Selamat

Rabu, 1 Februari 2023

KULTURA

01 Desember 2022

14:44 WIB

Tinder YEAR IN SWIPE Ungkap Tren Dan Lika-Liku Dalam Berkencan

Generasi zaman 'now' punya cara tersendiri dan menyikapi segala lika-liku permainan dalam berkencan.

Penulis: Arief Tirtana,

Editor: Satrio Wicaksono

Tinder YEAR IN SWIPE Ungkap Tren Dan Lika-Liku Dalam Berkencan
Ilustrasi berkencan. Freepik

JAKARTA - Setelah masa-masa sulit di era pandemi covid-19, tahun 2022 memberi secercah kegembiraan bagi banyak orang untuk bisa kembali menikmati kehidupan 'nyata", sekaligus membayar waktu yang terbuang selama lockdown diberlakukan.

Aktivitas sosial seperti traveling dan acara offline meningkat pesat, termasuk dalam urusan berkencan. Di mana jutaan anak muda yang mulai berkencan secara online saat pandemi, kini perlahan menunjukkan bahwa mereka sudah siap kembali bersosialisasi di kehidupan nyata. Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi zaman 'now' punya cara tersendiri dan menyikapi segala lika-liku permainan dalam berkencan.

Seperti dikatakan Papri Dev, Tinder APAC Comms Head. Menurutnya, tahun ini para lajang di Indonesia mulai menunjukkan energi yang lebih bersemangat dalam berkencan. Hal itu bisa dilihat dari tingginya antusiasme terhadap konser dan aktivitas outdoor, tidak sekedar kencan makan malam biasa.

 "Kami melihat para lajang menjalani kehidupan kencan dengan lebih baik, seiring mereka mampu melihat green flags dari calon pasangan mereka, dan menerima Situationship sebagai gaya kencan yang baru," kata Papri Dev.

Melihat fenomena tersebut, maka di penghujung tahun 2022 ini Tinder mencoba berbagi temuan mereka, dalam "Year in Swipe" terbaik. Merangkum berbagai tren, mulai dari status hubungan yang lagi viral dan pandangan terhadap isu sosial, sampai emoji yang paling banyak bermunculan pada fitur chat Tinder.

10 Tren Penting Tinder di 2022

Situationship Sebagai Status Hubungan Valid

Dalam laporan Tinder, tahun ini para lajang masih menjalani lika-liku percintaan, tapi mereka ingin kesepakatan yang jelas. Maka dari itu kemudian muncul tren situationship, yakni hubungan kasual yang dianggap memiliki definisi lebih jelas; lebih dari hookup, namun di saat yang sama, bukanlah hubungan tradisional.

Label hubungan ini mulai menjadi tren di tahun 2022. Di mana Tinder menemukan jumlah member (pengguna) yang menuliskan tujuan hubungan situationship di profil mereka meningkat sebesar 49% ( Dari bio Tinder pada periode Januari- Oktober 2022). 

Kemudian dalam survei yang dilakukan Tinder di antara pengguna berusia 18-24 di Inggris, Amerika Serikat, dan Australia selam 18-28 Oktober 2022, satu dari 10 lajang, mengaku memilih Situationship sebagai cara untuk memulai hubungan yang tidak terlalu bikin tertekan.

Nilai Positif Jadi Poin Plus

Walaupun sebelumnya lebih dikenal sebagai emoji untuk simbol parkir, tapi kini 'P' telah beralih fungsi menjadi emoji yang merepresentasikan Pushing 'P' dan menjadi trending emoji nomor satu secara global di Tinder pada tahun ini.

Hal tersebut merupakan pergeseran yang menarik dari tren emoji di tahun-tahun sebelumnya. Para pengguna Tinder beralih ke emoji 'Parkir' untuk membuat orang lain tahu nilai positif yang mereka cari.

Di Indonesia sendiri, para pengguna Tinder paling banyak menggunakan emoji hantu dan mata berkedip, serta kilauan.

Dinner Mulai Ditinggalkan

Pengguna Tinder di Indonesia memilih ‘Jalan-jalan’ (74%), ‘nge-date ke Acara Musik’ (21%), dan ‘Kulineran’ (57%) sebagai aktivitas first date favorit mereka. Kemudian ‘Olahraga Outdoor’ (27%) sebagai aktivitas nge-date saat musim panas.

Mereka mencari aktivitas yang lebih autentik untuk saling mengenal satu sama lain. Bukan hanya sebatas dinner, yang selama ini dikenal sebagai salah satu aktivitas favorit untuk nge-date.

Ada juga ide nge-date seru lainnya yang jadi tren global di Tinder, antara lain, Camping, BBQ-an, mencoba hal-hal baru, dan kuliner kaki lima.

Humoris, Fresh dan Apa Adanya

Selera humor menjadi hal yang paling dicari para member dari calon match (pengguna yang menyukai mereka di platform Tinder). 73% anak muda secara global mengaku mencari orang yang punya keinginan jelas dan berpenampilan bersih.

Saat ditanya kriteria paling penting dari pasangan, mereka memprioritaskan kualitas berbasis nilai, seperti loyalitas (79%), saling menghargai (78%), dan berpikiran terbuka (61%), dibandingkan fisik (56%)3.

Sama halnya di Indonesia, para lajang juga melihat banyak hal di luar mindset lama ‘bibit, bebet, bobot’. Mereka mencari calon pasangan yang punya pemikiran terbuka dan bisa menerima (79%), dapat dipercaya (68%), dan bisa berbagi selera humor yang sama (64%).

Pandangan Isu Sosial Pengaruhi Hubungan

Dalam laporan Tinder, tiga perempat atau 75% lajang mengaku mencari pasangan yang menghargai dan mengamati isu sosial. Di mana Aktivisme dan Hak Pemilih menjadi dua Minat yang meningkat masing-masing sebanyak 84% dan 37% pada profil pengguna Tinder secara global di tahun ini.

Memamerkan Unsur Nostalgia

Banyak lajang yang terinspirasi era 90an. Itu terlihat dari peningkatan minat yang dipasang di profil Tinder mereka. Anime, Sneakers, bahkan lagu jadul favorit yakni ‘Running Up That Hill’ oleh Kate Bush, kembali naik menjadi top 10 lagu pilihan Spotify Anthem di profil Tinder.

Tinder juga terinspirasi dari tren berkencan di tahun 90an, yakni Blind Date, yang menjadi salah satu fitur Tinder. Fitur ini menghubungkan para pengguna sebelum memperlihatkan profil mereka satu sama lain, dan telah digunakan sebanyak 200,000 kali rata-rata setiap harinya. 

Menurut Tinder, beberapa tahun terakhir terasa sulit, dan nampaknya para lajang berusaha mencari pasangan yang autentik dengan vibes yang oke seperti zaman sebelum ada smartphone.

Emoji Green Flags dan Red Flags

Banyak tips dan temuan di media sosial yang menunjukkan bahwa anak muda lajang kini lebih paham tentang hal baik, buruk, dan jelek dalam berkencan. Seiring semakin sadarnya mereka dengan hubungan toxic yang semakin mungkin terjadi.

Lebih dari setengah (58%) anak muda yang disurvei mengatakan bahwa mereka mampu mengenali green flags atau red flags saat berkencan. Di tahun 2022, para lajang akhirnya merasa cukup, dan jadi lebih peka terhadap red flags dan green flags, dan penilaian kita jadi lebih baik karenanya.

Di Tinder, pengguna dapat mengecek Pusat Keamanan untuk informasi lebih lanjut tentang cara berkencan yang lebih sehat dan aman, demi menghindari potensi toxic yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan.

Revenge Travel Jadi Populer di Tinder

Setelah pandemi pada dua tahun terakhir, para lajang akhirnya kembali memiliki kesempatan untuk menjelajahi bagian dunia lainnya dengan pembatasan yang lebih longgar, atau bahkan tanpa pembatasan sama sekali.

Itu membuat para pengguna Tinder di Indonesia yang berusia 18-25 tahun rata-rata bisa menggunakan Tinder Paspor sebanyak sembilan kali tiap bulannya.

Tinder paspor itu digunakan mereka untuk bisa mencari pasangan melalui aplikasi Tinder ketika berkunjung ke beberapa destinasi internasional, seperti Singapura, Korea dan Malaysia. Dan untuk destinasi lokal, kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Bali menjadi tiga destinasi teratas.

Semakin Mengandalkan Zodiak

Zodiak menjadi deskripsi paling populer yang ditambahkan pada profil pengguna Tinder, selain preferensi merokok, binatang peliharaan, dan jenis makanan yang dikonsumsi. Di mana Leo, Scorpio, dan Cancer menjadi zodiak yang paling banyak dimasukan pada bio Tinder.

Selain itu yang mengejutkannya, semua zodiak punya kesempatan yang besar untuk bisa match dengan zodiak yang sama. Beberapa anak muda Indonesia bahkan percaya bahwa kecocokan zodiak merupakan pertimbangan penting dari partner kencan mereka.


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER