Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

23 September 2022

15:59 WIB

Ratusan Ribu Hektare Lahan Kering Di NTB Jadi Wilayah Tangkapan Air

Akan banyak varietas padi yang dihasilkan terbukti cocok untuk lahan kering, dikembangkan di wilayah ini.

Editor: Rikando Somba

Ratusan Ribu Hektare Lahan Kering Di NTB Jadi Wilayah Tangkapan Air
Ilustrasi petani menyiram sayur sawi di lahan kering, seperti di wilayah NTB. ANTARAFOTO/Abriawan Abhe

JAKARTA- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan langkah mitigasi terhadap krisis pangan. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Ahmad Suriadi mengatakan, pengembangan dan penelitian teknologi di lahan kering terus dilakukan, salah satunya menyiapkan prasarana dari segi pertanian di Nusa Tenggara Barat.

Sekitar 100.000 hektare lahan potensi di NTB dimanfaatkan sebagai Long Storage, yaitu pengembangan daerah tangkapan air di lahan yang cenderung datar yang ada di sekitar saluran-saluran irigasi. Selain itu juga dilakukan pipanisasi, embung, dan dam parit dalam skala kecil untuk irigasi pertanian.

“Dalam skala besar PU sudah mengidentifikasi baik itu dari sumber daya air permukaan maupun sumber daya air dalam tanah. Dalam skala menengah pun telah kita lakukan seperti embung yang cukup besar beberapa lokasi, dalam skala yang kecil pun telah kita identifikasi semua sumber air yang ada di NTB yang bisa kita manfaatkan pada berbagai sumber air kecil,” ucap Peneliti bidang Sumberdaya Lahan, Agroklimatologi dan Hidrologi itu, Jumat (23/9).

Dari proses teknologi yang dihasilkan Pusat Riset Tanaman dan Pertanian ini, banyak varietas padi yang dihasilkan terbukti cocok untuk lahan kering. Seperti Inpago 3 sampai 10, termasuk Inpari 13 dan Inpari 42 yang merupakan varietas yang cukup tahan di lahan yang kering. 

“Tidak hanya padi sebenarnya, ada jagung yang tahan kering seperti Bima 20 Uri dan Bima 19 Uri, kedelai Dena dan kacang tanah yang cukup tahan terhadap kekeringan yang sudah kita hasilkan,” jelasnya.



Kebutuhan Energi
Untuk pemanfaatan lahan kering khususnya di Nusa Tenggara Barat, Ahmad menjelaskan para peneliti juga mengembangkan teknologi irigasi Sprinkle . Irigasi ini akan ditujukan menunjang tanaman bawang merah dan cabai. 

“Teknologi irigasi sprinkle untuk tanaman bawang merah pada musim kemarau ini telah  banyak digunakan oleh petani di Lombok timur maupun di Kabupaten Sumbawa di Pulau Sumbawa. Demikian juga untuk tanaman cabai,” ucap Ahmad.

Luasan lahan di provinsi ini dinilai cukup. NTB memiliki lahan kering sebesar 1,7 juta hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 15 sampai 20%. Ahmad berharap lebih banyak rancangan teknologi yang efisien untuk pemanfaatan irigasi. Dengan hal ini, banyak lahan kering di NTB bisa dimanfaatkan sefektif mungkin karena sebagian besar penduduk NTB ada di pedesaan.

Terkait pertanian di NTB, PT PLN (Persero) juga menginisiasi hutan yang dipadukan dengan pertanian terintegrasi untuk menghasilkan kayu untuk campuran bahan bakar (co firing) pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), dan dedaunannya sebagai pakan ternak.

"Tak hanya itu, kotoran dari ternak juga dapat diproses sebagai pupuk yang dapat dimanfaatkan kembali oleh para petani," kata General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Sudjarwo di Mataram, NTB, Rabu.

Dikutip dari Antara,  Sudjarwo mengatakan, untuk program co firing di NTB, PLN telah melaksanakan di dua lokasi, yakni PLTU Jeranjang dan PLTU Sumbawa Barat dengan menggunakan empat jenis biomassa, yaitu pelet yang merupakan produk olahan sampah organik, sekam pagi, serbuk kayu, dan bonggol jagung.

Dia meyakini, keberadaan hutan energi yang dipadukan dengan pertanian terintegrasi tersebut akan mampu menciptakan sirkular ekonomi di daerah dan dampaknya akan dirasakan oleh seluruh bidang.

"Kami sangat senang. Respons Ibu Wakil Gubernur NTB luar biasa. PLTU sudah ada, hutan juga sudah ada, kita siap berkolaborasi," ujarnya.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER