Selamat

Jumat, 24 September 2021

14 September 2021|19:20 WIB

Teknologi Touchscreen Pada Mobil, Amankah?

Beberapa pabrikan mobil masih mempertahankan fitur tombol fisik untuk media hiburan di dasbor mobil,

Penulis: Kevin Sihotang,

Editor: Rikando Somba

ImageFitur touchscreen pada dashboard Mercedes GLC 250 4 MATIC. Shutterstock/dok

JAKARTA – Teknologi layar sentuh atau touchscreen semakin banyak dipergunakan di berbagai gawai. Untuk perangkat telepon pintar, rasanya nyaris semua unit menggunakan teknologi layar sentuh. Begitu juga dengan laptop yang sekarang banyak dilengkapi dengan fitur layar sentuh pada monitornya.

Akan teapi bagaimana untuk perangkat media yang ada di dasbor mobil? Apakah aman untuk para pengemudi? Hal ini menjadi perdebatan di kalangan para pemerhati mobil.

Dikutip dari Autocar, Selasa (14/9), Melanie Limmer, petinggi di departemen elektrik pabrikan mobil Audi, mengatakan bahwa banyaknya mobil menggunakan fitur layar sentuh karena masyarakat dinilai sudah terbiasa dengan penggunaannya pada ponsel pintar. 

Meski demikian, beberapa pabrikan mobil juga masih mempertahankan fitur tombol fisik untuk media hiburan di dasbor mobil, walaupun jumlahnya tidak sebanyak yang menggunakan layar sentuh. 

Layar sentuh sejatinya memang berbahaya bila digunakan di dasbor mobil. Pasalnya, layar sentuh menuntut perhatian penuh si pengemudi ketika hendak menggunakannya. Misalkan pengemudi yang sedang menyetir ingin mengganti lagu yang sedang diputar, dia akan lebih kesulitan menemukan tombol next ketimbang bila menggunakan tombol fisik yang masih bisa diraba meski pandangan masih menuju ke jalan raya.

Maka dari itu, di beberapa layar tersebut biasanya tertera tulisan “Warning! Do not use while driving!” Namun, layaknya imbauan atau peringatan pada umumnya, sudah pasti peringatan ini dilanggar oleh para pengemudi mobil di seluruh dunia. 

Prioritaskan Keselamatan
Matthew Avery, direktur riset dari Thatcham Research, sebuah lembaga penelitian bidang keselamatan otomotif di Inggris, mengatakan bahwa mayoritas pabrikan mobil yang menerapkan layar sentuh untuk fitur entertainment akan memprioritaskan keselamatan para pengguna mobilnya. Hal ini ditandainya dengan semakin besar dan jelasnya tampilan layar serta ikon-ikon yang tersedia.

“Layar infotainment yang besar tidak selalu menjadi masalah, karena (layar tersebut, red.) memungkinkan ikon yang lebih besar dan tampilan yang tidak terlalu ramai,” kata Avery dikutip dari Autocar. 

“Sebaliknya, layar kecil dengan ikon kecil akan menjadi kekhawatiran yang lebih besar,” tuturnya. 

Avery juga menekankan pentingnya tingkat sensitivitas layar yang baik, serta kesamaan standar ikon dan tampilan antarmuka (interface) di setiap perangkat, sehingga para pengguna dapat dengan cepat terbiasa atau mengenali ikon-ikon tersebut. 

Ia lantas mencontohkan sistem Apple CarPlay dan Android Auto yang bisa dijadikan pedoman. Hal itu lantaran kedua brand besar tersebut justru mengganti tampilan pada layar menjadi sama dengan tampilan yang ada di ponsel pintar mereka. Dengan begitu, pengemudi juga akan merasa lebih familiar dengan ikon-ikon yang ia lihat. 

Selain itu, pengemudi juga tidak perlu lagi menyentuh ponselnya apabila ada kebutuhan menelepon atau sekadar melihat daftar lagu.

 

 

Tidak Aman
Pandangan berbeda datang dari Badan Pengawas Jalan Departemen Transportasi di Inggris (Highways england), Jim O’Sullivan. 

“Kami tidak menyukainya (layar sentuh) dari perspektif keamanan,” kata Sullivan. 

Menurutnya, teknologi layar sentuh yang ada di ponsel pintar dan yang ada di mobil tidak bisa dibandingkan secara langsung. Bahkan, Komite Pemilihan Kendaraan di Inggris juga sudah melarang hands-free calls atau panggilan tanpa menyentuh ponsel. 

Hal itu tetap dinilai tidak aman, lantaran dianggap berpotensi mengalihkan fokus si pengemudi, walaupun banyak penelitian mengemukakan bahwa risiko hands-free calls lebih rendah ketimbang menelepon langsung lewat ponsel ketika berkendara. 

Sementara itu, Harris Ramis, staff Google yang bekerja secara khusus di bidang operasi layar sentuh Android yang akan digunakan di mobil-mobil Volvo dan Polestar, mengatakan bahwa kebanyakan orang sudah sangat bergantung pada ponsel pintarnya, bahkan ketika sedang mengemudi. 

Pabrikan-pabrikan mobil kemudian berusaha membuat para pengemudi merasa “tidak gelisah” ketika meletakkan ponselnya, hal ini dikarenakan semua fitur ponselnya sudah “dipindahkan” ke dalam mobil.

“Saat ini, orang-orang mengeluarkan ponsel mereka dan menggunakannya saat mengemudi, jadi ketika kami memikirkan soal keselamatan, kami melakukannya dari perspektif memastikan mereka memiliki akses pada layanan yang mereka inginkan, yang sudah dibuat di dalam mobil, untuk memastikan mereka meninggalkan ponsel mereka di tempat yang seharusnya,” tutur Ramis. 

Ramis menyebut apa yang dilakukan para pabrikan mobil tersebut sebagai pengalihan perhatian pengemudi yang optimal. Artinya, para pengemudi sebisa mungkin tidak akan teralihkan dengan ponsel mereka. Ini adalah cara paling aman untuk menangani ketergantungan para pengemudi pada ponselnya. 

Sistem entertainment berbasis Android yang akan diterapkan di mobil Volvo yang baru, khususnya model mobil listrik XC40 yang akan datang, menggunakan desain template yang tetap dan fungsi kontrol yang sama, hal ini dibuat dengan tujuan memastikan keakraban pengguna dengan tampilan sistem tersebut. 

“Kami menghabiskan banyak waktu bekerja untuk memastikan sistem yang bisa digunakan saat mengemudi, sehingga itu (sistem) tidak mengalihkan (perhatian pengemudi pada jalan, red.),” kata Ramis.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA