Selamat

Sabtu, 16 Oktober 2021

14 Oktober 2021|20:54 WIB

Polisi Buka Penyelidikan Baru Kasus Pencabulan Di Luwu Timur

Terdapat perbedaan hasil visum

Penulis: James Fernando,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageIlustrasi kasus pencabulan anak. Shutterstock

JAKARTA – Kepala Bagian Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Ahmad Ramadhan mengatakan, Polri melakukan penyelidikan baru terkait kasus dugaan pencabulan tiga anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sebelumnya, penyelidikan kasus ini dihentikan karena tak ditemukan alat bukti yang cukup.

Ramadhaan menjelaskan, penyelidikan kasus itu dilakukan atas laporan polisi (LP) tipe A atau yang dibuat sendiri oleh polisi.

"Jadi, penyidik telah membuat laporan polisi model A tertanggal 12 Oktober 2021, perihal adanya dugaan pencabulan anak di bawah umur. Itu ditulis pelaku dalam proses penyelidikan," kata Ramadhan, di Mabes Polri, Kamis (14/10).

Ramadhan menyebut, penyelidikan itu akan berfokus pada waktu kejadian perkara pada 25-31 Oktober 2019. Pada penyelidikan itu, ada dua versi hasil visum berbeda yang diperoleh kepolisian dan yang dilakukan oleh keluarga korban.

Sebanyak, dua hasil visum yang dilakukan oleh polisi pada 9 dan 24 Oktober 2019 tak menunjukkan adanya kelainan pada korban. Sementara, pihak keluarga melakukan pemeriksaan medis lain pada 31 Oktober mendapatkan hasil berbeda. Hasil visum mandiri yang dilakukan keluarga korban itu menemukan adanya kelainan.

"Sehingga penyidik mendalami peristiwa Tempus atau waktu mulai tanggal 25-31 Oktober 2021. Orang tua korban telah melakukan pemeriksaan sampai 4 atau 5 kali dan terakhir di tanggal 10 Desember 2019," jelas Ramadhan. 

Ramadhan melanjutkan, tim penyidik telah meminta keterangan dokter yang melakukan pemeriksaan medis terhadap korban untuk dimasukan dalam berita acara perkara (BAP). Hingga saat ini, penyidik dari Polda Sulawesi Selatan dan Polres Luwu Timur masih melakukan pendalaman dan penyelidikan.

Ramadhan meminta masyarakat untuk menaruh kepercayaan kepada kepolisian dalam mendalami perkara tersebut. 

"Perbedaan itu, adanya visum dan pemeriksaan medis secara mandiri dan dengan waktu yang berbeda. Sehingga penyidik mulai mendalami peristiwa dengan tempus atau waktu mulai tanggal 25-31," imbuh Ramadhan.

Polisi pada Oktober 2019 diketahui sempat menghentikan kasus dugaan pencabulan seorang bapak terhadap tiga anaknya di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kasus itu, sempat ditangani di Unit Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Makassar pada Desember 2019.

Kala itu, penyidik mengaku tak menemukan bukti fisik ataupun tanda-tanda kekerasan seksual yang dialami korban.

Kejadian itu terungkap setelah ibu tiga anak itu menerima berbagai keluhan dari tiga anaknya. RA yang merupakan mantan istri SA, diduga pelaku, kemudian melaporkan kasus tersebut. 

Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar Resky Prastiwi menilai, penanganan kasus tersebut sejak awal sudah cacat.

Para korban, kata dia, tidak mendapatkan pendampingan dari pihak orang tua atau pendamping lainnya saat menjalani pemeriksaan. Pelapor juga saat itu tidak mendapatkan pendampingan dari pengacara.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER