ambulans covid-19. Dia tak berpikir panjang. Tawaran diterima. Risiko, tak lagi dia pertimbangkan.

Namun, hal terakhir itu jadi pertimbangan istri yang tak setuju suaminya menerima pekerjaan baru. Dede tetap pada pendiriannya. “Ya, daripada saya nganggur, saya ambil saja tawaran untuk jadi relawan itu,” kata pria tersebut.

Hari pertama bekerja, bimbang dia rasakan. Dalam sehari saja, Dede bisa mengantar lima sampai dengan 10 orang ke tempat perawatan. Hal itu terus berulang. Baik antar ke rumah sakit atau Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Sebagai relawan, tak mengenal jam kerja. Setiap, hari dia harus pergi pagi-pagi sekali. Kembali ke rumah lewat dari tengah malam. Kesempatan berkumpul dengan istri dan anak-anaknya harus dia simpan.

Dalam seminggu saja, dia hanya mendapat libur satu hari. Tak jarang, tak ada hari libur. Karena harus siaga, tidur di rumah sakit dia lakoni. Karena, banyaknya pasien dan jenazah yang harus dia antar. Tak terbilang jarak yang harus ditempuh. 

“Saya kini sudah terbiasa dengan keadaan ini, Tapi kalau tidak saya antar, siapa lagi yang mau antar pasien dan jenazah covid-19 ini? Kasihan juga mereka,” ulas Dede.

Belakangan, sang istri juga mendukungnya.  Meski upah relawan sopir ambulans begitu kecil, unsur kemanusiaan menjadi penguat. Sehari bekerja, dia hanya membawa pulang uang sebesar Rp50.000 sampai dengan Rp100.000. Jumlah itu berasal dari keluarga pasien atau keluarga yang berduka.

Biasanya, untuk sekali pengantaran, keluarga pasien atau jenazah diminta membayar Rp500.000. Setelah dipotong dengan uang bensin dan perawatan ambulans, sisanya dibagi dua antara Dede dan rekannya yang ikut membantu di dalam ambulans.

Sopir ambulans berstatus relawan memang tak dibekali alat pelindung diri (APD). Untuk hal ini, Dede seringkali meminta APD dan masker dari rumah sakit tempatnya mengantar pasien atau menjemput jenazah.  

Sementara, untuk asupan vitamin dan obat-obatan, dia hanya mengandalkan pemberian Ketua RW dan warga di sekitar tempat tinggalnya. Mereka pun suka rela memberi.

Petugas kesehatan memasukkan jenazah ke mobil ambulans untuk dimakamkan. Validnews/Oktarina Paramitha Sandhy

 Siap Saat Dibutuhkan
Meski bukan relawan seperti Dede, sopir ambulans Rumah Sakit Jakarta Medical Centre (JMC), Reza Doni mengaku punya pengalaman serupa. Terutama, waktu kerja bertambah padat saat pandemi covid-19.

Ditemui di JMC, Rabu (4/8), Reza bertutur sebelum pandemi, dalam sehari, ia hanya bekerja selama 12 jam. Sudah lebih dari setahun ini, dia mesti bekerja lebih dari 12 jam.

Saat hari libur tetap bersiaga, jika sewaktu-waktu ada permintaan untuk mengantar atau menjemput pasien maupun jenazah. “Namanya juga sopir ambulans, tetap harus siap kapanpun dibutuhkan. Soal lelah, tentu itu kami rasakan juga,” ujar pria 28 tahun itu.

Reza bercerita, selama pandemi covid-19 ini, dia bisa menjemput dan mengantar empat hingga 10 pasien dalam sehari. Dia harus siaga juga mengantar jenazah pasien covid-19.

Jarak pengantarannya pun tak menentu. Tergantung, di mana lokasi pasien tinggal dan lokasi penguburan.

“Bisa saja dari sini kita ke Bekasi, terus ke Jakarta Barat, macam dilempar saja,” urai Reza sambil tersenyum.

Reza menambahkan, saat kasus covid-19 sedang tinggi di Jakarta, dirinya kerap tidak pulang. Hanya saja, dia bersyukur, diakui selama pandemi ini, intensif yang didapatkannya lebih banyak. Setiap bulan, dia mendapatkan intensif pokok dan intensif khusus covid-19 dari rumah sakit tempatnya bekerja.

Tak hanya pendapatan yang terjaga, stamina tubuh tetap harus prima. Karena itu, dia dibekali vitamin. Begitu juga dengan perlengkapan alat pelindung diri (APD) dan masker.

Bertahan Karena Melihat
Rasa empati memang melandasi pekerjaan kedua sopir ini.  Dede bercerita, pada awal menjalankan pekerjaan barunya, dia menjemput pasien stroke. Pasien itu tinggal di Depok dan harus segera dirawat di rumah sakit rujukan di Ragunan, Jakarta Selatan.

Siapa sangka, di rumah sakit itu ternyata tak lagi ada kamar untuk perawatan. Dede menghubungi keluarga pasien, meminta izin ke rumah sakit rujukan kedua. Namun, kembali hasilnya nihil. Akhirnya pasien dikembalikan di rumah.

“Seketika saya teringat orang tua saya dan saya menangis saat membawa kembali ke rumahnya,” kata Dede.

Kelangkaan oksigen juga pernah dialaminya. Padahal, seyogianya ambulans dilengkapi tabung berisi oksigen. Namun, beberapa kali fasilitas ini terpaksa absen dari mobilnya. “Kalau sudah begitu saya langsung minta maaf saja sama pasien, sedih sekali saya,” tambah Dede.

Uniknya, rumah sakit juga mengalami hal tragis serupa. Reza mengakui, ambulans yang disopirinya milik rumah sakit, kekurangan tabung oksigen bukan hanya sekali terjadi.

Jumlah pasien yang membludak, sempat menyebabkan semua oksigen itu harus diprioritaskan di kamar-kamar umah sakit.

Saban hari bertemu orang sakit, kekhawatiran terpapar pasti ada. Keduanya mengaku menjalankan prokes dengan ketat.

Dede mengatakan, setiap kali dia pulang ke rumah, sang istri lebih dulu ditelepon, agar menyiapkan baju dan peralatan mandi di luar rumah. Untuk kepentingan ini, Dede bahkan membangun kamar mandi darurat di depan rumah dia.

“Jadi saya bikin semacam bilik mandi yang bisa dibongkar lagi, buat saya mandi sebelum masuk rumah,” tutur Dede.

Soal perlindungan dan bentuk apresiasi, Kepala UP Ambulans Gawat Darurat (AGD) Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Winarto mengatakan, relawan sopir ambulans tingkat RT/RW dan sipir ambulans yang ada di rumah sakit bukan merupakan tanggung jawab dari Diskes DKI Jakarta.

Relawan sopir ambulans yang berada di tingkat RT/RW menjadi tanggung jawab pihak kelurahan setempat yang menugaskan. Sementara, sopir ambulans di rumah sakit menjadi tanggung jawab penuh rumah sakit tempatnya bekerja.

“Tidak ada bantuan yang bisa diberikan oleh Diskes terhadap mereka,” ujarnya kepada Validnews, Jumat (6/8).

Dia menjelaskan, unit yang dipimpinnya saja sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan asupan vitamin dan alat kesehatan bagi awak ambulans yang bekerja untuk dinas kesehatan.

Karenanya, akan sulit bagi pihaknya untuk memberikan asupan vitamin dan alat kesehatan bagi relawan sopir ambulans. Meski risiko dan suara sirine ambulans yang dibawa sama, pihak yang bertanggung jawab atas mereka, jelas berbeda.

“Sopir ambulans ini berbeda dengan tenaga kesehatan (nakes). Jika terjadi sesuatu pada mereka, tanggung jawab berada di penyelenggara jasa ambulans,” ungkap Winarto.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA