Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

KESRA

10 Mei 2021|20:44 WIB

Agar Belanja Tak Abaikan Corona

Satgas Covid-19 di daerah didesak tak hanya reaktif terhadap kemunculan kerumunan

Penulis: Gisesya Ranggawari, Herry Supriyatna,

Editor: Nofanolo Zagoto

ImageSuasana Pasar Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (8/5). Validnews/Herry Supriyatna

JAKARTA–Akhir pekan kemarin, sejumlah perempuan setengah baya berdesakan di sebuah lapak busana muslim berukuran 3 x 2,5 meter di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Semuanya mengenakan masker. Namun, saking kalap memilih-milih busana, mereka tak lagi mempedulikan jarak.

Situasi serupa juga mudah ditemui di lapak lain, terutama yang menjajakan pakaian muslim. Di lapak-lapak itu, satu dua terlihat pengunjung tak memakai masker. Ada juga yang sengaja menariknya ke dagu. Mirisnya, pedagang juga banyak yang terlihat tidak bermasker.

Berdasarkan pemantauan Validnews, kerumunan juga terlihat di Blok A, F, G, dan Jembatan Penyeberangan Multiguna atau Skybridge Tanah Abang. Keberadaan TNI-Polri serta Satpol PP di Pasar Tanah Abang tak mampu membuat semua pengunjung dan pedagang patuh terhadap protokol kesehatan. Seruan mereka terkesan diabaikan.

Dian, salah satu pembeli, mengaku sama sekali tak was-was walau tahu pasar yang dibangun oleh tuan tanah Yustinus Vinck pada 30 Agustus 1735 tersebut bakalan sesak pengunjung.

"Saya kan tetap pakai masker, jadi gak takut berbelanja di Tanah Abang," aku warga Kemayoran, Jakarta Pusat tersebut, Sabtu (8/5).

Ya, para aparat memang menyebar di pelbagai titik. Sayangnya tak setiap waktu mereka berkeliling pasar. Kebanyakan Satpol PP hanya duduk-duduk dan asyik mengobrol di sepanjang trotoar Jalan Jati Baru. Banyak pembeli atau penjual dibiarkan tak pakai masker dan tak jaga jarak aman.

Meski begitu, pengelola Pasar Blok A Tanah Abang, Heri Supriyatna, tetap memastikan telah menguatkan pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan di Pasar Tanah Abang jelang Lebaran. Petugas keamanan sejatinya telah diminta selalu siaga, dan berkeliling untuk mengimbau secara persuasif kepada pengunjung dan pedagang agar tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

"Kami juga berkoordinasi serta bekerja sama dengan tiga pilar, yakni Polri, TNI dan Satpol PP guna penegakan disiplin terkait pelanggaran-pelanggaran protokol kesehatan yang terjadi di lapangan," kata Heri.

Dia memastikan, fasilitas cuci tangan dan peralatan protokol kesehatan lainnya dapat berfungsi dengan baik. Apabila ada yang rusak, pihaknya langsung menggantinya.

Akan tetapi, di sisi lain, Heri berharap masyarakat juga memiliki kesadaran dan disiplin dalam penerapan protokol kesehatan. Semestinya, masyarakat yang berbelanja tidak membawa keluarga besar, terutama anak-anak.

"Jika sudah selesai berbelanja langsung pulang saja, langsung bersihkan diri di rumah," imbaunya.

Jangan Bersikap Reaktif
Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, mobilitas masyarakat ke pusat perbelanjaan tujuh hari terakhir (28—5 Mei 2021) mengalami kenaikan 24,60%. Dari 31 provinsi, terdapat lima provinsi dengan kenaikan pengunjung tertinggi.

Secara rinci disebutkan, Maluku Utara naik 84%; Bengkulu 53%; Sulawesi Tenggara 51%; Sulawesi Barat 50%; dan Gorontalo 50%.  Khusus di ibu kota, jumlah pengunjung ke pusat perbelanjaan dicatat meningkat 14%.

Contoh peningkatan pengunjung yang paling nyata di Jakarta terlihat di Pasar Tanah Abang. Menurut data Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, selama dua hari pada pekan lalu, pengunjung di Pasar Tanah Abang sempat mencapai 185 ribu orang.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Wiku Adisasmito, sangat menyayangkan kerumunan di pusat perbelanjaan, khususnya di Pasar Tanah Abang. Dia menyerukan seluruh Satgas Covid-19 daerah dapat belajar dari apa yang terjadi di DKI Jakarta.

Satgas di daerah dituntut mampu mengantisipasi kerumunan, bukan hanya bersikap reaktif terhadap kemunculan kerumunan.

"Saya sangat paham dan menghargai tradisi berbelanja menjelang Lebaran, ini pun sangat baik untuk kemajuan ekonomi nasional. Namun, melakukannya secara bersamaan sama saja akan meruntuhkan hasil jerih payah kita mengendalikan covid-19," kata Wiku.

Wiku meminta agar pemerintah daerah segera mengevaluasi kembali Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro sesuai instruksi Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembentukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berbasis mikro. Harapannya, tidak akan terjadi kenaikan tren kasus aktif pasca-Lebaran.

"Karena di dalamnya sudah diatur terkait pengendalian sektor sosial ekonomi yang dapat produktif, namun aman covid-19 melalui pembatasan kapasitas maupun jam operasional," kata dia.

Kebijakan Kontraproduktif 
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, mengungkapkan keprihatinan sama. Dia menilai, kebijakan larangan mudik saat ini kontraproduktif dengan tujuan menghilangkan paparan. Jika pemerintah serius menangani covid-19, masyarakat yang tak mudik seharusnya tidak diperbolehkan memenuhi pusat perbelanjaan.

Menurut Hermawan, pembiaran masyarakat berkerumun di pusat perbelanjaan berpotensi menimbulkan penularan covid-19. Dia menyitir, yang terjadi di India, bukan tak mungkin terjadi di Indonesia. Seperti diketahui, India mengalami lonjakan kasus baru usai menggelar ritual keagamaan Kumbh Mela di Sungai Gangga.

Kerumunan di pusat perbelanjaan, diprediksinya masih akan terus terjadi hingga tiga hari sesudah Idulfitri, terutama pusat perbelanjaan di kota-kota besar.

Langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan simulasi rekayasa, seperti mengatur naik dan turun orang di Stasiun Tanah Abang di jam-jam tertentu, hingga mengatur waktu keluar pengunjung di Pasar Tanah Abang, dinilainya kurang efektif untuk mencegah kerumunan pengunjung. Hal itu karena tidak akan ada yang bisa memastikan kedisiplinan masyarakat saat sedang berada di pusat perbelanjaan.

Semestinya, yang dilakukan adalah mengatur ruang dan tata letak barang guna mencegah penularan virus. "Jangan-jangan penularan bukan karena kontak langsung, tapi potensial aerosol transmission of covid-19 di ruang tertutup," kata dia.

Kendati demikian, tak dinafikan bahwa kerumunan di pusat perbelanjaan tak hanya tugas pemerintah.  

Kekhawatiran senada diungkap ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani. Dia mahfum jika kasus baru di Indonesia mengalami penurunan jika dibandingkan pada akhir 2020 atau awal 2021. Akan tetapi, ada satu hal yang harus mendapat perhatian semua pihak, kasus baru di Tanah Air masih di angka 4.000-5.000 per hari.

Bercermin dari kenyataan itu, sebenarnya masih belum cukup aman membiarkan masyarakat melakukan kegiatan mobilisasi ke pusat perbelanjaan, sekalipun tujuannya untuk menggerakkan roda perekonomian.

Laura menilai, pemahaman masyarakat masih belum cukup terkait kondisi covid-19. "Jangan sampai masyarakat menganggap kondisinya sudah aman, padahal nyatanya belum aman," kata Laura.
 

Peluang Besar
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja memandang situasi ini dari sisi yang berbeda. Dia menilai, larangan mudik dapat menjadi peluang atau kesempatan bagi pusat perbelanjaan di kota-kota besar, khususnya DKI Jakarta, untuk mendapatkan peningkatan kunjungan.

Dia memperkirakan, larangan mudik dapat meningkatkan jumlah pengunjung hingga 40% saat hari raya Lebaran. Jumlah tersebut naik dibanding tahun 2020, yang hanya mencapai kenaikan sebesar 20% dibandingkan dengan hari biasa.

Apabila larangan mudik benar-benar dapat ditegakkan, dia meyakini masyarakat akan berdiam di kota dan berkunjung ke pusat perbelanjaan untuk mengisi waktu liburan.

Terhadap penyebaran corona, Alphonzus mengklaim, pusat perbelanjaan di bawah APPBI sudah mengantisipasi lonjakan pengunjung tersebut. Bahkan, antisipasi sudah dilakukan pusat perbelanjaan sejak tahun lalu. 

Pusat perbelanjaan ditegaskannya telah memiliki standard operating procedure (SOP), memiliki komitmen, serta keseriusan untuk selalu memberlakukan protokol kesehatan secara ketat, disiplin, dan konsisten.

"Dalam SOP yang dimiliki oleh pusat perbelanjaan, ada pengaturan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan kunjungan," kata Alphonzus kepada Validnews.

Tahapan-tahapan antisipasi yang dimaksud Alphonzus, yakni membatasi jumlah pengunjung dengan cara masuk bergantian. Kemudian, pusat perbelanjaan akan menutup sementara akses masuk hingga jumlah pengunjung di dalam berkurang.

Setiap pusat perbelanjaan juga punya Satgas Covid-19. Mereka bertugas berpatroli guna memastikan bahwa semua pengunjung menaati dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, disiplin, dan konsisten.

Di saat sama, dia meminta pengunjung untuk tidak ke pusat perbelanjaan jika tidak memakai masker. Kemudian, pengunjung harus memanfaatkan tempat cuci tangan dan cairan pembersih tangan yang telah disediakan pihak pengelola. Pengunjung harus menjaga jarak aman dan harus menunda masuk ke dalam pusat perbelanjaan jika di dalam masih ramai.

"Jangan berkunjung ke pusat perbelanjaan jika kondisi badan sedang sakit atau sedang mengalami gejala covid- 19," serunya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER