Memanen Berkah Dari Petaka La Nina | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

04 November 2021|20:59 WIB

Memanen Berkah Dari Petaka La Nina

Air yang melimpah dari curah hujan tinggi, sudah seharusnya jadi tabungan air untuk beragam keperluan. Bukan segera dibuang begitu saja dan didamba kala dibutuhkan
Memanen Berkah Dari Petaka La NinaPetugas mengevakuasi warga yang terjebak banjir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Senin (1/11/2021). ANTARAFOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

JAKARTA – Air sumber kehidupan. Pernyataan ini dirasakan betul oleh sebagian besar warga di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat kemarau panjang melanda, seperti yang terjadi di 2019 lalu, banyak penduduk yang terpaksa menjual ternak yang mereka miliki.

Uang hasil menjual ternak, kemudian mereka gunakan untuk membeli air buat kebutuhan sehari-hari, terutama minum dan memasak.

“Saya ingat, waktu itu jual satu ekor kambing. Saya belikan air bersih satu tangki isinya enam ribu liter,” kata Rubiyem (62) warga Piyaman, Gunung Kidul kepada Validnews, baru-baru ini.

Dia melanjutkan, kala kemarau menerjang, sumur yang kedalamannya sudah mencapai 20 meter pun tak bisa menghasilkan air. Pada saat seperti ini, air menjadi barang berharga yang penggunaannya harus dikontrol seketat mungkin.

Saat perbincangan terjadi, sudah beberapa bulan belakangan, lahan pekarangan warga tak termanfaatkan dengan benar. Biasanya, tanaman kacang tanah dan singkong tumbuh di lahan- lahan milik warga.

“Kami menanti hujan. Jika minimal dua kali hujan dalam sepekan, warga bakal garap lahan untuk ditanami kacang maupung singkong,” ucap Rubiyem.

Ujungnya, karena lelah dengan kekeringan, banyak warga yang menyerah untuk menggarap lahannya dan memilih untuk menjualnya. Tak heran, ujar Rubiyem, dalam beberapa tahun saja, desa tempat dia tinggal, sudah berisi sejumlah kluster perumahan. Bangunan itu dibangun oleh pengembang setelah membeli tanah-tanah milik warga.

Sayang, sekalipun kemarau berakhir, bukan berarti masalah pun selesai. Bergantinya musim kemarau ke musim hujan, justru menimbulkan kekhawatiran akan munculnya bencana lainnya.

Seperti yang diungkapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Menjelang akhir tahun 2021, BPBD sudah memperingatkan warga terkait dampak dari fenomena La Nina yang berpotensi menyebabkan terjadinya hujan lebat dan tanah longsor di sejumlah titik. Ancaman rumah yang rusak akibat angin kencang atau pohon tumbang pun mengancam.

Peringatan BPBD Gunung Kidul itu selaras dengan apa yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Lembaga itu menyampaikan peringatan dini soal potensi terjadinya La Nina pada 18 Oktober lalu. Hasil monitoring menunjukkan nilai anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati ambang batas.

Monitoring pada dasarian I, atau sepuluh hari pertama, Oktober 2021 menunjukkan nilai anomali minus 0,61. Pada dasarian II meningkat hingga minus 0,90. Disimpulkan bahwa La Nina sudah terjadi sejak bulan itu, namun dengan intensitas yang masih lemah.

Intensitas Meningkat
Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari menjelaskan, intensitas La Nina diperkirakan meningkat ke fase sedang pada November, Desember 2021 dan Januari 2022. Selanjutnya kembali melemah pada Februari 2022, dan akhirnya netral pada bulan berikutnya.

Perkiraan lain, periode berakhirnya La Nina mungkin mirip dengan tahun lalu, yakni baru kembali netral pada bulan April. Meski titik akhirnya pada bulan yang sama, tetapi periode La Nina kali ini bisa dibilang akan lebih pendek karena tak dimulai sejak Agustus seperti pada 2020.

“Secara umum, dampak La Nina di Indonesia adalah meningkatnya curah hujan. Untuk itu, BMKG mengeluarkan pernyataan mewaspadai dampaknya, yaitu terjadinya peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” ujar Supari kepada Validnews, Minggu (31/10).

Curah hujan tinggi atau di atas 500 milimeter (mm) per bulan diperkirakan terjadi di 5% wilayah pada November 2021. Lalu, empat persen pada Desember2021 dan Januari 2022. Sementara untuk wilayah yang mengalami curah hujan tinggi mencapai 300–500 mm sebanyak 51% pada November 2021, 55% pada Desember2021, dan 57% pada Januari 2022.

Berdasarkan catatan BMKG selama periode 1981–2010, rata-rata curah pada Desember sendiri biasanya terjadi di bawah 300 mm. Bahkan, tak sedikit yang di bawah 200 mm. Contoh, rerata curah hujan Bogor di bulan Desember sebesar 280 mm, sementara DKI Jakarta tercatat 192 mm.

Namun, Supari menuturkan dampak dari La Nina kali ini akan menyebabkan curah hujan meningkat 20–70%. Peningkatan yang tinggi biasanya terjadi terutama di wilayah bertipe iklim monsunal, yakni yang ada di bagian selatan, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara wilayah yang kurang sensitif terhadap La Nina mengalami curah hujan lebih rendah sekitar 20–30%, serta periode La Nina yang lebih singkat. Antara lain Sumatra bagian tengah hingga ke utara seperti Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Padang.

BMKG sengaja tak menyebut jumlah milimeter curah hujan yang akan turun, sebab kondisi setiap daerah berbeda. Selain itu, masyarakat dinilai bakal lebih mudah memahami informasi lewat persentase kenaikan, ketimbang ukuran milimeter curah hujan per bulan.

“Mungkin kalau orang awam angkanya tidak terlalu mengerti. Karena, orang awam tidak mengukur hujannya berapa (milimeter). Tetapi dengan informasi meningkat sekian persen itu orang bisa membayangkan besar-kecilnya curah hujan,” jelas dia.

Secara singkatnya, La Nina adalah fenomena iklim global yang ditandai dengan adanya anomali suhu muka air laut di tengah ekuator Samudera Pasifik.

Di lokasi tersebut, suhu muka air laut lebih dingin dari biasanya. Perbedaan yang nyata antara suhu muka air laut di Samudera Pasifik tengah ekuator dan suhu muka air laut di Indonesia menyebabkan perbedaan tekanan udara.

Alhasil, terjadinya aliran masa udara basah dari Samudera Pasifik menuju Kepulauan Indonesia. Nah, karena Indonesia saat ini tengah memasuki musim penghujan yang curah hujannya cukup tinggi, masa udara basah ini akan menambah akumulasi curah hujan bulanan dan musiman yang meningkat sampai 20–40% di atas normal.

Dengan peningkatan curah hujan yang tinggi, tak heran apabila masyarakat terbiasa untuk melekatkan kemunculan La Nina dengan bencana. Memang tidak bisa dimungkiri, banjir umumnya selalu terjadi ketika periode La Nina berlangsung.

Sebagai gambaran, ada 331 kejadian banjir pada Desember 2020–Januari 2021, dengan populasi terdampak mencapai 1.580.756 orang. Kerusakan yang ditimbulkan menimpa 21.954 rumah, 593 gedung pendidikan, 127 fasilitas kesehatan, 507 tempat ibadah, 197 perkantoran, 51 jembatan, dan sekitar 70.076 hektare (ha) lahan pertanian.

Bergantung Kesiapan
Supari mengatakan curah hujan yang berlimpah selama periode La Nina sebetulnya dapat menjadi berkah bagi masyarakat. Daerah-daerah yang selama ini mengandalkan pengairan teknis, misalnya, dapat memanfaatkan curah hujan untuk pertanian.

“Yang menjadi kendala, apakah sistem irigasi kita, baik yang di daerah pertanian maupun saluran irigasi di perkotaan siap untuk menampung penambahan curah hujan. Kalau secara infrastruktur siap, maka sebetulnya bertambahnya curah hujan mestinya bisa menjadi sisi positif karena kita menjadi berkecukupan air,” kata Supari.

BMKG mencatat, dalam enam kali La Nina selama periode tiga puluh tahun terakhir, muncul surplus air tanah tahunan di Waeapo-Pulau Buru, Kepulauan Maluku. Jumlah surplus air tanah itu sebesar 775 mm, atau setara dengan 222% dari kondisi normal.


Akademisi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor, Perdinan berpendapat, curah hujan pada prinsipnya merupakan berkah. Menurut dia, pemahaman selama ini akan curah hujan tinggi dengan banjir, dinilai sebagai persoalan kapasitas wilayah dan masyarakat.

“Ketika kita mendapat air dari Tuhan melalui curah hujan, itu kan berkah. Tetapi bagaimana kita mengelola air ini. Itu pertanyaannya. Kalau lingkungan kita kurang pas, saluran irigasi kita tidak ada, maka mekanisme air kita itu langsung terbuang,” jelasnya, kepada Validnews, Selasa (2/11).

Padahal, mekanisme membuang air langsung ke laut melalui sungai bisa jadi bencana. Apalagi jika telah terjadi penyempitan dan pendangkalan sungai, atau pembuangan air yang melimpah dilakukan saat laut dalam kondisi pasang. Ujungnya, karena laut penuh, air tersebut justru melimpas masuk ke rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung perkantoran.

Alih-alih mengalirkan langsung ke laut secepatnya, lebih bijak rasanya jika kita memanfaatkan air hujan yang berlimpah selama musim La Nina dengan menampungnya di bendungan atau waduk.

Air yang tertampung kemudian bisa dimanfaatkan untuk beragam keperluan mulai dari pengairan lahan pertanian, budidaya perikanan atau cadangan di saat musim kemarau. Bahkan, bukan tak mungkin, pasokan air yang berlimpah tersebut dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik mikro hidro.

Strategi seperti ini rasanya bakal berjalan efektif jika saja sejumlah daerah yang rawan kekeringan di musim kemarau mau mengaplikasikannya. Curah hujan DI Yogyakarta yang diprediksi meningkat hingga 60% di musim penghujan ini misalnya, seharusnya dapat mengisi Bendungan Sermo di Kabupaten Kulon Progo.

Kementerian PUPR mencatat daya tampung bendungan ini mencapai 21,9 juta meter kubik (m3). Air ini bisa dikelola untuk daerah rawan kekeringan seperti Gunung Kidul.

Hanya saja, kata Perdinan, curah hujan yang turun saat La Nina boleh jadi melewati titik kritis dari daya dukung dan daya tampung bendungan. Jika itu terjadi, mau tak mau air harus dilepaskan sehingga risiko banjir mungkin tak terhindari.

“Kementerian PUPR ketika mengosongkan DAM, misalnya, itu pasti dia bicara berapa milimeter hujan yang mampu mereka tahan dalam waktu sekian bulan. Lewat itu pasti meluap. Itu kenapa, biasanya di DAM ada pintu untuk membuang air kalau berlebihan. Kalau enggak (dibuang), (bendungan) jebol, kan,” ucap dia.

Kosongkan Bendungan
Dalam Rapat Koordinasi Nasional Antisipasi La Nina di Jakarta pada 29 Oktober lalu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyebut 205 bendungan akan dikosongkan. Namun, data terbaru, jumlah itu bertambah menjadi 208 bendungan, dengan total daya tampung sekitar 4,78 miliar m3.

“Tujuan pengosongan adalah pada saat hujan seperti La Nina ini bendungan bisa menampung air hujan. Jadi adaptif. Tetapi mengosongkannya harus perlahan. Karena, kalau langsung banyak, di bawahnya bisa banjir,” ujar Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Ditjen SDA Kementerian PUPR Lilik Retno Cahyadiningsih, kepada Validnews, Rabu (3/11).

Lilik memastikan pengosongan bendungan dilakukan sesuai standar operasional prosedur. Saat ini, perkembangannya baru sekitar 40% dari 208 bendungan yang dikosongkan.

Pihaknya juga mengempiskan 12 bendungan karet dengan total daya tampung 7,3 juta meter kubik. Lalu, memanfaatkan 12 kolam retensi dengan total daya tampung 6,8 juta meter kubik, dan mengoperasikan 192 unit pompa pengendali banjir dengan kapasitas 263,4 meter kubik per detik.

Selain untuk pengendalian banjir, Lilik menjelaskan bendungan-bendungan itu juga berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air, sumber air baku seperti PDAM dan irigasi, hingga alokasi kebutuhan air untuk industri. Itulah alasan bendungan disebut multipurpose dam.

Setiap bendungan memiliki kapasitas tampung dan tujuan yang berbeda-beda sesuai kebutuhan di daerah bendungan tersebut dibangun. Serta mengacu pada tahun basah dan kering daerahnya.

Dengan demikian, alokasi pemanfaatan airnya pun akan mengacu pada hal tersebut. Misalnya, prioritas alokasi air pada musim kemarau panjang adalah untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Prioritas kedua untuk irigasi, sedangkan prioritas yang ketiga untuk industri.



Pertimbangan itu juga yang membuat dia tidak bisa memastikan berapa lama air yang ditampung selama periode La Nina bisa dimanfaatkan. Tapi, yang pasti, banyak warga seharusnya bisa mendapat manfaatnya. Waduk Jatiluhur, misalnya, terbukti turut memberi manfaat buat warga Ibu Kota.

“Kami membuat manual operasional dan pemeliharaan untuk membuka-tutup pintunya. Kalau berapa lama (air bisa dimanfaatkan), ya sesuai dengan manual operasional dan pemeliharaan tadi. Jadi masing-masing bendungan berbeda, sesuai siklusnya,” tutur Lilik.

Kementerian PUPR menargetkan pembangunan 16 bendungan baru selesai di 2024. Ini akan membuat jumlah bendungan di Indonesia mencapai 281, dengan total daya tampung 16,25 miliar meter kubik. Jumlah ini lumayan naik banyak dari 235 bendungan per 2019, dengan daya tampung 13,53 miliar meter kubik.

Modifikasi Cuaca
Sementara itu, Koordinator Lapangan Perekayasa Pengelolaan TMC Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dwipa Wirawan mengungkapkan, pihaknya siap melakukan modifikasi cuaca apabila diperlukan saat curah hujan tinggi akibat La Nina. Modifikasi dijalankan dengan meredistribusi curah hujan sesuai kondisi dan daerah yang membutuhkan.

“Pada awal tahun 2021 ini dilakukan rekayasa cuaca untuk redistribusi curah hujan di Jabodetabek. Apabila diperlukan kembali, saat memasuki musim penghujan seperti saat ini, dapat diantisipasi dengan kegiatan serupa,” katanya kepada Validnews, Rabu (3/11).

Menurutnya, modifikasi cuaca bukan hanya untuk mencegah banjir di suatu wilayah, tetapi juga mengantisipasi curah hujan turun lebih banyak dibanding jumlah pelepasan air di bendungan tertentu.

Ke depan, BRIN berencana mengimplementasikan metode modifikasi cuaca dengan penyemaian awan dari darat melalui menara yang disebut ground based generator. Cara ini dianggap lebih minim risiko dan biaya, ketimbang penyemaian awan yang dilakukan secara dinamis melalui pesawat.

Akan tetapi, apapun siasat di atas kertas, implementasi menjadi kunci. Rencana dengan koordinasi yang baik dan benar, harus disusun matang. Tentu dengan menyertakan rencana cadangan yang bisa segera dijalankan begitu rencana utama gagal.

Patut diingat, hujan turun tidak menunggu kesiapan kita. Wong, hujan itu berkah, bisa datang kapan saja sesuai maunya Sang Empunya Rahmat. Masalah itu ada di kita, jangan sampai kita menyia-nyiakan berkah yang akhirnya justru berubah wujud jadi musibah.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA