Selamat

Senin, 8 Agustus 2022

KULTURA | Validnews.id

KULTURA

06 Agustus 2022

15:04 WIB

Standar Horor Baru Joko Anwar Di "Pengabdi Setan 2: Communion"

Secara keseluruhan, aspek cerita yang kuat, berpadu dengan kualitas sinematografi yang dihadirkan, membuat film “Pengabdi Setan 2: Communion” sukses jadi film horor di atas rata-rata.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Rendi Widodo

Standar Horor Baru Joko Anwar Di "Pengabdi Setan 2: Communion"
Poster promosi "Pengabdi Setan 2: Communion". Dok. RAPI

JAKARTA - Tahun 1955. Di suatu tempat, kejadian mistis yang besar dan jahat sedang terjadi. Hanya dua orang yang menyaksikan teror mayat hidup itu, dan keduanya memutuskan mengunci mulut terkait kejadian tersebut.

Fragmen tersebut menjadi pembuka yang penting bagi keseluruhan  cerita “Pengabdi Setan 2: Communion”, film besutan Joko Anwar yang resmi tayang di bioskop mulai 4 Agustus lalu. Kilas balik singkat itu selain memberi teror horor yang dalam, juga menjadi petunjuk penting bagi kisah horor di film ini secara keseluruhan.

Film berlanjut ke tahun 1984, latar utama cerita teror “Pengabdi Setan” yang dialami keluarga almarhum Ibu (diperankan Ayu Laksmi), yaitu Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Bondi (Nasar Anuz) dan Bapak (Bront Palarae). Keluarga ini telah menetap di sebuah rumah susun (rusun), di bilangan Jakarta Utara.

Era 1980-an digambarkan dengan ciamik di film ini lewat kehadiran angkutan bus bertingkat, halte, bioskop lawas, penyiar berita televisi, kirim salam via radio, hingga bocah penjaja koran yang menawarkan berita seputar petrus yang terkenal. 

Suasana era lawas itu diperkuat pula dengan konsep busana hingga penggunaan bahasa “aku”, “kau” yang digunakan para tokoh dalam percakapan-percakapan mereka.

Hanya saja, sesempurna-sempurnanya manipulasi suasana, tetap saja ada hal-hal kecil terlewat. Beberapa karakter figuran yang dihadirkan Joko Anwar tampak mengenakan busana yang kurang cocok, terasa terlalu kekinian untuk era tersebut.

Memotret rusun di pinggiran kota tahun 1980-an, Joko jadi punya kesempatan untuk menyisipkan sederet kritik sosial. 

Lewat karakter Tari (Ratu Felisha) yang bekerja malam pulang pagi, sutradara mengkritik kegemaran masyarakat menstigma perempuan. Lewat aktivitas para penghuni rusun yang tak bertegur sapa, sutradara mencoba berbicara tentang nilai-nilai komunitas.

Di rusun, Rini dan keluarganya sudah mulai hidup tenang, dan merasa teror Ibu dan para mayat hidup tak ada lagi. Tapi nyatanya teror itu belum atau bahkan tak akan pernah selesai. 

Penampakan rusun yang cukup mengenaskan, suasana gelap lorong-lorong rusun, dan para penghuni yang tampak misterius sudah menjadi horor tersendiri, tanpa perlu adanya penampakan setan-setan secara langsung.

Salah satu horor yang paling menyentak bagi adalah peristiwa kecelakaan nahas di rusun yang menewaskan banyak orang. Bukan, bukan setan, tapi kecelakaan.

Di sini Joko Anwar menunjukkan kualitas penceritaan yang lebih tinggi, yang tak tampak pada film sebelumnya, “Pengabdi Setan” (2017). Jika di film sebelumnya teror hanya berasal dari setan, maka di film keduanya ini, horor muncul dari banyak hal. Sutradara tak perlu buru-buru memberi penampakan setan di filmnya, karena suasana horor itu telah terbangun secara organik dari cerita yang berjalan.

Malam Pengabdi Setan
Setelah kecelakaan massal para penghuni rusun, datanglah malam mencekam itu. Rusun mengalami mati lampu. Dan di luar, hujan deras bersiap mengirim banjir yang akan mengepung gedung.

Tapi yang klise itu segera tertutupi dengan tensi horor yang dihadirkan Joko Anwar di “malam jahanam” itu. Mayat-mayat penghuni rusun yang sudah dikafankan, yang belum bisa dikebumikan karena cuaca yang buruk, meneror rusun yang gelap dan sepi.

Momennya memang dibuat pas. Karena ada ancaman banjir, banyak penghuni rusun mengungsi ke tempat lain. Akhirnya, hanya tinggal Rini dan keluarganya, serta beberapa saja tetangga lainnya.

Ternyata, malam mencekam itu bertepatan dengan jadwal malam berkumpulnya para pemuja setan, menurut siklus penanggalan yang dipecahkan oleh Bondi.

Di sini pemain senior “Pengabdi Setan” bergabung dengan para pemain baru yang menambah kompleksitas sorotan cerita. 

Mereka di antaranya Ratu Felisha, Muzakki Ramdhan (Wisnu), Jourdy Pranata (Dino), hingga Kiki Narendra yang memerankan karakter yang entah kenapa selalu harus dihadirkan di film horor, yaitu Pak Ustaz. Mereka semua menjadi rombongan yang pada akhirnya berhadapan dengan teror pengabdi setan.

Apakah ada Ibu? Ya, tentunya ada. Malam mencekam ini adalah pusat dari segala bangunan horor di film ini, di mana penonton akan melihat banyak penampakan setan, hingga perkumpulan atau sekte mayat hidup yang siap membunuh korbannya.

Sebagai kelanjutan dari cerita di film pertamanya, di film kedua ini, Joko memberikan banyak petunjuk tentang teka-teki pengabdi setan. Meski sebagian petunjuk itu masih sulit untuk dipahami karena tak spesifik ataupun tak menjurus secara langsung.

Intinya, di malam mencekam itu Rini dan keluarganya seperti kembali ke malam horor di film “Pengabdi Setan” pertama. Bedanya, di sini ada muatan petualangan yang lebih terasa. Bedanya lagi, kini mereka bersama banyak karakter lainnya, yang juga bermain sangat apik, memperkaya cerita film kedua ini dengan horor, juga selipan-selipan komedi yang bakal menjadi jeda yang sangat membantu bagi penonton untuk mengelola ketakutannya.

Bobot Sinematik
Joko Anwar menunjukkan banyak sekali eksperimen teknis yang memukau di film kedua ini, terutama di part malam mencekam ini. Konsep pencahayaan yang praktikal--hanya dari properti yang digunakan pemain, tanpa cahaya lampu tambahan--membuat suasana malam horor menjadi lebih kuat terasa.

Ada banyak adegan yang berjalan dalam gelap pekat, tapi tidak “kosong” karena masih bisa disimak, atau setidaknya masih bisa diikuti arahnya oleh penonton. Penggunaan lilin, korek api, senter serta pemanfaatan bias cahaya malam hari, membuat penampakan gambar terasa lebih natural, lebih memesona secara sinematik.

Pergerakan kamera, yang dalam produksi ini melibatkan sinematografer Ical Tanjung, juga mengundang pujian banyak orang, dan ini memang layak. Nyaris tak ada sorotan kamera yang sia-sia di film ini. Setiap shot selalu bercerita, selalu memperlihatkan sesuatu, meski kadang yang terlihat di layar hanyalah ruang kosong.

Secara visual film kedua ini jauh melebihi ekspektasi yang bisa dibayangkan jika melihat kerja Joko Anwar di film “Pengabdi setan” pertama. Shot vertikal (tilting), transisi shot secara cepat, hingga zoom-in yang tidak berlebihan, menjadi bumbu-bumbu yang membuat film ini semakin asyik secara visual.

Dari sisi lain, aspek suara atau scoring juga hadir dalam porsi yang terasa pas bagi film ini, membantu sutradara dalam membentuk gelombang-gelombang kejutan di sepanjang filmnya. Hanya saja, pada beberapa bagian, akan terasa adanya penataan yang tidak rapi, di mana beberapa dialog tertimpa oleh scoring.

Beberapa Catatan
Beberapa catatan untuk film yang di hari pertamanya sukses menjaring hampir satu juta penonton bioskop ini adalah Joko Anwar dalam menghadirkan satu karakter kunci sebagai penyelamat dalam cerita “Pengabdi Setan 2”.

Penyelesaian masalah lewat satu karakter kunci yang tahu segalanya dan mampu menyelesaikan atau menyelamatkan karakter-karakter lainnya dari kekacauan yang terjadi, terasa terlalu biasa, merupakan gaya antiklimaks yang dipakai banyak cerita fiksi. 

Hal-hal kecil lainnya misalnya terkait bagian-bagian cerita yang terasa kurang beralasan. Misalnya, ketika Bondi dan teman-temannya mengelilingi rusun di malam mencekam, mengetuk satu persatu pintu unit rusun untuk mengecek keberadaan penghuninya. 

Secara keseluruhan, aspek cerita yang kuat, berpadu dengan kualitas sinematografi yang dihadirkan, membuat film “Pengabdi Setan 2: Communion” sukses memberikan sajian terbaik, bahkan di atas rata-rata film horor tanah air. 

Pada titik ini Joko Anwar mungkin tidak berlebihan ketika mengatakan bahwa “Pengabdi Setan” yang pertama adalah standar terendah yang ia upayakan untuk film horor Indonesia, dan film kedua harus berada di atas standar tersebut.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER