Selamat

Jumat, 24 September 2021

14 September 2021|13:52 WIB

BIN Bantah Diretas Hacker Asal China

Masyarakat diminta tak langsung percaya dan lakukan cek ulang info

Penulis: James Fernando,

Editor: Leo Wisnu Susapto

ImageIlustrasi hacker. Ist

JAKARTA – Badan Intelijen Negara (BIN) membantah adanya dugaan server milik lembaga itu diretas oleh hacker asal China. Informasi yang beredar, BIN adalah satu dari 10 kementerian dan lembaga pemerintah yang mengalami peretasan.

Deputi VII BIN, Wawan Hari Purwanto mengatakan, lembaga itu selalu melakukan pengecekan berkala terhadap sistem yang berjalan. Saat ini, BIN tengah berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya untuk mendalami informasi tersebut.

“Namun demikian, hingga saat ini server BIN masih dalam kondisi aman terkendali dan tidak terjadi hack sebagaimana isu yang beredar bahwa server BIN diretas hacker asal China,” kata Wawan, kepada wartawan, Selasa (14/9).

Wawan menjelaskan, serangan siber oleh para hacker merupakan hal yang wajar. Terlebih, BIN merupakan lembaga yang menjaga kedaulatan NKRI dan mengamankan kepentingan nasional Indonesia. Untuk memastikan serangan siber itu, BIN tengah bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

“Kami akan berkoordinasi dengan pihak lainnya untuk memastikan jaringan BIN aman dan bebas dari peretasan,” tambah Wawan. 

Terkait masalah peretasan ini, Wawan meminta agar masyarakat tak mudah mempercayai informasi yang beredar. Wawan juga meminta masyarakat berkaca dari kasus sebelumnya terkait kebocoran data eHAC Kemenkes yang merupakan berita bohong atau hoaks. 

"Masyarakat diharapkan tetap melakukan check, recheck, dan crosscheck atas informasi yang ada di masyarakat. Hal ini perlu dilakukan mengingat sebelumnya juga muncul isu hoax kebocoran data eHAC," kata Wawan.

Sebelumnya, peneliti keamanan internet dari The Record, Insikt Group melaporkan peretas atau hacker China, Mustang Panda telah menembus jaringan internal sekitar 10 kementerian dan lembaga pemerintah Indonesia, termasuk Badan Intelijen Negara (BIN).

Peneliti Inskit Group pertama kali menemukan upaya peretasan tersebut pada April 2021. Temuan tersebut lalu mereka melaporkan pada pemerintah Indonesia pada Juni 2021 dan Juli 2021. Setelah itu, Inskit tak lagi menerima kabar perkembangan dari pemerintah akan laporan mereka.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA