Selamat

Jumat, 24 September 2021

14 Juni 2021|19:59 WIB

Lesu Tindak Pengayuh Becak

Tak hanya terbatasi kebijakan, maraknya transportasi modern juga menggerus posisi becak di Bogor

Penulis: Gisesya Ranggawari,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageBeberapa armada becak yang berada di pertigaan Pasar Anyar, Bogor, Sabtu (12/6). Validnews/Gisesya Ranggawari

BOGOR – Agus (75) yang kelelahan menyempatkan diri beristirahat di bilik berukuran 4x5 meter yang berada tak jauh dari Stasiun Kota Bogor. Di situ, dia meluruskan kaki. Seperti biasa, ‘ritual’ yang dilakukan adalah mengurut-urut sendiri betis dan lututnya yang sedikit mengeras.

"Panas banget siang ini, Mas. Saya baru saja nganter sewa (penumpang) ke Cilendek (sekitar 5 km) dari Pasar Anyar Bogor," ucapnya kepada Validnews dengan nada tinggi karena pendengarannya yang sudah menurun, Sabtu (12/6).

Mang Agus, begitu sapaannya, juga tampak mengeluarkan recehan dari saku kiri celana. Perlahan, dia menghitung uang yang dirogoh dari kocek. Namun, setelah dihitung, Mang Agus justru menghela napas panjang. Dia tersadar baru memegang Rp50 ribu saat hari sudah siang. Segenggam recehan itu merupakan hasil tiga kali mengantar penumpang.

Dirinya cemas. Hari ini pendapatannya tak lebih baik dari sebelumnya. Pada masa pandemi ini, Mang Agus rerata hanya mampu mendapatkan Rp75 ribu hingga Rp150 ribu dari hasil seharian mengayuh.

Uang segitu, belum membuat Mang Agus percaya diri pulang ke Ciapus, di kaki Gunung Salak.

"Apalagi kalau sehari cuma dapat Rp50 ribu, itu cuma buat makan saya saja. Saya pulang kirim uang buat istri kalau sudah lumayan banyak," jelas Agus.

Mang Agus menargetkan Rp250 ribu sebagai target pulang ke rumah. Apabila yang didapatnya kurang dari target, dia akan menginap di bilik. Namun apa daya, target itu jarang kesampaian. Mang Agus pernah tidur di bilik beberapa minggu.

Meski mangkal dari subuh, kerjaan Mang Agus lebih banyak menunggu. Sekalinya dapat sewa, tujuannya lumayan jauh dan bawaannya banyak. Langganan Mang Agus kebanyakan memang ibu-ibu pemilik toko kelontong yang membawa seabrek belanjaan dari pasar. Itu pun dibayar penumpang seikhlasnya.

Pendapatan tak menentu ini membuat Mang Agus pasrah meski tengah sakit. Dia mengaku kerap mengalami gangguan pencernaan dan kantong kemih. Pada malam hari yang dingin, Mang Agus sering merasakan sakit luar biasa di perut bagian kirinya. Dia terkadang juga buang air kecil secara tiba-tiba hingga celananya basah.

"Waktu itu, saya sampai ganti celana enam kali. Karena lagi diam gini nih, lagi duduk-duduk biasa tiba-tiba celana basah. Ya enggak tahu lah," akunya.

Pria berusia lanjut ini sebenarnya sempat berobat ke klinik, tapi tak dilanjutkan. Dia tak sanggup bila harus mengeluarkan biaya Rp300 ribu sekali kontrol. Untuk makan setiap hari saja Mang Agus harus menunggu siang menjelang sore, saat uangnya cukup membeli nasi bungkus. Itu pun diirit-irit agar bisa menyisihkan uang untuk istri di rumah.

Kebiasaan ini sudah dilakukan Mang Agus dari dulu. Dia bahkan mengaku sering tidak makan dalam satu hari demi membiayai keluarga dan sekolah anaknya. Dari menarik becak, kelima anaknya disekolahkan sampai lulus Sekolah Dasar (SD).

Kelimanya kini sudah bekerja dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Mungkin juga mereka kerap tidak tahu kalau sang ayah kerap sakit. "Saya sebagai orang tua ingin dengar kabar baiknya saja dari anak. Kalau tidak ada kabar berarti sedang senang," ujar Agus lirih.

Mang Agus dan pengemudi becak lainnya, punya cerita duka nyaris sama. Apa yang dialami, sedikit banyak karena imbas dari pengurangan armada becak di Kota Bogor. Kini tak sampai 100 becak yang beroperasi di sekitar Stasiun Bogor. Daya jelajahnya terbatas. Becak diimbau tidak melintasi jalan-jalan besar Kota Bogor, meskipun belum ada peraturan resminya.

Terpaksa Menyambi
Pada era 80-an awal, becak merupakan primadona transportasi, khususnya di Kota Bogor. Sangat mudah buat Mang Agus dan rekan seprofesinya mereguk uang dengan nilai yang besar setiap hari kala itu. Agus masih ingat, saat itu bisa dengan cepat mengumpulkan uang untuk melamar istrinya.

Sekarang masa keemasan itu cuman nostalgia belaka. Dia sadar persoalan yang dihadapi para pemilik becak kini semakin kompleks. Bukan hanya terkungkung oleh pembatasan pemangku kebijakan.

Pamor becak juga kian tergerus oleh banyaknya pilihan transportasi modern. Kini, becak jarang dilirik, orang-orang lebih memilih angkot atau ojek online (ojol).

Mang Agus bukan tak pernah berpikir untuk banting stir. Dia pernah berjualan nasi uduk dan usaha jual beli besi rongsokan bekas becak. Tapi semuanya gagal. "Akhirnya saya jadi tukang becak lagi, mungkin memang takdirnya," ucap pria yang sudah lebih dari lima dekade ini menjadi tukang becak.


Mang Agus (75) di becaknya, sekitar Stasiun Bogor. Validnews/Gisesya Ranggawari

Supri (53) tidak sepasrah Agus. Supri memilih menyambi sebagai kuli panggul di pasar-pasar, berbekal kenalan langganan becaknya yang membuka warung. Sehari jika ditambah penghasilan narik becak, Supri bisa membawa pulang Rp150 ribu sampai Rp200 ribu.

Uang itu, kata dia, cukup buat menafkahi keluarga kecilnya di rumah. Istri dan anak bungsunya juga ikut membantu dapur tetap ngebul dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Hanya saja, pada awal-awal pandemi covid-19 keluarganya sempat bertahan dengan bantuan sembako dari beberapa pihak. Diantaranya dari komunitas dan pemerintah daerah Kota Bogor.

"Istilahnya terdampaklah gitu. Ya kami pada saat itu hanya menunggu bantuan saja," cerita Supri kepada Validnews, Sabtu (12/6).

Sama seperti Mang Agus, Supri juga merasakan penurunan pendapatan setelah pengurangan armada becak di Kota Bogor. Sebelumnya, dia bisa membawa pulang uang Rp250 ribu sehari tanpa harus menyambi jadi kuli panggul.

Supri sempat menyesal menolak kompensasi sekitar Rp1 juta saat becaknya hendak diamankan oleh petugas pada tahun 2019. Saat itu, dia masih berat melepas becak yang merupakan sumber rezeki satu-satunya selama 20 tahun terakhir.

"Dipikir lagi, saya nyesel juga. Kan saya belum tahu bakalan ada pandemi gini nih. Kalau sudah tahu sih kayaknya bakal saya kasih itu becak terus buka usaha baru," cetus Supri.

Pandemi covid-19 membuat dia tidak punya pilihan selain melawan trauma lama. Dulu, pria lulusan SMA ini sebenarnya punya usaha sepatu kulit. Namun dia ditipu orang sampai modal tak tersisa.

Bahkan dia dikejar utang karena tak sanggup bayar pegawai. Ini menyisakan trauma untuk membuat usaha baru.

Bapak tiga anak ini sejak dulu merasa usaha lain tidak pernah mujur seperti menarik becak. Menurutnya, ada kesenangan tersendiri saat menarik becak dan jauh dari kata khawatir tidak mendapatkan rezeki.

"Enggak tahu. Sekalinya saya enggak dapat sewa (penumpang) juga hati tidak gelisah. Tenang saja. Alhamdulillah anak saya sekarang pada kerja," tutur Supri.

Ke depannya, Supri berharap pemerintah Kota Bogor lebih tegas dalam hal menertibkan becak. Kalau dilarang, hendaknya segera membuat solusi kompensasi ataupun aturan yang jelas.

Dia juga mengusulkan dibuatkan museum untuk becak di Kota Bogor. Sebab becak pernah menjadi bagian penting transportasi pada era sebelum milenium, khususnya di Kota Hujan.

Hanya Di Pemukiman
Soal keberadaannya, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, armada becak di Kota Bogor memang belum sepenuhnya dihilangkan. Para tukang becak masih boleh mengayuh becaknya. Namun, jumlahnya dibatasi. Pun rute antarnya tidak lagi sebebas dulu.

Becak dilarang beroperasi di Jalan-jalan besar Kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor mengimbau becak hendaknya bisa beroperasi di pemukiman yang jarang tersedia angkutan umum.

"Jadi, memang becak sudah dibatasi maksimum dan beroperasi di area tertentu saja. Karena kasihan kalau di jalan besar itu bahaya, banyak kendaraan bermotor," ungkap Dedie saat dihubungi Validnews, Sabtu (12/6).

Nantinya, ia berharap jalanan protokol Kota Bogor bebas dari becak. Kalau beroperasi di sekitar Stasiun Bogor atau Istana Bogor, becak hanya boleh mengantar ke pemukiman warga di sekitar situ.

"Nanti akan dikoordinasikan bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor. Awalnya akan dilakukan (penertiban) pada tahun 2020, tapi ada pandemi covid-19, jadi fokus penanganan pandemi dulu," imbuhnya.

Kepala Dishub Kota Bogor, Eko Prabowo menyebutkan, berdasarkan catatan pihaknya, jumlah awal tahun 2008 ada sebanyak 1.725 becak di Kota Bogor. Kemudian, setiap tahunnya jumlah armada becak terus berkurang sampai pada akhir tahun 2020 tersisa 211 becak.

Akan tetapi penurunan jumlah armada ini bukan hanya karena adanya program kompensasi atau pembelian becak pada tahun 2015 sampai 2019. Banyak juga armada becak yang dibesituakan atau dijual oleh pemiliknya secara mandiri karena alasan ekonomi.

"Penurunan jumlah becak pada tahun 2020 disebabkan juga kondisi pandemi covid-19, para penarik becak tidak melakukan operasi dikarenakan pulang kampung dan pengguna jasa becak mengalami penurunan," urai Eko kepada Validnews, Minggu (13/6).

Dia mengatakan, dalam program pemberian dana kompensasi atau pembelian becak, armada becak dihargai dengan kisaran harga Rp300 ribu sampai Rp1,5 juta oleh Dishub Kota Bogor. Namun yang dibeli hanya becak yang pemiliknya ber-KTP Kota Bogor.

Eko setuju becak tidak dihapuskan, tapi hanya ditertibkan. Penarik becak ke depannya ingin diarahkan untuk mengantarkan penumpang ke pemukiman sehinga tidak beroperasi di jalan-jalan besar Kota Bogor.

"Setiap tahun becak dikurangin. Becak yang 'dibeli' juga hanya yang ada surat-surat keterangan lengkap dan dalam kota Bogor. Setiap tahun kita rutin cek," tandas Eko. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER