Selamat

Senin, 26 Juli 2021

SENI & BUDAYA

17 Juli 2021|14:23 WIB

Suarakan Keresahan Lewat Seni Mural

Masih banyak yang memandang mural adalah tindakan vandalisme

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageSalah satu mural dari komunitas Teriak di Depok, Jawa Barat. Ist/dok

JAKARTA - Komunitas Temu Ruang Imaji Akan Kreatifitas (TERIAK), menjadi wadah mahasiswa Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta dalam menyalurkan kreativitas di bidang seni. Melalui Teriak, mereka bisa menyalurkan kritik dan keresahan sosial lewat sebuah karya seni berbentuk mural.

Manajer Teriak, Rizki Abdullah menjelaskan, komunitas ini berdiri pada 7 September 2018, bertepatan dengan peringatan kematian aktivis HAM Munir Said Thalib. 

Dalam momentum tersebut, Teriak ingin mengingatkan negara bahwa sampai hari ini, keadilan bagi Munir yang meninggal dalam perjalanan udara menuju Bandara Schipol Amsterdam belum terungkap.

"Kita ingin membuat sesuatu untuk mengingatkan masyarakat," kata Rizki kepada Validnews, Jumat (16/7). 

Mural sendiri adalah seni melukis atau menggambar dengan menggunakan media dinding yang bersifat permanen atau dinamis.  

Rizki menjelaskan, seni mural memang pas digunakan untuk mengkampanyekan isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Dengan desain yang menarik di dinding dengan skala yang cukup besar, diharapkan masyarakat lebih tertarik dan dapat menerima pesan yang sedang disampaikan. 

Dalam membuat sebuah mural, tentu melalui tahapan yang cukup panjang. Pertama tentu saja adalah pesan yang ingi disampaikan. Setelahnya masuk dalam pembuatan desain, kemudian akan di review apakah masyarakat akan tertarik dengan apa yang akan disuguhkan. 

"Nanti baru kita review bareng-bareng ada yang mau ditambah atau dikurangi," ujarnya. 

Tahapan terpenting dalam pembuatan mural sendiri adalah menentukan dimana lokasi dinding yang akan digunakan untuk membuat mural. Dibutuhkan lokasi yang strategis dan sering diakses masyarakat agar mural bisa dilihat dengan jelas. Jika sudah menemukan dinding yang pas, baru masuk ke tahapan eksekusi. 

Tahapan eksekusi dimulai dengan membuat sketsa gambar pada dinding, membuat outline, sampai tahapan mewarnai menggunakan cat tembok dan pigmen warna-warni. Sementara waktu pengerjaan pembuatan mural tergantung tingkat kesulitan desain yang sudah disetujui sebelumnya. 

Eksekusi pembuatan mural sendiri biasanya dilakukan pada malam hari. Hal itu dipilih untuk menghindari atensi masyarakat dan kecurigaan. 

Menurut Rizki, banyak masyarakat yang masih memandang bahwa kegiatan mural adalah tindakan vandalisme yang merusak kebersihan dinding. 

Jika menghadapi kondisi seperti itu, Rizki menuturkan harus memberikan pengertian kepada warga tentang kegiatan yang mereka lakukan. Intinya, kegiatan mural adalah sebuah sarana kampanye agar masyarakat ingat dengan sejarah dan kejadian yang pernah terjadi di masa lampau. 

"Intinya menjelaskan tidak boleh ngotot, jelasin baik-baik dan sabar. Kita bilang desainnya seperti ini, tidak ada SARA dan lainnya. Nggak ada yang lain dan kita mau menyuarakan soal keresahan," imbuhnya. 

Kini, mural tidak hanya dilakukan di dinding saja. Demi menghindari gesekan dengan masyarakat yang tidak suka, Rizki menjelaskan ia mengganti media tersebut dengan sebuah papan triplek. Nantinya papan tersebut juga akan dipajang di lokasi-lokasi strategis yang tujuan akhirnya adalah mendapatkan atensi dari masyarakat.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER