Selamat

Senin, 8 Agustus 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

05 Agustus 2022

20:42 WIB

Komnas HAM Belum Yakin Istri Irjen Sambo Alami Pelecehan Seksual

Ada sejumlah kejanggalan yang ditemukan Komnas HAM dalam kasus Brigadir J

Penulis: James Fernando,

Editor: Nofanolo Zagoto

Komnas HAM Belum Yakin Istri Irjen Sambo Alami Pelecehan Seksual
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik (kanan). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.

JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terus melakukan penyelidikan insiden tembak menembak antara Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat dan Bharada E (Richard Eliezer) di rumah dinas Inspektur Jenderal Ferdy Sambo, yang berlokasi di Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. 

Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Manik mengatakan, berdasarkan penyelidikan yang dilakukan pihaknya, mereka belum meyakini Putri Chandrawathi, istri Ferdy Sambo mengalami pelecehan seksual dari Brigadir J.

Karena, dari pemeriksaan saksi yang dilakukan Komnas HAM, tak satu pun yang menyaksikan adanya upaya pelecehan seksual ataupun penodongan senjata api yang disebut-sebut oleh Polri.

“Jadi, saksi yang menyaksikan penodongan itu tidak ada, makanya kami juga belum bisa meyakini apa terjadi pelecehan seksual atau tidak,” kata Taufan, dalam diskusi daring, Jumat (5/8).

Meski demikian, pihaknya masih membutuhkan keterangan dari istri jenderal bintang dua itu sebagai korban dari pelecehan seksual. Hal ini merupakan amanah dari Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).

“Meski kami belum bisa mengatakan benar atau tidak (pelecehan seksual.red), dia tetap harus diperlakukan sebagaimana layaknya seorang korban,” jelas Taufan.

Karena itu, dia menyarankan agar tim penyidik mendatangkan tim psikolog independen untuk memeriksa kondisi istri Ferdy Sambo. Apalagi jeda waktu dari peristiwa tembak menembak sudah tergolong lama.

Kalau Putri Candrawathi masih mengalami trauma dan lainnya, Komnas HAM akan menghormati sebagai hak asasi yang bersangkutan. Sebaliknya, pihaknya akan mulai memeriksa istri Ferdy Sambo untuk mengetahui apakah Putri Candrawathi benar mengalami kekerasan seksual atau tidak. 

“Kekerasan seksual atau dugaan pelecehan seksual, semua belum bisa memastikan apakah itu terjadi atau tidak,” tegas Taufan.

Validasi Ulang Timeline
Selain itu, Taufan menyebut, dari penyelidikan yang dilakukan pihaknya, mereka mendapatkan sejumlah informasi baru terkait kronologi kasus ini. Salah satunya, soal perjalanan keluarga Ferdy Sambo ke Magelang, Jawa Tengah. 

Saat ke Magelang, kata Taufan, Ferdy Sambo dan istrinya tengah berlibur untuk merayakan hari pernikahan mereka. Dalam perayaan itu, turut hadiri oleh Bharada E. Ada juga sejumlah ajudan lainnya. 

Saat perayaan itu, kata Taufan, suasana gembira. Tak terlihat ada permasalahan. 

Nah, saat perjalanan dari Magelang menuju Jakarta, Ferdy Sambo justru disebut-sebut ke Magelang menggunakan mobil. Namun, penyelidikan yang ditemukan Komnas HAM tak demikian. 

Taufan menuturkan, Ferdy Sambo justru menggunakan pesawat dari Yogyakarta menuju Jakarta, lalu ke Mabes Polri.

Sementara itu, Putri Candrawathi bersama Bharada E dan Brigadir J serta beberapa orang lainnya berangkat ke Jakarta menggunakan mobil. Mereka tiba di Jakarta sekitar sekitar pukul 15.30 WIB, pada 8 Juli 2022, atau di hari peristiwa itu terjadi.

“Kami juga sedang validasi ulang itu timeline. Kalau videonya nampak, tapikan validasinya masih harus dicek ulang. Kita tidak menerima begitu saja yang dikasih oleh Mabes Polri, kami ada ahli independen untuk memeriksa,” kata Taufan.

Namun, saat mereka tiba, Ferdy Sambo ada di rumah pribadi. Ferdy Sambo masuk bersama ajudannya didampingi satu orang petugas PCR. Taufan menduga, mereka telah menyiapkan petugas PCR karena rombongan Putri Candrawathi akan tiba.

“Masuk itu pak Sambo dengan krunya tadi ke dalam rumah dan menuju ruang istirahatnya,” tambahnya.  

Selang beberapa menit, rombongan Putri Chandrawathi pun tiba. Dia didampingi, Brigadir J dan Bharada E beserta asisten rumah tangga (ART). Saat itu, baik Brigadir J maupun Bharada E menurunkan barang bawaan mereka dari Magelang. 

Setelah itu, Brigadir J, Bharada E dan beberapa ART mengikuti PCR. Kemudian mereka diduga beristirahat di depan rumah. Sebab, mereka tak terlihat di CCTV. 

Dari keterangan yang diperoleh Komnas HAM didapati saat itu istri jenderal bintang dua itu masuk dalam kamar.

Komnas HAM pun yakin mereka memang beristirahat di depan rumah. Sebab, keterangan yang diperoleh dari para ajudan Ferdy Sambo sama dengan Vera, kekasih Brigadir J. Saat itu, Brigadir J disebut sedang teleponan dengan kekasihnya. 

Dari sambungan telepon, Vera mendengar ada beberapa orang di sekitar Brigadir J yang sedang tertawa. Hal itu biasa dilakukan mereka, sambil menunggu atasan mereka berkemas ke rumah dinas. 

Kemudian, sekitar pukul 17.01 WIB, mereka naik mobil menuju rumah dinas yang disebut sebagai tempat insiden penembakan terjadi. Tak lama, Ferdy Sambo keluar rumah menuju tempat lain. 

Namun, baru beberapa menit Ferdy Sambo pergi, saat itu juga CCTV itu berhenti. Berdasarkan keterangan penyidik, Ferdy Sambo menuju rumah dinas karena ditelepon istrinya ada peristiwa itu. 

“Tapi versi dia (Mabes Polri.red),” tambah Taufan.

Tak lama, Putri Chandrawathi kembali terlihat di CCTV. Dia terlihat menangis, didampingi dua orang yang berdiri di belakangnya. Di saat yang sama, CCTV memperlihatkan mobil Provos hilir mudik. Ada juga mobil patroli polisi. 

“Yang dikatakan bahwa mereka ditelepon dan hebohlah yang ngurusin itu lalu ada kelihatan mobil ambulans kurang lebih jam 19.00 WIB sampai direkam semua sampai RS Bhayangkara,” beber Taufan.

Masalahnya, dari TKP Komnas HAM baru mendapatkan keterangan dari Bharada E. Dari penjelasan itu, Bharada E mengatakan mendengar ada teriakan dari Putri Candrawathi. 

“Tolong Richard, tolong Riki, karena ada satu lagi. Kemudian, Richard turun ke bawah dia bertemu dengan Yosua,” tutur Taufan. 

Taufan menyebut, ada banyak beberapa ketidakcocokan keterangan terkait Brigadir J menodongkan senjata kepada istri atasannya itu. Masalahnya, saksi penodongan itu tidak ada. 

“Sebagai penyelidik kami bertanya-tanya ada apa ini?. Tentu saja, kami tidak mau menuduh sembarangan tapi kami menduga, ada yang tidak logis begitu,” ucap Taufan.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER