Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

KESRA

22 Juli 2021|20:26 WIB

KPAI Ingatkan Pemerintah Lindungi Yatim Piatu Karena Covid-19

Mulai dari pembenahan data. Pengasuhan di asrama yatim piatu alternatif terakhir

Penulis: Oktarina Paramitha Sandy,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageSebuah kopiah terpasang di atas sebuah nisan di lokasi pemakaman khusus covid-19. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) minta pemerintah memenuhi hak dan melindungi anak yang kehilangan orang tua akibat covid-19. 

Komisioner KPAI, Retno Listyarti mengatakan, selama tak sedikit anak di Indonesia kehilangan satu atau bahkan kedua orang tua. Hal ini tentu membuat anak-anak kehilangan hak mereka dan rentan karena tanpa pengasuhan orang tua. 

Retno menyarankan pemerintah dan pemerintah daerah bekerja sama. Agar mencegah terlantarnya anak-anak dan hilangnya hak mereka karena orang tuanya meninggal. 

“Pandemi covid-19 tidak hanya dilihat dari sisi statistik saja. Ada sisi yang harus dapat perhatian, dan perlu penanganan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepentingan terbaik bagi anak,” ungkap Retno melalui keterangan tertulis, Kamis (22/7). 

Retno menyarankan perlindungan dimulai dari penelusuran dan pemilahan data dari pasien covid-19 yang meninggal. Lalu, mencari tahu berapa pasien yang masuk dalam usia produktif dan menjadi tulang punggung keluarga, serta berapa jumlah anak yang ditinggalkan dan berapa usianya. 

Kemudian, disaring lagi agar ada data anak yang kehilangan satu orangtua atau kedua orang tua. Kemudian dilakukan pemetaan wilayah domisili untuk mempermudah penanganannya anak-anak tersebut melalui pemerintah daerah secara langsung.

“Data secara akurat dan kerja sama dengan dinas dukcapil setempat,” lanjut dia.

Setelah data sudah spesifik dan ditemukan lokasi anak tersebut, Retno meminta pemerintah daerah memastikan pemenuhan hak mereka. Seperti, pemenuhan keberlangsungan hak atas pendidikannya, memastikan anak-anak tersebut dalam pengasuhan oleh keluarga terdekat, hak pemenuhan kesehatannya, dan sebagainya. 

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk memberikan konseling untuk mengatasi kesedihan dan trauma mereka. 

“Pengasuhan anak yang kehilangan orangtunya akibat covid-19, harus dipastikan oleh kerabat atau keluarga besar mereka, sedangkan dan panti asuhan seharusnya menjadi pilihan terakhir,” sebut dia.

Retno juga mendorong adanya kesadaran publik melalui media massa dan kampanye media sosial terkait proses hukum dalam hal adopsi. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak rentan terhadap perdagangan dan pelecehan anak. 

“Sebagaimana dampak bencana alam, kerap banyak muncul permohonan untuk mengadopsi anak-anak yatim piatu yang beredar di media social, hal ini membuat mereka rentan terhadap perdagangan anak,” sambung dia.

Terakhir, untuk mencegah lebih banyak lagi anak-anak kehilangan orang tua mereka, Retno mendorong pemerintah melakukan pengetatan pembatasan sosial. 

Pengetatan ini harus dilakukan untuk mencegah terus jatuh korban, serta memastikan agar anak-anak terlindungi dan tidak bertambah lagi anak-anak di bawah umur yang kehilangan salah satu atau malah kedua orangtuanya.

“Kasus terus meningkat setiap harinya, maka kegiatan pembatasan sosial juga harus beberapa kali lipat lebih ketat lagi untuk mencegah lebih banyak anak yang kehilangan orang tuanya,” urai Retno.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA