Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

23 September 2022

20:16 WIB

Kontras Sebut Salah Satu Korban Mutilasi Di Papua Masih Anak-anak

Kontras mengetahui identitas para korban setelah melakukan investigasi pada pertengahan September 2022

Penulis: Aldiansyah Nurrahman,

Editor: Nofanolo Zagoto

Kontras Sebut Salah Satu Korban Mutilasi Di Papua Masih Anak-anak
Rekonstruksi pembunuhan dan mutilasi empat warga di Timika, Papua, Sabtu (3/9/2022). ANTARA FOTO/Sevianto Pakiding/wpa/wsj.

JAKARTA - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengungkapkan, salah satu dari empat korban mutilasi di Mimika, Papua, masih berusia anak.

Wakil Koordinator KontraS, Rivanlee Anandar mengatakan, empat korban warga sipil, yakni Arnold Lokbere (AL), Irian Nirigi (IN), Lemaniol Nirigi (LN), dan Atis Tini (AT) diketahui berasal dari Kabupaten Nduga, Papua.

“Salah satu korban pembunuhan dan mutilasi masih berusia anak. Hal tersebut dibuktikan dengan data administrasi kependudukan berupa kartu keluarga yang menyatakan AT masih berusia 17 tahun,” jelasnya dalam konferensi pers di kantor KontraS, Jakarta, Jumat (23/9).

AL, kata Rivanlee, merupakan pengurus gereja yang juga ditunjuk sebagai panitia pembangunan gereja. Sedangkan IN merupakan pejabat aktif kepala Desa Kampung Yunat sekaligus pengurus gereja di Kenyam, Nduga.

Kemudian, LN aktivitas sehari-harinya adalah sopir perahu yang sedia menunggu pesanan antar-jemput dari Nduga-Jita-Timika. LN juga merupakan calon pegawai negeri sipil.

Sedangkan AT, merupakan seorang anak yang sering membantu pamannya bertani dengan bercocok tanam.

Identitas para korban itu diketahui setelah KontraS melakukan investigasi pada pertengahan September 2022. KontraS menemui sejumlah pihak untuk mendalami kasus ini, di antaranya keluarga korban hingga konfirmasi ke otoritas terkait seperti Kasat Reskrim Polres Mimika, Penyidik Subdenpom XVII/C Mimika, dan RSUD Mimika.

Dari temuan itu, kata Rivanlee, tuduhan aparat yang mengatakan empat korban terlibat gerakan separatis tidak terbukti.

Dirinya justru menilai kasus ini merupakan buah dari rentetan persoalan yang menyelimuti Papua selama ini. “Peristiwa mutilasi ini, saya mau juga tarik ke dalam konteks Papua yang lebih besar, karena ini tidak bisa dilepaskan bahwa kasus ini tunggal begitu saja,” jelasnya.

Rivanlee menyebut kasus mutilasi ini adalah konsekuensi logis yang lahir dari suatu pendekatan militeristik yang sangat kental, dan pendekatan ini dianggap sebagai sebuah cara yang relevan bagi penanganan situasi konflik-konflik yang terjadi di Papua.

Akhirnya, hal ini disebutnya menyebabkan kekerasan dan eksesifnya penggunaan senjata api yang dilakukan baik oleh TNI ataupun polisi, sehingga menambah pelik situasi kemanusiaan yang ada di Papua.

Seperti diketahui, empat orang warga sipil dibunuh kemudian dimutilasi, lalu jasadnya dibuang ke sungai. 

Pembunuhan disertai mutilasi ini terjadi pada 22 Agustus 2022. Sebanyak 10 orang telah ditetapkan tersangka, enam diantaranya merupakan tentara aktif kesatuan Detasemen Markas (Denma) Brigade Infanteri 20/Ima Jaya Keramo Kostrad.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER