Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

GAYA HIDUP

29 April 2021|20:47 WIB

Tunjangan Hari Raya Buat Pejuang Keluarga

Banyak profesi yang tidak mendapatkan THR dan harus bekerja ekstra untuk bisa berhari raya

Penulis: Muhamad Fadli Rizal, Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImagePara pekerja pabrik sedang menghitung THR. Antara foto/dok

JAKARTA – Pada saat orang-orang menghabiskan waktu sahur di ruang keluarga, ditemani acara lawakan televisi, Eko Wahyudianto sudah harus memacu motornya menjemput rezeki. Dinginnya hawa dini hari harus diterabas, demi mendapat penghasilan dari jasa mengantar santapan sahur.

Sebagai pengemudi ojek online (ojol), makin aktif mengaktifkan gawai pada Ramadan, sama artinya dengan menjemput rezeki lebih banyak. Maklum, pada puasa, biasanya ramai orderan untuk mengantar makanan.

Eko sangat percaya, Tuhan telah mengatur rezekinya. Semua pesan yang masuk ke aplikasinya pun diselesaikannya dengan gesit. Ia melakukannya mulai masa sahur hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Jangan bayangkan apa yang dijalankan Eko mulus tanpa hambatan. Pernah dia mengantarkan pesanan makanan sahur ke daerah Cangkringan, kaki Gunung Merapi. Sial betul, selesai mengantar orderan, dia justru lupa arah jalan pulang. 

Maklum, jalan di pedesaan masih sangat minim penerangan. Belum lagi belokan-belokan yang hampir seragam, tak jarang membuat orang linglung.  
 
"Karena orderan sudah saya selesaikan, otomatis maps (peta) juga hilang. Sementara saya lupa belak-beloknya, apalagi jalan masih gelap," cerita Eko kepada validnews, Senin (25/4).

Beruntungnya, di balik kesialannya itu, ada peruntungan yang didapatnya. Setelah menuturkan apa yang dialami, si customer justru menawarkan sahur bersama sembari menunggu matahari terbit.

Menembus kabut pada pagi buta ke kaki Merapi, bukan satu-satunya cerita Eko. Pada hari lain, dia pernah mengantarkan makanan sahur ke daerah Sedayu, Bantul. Peta dalam aplikasi menjadi patokannya.

"Enggak tahunya titik maps itu masuk ke kuburan. Langsung aja balik arah," cetusnya. 

Menjadi pengemudi ojek online, merupakan profesi yang dipilihnya, setelah selama 16 tahun menjadi kurir ekspedisi. Alasannya, ia ingin memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dan beribadah. Dengan menjadi pengemudi ojol, Eko bisa mengatur sendiri waktu kerjanya.

Tapi, kelonggaran waktu yang didapatnya, harus dibayar dengan absennya tunjangan hari raya (THR) yang diterima jelang Lebaran.

"Manusiawi ya, rasa iri itu pasti ada, tapi kemudian kita kembalikan ke diri kita sendiri. Setiap pekerjaan ada suka dukanya. Ketika rasa iri hinggap di lubuk hati, biasanya saya buang rasa itu dengan betapa enaknya jadi driver ojol," ujar Eko.

Baginya, THR yang hilang akan tergantikan dengan jumlah penghasilan yang didapat, seiring dengan besarnya pengorbanan yang dilakukan selama masa puasa. Semakin rajin dia "narik", semakin banyak pula kemungkinan uang yang bisa ia dapat. Setidaknya, bisa untuk membeli ayam untuk pelengkap opor dan ketupat lebaran.

Tak hanya Eko, berlebaran tanpa merasakan THR juga dirasakan Lolita Valda Claudia yang memilih profesi sebagai penulis lepas di sejumlah media. Ia sadar, hal ini menjadi konsekuensi dari profesi yang dijalaninya. 

"Ya, sudah disyukuri aja. Karena aku tahu risikonya kalau pekerja lepas ya enggak mungkin dapat. But its ok, yang penting berkecukupan," imbuh Lolita.

Justru sebaliknya, dia merasa masih sangat beruntung. Karena di tengah pandemi yang masih melanda, dia masih memiliki pekerjaan dan penghasilan.

Dia melihat, banyak di luar sana yang pekerja yang harus gigit jari terdampak pandemi. Tidak sedikit orang yang dihentikan dari pekerjaan, lantaran perusahaan harus kolaps terhempas badai pandemi.

Jikapun masih dipekerjakan sebagai karyawan tetap pun, bukan jaminan perusahaan bisa membayarkan THR kali ini. Tak dimungkiri, sulitnya usaha di masa ini, membuat sejumlah perusahaan harus ngos-ngosan mempertahankan hidupnya. 

Karena itu, Lolita mengaku masih merasa bangga bisa berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan masih bisa menyisihkan sedikit rezekinya untuk orang tua dan keponakannya di hari raya.

"Mudah-mudahan kerjaan makin banyak setelah lebaran nanti buat ganti duit saweran," ujar Lolita diakhiri tawa.

Hak Dapat THR 
Melihat fenomena THR, sosiolog Universitas Indonesia, Hari Nugroho punya pandangan sendiri. Menurutnya, menuntut THR merupakan suatu kewajaran, apalagi ada aturan yang memang mengatur hal tersebut. Bagi karyawan, ada sudut pandang hak yang harus diterimanya. Apalagi, di tengah kondisi pandemi yang tidak berkesudahan.

"Masih terkait konteks pandemi, para pekerja mengacu kepada pengalaman tahun lalu, di mana banyak perusahaan yang tidak mampu membayar THR tepat pada waktu, bahkan ada pula pengusaha yang terpaksa mencicil," ujar Hari kepada Validnews, Selasa (26/4).

Kata Hari, seharusnya memang perusahaan dan pengusaha memahami hal tersebut. Selain ada hak buruh, juga ada poin bahwa THR itu mempunyai makna sosial bagi pekerja.

"Ketika semua mampu merayakan Idulfitri, sekalipun secara sederhana, maka mereka yang tidak memperoleh THR, akan merasa tersisih. Mereka mengalami eksklusi sosial namanya," ujar Hari.

Eksklusi sosial, kata Hari, tentu bakal menimbulkan perasaan tidak nyaman. Maka tidak jarang masyarakat memandang THR sebagai modal untuk memelihara silaturahmi di dalam keluarga inti atau keluarga lebih besar.  

"Buat pekerja-pekerja bujang, THR itu sama dengan remittance yang diberikan kepada orang tuanya. Buat yang sudah menikah, dan punya keluarga di kampung, itu adalah remittance ekstra untuk istri dan anak-anaknya," ujar Hari.

Jadi, ketiadaan atau keterlambatan THR, bisa saja mengguncang hubungan sosial. Meskipun tidak selalu menciptakan perpecahan atau keretakan dalam keluarga, tapi itu menimbulkan ketidakpuasan sosial yang melebar, lebih dari sekadar ketidakpuasan pekerja sendiri.

"Bagi dunia kerja, ini menimbulkan distrust dari pekerja terhadap pengusaha dan perusahaan," ungkapnya.

Sementara, bagi para freelance dan ojol, memang harus legowo bahwa THR bukanlah hak mereka. Untuk para ojol, status mitra menjadikan ojol tak berhak atas THR.

"Istilah mitra itu banyak digunakan dalam berbagai bentuk hubungan kerja yang pada dasarnya, tidak sama sekali mencerminkan konsep yang hakiki dari mitra. Mitra itu sejatinya mengasumsikan hubungan yang relatif setara," ujar Hari

Menurutnya, banyak praktik hubungan kerja yang menggunakan istilah mitra, biasanya berlangsung dengan tidak setara. Bahkan lebih buruk daripada hubungan kerja standar yang formal.

"Itu sebabnya, karena sifat informal itu membuat mereka merasa tidak berdaya untuk menuntut THR, karena THR lebih kuat berpengaruh di dalam hubungan kerja yang formal," jelasnya. (Muhammad Fadli Rizal, Gemma Purbaya)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA