Media Mesti Muat Kekayaan Bahasa | Validnews.id

Selamat

Jumat, 26 November 2021

21 Oktober 2021|08:50 WIB

Media Mesti Muat Kekayaan Bahasa

Kualitas bahasa tentukan penyampaian informasi

Oleh: Leo Wisnu Susapto

Media Mesti Muat Kekayaan BahasaIlustrasi media massa digital. kominfo.go.id

DEPOK – Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Usman Kansong mengatakan, pengemasan konten-konten di media digital tidak hanya harus kreatif tapi juga memuat padanan bahasa-bahasa yang tepat.

Dia sampaikan, kualitas penggunaan kata dan bahasa dalam konten di media digital akan mendorong kualitas diseminasi informasi yang disampaikan kepada masyarakat.

“Bahasa merupakan komponen utama dalam keberhasilan komunikasi. Ketepatan berbahasa akan berpengaruh terhadap bagaimana informasi diterima oleh masyarakat,” papar Usman dalam kegiatan webinar dengan tema “Berbahasa Positif dalam Konten Kreatif”, di Depok, Selasa (19/10) seperti dikutip dari infopublik.

Menurut Usman, bahasa Indonesia adalah kekuatan yang menyatukan kemajemukan bangsa. Perkembangan teknologi komunikasi membuat bahasa Indonesia mengalami dinamika yang mendorong perlunya perluasan terhadap informasi kebahasaan.

Maraknya penggunaan bahasa gaul, seperti bahasa gaul di radio yang disebarkan melalui media sosial apabila tidak diimbangi dengan edukasi tepat, dapat menimbulkan pergeseran berbahasa di kalangan anak muda.

“Penggunaan bahasa Indonesia secara positif dalam berbagai kanal komunikasi menjadi unsur penting dalam menyampaikan informasi serta memberikan pemahaman kepada publik,” kata Dirjen Usman.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, E Aminudin Azis menerangkan, masyarakat Indonesia pada umumnya bercirikan sebagai masyarakat oral. Di antaranya ditandai dengan banyaknya dongeng-dongeng yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Budaya masyarakat Indonesia mengandalkan bahasa lisan untuk menceritakan sesuatu secara turun temurun. Bahasa lisan tidak memiliki jejak seperti bahasa tulisan sehingga sulit melacak sumber utamanya.

Bahasa lisan, menurut dia, mengandalkan ingatan. Akan berbeda penyampaian dari setiap orang karena kapasitas berpikir yang tak sama. 

Sementara, bahasa tulisan potensi untuk tersimpan secara aman. “Perpustakaan besar ada dokumen yang sudah 1.000 tahun, bahkan lebih, tapi tetap tersimpan rapi,” lanjut dia.

Di lain pihak, Direktur Utama Narabahasa yang juga Wikipediawan, Ivan Lanin yang turut menjadi narasumber pada webinar tersebut, meminta agar lembaga pemerintah memperhatikan padanan bahasa dalam mengkreasikan konten informasi.

Ia juga mengimbau agar informasi tidak hanya disalurkan melalui media sosial seperti Instagram, Twitter dan Facebook. Tetapi, harus memperhatikan konten di situs web atau laman.

“Jangan pernah lupakan situs web karena selalu berada di tengah, terutama untuk organisasi (pemerintah) situs web itu adalah tempat yang benar-benar kita bebas untuk menentukan apapun (konten,red) dan bahasa. Tidak semua konten bisa dimuat di Instagram atau media sosial lainnya,” ujar Ivan.

 

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA