Selamat

Jumat, 24 September 2021

15 September 2021|18:57 WIB

Nadiem: Kampus Merdeka Terganjal Biaya Dan Regulasi

Pemerintah buat beragam skema keluar dari hambatan tersebut

Penulis: Wandha Nur Hidayat,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi pendidikan. Ist

JAKARTA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim menuturkan, arah berbagai program Kampus Merdeka dapat diketahui melalui delapan Indikator Kinerja Utama (IKU). Namun, implementasinya selama ini terkendala biaya dan regulasi.

"Biaya dan sistem regulasi menjadi faktor penghambat jalannya Kampus Merdeka. Oleh karena itu, Kemendikbudristek secara proaktif memberikan solusi," ujar dia dalam Pertemuan Majelis Rektor PTN Indonesia, seperti tertulis dalam siaran pers yang diterima, Rabu (15/9).

Nadiem mengatakan, menjawab persoalan pembiayaan pemerintah membuat berbagai skema. Antara lain berupa beasiswa LPDP, pemberian insentif bagi perguruan tinggi yang berhasil mencapai delapan IKU, competitive fund, dan matching fund.

Sementara terkait masalah regulasi, lanjut dia, Kemendikbudristek menerbitkan keputusan menteri sebagai acuan kebijakan pengakuan 20 SKS studi di luar kampus. Lalu juga ada dosen fasilitator Kampus Merdeka sebagai konsultan kurikulum di tingkat program studi.

"Dalam program Kampus Merdeka terdapat berbagai bantuan bagi perguruan tinggi untuk mencapai delapan IKU perguruan tinggi," imbuh Nadiem.

IKU yang pertama, lulusan mendapat pekerjaan layak. Kedua, mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus. Ketiga, dosen mengikuti kegiatan di luar kampus. Keempat, praktisi mengajar di dalam kampus.

Berikutnya, hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat. Keenam, program studi di kampus bekerja sama dengan mitra kelas dunia. Ketujuh, kegiatan yang kolaboratif dan partisipatif di dalam kelas. Terakhir yaitu program studi berstandar internasional.

“Merdeka Belajar Kampus Merdeka merupakan perubahan yang besar. Agar bisa mengejar ketertinggalan dan bahkan lompat melampaui negara-negara maju,” ungkap Nadiem.

Mantan bos Gojek tersebut meminta para rektor agar mendukung kebijakan yang diklaim sebagai transformasi pendidikan tinggi ini. Dia pun mengapresiasi para rektor yang telah mulai mengimplementasikannya di masa pandemi covid-19 saat ini.

"Tentu saja kemerdekaan bagi mahasiswa, itu berarti kerumitan bagi perguruan tinggi. Namun, kita perlu terus mengupayakan perbaikan-perbaikan pada sistem pendidikan tinggi dan kualitas lulusannya," imbuh Nadiem.

Selain itu, Nadiem juga mengajak para rektor juga untuk lebih terbuka dan berinovasi, mengutamakan minat dan bakat mahasiswa. Serta, meningkatkan relevansi pengalaman studi S1 dan S2 secara signifikan.

Presiden Joko Widodo yang juga hadir dalam acara tersebut berpendapat, saat ini sedang terjadi perubahan besar di dunia yang harus diantisipasi. Oleh karena itu, para rektor PTN diminta untuk memberi kesempatan yang lebih luas untuk belajar pada mahasiswa.

"Belajar kepada siapa saja, belajar kepada praktisi, belajar kepada industri. Karena sebagian besar nanti akan menjadi praktisi. Itulah esensi Merdeka Belajar, di mana mahasiswa merdeka untuk belajar, dan kampus juga memperoleh kemerdekaan untuk berinovasi," ucap dia.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA