Selamat

Senin, 8 Agustus 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

05 Agustus 2022

20:30 WIB

Gairah Anak-Anak Pesisir Bercerita Lewat Foto

Melalui Kelas Jurnalis Cilik, anak-anak Cilincing, Jakarta Utara, belajar cara berkomunikasi yang benar dan melatih kepercayaan diri tampil di depan banyak orang

Penulis: Aldiansyah Nurrahman,

Editor: Nofanolo Zagoto

Gairah Anak-Anak Pesisir Bercerita Lewat Foto
Peserta Kelas Jurnalistik Cilik (KJC) sedang mengikuti materi di pesisir Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. ValidNewsID/Aldiansyah Nurrahman

JAKARTA – Hembusan angin begitu terasa di kulit saat matahari mulai terbenam di pesisir Kalibaru, Cilincing. Tepat di bibir pantai, puluhan anak tampak asyik belajar bersama di atas terpal. Perhatian mereka tak teralihkan, meski suara kayu yang sedang dipotong seorang nelayan terdengar cukup keras sore itu. 

Anak-anak Cilincing itu tetap bergairah, lantaran tahu akan mempelajari hal baru lagi terkait foto jurnalistik, seperti hari-hari Sabtu sebelumnya. Bahkan, pada Sabtu (30/7), sekitar pukul 15.30 WIB, pelatihan gratis Komunitas Kelas Jurnalis Cilik (KJC) ini dimulai. Hampir 30 anak datang.

Semua anak-anak tersebut, hari itu duduk di atas terpal yang digelar di atas pasir. Para relawan dan pengurus KJC, sesekali terlihat membantu anak-anak agar lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

Sore itu, mereka belajar fotografi portrait dari wartawan foto Media Indonesia, Ramdani, peraih penghargaan Anugerah Pewarta Foto Indonesia. Ya, pemateri-pemateri di KJC memang pewarta foto profesional tanah air.

Sebelum Ramdani, ada Lastri Berry Wijaya yang dikenal dengan Adek Berry. Dia merupakan pewarta foto perempuan Agence France-Presse (AFP) yang sudah dua dekade lebih memotret daerah bencana alam dan konflik.

Akan tetapi, siapapun pematerinya, setelah mendapatkan pembekalan materi, mereka diberikan kesempatan langsung mempraktekkannya. Anak-anak itu akan diberi kesempatan untuk memanfaatkan kamera digital yang disediakan komunitas.

Sebelumnya, mereka dibagi ke dalam tim yang terdiri dari 3-4 orang. Mereka didampingi satu relawan KJC yang bertugas menjaga dan membimbing mereka. Setiap satu tim juga disediakan satu kamera. Per anak diberikan jatah memotret 2-3 kali objek foto.

Anak-anak terlihat senang. Sesekali terlihat mimik wajah kikuk bercampur antusias. Kebanyakan, mereka masih kebingungan memilih target yang bisa dipotret.

Mengingat tema kali ini adalah foto portrait yang objeknya adalah manusia, anak-anak diingatkan Ramdani untuk meminta izin terlebih dahulu ke orang yang mereka foto. Objek yang mereka abadikan beragam, ada orang yang sedang duduk santai di pantai, sedang mengolah ikan asin atau hanya sekadar minum.

Sekitar jam lima sore mereka kembali lagi ke tempat belajar. Beberapa dari mereka mempresentasikan hasil fotonya.

”Tadi izin gak ke orang yang di foto?” tanyanya Ramdani begitu semua anak kembali duduk di atas terpal.

“Tanya, kak,” sahut anak-anak.

“Kenalan gak sama yang di foto?” tanya Ramdani lagi. Anak-anak hanya terdiam.

“Kalau foto portrait itu harus kenal orangnya, tanya namanya, kalau perlu nomor HP-nya juga,” begitu pesan Ramdani.

Terlepas dari kealpaannya bertanya dengan sang objek, Arjuna (11) mengaku senang bisa mempraktekkan langsung apa yang dipelajari di KJC hari ini.

“Tadi foto kucing sama foto orang jualan,” serunya.

Selama mengikuti KJC, kesulitan yang kerap dihadapi anak kelas 5 SD ini adalah saat menghadapi tombol-tombol kamera. “Susah pencet tombol-tombolnya,” ucapnya polos.

Sementara Aurel (12) mengaku senang ikut KJC karena memang suka memotret di rumah. Dia makin senang karena di KJC ternyata tak hanya belajar foto, tapi juga hal lainnya seputar jurnalistik.

“Belajar memotret, sama belajar wawancara, terus juga belajar 5W + 1 H (apa, siapa, di mana, kapan, berapa, dan bagaimana),” jelasnya.

Kamera Kardus
Pendiri KCJ, Syamsudin Ilyas mengatakan, metode pendidikan KCJ terdiri dari 60% praktik dan 40% teori. Mencakup pengenalan dasar penulisan, praktik pemotretan, pengenalan alat perekam, serta pengelolaan pameran foto.

Namun, sebelum sampai memagang kamera, anak-anak peserta didik tidak akan langsung diberikan kamera digital sebagai media praktik. Mereka lebih dahulu menggunakan kamera dari kardus yang dilubangi sebesar 5 sentimeter, yang merupakan hasil karya anak-anak bersama orang tuanya di bulan kedua pembelajaran.

Tujuan pemakaian kamera kardus itu untuk mengasah mata dan imajinasi anak-anak. Biasanya, saat menggunakan kamera kardus, anak-anak akan ajak berimajinasi sedang memotret ke suatu objek. Setelah itu, setiap anak akan diminta menggambar objek tersebut dan mempresentasikannya.

Pertemuan berlangsung secara berkala dalam jangka 4 bulan atau 16 kali pertemuan. Di bulan keempat, para peserta didik diharapkan sudah mampu menampilkan foto-foto tunggal dan mempresentasikan karya-karya mereka melalui pameran fotografi. Nah, pameran sudah gelar KJC angkatan V.

Sekadar kilas balik, Ilyas yang merupakan lulusan Galeri Foto Jurnalistik Antara dan mantan pewarta foto Rakyat Merdeka, membuat KJC pada tahun 2018. Pria kelahiran Cilincing itu merasakan resah, begitu tahu Cilincing cenderung digambarkan sebagai kampung kumuh dan miskin.

Seorang bocah melihat pameran karya peserta Kelas Jurnalis Cilik (KJC) di Kalibaru, Cilincing, Jakarta, Minggu (20/12/2020). Pameran tersebut menampilkan 41 karya fotografi dari 36 anak KJC angkatan III yang telah mengikuti kelas jurnalistik usia Sekolah Dasar. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja 

 

“Alhamdulillah, kalau saya lihat media di Google, kita klik nama Cilincing itu keluarnya KJC. Kalau dulu itu keluarnya sampah, kumuh, sekarang alhamdulillah dengan kegiatan ini cukup berdampak,” katanya.

Hanya saja, ketika kali pertama mendirikan aktivitas ini, warga sekitar sempat mempertanyakan manfaat dari kegiatan ini. Warga Cilincing malah sempat mengarahkan Ilyas untuk membuat kegiatan mengaji saja. Namun, Ilyas bersikeras dan ingin membuktikan, KJC juga bermanfaat.

Sebab anak-anak diyakininya tak hanya mendapat pengetahuan tentang foto jurnalistik, tapi juga bagaimana cara berkomunikasi yang benar. Selain itu, kegiatan ini juga melatih anak untuk lebih berani tampil di depan banyak orang.

“Di sini keras lingkungannya. Bahasa mereka pun sudah terkontaminasi dengan bahasa orang dewasa. Jurnalistik, kan, mengajarkan tentang etika berbahasa yang baik. Ternyata sangat luar biasa pengaruhnya terhadap anak-anak, ya,” ungkapnya.

Hasil dari pembelajaran ini memang berujung ke pameran. Belajar di sini tidak hanya soal karya yang dipajang, tetapi juga karya yang dijual.

Karya anak-anak akan dilelang di media sosial. Uangnya, 100% diberikan kepada mereka secara proporsional ke semua peserta pameran.

Anak yang fotonya laku akan mendapat uang lebih besar, sementara yang tidak laku, akan mendapat uang yang lebih kecil. Dari situ uangnya bisa digunakan anak-anak untuk banyak hal, misalnya membeli sepatu sekolah.

Uniknya, pameran tak hanya digelar di seputaran Cilincing saja. Beberapa kali, mereka menjalani roadhow ke sejumlah daerah, bahkan luar negeri. Pernah, pameran anak-anak KJC pernah masuk Jakarta International Photo Festival dan Yangon International Photo Festival.

Foto-foto yang dipamerkan juga akan dibukukan. Hal-hal inilah yang membuat para warga akhirnya mengerti, bahkan mendorong anaknya mengikuti KJC.

Saat ini, banyak orang tua yang datang ke sekretariat KJC di daerah Kalibaru, Cilincing untuk mendaftarkan anaknya. Ilyas mengatakan, setiap angkatan kelas akan belajar di tempat berbeda-beda, namun masih tetap di kawasan Cilincing.

Tempat belajar akan berpindah dari satu RW ke RW lainnya. "Setiap RW itu punya karakteristiknya sendiri yang bisa jadi pembelajaran. Contohnya di RW 1 yang kental dengan pengupas kerang hijau," cetusnya.

Kekhawatiran Pejabat
Saat ini, hal yang disayangkan Ilyas adalah masih minimnya dukungan dari para pemangku kepentingan. Alih-alih mendukung, pernah seorang pejabat meminta KCJ tidak melakukan pameran. Si pejabat sepertinya takut, suasana Cilincing yang masih banyak sampah terpotret dan tersebar luas.

Meski begitu, Ilyas bersikeras pameran harus tetap bisa dilaksanakan. Ia meyakinkan pejabat daerah tersebut, hal -hal seperti yang dikhawatirkannya tidak akan menimbulkan masalah.

Lalu, dari mana dana untuk mengoperasikan kelas dan mengadakan pameran?

Usut punya usut, selama ini, anggaran operasional kelas di KJC dan pameran, didapatkan Ilyas dan teman-teman dari donatur. KCJ juga membuka donasi terbuka melalui laman Kitabisa.

Uniknya, para donatur yang datang, tidak melulu hanya menyumbang uang, tapi juga barang kebutuhan KCJ. Ada yang datang menyumbang kamera dan pencetakan foto, seperti yang akan dilakukan Canon pada pameran KJC Angkatan ke V nanti.

Rencananya pameran angkatan ke V akan dilakukan di beberapa tempat. Pada 17 Agustus 2022 akan digelar Kota Tua, Jakarta, dan 16-18 September 2022 akan digelar di Kalibaru, Cilincing.

Ketua Pewarta Foto Indonesia Jakarta Herman Zakaria menilai, kegiatan KJC sangat relate dengan era sekarang. Di kegiatan inilah, anak-anak berusia dini bisa diperkenalkan dan memiliki keinginan untuk belajar ilmu jurnalistik.

“Menurut saya, manfaatnya adalah menumbuhkan dan mengasah kreativitas dalam pengambilan gambar pada anak-anak usia dini. Selain itu, pada anak-anak usia dini tentunya mereka lebih cepat memahami teknik foto jurnalistik ini,” tuturnya.

Ia berharap, anak-anak yang mengikuti KCJ dapat memiliki kesempatan belajar yang baik. Termasuk bisa mengasah kemampuan, menjadi wadah untuk berkarya dan siapa tahu menghasilkan penerus para pewarta foto saat ini.

Kata Herman, jurnalistik penting diajarkan sejak dini, lantaran sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. “Foto Jurnalistik mengajarkan banyak hal, bagaimana mengabarkan kepada masyarakat setiap peristiwa yang ter-capture dalam sebuah gambar,” ujarnya 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER