Selamat

Kamis, 1 Desember 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

07 Oktober 2022

11:20 WIB

Pakar Sarankan Warga Tak Pilih Platform Vaksin Covid-19

Banyak warga cari vaksinasi covid-19 selain mRNA seperti inactivated virus, viral vector

Editor: Leo Wisnu Susapto

Pakar Sarankan Warga Tak Pilih Platform Vaksin Covid-19
Ilustrasi vaksin covid-19. Ist.

JAKARTA - Guru Besar Mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Amin Soebandrio mengimbau masyarakat tidak menunda vaksinasi covid-19 karena pengaruh platform tertentu. Apalagi, saat ini ketersediaan vaksin covid-19 makin menipis di sejumlah daerah.

Saa waktunya dapat vaksinasi, vaksin yang ada, itu yang dipakai, jangan tunda. Sebab belum tentu dapat lagi. Kalau jadwal sudah tiba, segera vaksinasi," kata Amin Soebandrio dikutip dari Antara di Jakarta, Jumat (7/10).

Dia mengatakan, vaksin covid-19 yang beredar di Indonesia saat ini memiliki varian platform yang berbeda-beda, seperti inactivated virus, viral vector, hingga mRNA.

"Saat ini seolah banyak orang yang membutuhkan mRNA. Tapi untuk memenuhi target vaksinasi vaksin apapun yang sudah terbukti merangsang kekebalan itu boleh dipakai," urai dia lagi.

Menurut Amin, strategi pemerintah membatasi penggunaan vaksin dosis keempat hanya pada kalangan tenaga kesehatan, merupakan langkah yang tepat di tengah keterbatasan stok vaksin booster atau dosis penguat di Indonesia.

Dilansir dari Dashboard Vaksinasi covid-19 Kemenkes RI per Kamis (6/10), kekosongan stok vaksin booster dialami masyarakat di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Sawah Lunto, Kabupaten Pringsewu, Kabupaten Belitung, Kabupaten Ciamis.

Situasi yang sama juga dialami Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Paniai, Kabupaten Mimika, Kabupaten Waropen, Kabupaten Dogiyai.

Laman tersebut juga menginformasikan terdapat 22 kabupaten/kota dengan sisa stok vaksin booster selama 7 hingga 10 hari ke depan, 15 kabupaten/kota tersisa untuk 10 hingga 14 hari ke depan, dan 61 kabupaten/kota tersisa kurang dari sepekan.

Upaya yang kini ditempuh Kemenkes adalah merelokasi persediaan vaksin booster dari daerah yang masih memiliki jumlah stok vaksin yang berlebih, ke daerah lain yang mengalami persediaan menipis atau kosong.

Amin mengatakan, kajian Survei Serologi bersama Eijkman, FKM UI dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan baru-baru ini menunjukkan sekitar 70% dari populasi yang belum mendapatkan vaksinasi dan belum pernah didiagnosis covid-19 sudah punya kekebalan.

"Kita mengharapkan orang dapat kekebalan dua cara, setelah vaksin atau sakit. Tapi ternyata pada beberapa orang belum pernah sakit dia punya imun," sambung dia.

Pembentukan imun dimungkinkan karena ia pernah terpapar sakit atau gejala ringan tapi tanpa disadari, sehingga tubuh membentuk antibodi.

"Misalnya mereka terpapar dalam kerumunan, tapi saat itu imunitasnya baik dan bisa membangkitkan respons imun," urai dia lagi.

Tetapi bagi penduduk yang sudah divaksinasi dan juga dikombinasi dengan pernah terinfeksi, kata Amin, memiliki kekebalan sekitar 90%.

"Masyarakat sebenarnya sudah punya tingkat kekebalan tertentu walaupun belum divaksinasi, tetapi ini tidak berarti bahwa vaksinasi tidak perlu," sambung dia.

Amin menambahkan, hingga kini didapatkan bukti saintifik terkait besaran antibodi masyarakat yang bisa menjamin seseorang terlindungi dari infeksi virus corona.

"Kami mengharapkan vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas bisa mendekati 100 persen di Indonesia," lanjut dia lagi.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER