Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19, Pemerintah Siagakan 1.200 RS | Validnews.id

Selamat

Jumat, 26 November 2021

25 November 2021|15:30 WIB

Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19, Pemerintah Siagakan 1.200 RS

Pemerintah akan mengalihkan penggunaan 30 sampai 40% tempat tidur pasien di rumah sakit, untuk menangani pasien covid-19

Oleh: Faisal Rachman

Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19, Pemerintah Siagakan 1.200 RSPresiden Joko Widodo meninjau sejumlah fasilitas usai meresmikan Rumah Sakit Modular Pertamina di Jakarta, Jumat (6/8/2021) Antara Foto/Biro Pers Setpres/Muchlis Jr

JAKARTA – Pemerintah menyiagakan 1.200 rumah sakit rujukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gelombang ketiga penularan covid-19 pada awal tahun 2022. Selain menyiagakan rumah sakit rujukan, pemerintah menyiapkan puskesmas untuk mendukung penanganan pasien covid-19.

"Rumah sakit yang menjadi rujukan ada 1.200 rumah sakit. Selain itu, ketersediaan oksigen juga terus dilengkapi. Belajar dari situasi yang lalu tentunya," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Kamis (25/11).

Seperti diketahui, keterbatasan ketersediaan oksigen medis untuk mendukung penanganan pasien sempat menjadi masalah, saat gelombang kedua penularan covid-19 menghampiri Indonesia pada Juli 2021.
 
Nadia menjelaskan, pemerintah akan mengalihkan penggunaan 30–40% tempat tidur pasien di rumah sakit, untuk menangani pasien covid-19. Kemudian menyiapkan puskesmas dan tenaga kesehatan untuk mendukung penanganan pasien covid-19, sampai suplai oksigen dan alat kesehatan yang lain, guna menghadapi kemungkinan terjadi lonjakan penularan covid-19.

"Nakes saat ini cukup. Kami sudah punya list (daftar) nakes kalau memang diperlukan tambahan. Kami mengerahkan tenaga kesehatan cadangan berikut pengetatan syarat masuk rumah sakit dan pemanfaatan isolasi terpusat," cetusnya. 

Upaya-upaya pencegahan dan pengendalian covid-19 sendiri, kata Nadia, sampai sekarang masih dijalankan. Termasuk penegakan protokol kesehatan; pelacakan, pemeriksaan, dan penanganan kasus infeksi virus corona; dan vaksinasi.
 
Dalam upaya mengendalikan penularan virus corona tipe SARS-CoV-2, Nadia mengatakan, pemerintah berusaha mendeteksi kasus infeksi sejak dini. Salah satunya dengan menggiatkan pelacakan dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak erat dengan penderita covid-19.

Sejumlah tenaga kesehatan mendorong tabung oksigen di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atle t, Kemayoran, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Satgas Penanganan covid-19 melaporkan per 17 Agustus 2021 terdapat 20.741 tambahan kasus positif covid-19 baru sehingga menjadi 3.892.479 kasus, 32.225 kasus sembuh menjadi 3.414.109 kasus, dan 1.180 kasus meninggal akibat covid-19 menjadi 120.013 kasus. Antara Foto/M Risyal Hidayat 

 

Kuartal I 2022
Sebelumnya, Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengingatkan semua pihak, untuk mewaspadai situasi dan kondisi pandemi covid-19 di Indonesia pada kuartal pertama Tahun 2022. Masa-masa ini menurutnya akan menjadi masa yang rawan.
 
Dicky dalam sebuah diskusi daring memprediksi, dampak ledakan kasus covid-19 yang terjadi di Eropa saat ini, baru akan terasa di Indonesia pada Januari atau Februari 2022.
 
"Asia sendiri sebetulnya masih belum memasuki masa seperti Eropa. Eropa lebih dulu, Asia dan Amerika belakangan. Mungkin Indonesia bisa Februari akhir baru terasa dampaknya apa yang terjadi di Eropa. Kuartal pertama tahun depan jadi masa yang rawan bagi Indonesia," katanya.
 
Dicky menerangkan ledakan kasus covid-19 yang terjadi di Eropa secara serentak hampir di seluruh negara dikarenakan wilayah Benua Biru yang merupakan daratan luas. Sementara beberapa negara di Asia merupakan negara kepulauan.
 
Dia mengatakan, ledakan kasus di Eropa harus menjadi pelajaran bagi Indonesia agar tidak terlalu percaya diri dengan landainya kasus covid-19. Dicky menerangkan, negara-negara di Eropa yang memiliki sistem kesehatan yang sangat baik dan cakupan vaksinasi yang tinggi, seperti Denmark dan Norwegia saja, masih tetap mengalami ledakan kasus.
 
Menurutnya, beberapa negara di Eropa juga sangat percaya diri dengan landainya kasus covid-19 dan mencabut kebijakan penggunaan masker di tempat publik dan pelonggaran kebijakan menjaga jarak fisik. Namun justru yang terjadi di Eropa saat ini adalah ledakan kasus covid-19.
 
Dicky menambahkan, saat ini ledakan kasus covid-19 di Eropa disebabkan oleh virus varian Delta. Namun peneliti belum mengetahui turunan varian virus Delta seperti apa yang menyebabkan lonjakan kasus tersebut.
 
Sejumlah peneliti mengira lonjakan kasus tersebut disebabkan oleh varian virus baru yang lebih cepat menyebar. Bahkan bisa menurunkan efikasi dari vaksin yang sudah banyak mencakup masyarakat Eropa.
 
Karena inilah, Dicky mengingatkan agar semua pihak tetap menjaga kedisiplinan dalam penanganan covid-19. Baik dari sisi penerapan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan menjaga jarak, peningkatan vaksinasi, dan juga peningkatan pelacakan kontak erat dan tes guna menghentikan penyebaran semakin meluas.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA