Selamat

Jumat, 24 September 2021

30 Agustus 2021|21:00 WIB

Pilihan Beda Kala Berkeluarga

Arus childfree kian mengemuka. Kesadaran akan kesehatan mental kerap mendasari sikap ini

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi pasangan nikah menolak anak (childfree). Ist

JAKARTA – Adelline kerap dibikin ‘gerah’ bila dia dicecar pertanyaan lawan bicara, “Kenapa belum punya anak?”

Kerap, pertanyaan itu dilanjutkan ujaran bernada iba dari si penanya. Iba karena mereka mungkin menganggap Adel, begitu dia biasa disapa, tak bisa melahirkan.  

Adel meradang jika dinilai tak bisa memiliki keturunan. Dia dan suami yang sudah menikah enam tahun, tak terhalang satu apa pun penyebab untuk memiliki anak. Namun, mereka memang menjalankan satu pilihan yang diamini masing-masing.

Adel dan suaminya sepakat membangun rumah tangga. Namun, memilih tidak memiliki anak atau childfree

Pilihan ini berbenturan dengan pemahaman masyarakat.  Pernikahan dan memiliki anak menjadi satu paket wajib dari konsep keluarga.

“Kalau berbicara dengan orang yang punya pemikiran mutlak menikah harus punya anak, saya diam saja. Malas berdebat, hanya buang waktu,” ujar perempuan berusia 31 tahun itu kepada Validnews, Jumat (27/8).

Perjuangan sama dia lakukan pada orang tua dan keluarganya. Orang tua begitu ingin menggendong anak yang lahir dari rahim dari Adel.

Saat menerima desakan, Adel dan suami menanggapi santai sambil tersenyum. Cara itu cukup jitu. Belakangan, orang tua Adel bosan dan berhenti menanyakan hal itu.

“Ini berbeda dengan orang tua suami saya. Enggak pernah menyuruh untuk punya anak,” ungkap Adel.

Meski demikian, Adel dan suami selalu menyimpan erat jawaban bila ada pertanyaan tentang kehadiran anak. Mereka memang belum pernah menjawab secara gamblang, pilihan mereka adalah childfree.  Orang lain mungkin sulit memahami bahwa prinsip Adel itu lahir karena dilatarbelakangi banyak hal. 

Pasangan ini mendasarkan pilihannya atas pengalaman melihat pola pengasuhan anak. Lalu, faktor kondisi ekonomi ia dan suaminya. Akan sulit pula bagi dia menjelaskan mengapa pilihan itu lahir karena Adel menilai kerusakan ekologi, membuat bumi makin rawan sebagai tempat tinggal mahluk hidup.

Adel menilai, menjadi orang tua bagi anak-anak adalah peran seumur hidup yang tak mudah. Bekerja sambil mengasuh anak, adalah peran melelahkan.

“Saya enggak mau, punya anak, saya didik asal-asalan, titip ke orang lain yang enggak tahu pola asuhnya bagaimana. Saya enggak mau anak saya punya trauma-trauma saat masih kecil yang nanti dia bawa sampai tua,” ucap Adel.

Berbagai masalah sosial turut mencemaskan perempuan yang bekerja sebagai koresponden media asing itu untuk mengasuh anak. Seperti perundungan. Bila itu menimpa anak, masalah kesehatan mental yang dialami si anak, bakal merambat ke orang tua.

Pertimbangan lain tak memiliki anak, menurut dia, karena biaya hidup beranjak naik. Mulai dari kebutuhan sehari-hari, kesehatan, hingga pendidikan. Dia cemas, tidak bisa memberikan kelayakan hidup kepada anaknya kelak.

“Hidup saya dan suami saya sudah baik-baik saja tanpa anak, kenapa kami mau menambah masalah. Ya, benar kata orang, anak mungkin sumber kebahagiaan. Tetapi tanpa anak pun kami sudah bahagia,” tukas Adel.

Hidup tanpa anak, lanjutnya, membuat dia dan suami bebas menghabiskan waktu melakukan hal yang mereka suka. Pasangan penyuka travelling ini bahkan telah berencana membangun rumah di Lembang atau Ciwidey, Jawa Barat, untuk menghabiskan masa tua berdua.

“Saya sempat bertanya ke suami, ‘Kalau kita enggak punya anak, terus kita ngapain?’ Dia bilang, ‘Ya sudah jalan-jalan saja sampai tua nanti’,” kata Adel yang akan menyambut hari jadi keenam pernikahannya bulan depan. 

Rela Melajang
Lain halnya dengan Victoria Tunggono. Dia mulai tertarik untuk tak memiliki anak sejak berusia 14 tahun. Ketertarikan ini terinspirasi dari kebiasaan tantenya yang bebas berlibur ke luar negeri setiap tahun karena tak memiliki anak. Saat itu, ia berpikir bahwa hidup tanpa anak jauh lebih menyenangkan.

Seiring beranjak dewasa, ia menemukan banyak alasan lain yang lebih mendasar untuk menguatkan keinginannya. Perempuan yang akrab disapa Tori itu menegaskan, dia merasa tidak siap mental untuk membesarkan dan mendidik jiwa seorang manusia.

“Momen yang mendorong keputusan ini muncul saat usia SMP. Sepulang sekolah, saya bertengkar dengan ibu saya dan merasa bahwa tidak enaknya menjadi orang tua adalah menghadapi anak yang keras kepala seperti saya,” ucap Tori kepada Validnews, Kamis (26/8).

Sejak itulah, ia rela berulang kali melihat laki-laki yang disayanginya menikah dengan orang lain.  Ia sadar bahwa sulit menemukan laki-laki di Indonesia yang tidak ingin punya keturunan. Dia mengaku siap melajang seumur hidup demi prinsip ini.

Berbeda dengan Adel, Tori telah secara terbuka menyampaikan keputusan childfree kepada keluarganya. Sang ibu adalah orang yang pertama kali mengetahui. Di hadapannya, Tori sering ceplas-ceplos tidak ingin memiliki anak.

Menurut dia, seluruh anggota keluarganya menerima keputusan tersebut meski saat mengetahui itu mereka tidak merespons apa pun.

“Di keluarga besar, terutama pihak ayah, juga tidak bermasalah karena kebiasaan kami yang saling memahami dan menerima keputusan individu menjalani kehidupan menurut versi kebahagiaan masing-masing,” ungkapnya.

Perempuan kelahiran Ende, Flores, itu menuturkan banyak tantangan hidup tanpa pasangan. Saat berusia 28–34, misalnya, ia sering merasa kesepian dan sendirian. Akan tetapi tetap tak ingin mengorbankan kebahagiaannya demi siapa pun. Beruntung  Tori, dia tetap bisa dekat dengan keluarga, terutama sang adik yang sangat mendukung keputusannya.

“Untuk mengatasinya, saya menonton lebih banyak film, membaca lebih banyak buku, dan berkarya dengan menulis buku, membuat kartu tarot, mengerjakan media sosial, dan lain-lain,” imbuh perempuan berusia 37 tahun itu.

Belakangan, Tori baru bertemu orang-orang yang sepemikiran. Dia bergabung dengan Indonesia Childfree Community (ICC).

Komunitas itu berperan penting sebagai tempat berbagi informasi dan cerita agar Tori dan orang lain yang memilih komitmen ini lebih percaya diri menjalani kehidupan sehari-hari. Bantuan dari anggota komunitas ini juga yang membuatnya berhasil ia menulis buku bertajuk Childfree & Happy

Dia tak menutup mata bahwa banyak orang menentang dengan berbagai alasan. Salah satu yang paling sering adalah alasan yang menyebut tidak ada yang akan mengurus pada hari tua. Bagi Tori, hal itu bisa diatur panti jompo. Dia sendiri bahkan berencana membangunya.

“Kalau tidak kesampaian, setidaknya mau beli satu kompleks rumah untuk para jompo supaya bisa tinggal berdekatan dengan yang seusia. Jadi kegiatan para jompo bukan hanya main scrabble, tapi juga berdansa, main sepatu roda, dan masak bareng,” jelas dia.

Namun, menurut Tori, penolakan paling keras adalah dari mereka yang menggunakan alasan bahwa ‘kodrat perempuan adalah melahirkan’ dan ‘perintah Tuhan untuk beranak-cucu’. Ia tak menampik alasan tersebut, tetapi, bagi Tori, manusia juga dikaruniai kehendak-bebas.

Budi seorang professional di bidang fotografi juga punya sikap sama. Dia mengaku sudah memikirkan ini sejak belasan tahun silam. Dia dibesarkan di keluarga dengan 5 saudara lainnya. 

Sama seperti Tori, pria berumur 42 tahun ini kesulitan pada awal pernikahannya, untuk berbicara gamblang soal childfree kepada Ibu dan saudara-saudaranya. Dia merasakan kekhawatiran yang sama dengan Adel, akan sulit membesarkan anak dengan baik. 

Profesinya yang menuntut kesigapan setiap saat dan berpindah negara, menurutnya akan berdampak buruk terhadap anak. Lebih jauh, dia kerap dihantui ketakutan akan meninggal sebelum anaknya siap menghadapi peristiwa itu. Pengalamannya kehilangan ayah pada saat SMA, membuatnya traumatik, tak mau anaknya bernasib sama. 

“Gue cukup beruntung punya abang dan kakak yang mendampingi Ibu mengasuh. Nah, kalau anak gue cuma 1, dia amsyong akan berjuang sendiri bareng ibunya yang bisa jadi malah susah hidupnya karena gue enngak ada,” katanya kepada Validnews, akhir pekan lalu.

Kesehatan Mental
Psikolog Klinis Dewasa dari Enlightmind, Nirmala Ika, menilai childfree sebenarnya bukan suatu hal baru. Selama ini sudah banyak orang yang memutuskan untuk tidak ingin punya anak. Namun, meluasnya wacana ini ke publik mendorong sebagian dari mereka kini lebih berani bersuara. 

Dia berpendapat keputusan childfree pada generasi muda tidak terlepas dari meningkatnya kesadaran terhadap isu kesehatan mental. Mereka tidak lagi memandang anak sebagai objek yang harus dibentuk sesuai kemauan orang tua, sebagaimana pandangan konvensional.

Memiliki anak, lanjut Ika, berarti harus bertanggung jawab terhadap semua kebutuhannya. Hal ini mensyaratkan kesiapan orang tua untuk menghidupinya dengan layak, baik secara emosional maupun finansial. Sementara, mereka sendiri belum tentu telah mendapatkan itu.

“Mereka tahu mengurus anak itu tidak mudah. Terutama juga membicarakan kesehatan mental. Seringkali mereka merasa bahwa mereka adalah anak-anak yang lahir dari ‘orang tua yang tidak sehat’, yang penuh dengan luka, dengan kemarahan,” ujarnya kepada Validnews, Sabtu (30/8).

Sebagian dari mereka yang memilih childfree cemas akan mengulang secara tak sadar cara pengasuhan yang buruk yang telah dialaminya kepada anaknya.  

Tak sedikit anak mendapat pengasuhan yang buruk tetapi tidak berani melawan. Mereka takut dianggap durhaka. Dampaknya, anak tersebut mengalami masalah kesehatan mental karena harus bertahan dalam relasi yang tidak sehat dengan orang tuanya. 

“Bisa jadi kenapa sekarang orang-orang ini lebih terbuka untuk bisa bilang aku enggak mau punya anak, mungkin juga terkait dengan masyarakat anak-anak muda sekarang lebih aware dengan kesehatan mental dibandingkan dengan orang-orang zaman dulu,” urai dia.

Ika mengatakan, masyarakat umumnya memandang pernikahan satu paket dengan memiliki keturunan. Alasan yang kerap kali digunakan ialah agar ada anak yang bisa merawat mereka di masa tua. Jadi, sejak belum lahir pun, anak seolah dikondisikan harus merawat orang tuanya.

“Ketika seseorang memutuskan tidak mau (punya anak), itu jadi seolah-olah salah. Jangan-jangan dia malah jauh lebih bertanggung jawab daripada orang yang punya 10–11 anak tetapi kemudian dijadikan komoditas,” tegas dia.

Kredo banyak anak banyak rezeki dinilai tidak lagi relevan saat ini. Dulu, kredo itu dipakai karena mayoritas masyarakat hidup bertani, sehingga banyak anak berarti banyak yang membantu mengolah tanah. Anak cenderung dijadikan komoditas pengatrol ekonomi keluarga.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER