Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

23 September 2022

15:34 WIB

Digitalisasi Picu Kebutuhan Tenaga Kerja Bidang TI

Perguruan tinggi masih di Indonesia belum banyak mencetak tenaga kerja bidang TI.

Editor: Leo Wisnu Susapto

Digitalisasi Picu Kebutuhan Tenaga Kerja Bidang TI
Ilustrasi pekerjaan di bidang teknologi dan informasi. ANTARAFOTO/Ari Bowo Sucipto.

JAKARTA - Digitalisasi pelbagai sektor tak lagi bisa dihindari, termasuk dunia bisnis. Perkembangan ini selaras dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja yang ahli di bidang teknologi dan informasi.

“Sayangnya, tenaga kerja baru di bidang IT yang dicetak perguruan tinggi masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut,” Roman Kumay Vyas, CEO sekaligus pendiri Refocus Education Project dalam rilis yang di Jakarta, Jumat (23/9).

Dia mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), kebutuhan tenaga kerja di TI diperkirakan terus meningkatkan sejak 2022 hingga 2025. Proyeksi kebutuhan tahun ini sebanyak 1,23 juta orang. Lalu, ambung dia, jumlahnya diperkirakan naik 21,4% menjadi 1,49 juta orang pada 2023.

Namun, dari data yang sama, jumlah tenaga ahli di bidang TI di Tanah Air masih jauh dari permintaan. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. 

Kemudian dia mengutip riset McKinsey, Indonesia membutuhkan setidaknya sembilan juta profesional digital selama periode 2015-2030. Setara 600 ribu lulusan digital per tahun.

Dari kebutuhan tersebut, perguruan tinggi di Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 100.000 - 200.000 lulusan digital. Atau, ada kesenjangan sekitar 400.000 - 500.000 lulusan digital. 

Kekurangan tersebut, lanjut Roman, berpotensi menghambat proses transformasi digital perusahaan di berbagai industri, termasuk perbankan.

Dengan skill gap digital yang masih besar di Indonesia, diperlukan keselarasan. Yakni, antara perguruan tinggi, vokasi, serta lembaga pendidikan lainnya agar bisa memenuhi kebutuhan industri digital yang terus berkembang.

Roman lalu sampaikan, Refocus Digital Academy hadir di Indonesia sebagai platform pendidikan online dengan fokus, mengubah seseorang menjadi profesional dalam industry digital. Tim Refocus mengajarkan profesi digital, yang sedang diminati pasar dan akan berlangsung dalam jangka waktu lama.

Google Indonesia memperkirakan bahwa ekonomi digital negara akan bernilai sekitar Rp1,7 kuadriliun atau US$124,1 miliar pada 2025. Setara tiga kali lipat dari tahun 2020 dengan nominal Rp548,2 triliun. 

Menurut laporan terbaru oleh perusahaan konsultan strategi AlphaBeta, karyawan dengan keterampilan digital memiliki potensi untuk berkontribusi lebih dari Rp4 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2030.

Roman memperkirakan, 40% dari pertumbuhan lowongan pekerjaan pada dua tahun mendatang, adalah di bidang TI. Karena itu, Refocus menargetkan untuk mencetak sekira sejuta profesional TI di level internasional.

Refocus adalah platform pendidikan online yang menyediakan kursus 10 bulan di bidang digital di Indonesia dan Filipina. Refocus mendidik peserta dengan pengetahuan teoritis, menghubungkan peserta dengan ahli TI dan juga menghubungkan peserta untuk magang di perusahaan lokal terkemuka.

Para mentor Refocus, terdapat pakar terkemuka dengan pengalaman global, serta profesional lokal dari berbagai macam perusahaan seperti Grab, Lingotalk, Tokopedia, Traveloka, dan Alkautsar Cater.

JAKARTA - Digitalisasi pelbagai sektor tak lagi bisa dihindari, termasuk dunia bisnis. Perkembangan ini selaras dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja yang ahli di bidang teknologi dan informasi.

“Sayangnya, tenaga kerja baru di bidang IT yang dicetak perguruan tinggi masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut,” Roman Kumay Vyas, CEO sekaligus pendiri Refocus Education Project dalam rilis yang di Jakarta, Jumat (23/9).

Dia mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), kebutuhan tenaga kerja di TI diperkirakan terus meningkatkan sejak 2022 hingga 2025. Proyeksi kebutuhan tahun ini sebanyak 1,23 juta orang. Lalu, ambung dia, jumlahnya diperkirakan naik 21,4% menjadi 1,49 juta orang pada 2023.

Namun, dari data yang sama, jumlah tenaga ahli di bidang TI di Tanah Air masih jauh dari permintaan. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. 

Kemudian dia mengutip riset McKinsey, Indonesia membutuhkan setidaknya sembilan juta profesional digital selama periode 2015-2030. Setara 600 ribu lulusan digital per tahun.

Dari kebutuhan tersebut, perguruan tinggi di Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 100.000 - 200.000 lulusan digital. Atau, ada kesenjangan sekitar 400.000 - 500.000 lulusan digital. 

Kekurangan tersebut, lanjut Roman, berpotensi menghambat proses transformasi digital perusahaan di berbagai industri, termasuk perbankan.

Dengan skill gap digital yang masih besar di Indonesia, diperlukan keselarasan. Yakni, antara perguruan tinggi, vokasi, serta lembaga pendidikan lainnya agar bisa memenuhi kebutuhan industri digital yang terus berkembang.

Roman lalu sampaikan, Refocus Digital Academy hadir di Indonesia sebagai platform pendidikan online dengan fokus, mengubah seseorang menjadi profesional dalam industry digital. Tim Refocus mengajarkan profesi digital, yang sedang diminati pasar dan akan berlangsung dalam jangka waktu lama.

Google Indonesia memperkirakan bahwa ekonomi digital negara akan bernilai sekitar Rp1,7 kuadriliun atau US$124,1 miliar pada 2025. Setara tiga kali lipat dari tahun 2020 dengan nominal Rp548,2 triliun. 

Menurut laporan terbaru oleh perusahaan konsultan strategi AlphaBeta, karyawan dengan keterampilan digital memiliki potensi untuk berkontribusi lebih dari Rp4 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2030.

Roman memperkirakan, 40% dari pertumbuhan lowongan pekerjaan pada dua tahun mendatang, adalah di bidang TI. Karena itu, Refocus menargetkan untuk mencetak sekira sejuta profesional TI di level internasional.

Refocus adalah platform pendidikan online yang menyediakan kursus 10 bulan di bidang digital di Indonesia dan Filipina. Refocus mendidik peserta dengan pengetahuan teoritis, menghubungkan peserta dengan ahli TI dan juga menghubungkan peserta untuk magang di perusahaan lokal terkemuka.

Para mentor Refocus, terdapat pakar terkemuka dengan pengalaman global, serta profesional lokal dari berbagai macam perusahaan seperti Grab, Lingotalk, Tokopedia, Traveloka, dan Alkautsar C

ARTA - Digitalisasi pelbagai sektor tak lagi bisa dihindari, termasuk dunia bisnis. Perkembangan ini selaras dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja yang ahli di bidang teknologi dan informasi (TI)

“Sayangnya, tenaga baru di bidang IT yang dicetak perguruan tinggi masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut,” Roman Kumay Vyas, CEO sekaligus pendiri Refocus Education Project dalam rilis yang di Jakarta, Jumat (23/9).

Dia mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), kebutuhan tenaga kerja di TI diperkirakan terus meningkatkan sejak 2022 hingga 2025. Proyeksi kebutuhan tahun ini sebanyak 1,23 juta orang. Lalu, ambung dia, jumlahnya diperkirakan naik 21,4% menjadi 1,49 juta orang pada 2023.

Namun, dari data yang sama, jumlah tenaga ahli di bidang TI di Tanah Air masih jauh dari permintaan. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. 

Kemudian dia mengutip riset McKinsey, Indonesia membutuhkan setidaknya sembilan juta profesional digital selama periode 2015-2030. Setara 600 ribu lulusan digital per tahun.

Dari kebutuhan tersebut, perguruan tinggi di Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 100.000 - 200.000 lulusan digital. Atau, ada kesenjangan sekitar 400.000 - 500.000 lulusan digital. 

Kekurangan tersebut, lanjut Roman, berpotensi menghambat proses transformasi digital perusahaan di berbagai industri, termasuk perbankan.

Dengan skill gap digital yang masih besar di Indonesia, diperlukan keselarasan. Yakni, antara perguruan tinggi, vokasi, serta lembaga pendidikan lainnya agar bisa memenuhi kebutuhan industri digital yang terus berkembang.

Roman lalu sampaikan, Refocus Digital Academy hadir di Indonesia sebagai platform pendidikan online dengan fokus, mengubah seseorang menjadi profesional dalam industry digital. Tim Refocus mengajarkan profesi digital, yang sedang diminati pasar dan akan berlangsung dalam jangka waktu lama.

Google Indonesia memperkirakan bahwa ekonomi digital negara akan bernilai sekitar Rp1,7 kuadriliun atau US$124,1 miliar pada 2025. Setara tiga kali lipat dari tahun 2020 dengan nominal Rp548,2 triliun. 

Menurut laporan terbaru oleh perusahaan konsultan strategi AlphaBeta, karyawan dengan keterampilan digital memiliki potensi untuk berkontribusi lebih dari Rp4 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2030.

Roman memperkirakan, 40% dari pertumbuhan lowongan pekerjaan pada dua tahun mendatang, adalah di bidang TI. Karena itu, Refocus menargetkan untuk mencetak sekira sejuta profesional TI di level internasional.

Refocus adalah platform pendidikan online yang menyediakan kursus 10 bulan di bidang digital di Indonesia dan Filipina. Refocus mendidik peserta dengan pengetahuan teoritis, menghubungkan peserta dengan ahli TI dan juga menghubungkan peserta untuk magang di perusahaan lokal terkemuka.

Para mentor Refocus, terdapat pakar terkemuka dengan pengalaman global, serta profesional lokal dari berbagai macam perusahaan seperti Grab, Lingotalk, Tokopedia, Traveloka, dan Alkautsar Cater.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER