Selamat

Rabu, 26 Januari 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

15 Januari 2022

10:16 WIB

Satgas Cabut Larangan WNA Masuk Dari 14 Negara

Kebijakan satgas cabut larangan WNA masuk dari belasan negara itu karena ada dampak ekonomi.

Editor: Leo Wisnu Susapto

Satgas Cabut Larangan WNA Masuk Dari 14 Negara
Juru Bicara Nasional Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. covid19.go.id

JAKARTA - Juru Bicara Nasional Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito pada Jumat (14/1) menyampaikan, satgas menghapus daftar warga negara asing (WNA) dari 14 negara yang sebelumnya dilarang masuk ke Indonesia. 

Penghapusan itu berdasarkan hasil keputusan bersama dalam rapat terbatas pada 10 Januari dan tertuang dalam Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 02/2022 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Luar Negeri pada Masa Pandemi Covid-19. Wiku sampaikan, keputusan ini diambil mengingat varian omicron sudah meluas ke 150 dari total 195 negara di dunia (76% negara) per 10 Januari 2022.

“Jika pengaturan pembatasan daftar negara masih tetap ada, akan menyulitkan pergerakan lintas negara yang masih diperlukan untuk mempertahankan stabilitas negara termasuk pemulihan ekonomi nasional”, ujar Wiku seperti dikutip dari covid19.go.id.

Keputusan ini, kata Wiku juga dibarengi dengan penetapan syarat masuk WNA yang masih tetap sama ketatnya sebagaimana yang telah diatur dalam surat edaran satgas sebelumnya.

Pemerintah, kata Wiku menyamakan durasi karantina bagi seluruh pelaku perjalanan, menjadi 7x24 jam. Kebijakan ini tertuang dalam SK KaSatgas Nomor 3 Tahun 2022 tentang Pintu Masuk (Entry Point), Tempat Karantina dan Kewajiban RTPCR Bagi Warga Negara Indonesia Pelaku Perjalanan Luar Negeri.

Ketetapan ini, menurut Wiku juga didukung dengan temuan ilmiah di berbagai negara di antaranya studi oleh Brandal (2021). Disebutkan, median dari masa inkubasi kasus varian Omicron ialah tiga hari setelah pertama kali terpapar. Laporan awal hasil investigasi epidemilogi varian omicron di Jepang tahun 2022, kata Wiku, juga menyatakan jumlah virus pada penderita akan mencapai titik tertinggi pada hari ke-3 sampai ke-6 setelah timbul gejala.

Demikian juga Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat. Para tim ahli CDC merekomendasikan, masa karantina lebih pendek setelah terbukti secara ilmiah, kemampuan seseorang positif menulari orang lain terjadi pada awal infeksi. Yakni, pada hari ke 1-2 sebelum muncul gejala hingga 2-3 hari setelahnya.

“Prinsip karantina ini adalah masa untuk mendeteksi adanya gejala karena ada waktu sejak seseorang tertular hingga menunjukkan gejala. Dengan demikian lolosnya orang terinfeksi ke masyarakat dapat dihindari,” urai Wiku.

Dia menegaskan berdasarkan beberapa hasil studi terkini, varian omicron disinyalir memiliki rata-rata kemunculan gejala lebih dini. Sehingga, karantina 7X24 jam sudah cukup efektif mendeteksi kasus positif.

“Apalagi upaya deteksi berlapis dengan entry dan exit test serta monitoring ketat distribusi varian omicron dengan SGTF dan WGS yang sejalan dengan rekomendasi strategi multi-layered WHO terkait perjalanan internasional juga dijalankan,” ujar Wiku.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

KPK Sebut NFT Berpotensi Jadi Tempat Cuci Uang

PLN Jamin Ketersediaan Pasokan Batu Bara PLTU Pada Februari 2022

Kisah Berdirinya Starbucks

YouTube Mulai Tertarik Kembangkan NFT

3 Provinsi Catat Kasus Baru Covid-19 di Atas Seribu Orang

PUPR: Kualitas Infrastruktur Bergantung Pada Kompetensi Insinyur

Minyak Rosemary Untuk Atasi Kerontokan

Kemendagri Minta NIK Untuk Pelaksanaan Haji-Umroh