Selamat

Kamis, 1 Desember 2022

NASIONAL | Validnews.id

NASIONAL

25 November 2022

20:30 WIB

Aswasada Penenang Hati Warga

Pengawalan serta upaya persuasif polisi ke masyarakat jadi lebih efektif menggunakan kuda

Penulis: James Fernando,

Editor: Nofanolo Zagoto

Aswasada Penenang Hati Warga
Polisi berkuda berpatroli di sekitar area penyelenggaraan KTT G20, Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (12 /11/2022). Antara Foto/Zabur Karuru

JAKARTA - Juan Gultom tak pernah punya pengalaman menunggang kuda. Bahkan mencecap sensasi naik kuda di tempat wisata pun belum dialaminya sama sekali.

Karena itu, Juan butuh waktu ekstra hingga akhirnya merasa mantap memegang tali kekang kuda, dan yakin untuk bertugas sebagai anggota Pasukan Turangga.

Dari semula, dia memang tak pernah berniat menjadi bagian dari pasukan penunggang kuda. Begitu masuk Korps Sabhara Baharkam Polri beberapa tahun lalu, Juan hanya berpikir akan berperan bak personel Sabhara pada umumnya. Bukan di Detasemen Turangga.

“Memang tidak sesuai ekspektasi saya masuk pasukan ini. Saya harus belajar dari nol selama dua sampai tiga bulan. Sampai akhirnya kini saya nyaman dan bangga jadi bagian aswasada (penunggang kuda),” kata Bripda Juan saat berbincang dengan Validnews, Kamis (24/11).

Mula-mula, berpikir menaiki kuda saja sudah membuat Juan takut. Dia takut jatuh terpental saat menaiki kuda warmblood dari Belanda, yang rata-rata tingginya lebih dari 170 cm. Perasaan serupa juga sempat dirasakan beberapa rekan seangkatannya dulu.

Setahu Juan, hanya sebagian kecil polisi yang telah terbiasa menunggang dan mengurus kuda sebelum masuk Pasukan Turangga. Jadi, semua harus belajar dulu cara mengurus kuda. Satu polisi harus merawat pagi sore kuda tunggangannya masing-masing.

Juan saban hari mengurus kuda selama dua pekan pertama bertugas di Pasukan Turangga. Dirinya tak boleh lupa memberi makan kuda pada pagi, siang hingga sore hari.

Dia juga sering ‘ngobrol’ dengan kuda tunggangannya. Bahkan rutin mengusap-usapnya lembut, utamanya saat sedang memandikan kuda. Juan memahami rutinitas ini harus dijalani agar ketakutannya sirna. 

Setelah terkoneksi dengan kuda masing-masing, barulah para aswasada, termasuk Juan, mulai berlatih menunggangi kuda. Sampai akhirnya masing-masing personel dan kudanya saling mengerti dan paham kemauan dan keperluan masing-masing.

Objek Foto
Saat mulai bertugas, Juan dan teman-temannya sering diminta untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Lokasi patrolinya terutama di pusat-pusat keramaian, seperti tempat wisata.

Juan senang bukan main saat kali pertama berpatroli di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Sebab dia mendapati masyarakat senang melihat kedatangan Pasukan Turangga. 

Sapaan para aswasada terbalas dengan baik. Malahan tak sedikit pengunjung tertarik mendekati mereka karena ingin tahu soal kuda, mulai dari asal usul hingga proses pengurusan kuda.

Banyak juga anak-anak yang meminta untuk berfoto bersama. Juan maklum. Polisi berkuda cukup jarang dilihat masyarakat. 

“Dulu sebelum pandemi, kami selalu berpatroli di tempat-tempat wisata. Sekarang, baru mulai berpatroli lagi,” tutur Juan.

Bekal pengalaman pertama itu serta merta menumbuhkan rasa bangga dalam diri Juan. Terlebih Pasukan Turangga juga menjadi satu-satunya bagian dari kepolisian yang bertugas menjaga Istana Negara. Mereka dipercaya untuk mengawal kunjungan tamu-tamu negara sampai ke hadapan Kepala Negara.

“Mungkin cuma polisi berkuda yang bisa bertugas seperti ini. Karena yang diperbolehkan di Istana itu polisi militer dan beberapa TNI,” kata Juan lagi.

Para aswasada atau pasukan berkuda juga sering terlibat dalam acara resmi negara, yang terbaru terlibat dalam pengamanan rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. 

Mereka melakukan pengamanan di ring dua dari tempat para kepala negara G20 melakukan pertemuan. 

Juan dan para aswasada lainnya berpatroli di tempat-tempat para tamu negara akan berkunjung, seperti di sekitaran pantai dan beberapa lokasi lainnya.

Dia mengaku senang karena dapat berinteraksi dengan tamu asing selama bertugas. Banyak pula tamu asing yang meminta foto bersama dengan Pasukan Turangga. 

“Ini pengalaman baru saya bertemu orang asing di Bali dan saya sangat bersyukur,” ucapnya.

Seperti halnya Juan, Bripda Fergi Tri Nur Fajar juga kerap kebagian tugas protokoler kenegaraan. Dia selalu bertugas menyambut para tamu negara yang melaksanakan pertemuan di Istana Negara. Fergi tak menyangka akan begitu dekat dengan banyak Kepala Negara, meski tetap menaiki kuda.

Fergi juga sempat panik saat tahu harus mengiringi tamu-tamu negara. Dia takut kuda yang ditungganginya tidak berlaku seperti latihan karena bunyi suara sirine dan alunan musik dari marching band

Beruntung hal yang dikhawatirkan tidak terjadi. Di mata Fergi, Pasukan Turangga adalah pasukan istimewa. Jumlah personelnya tidak sebanyak dengan satuan Kepolisian lainnya. Dia mengaku bangga menjadi bagian pasokan ini.

“Di zaman sekarang, jarang ada yang menggunakan kuda. Itu yang membuat kita merasa istimewa dari polisi lainnya,” kata Fergi, saat berbincang dengan Validnews, Kamis (24/11).

Berbeda dengan Juan, Fergi sudah dekat dengan kuda sedari kecil. Pasukan Turangga juga menjadi opsi terbaik buatnya. Dia tumbuh di keluarga yang gemar menunggang kuda dan memeliharanya.

Fergi sendiri dulu adalah atlet olahraga berkuda. Dia pernah mengikuti ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mewakili Jawa Barat pada 2016. Di situ dia menyabet peringkat ketiga.

Lalu, empat tahun kemudian Fergi lulus ujian masuk polisi jalur prestasi. Dia langsung ditugaskan sebagai aswasada. Fergi senang bukan main. Hobinya dapat bermanfaat buat negara.

Menurut pengalaman Fergi, pengawalan serta upaya persuasif ke masyarakat jadi lebih efektif menggunakan kuda. Fergi dan teman-temannya biasanya hanya menyapa dan memberikan senyum, masyarakat menuruti saran mereka. 

Selain itu, antusias pengunjung sangat tinggi melihat kuda tunggangan mereka. Tak jarang beberapa pengunjung meminta mereka untuk turun dari tunggangannya untuk berbincang seputar kuda. Pengunjung lainnya juga ada yang akan meminta foto dengan latar para aswasada.

Di tempat wisata para aswasada biasanya memberikan imbauan agar para pengunjung selalu berhati-hati. Masyarakat juga akan diingatkan agar langsung menghubungi para aswasada maupun petugas lainnya bila melihat kejadian yang membahayakan di tempat wisata.

“Itulah kelebihan dan keistimewaan kami. Polisi berkuda ternyata lebih diterima oleh masyarakat dengan antusias yang sangat tinggi,” tambah Fergi.

Penyambut Tamu
Tugas Detasemen Turangga juga mengawal kegiatan Istana Negara sesuai dengan permintaan dan perintah dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kepala Negara ingin pasukan berkuda menjadi bagian dari rangkaian seremoni untuk menyambut tamu-tamu negara. 

Sementara jika di tempat wisata, aswasada bertugas untuk memastikan keamanan para pengunjung. Mereka juga ditugaskan untuk menyapa masyarakat yang datang ke tempat rekreasi itu. 

Bagi Kepala Unit Patwal Subden Dalmas Direktorat Polisi Satwa Korp Sabhara Baharkam Polri, Ajun Komisaris Polisi Kukuh Subagyo, permintaan ini menumbuhkan kebanggaan tersendiri di antara para aswasada. 

Biasanya mereka akan girang kalau ditugaskan ke Istana Negara. Sebab itu kesempatan mereka untuk melihat langsung Kepala Negara dan beserta rombongan tamu dari negara lain.

Kini, Detasemen Turangga memiliki 21 ekor kuda beserta puluhan orang aswasada. Secara bergantian mereka bertugas di Istana Negara. Kalau tidak, mereka akan patroli di tempat-tempat keramaian.

Tiap berpatroli. minimal melibatkan dua aswasada. Alasannya, setiap kuda yang dioperasionalkan harus memiliki teman. Kalau tidak, kuda bisa saja mendadak panik dan tidak terkendali.

Sejauh ini, respons yang diterima Pasukan Turangga dari masyarakat sangat baik. Bahkan, tak sedikit warga yang mendekat dengan alasan ingin memperkenalkan bahwa Polri memiliki pasukan berkuda melalui media sosial. 

“Ya, pada intinya kami sering menjadi hiburan tambahan bagi masyarakat. Karena mereka juga kami perbolehkan naik (kuda) dan berfoto. Artinya, membuat masyarakat nyamanlah,” kata Kukuh.

Pemecah Konsentrasi
Meski kini tugas aswasada lebih banyak melakukan pengamanan seremoni, Pasukan Turangga juga harus siap dengan tugas pengamanan kerumunan unjuk rasa. Paling tidak Kukuh beberapa kali mengalaminya, semisal saat turut serta mengamankan kerusuhan pada 1998. 

Saat itu, para aswasada disiagakan di gedung MPR. Mereka ditugaskan bersiaga memantau massa agar tidak bertindak anarkis, sekaligus pasang mata memantau para provokator yang menyulut emosi pendemo. 

Begitu kerusuhan memanas, para aswasada membentuk barisan semacam barikade. Lalu, secara perlahan-lahan mendekati dan menangkap provokatornya. 

Pada kesempatan berbeda, Kukuh bersama pasukan berkuda juga ambil andil dalam pengamanan aksi unjuk rasa 212 di Monas, Jakarta Pusat. Waktu itu, para aswasada bertugas untuk memecah konsentrasi massa.  

Massa yang awalnya bertindak anarkis menjadi tenang karena keberadaan pasukan ini. Konsentrasi massa terpecah karena banyak yang tertarik dengan kuda. Bahkan, banyak orang di situ yang menjadikan kuda-kuda yang ada untuk objek foto.

Saat situasi berlarut-larut tenang, para aswasada mengimbau massa untuk menyampaikan pendapatnya dengan baik. Sesudah itu, kembali ke rumah masing-masing. Uniknya, menurut Kukuh, massa mendengarkan instruksi para aswasada.

“Jadi kami sangat diterima oleh masyarakat. Pendekatan pakai kuda ini terbilang efektif daripada pakai perlengkapan senjata api dan lain-lain,” kata Kukuh.

Kasubden Dalmas Detasemen Turangga Direktorat Polisi Satwa Korp Sabhara Baharkam Polri, Ajun Komisaris Polisi Edi Susilo memastikan, proses untuk menjadi aswasada tidaklah gampang. Mereka harus menjalani seluruh proses yang tergolong sulit, lantaran resiko menunggangi kuda tergolong tinggi.

Para aswasada bisa saja mengalami cedera fatal. Para aswasada banyak yang pernah mengalami kaki terkilir, hingga cedera berat lainnya. 

Ada beberapa aswasada pernah mengalami cedera sampai dilarang oleh dokter untuk menunggangi kuda lagi. Salah seorang polwan yang jadi aswasada pernah divonis untuk tidak boleh naik kuda lagi karena mengalami saraf kejepit di bagian tulang belakang akibat terjatuh dari kuda.

Untuk mencegah kondisi seperti di atas, aswasada wajib menggunakan helm dan sepatu boot. Stándar keamanan berkuda adalah hal yang tak boleh diabaikan. 

Sementara aspek pengamanan lain, seperti kesigapan, pengetahuan hukum, dan penguasaan senjata layaknya personel kepolisian adalah hal wajib dan dasar yang harus dipunya para aswasada. Meski masing-masing personel sudah dekat dengan kudanya, faktor kehati-hatian tak bisa dilupakan.    

“Aswasada tetap diminta berhati-hati ketika berlatih atau saat bertugas di tengah-tengah masyarakat,” kata Edi. 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER