Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

OASE

18 Januari 2021|21:00 WIB

Bertabur Teman Baru Di Tengah Pandemi

Pembatasan selama pandemi ini rentan memunculkan perasaan keterisolasian
ImageIlustrasi aplikasi Tinder. Shutterstock

JAKARTA – Pandemi covid-19 telah berjangkit ke seluruh provinsi di Indonesia pada 9 April 2020, atau 38 hari sejak kasus pertama diumumkan. Satu hari kemudian, untuk pertama kalinya, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di Ibu Kota.

Kecemasan mulai merebak, mengubah perlahan wajah Jakarta. Ingar bingar berbagai pusat kegiatan mereda. Tak terkecuali kesibukan di perkantoran. Bekerja dari rumah (work from home) diterapkan, baik secara penuh maupun bergantian.

Hampir seluruh aktivitas bergulir di dalam rumah demi keselamatan. Lia (24), warga Jakarta Barat, mengaku tak punya pilihan selain beradaptasi.

“Merasa banget terisolasi saat pandemi ini. Beda banget aktivitas sebelum dengan saat pandemi,” cerita Lia kepada Validnews, Jumat (18/1).

Rutinitas kongko setiap akhir pekan terhenti. Padahal waktu luang itu jadi kesempatan mengusir penat usai bekerja lima hari penuh.

Akhirnya, Lia merasa perlu mencari cara demi menjaga ‘kewarasan’-nya.

Suatu malam pada akhir April, ia membuat sebuah akun di Tinder. Ini kali pertama ia menggunakan aplikasi kencan daring (dating app). Pekerja sebuah perusahaan swasta di Kuningan, Jakarta Selatan, itu berharap, perkenalan dengan orang-orang baru bisa memperbaiki rasa keterputusannya dengan dunia. 

“Mencari kenalan baru, mencari teman mengobrol. Ya kalau ada yang cocok mungkin bisa dapat pasangan. Pikiran awal buat pakai Tinder sih itu,” ungkapnya.

Lia hanya memasang sebuah foto. Kolom profil singkatnya kosong. Dengan modal foto itu saja, Lia tak butuh waktu lama mendapat seseorang yang cocok dari seberang sambungan internetnya. 

Percakapan via Tinder pun rutin berlangsung. Biasanya malam hari usai Lia merampungkan pekerjaan. Setiap kali ada pesan masuk, Lia pasti membaca dan membalasnya. Topik dasar yang dibicarakan biasanya latar belakang, keseharian, pengalaman, pekerjaan, hingga masalah pandemi.

Lia mengaku senang bisa berbagi cerita sekaligus mendapat cerita-cerita baru. “Pengaruhnya lumayan besar buat menghilangkan penat selama di rumah saja,” imbuh dia.

Seiring waktu, para pengguna Tinder yang match dengannya juga bertambah. Semua kenalannya adalah laki-laki. Sengaja dia mengatur akunnya untuk menampilkan laki-laki saja. Alasannya, Lia sudah memiliki lingkaran tersendiri untuk berteman dengan perempuan.

Tetapi dia memastikan tidak membagi identitas media sosial dan nomor ponselnya. Kecuali pada kenalan yang dipercaya dan asyik dalam obrolan. Hanya dengan teman-teman baru yang masuk kategori inilah, Lia akhirnya memutuskan untuk bertemu langsung.

Percakapan dan pertemanan dengan orang-orang baru tersebut rupanya memenuhi ekspektasi Lia.

“Walaupun tujuan utama saya ya mencari teman mengobrol sih, tetap kalau pasangan bonus kalau memang ada yang klop di Tinder,” ujar Lia.

Mengurangi Tekanan
Pandemi bukan hanya membatasi ruang gerak dan aktivitas di luar rumah bagi Nita (24). Tetapi juga menghambat kelulusannya dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta Selatan. Keinginan untuk bercerita dengan orang lain muncul untuk meringankan tekanan atas kondisi ini.

Akhirnya, ia membuat akun di aplikasi kencan daring Bumble pada akhir September 2020. Gagasan ini sebetulnya juga didorong senggangnya kegiatan perkuliahan.

“Ya lebih enak saja karena enggak akan bertemu juga,” kata Nita kepada Validnews, Sabtu (16/1).

Percakapan dengan para pengguna lain Bumble pun berlangsung. Seperti halnya Lia, Nita juga mengatur akunnya hanya untuk berkenalan dengan laki-laki.

Dua pekan kemudian, Nita dan seorang laki-laki pengguna lain Bumble pun bersepakat melanjutkan percakapan melalui aplikasi WhatsApp. Dengan orang ini, Nita merasa obrolan semakin menarik dan asyik.

“Merasa ada yang mendengarkan saja (untuk saya) cerita,” ucap Nita.

Merasa ‘nyambung’, pada awal Januari lalu, Nita dan laki-laki itu memutuskan bertemu tatap muka di salah satu mal di Jakarta Selatan. Meski pertemuan pertama ini kurang berkesan, Nita mengatakan masih terbuka kemungkinan mereka menjalin hubungan lebih dari sekadar teman dekat.

Mencari Keterkoneksian
Penggunaan aplikasi kencan daring memang mengalami tren peningkatan selama pandemi.

Menurut firma riset Social Catfish, misalnya, jumlah pesan yang dikirim pengguna Bumble di Amerika Serikat pada 2020 naik 21%, dan jumlah pengguna Tinder naik 10-15% setiap pekan.

Kemudian jumlah pengguna aplikasi OkCupid di seluruh dunia juga meningkat 280% pada April 2020 dibandingkan bulan sebelumnya. Perusahaan ini bahkan memprediksi penggunaan aplikasi kencan daring akan tetap menjadi tren pada 2021.

Di Indonesia, menurut data Tinder medio 2020, jumlah percakapan meningkat 23% pada akhir Februari hingga akhir Maret 2020. Kemudian rata-rata lama percakapan juga meningkat hingga 19%. Pada pertengahan April, pengguna Tinder rata-rata mengirim pesan 61% lebih banyak.

Pengguna Generasi Z mengirim rata-rata 64% lebih banyak pesan dibandingkan dengan anggota Tinder dengan usia di atas 26 tahun. Pada September 2020, jumlah pesan dan penggunaan fitur swipe di Tinder naik dua digit dibandingkan akhir Februari tahun yang sama.

Psikolog dari Enlightmind, Nirmala Ika, berpendapat pembatasan sosial selama pandemi ini ibarat setiap seorang tengah melakukan isolasi massal. Situasi ini membuat perasaan kesendirian atau keterisolasian lebih mudah muncul, sehingga mendorong seseorang untuk mencari teman.

“Mencari rasa untuk membuat kita tidak terlalu merasa terisolasi di kehidupan ini. Mencoba mencari koneksi dengan orang-orang di luar, yang mungkin dalam situasi sekarang agak sulit kita terkoneksi dengan orang-orang yang riil ada di dekat kita,” jelas Nirmala kepada Validnews, Sabtu (18/1).

Bagi orang yang belum berpasangan, aplikasi kencan daring menjadi salah satu cara untuk mengatasi kesendirian itu. Mereka berupaya tetap terhubung dengan dunia atau orang di luar sana. Berbeda dengan media sosial, platform ini memang didesain khusus untuk melakukan percakapan yang lebih intens.

Menurut Nirmala, seseorang yang kesepian juga cenderung untuk lebih tertarik mengenal dan berbicara dengan orang-orang baru. Ada antusiasme, misalnya, untuk mencari tahu latar belakang orang tersebut, berbagi pengalaman, dan sebagainya. 

Kemudian percakapan itu juga bisa berlangsung lebih santai dan ‘bebas’. Hal ini mungkin kerap kali sulit dilakukan dengan orang yang dikenal seperti teman.

Di sisi lain, Nirmala mengatakan keterisolasian selama pandemi sebenarnya menjadi kesempatan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Tetapi, bagian sebagian yang lain, berkomunikasi dengan diri sendiri menjadi menakutkan. Tak lain lantaran selama ini mereka jarang mendengarkan dirinya sendiri dan cenderung mencari pengalihan ketika menghadapi situasi sulit. 

“Ketika kita tidak nyamankan survival mood kita awalnya mencari cara untuk bisa keluar dari situ,” urai Nirmala. (Wandha Nur Hidayat)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER