Selamat

Rabu, 26 Januari 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

15 Januari 2022

12:33 WIB

Larangan Jual Rokok 'Ketengan', Turunkan Jumlah Perokok Anak

Larang penjualan rokok ketengan dan iklan rokok, belum pernah diterapkan pemerintah.

Editor: Faisal Rachman

Larangan Jual Rokok 'Ketengan', Turunkan Jumlah Perokok Anak
Ilustrasi kawasan dilarang merokok. ANTARA

JAKARTA - Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari menilai, upaya menurunkan prevalensi perokok remaja dan anak tidak cukup dengan kenaikan cukai rokok saja. Perlu ada strategi lain, seperti kebijakan pelarangan penjualan rokok batangan atau ketengan dan iklan rokok.

"Untuk menurunkan prevalensi perokok anak perlu kebijakan yang komprehensif. Tidak cukup dengan cukai naik saja, tapi juga harus ada kebijakan pelarangan penjualan rokok batangan dan pelarangan iklan rokok," kata Lisda dikutip dari Antara di Jakarta, Sabtu (15/1).

Dia menambahkan kedua kebijakan ini belum diterapkan di Indonesia. Karena hal itu, industri rokok masih bisa membujuk anak-anak untuk menjadi perokok melalui berbagai iklan dan promosi.

Padahal, menurut Lisda, rokok merupakan zat adiktif yang dapat membuat kecanduan dan membahayakan kesehatan.

"Rokok adalah zat adiktif yang membuat adiksi dan membahayakan kesehatan, bahkan menyebabkan kematian," urai dia lagi.

Lisda mengatakan generasi muda yang terpapar rokok akan mengalami masalah kesehatan. Gangguan ini akan berdampak pada berkurangnya tingkat produktivitasnya di masa depan.

Oleh karena itu, Lentera Anak meminta pemerintah untuk terus berupaya melalui berbagai regulasi yang dapat menjamin kesehatan masyarakat.

"Menjadi sehat adalah hak semua warga negara, karena itu negara dan pemerintah harus memastikan dan menjamin semua warganya sehat dengan menyediakan regulasi yang kuat dan layanan kesehatan," sebut dia lagi.

Dengan terbitnya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 192 Tahun 2021 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau Berupa Sigaret, Cerutu, Rokok Daun atau Klobot dan Tembakau Iris, pemerintah resmi menaikkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) mulai 1 Januari 2022.

Kenaikan tarif cukai hasil tembakau sebesar 12% ini untuk meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan mengurangi konsumsi rokok di Indonesia.

Terutama, menurut Menkeu Sri Mulyani, menurunkan prevalensi merokok di kalangan anak dan remaja.

Berdasarkan Riset Dasar Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas), jumlah perokok anak usia 10—18 tahun pada 2013 adalah 7,2%. Lalu, meningkat pada 2019 menjadi 9,1%. 

Kenaikan prevalensi perokok anak terjadi, diimbangi dengan kenaikan cukai rokok. 

Estimasi Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, dengan kenaikan tarif cukai, prevalensi perokok anak dapat turun ke 8,7% pada 2024, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024. 

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada 2021, Indonesia mencatatkan peringkat tertinggi di dunia dalam hal prevalensi perokok laki-laki dewasa, yakni 71,3%. Secara total, prevalensi perokok dewasa adalah 37,6% atau urutan kelima di dunia.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER

Minyak Rosemary Untuk Atasi Kerontokan

Kemendagri Minta NIK Untuk Pelaksaan Haji-Umroh

Perbankan Dinilai Diuntungkan Dengan Adanya Teknologi Metaverse

Wapres Ajak Ulama Indonesia Sebarkan Islam Moderat

Honda Segarkan Tampilan New Accord Di 2022

Lampaui Target, BPH Migas Kumpulkan PNPB Rp1,1 Triliun

KPK Rekrut 61 Jaksa

Ulang Tahun Ke-50 Paramount Rilis Ulang Film "The Godfather"