Selamat

Rabu, 20 Oktober 2021

22 September 2021|21:00 WIB

Setetes Harap Selamatkan Lagu Anak

Terkejut saat menyaksikan video seorang anak yang menyanyikan lagu perselingkuhan, dia pun meneguhkan tekad untuk memulai gerakan pemarakan kembali lagu dan musik khusus anak-anak

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Rendi Widodo

ImageNatasha Chairani. Sumber Foto: Instagram/@na.natasha

JAKARTA – Lagu anak-anak kian tersingkir dari keriuhan dunia hiburan Indonesia. Keberadaannya dahulu melimpah, kini tergantikan dengan deretan lagu dewasa. Bakat-bakat baru tak lagi riuh ditumbuhkan, ekosistem lagu anak di televisi pun layu.

Hari-hari ini, anak-anak justru ditarik untuk menyanyikan lagu yang tak selaras dengan seusianya. Keprihatinan lantas merebak. Satu di antaranya datang dari Natasha Chairani, mantan penyanyi cilik era 1990-an.

Pemilik album "Rahasia Pika-Pika Kuro" yang akrab disapa Sasha itu khawatir dengan kekosongan lagu-lagu anak. Berbeda dengan saat dirinya masih kecil, anak-anak masa kini telah kehilangan pilihan hiburan yang pantas.

"Anak-anak sekarang itu enggak lagi merasakan euforia kegembiraan dari acara hiburan layaknya kami masih kecil dulu," ujarnya saat berbincang dengan Validnews, Minggu 19 September lalu

Sasha sendiri memiliki keinginan besar untuk memarakkan lagu-lagu anak. Sebab dia percaya, tembang-tembang tersebut mampu memengaruhi tumbuh kembang, serta membentuk kepribadian luhur anak-anak.

“Saya berharap anak kecil saat ini tahu lagu seusianya, bukan malah hafalnya lagu dewasa. Lirik antara kedua jenis lagu itu aja berbeda, pastinya kurang baik untuk perkembangan anak. Anak-anak itu cocoknya dengan lagu kegembiraan, bukan soal percintaan,” tuturnya.

Cita-cita anak 90-an
Akhir dekade 1990-an menjadi waktu menyenangkan bagi Sasha. Dia ingat, betapa banyak pilihan hiburan anak yang disediakan televisi, dan mengiringinya menapaki masa-masa ceria sekolah dasar.

Mulai dari sebelum berangkat dan setelah pulang sekolah, serta saat hari libur tiba, Sasha kecil selalu sabar menanti berbagai tayangan hiburan anak kala itu.

Tak sedikit penyanyi cilik yang diidolakannya. Satu di antaranya, grup musik Trio Kwek-Kwek.

“Dulu, saya tuh banyak banget mengidolakan para penyanyi cilik. Soalnya, mereka menggembirakan dan bertalenta sekali. Apalagi lirik lagu yang dibawakannya juga mengedukasi gitu,” tuturnya.

Kegemaran menyaksikan panggung hiburan lagu anak-anak itulah yang menumbuhkan tekadnya untuk piawai berdendang, bahkan bisa menjadi penyanyi profesional yang tampil di layar kaca. 

Demi mewujudkan keinginan tersebut, perempuan kelahiran Jakarta tahun 1992 mengikuti les vokal, yang diasuh almarhum Elfa Secioria pada tahun 2000.

Usai menguasai berbagai teknik vokal, Sasha pun memberanikan diri untuk mengikuti beragam kompetisi bernyanyi. 

“Saya juga pernah mengikuti berbagai perlombaan nyanyi pas masih kecil. Dulu, banyak banget kan ya lomba nyanyi di pusat perbelanjaan saat itu,” ungkapnya.

Lambat laun, mental dan kemampuan bernyanyinya makin matang. 

Jalannya untuk menjadi penyanyi cilik pun kian benderang. Tahun 2001, sasha kecil berhasil menarik perhatian Sony Music, yang kemudian mengontraknya.

“Saya enggak menyangka tiba-tiba diajak label Sony Musik untuk recycle lagu dari teh Melly. Lagunya emang bukan anak-anak, namun liriknya ini universal,” tuturnya.

Perempuan yang di kemudian hari kuliah di National Taiwan University itu, tampil perdana membawakan “Bunda”.  Lagu tersebut merupakan ciptaan Melly Goeslaw yang sekaligus menyanyikan dalam versi dewasa, serta melejitkannya. 

Nuansa baru pembawaan lagu, berhasil disuguhkan Sasha lewat suara kanak-kanaknya. Usaha tak ringan mesti dilalui Sasha untuk benar-benar menyelami makna lagu. Dia mesti beralih dari kebiasaan membawakan lagu-lagu krucil yang berirama sederhana, ke lantunan yang lebih rumit. Namun semua terbayar, sebab setelah album keluar, pamor Sasha bersinar di pentas industri hiburan anak Indonesia.

“Dipercaya membawakan lagu tersebut, ternyata membuat saya dapat tampil di berbagai stasiun televisi saat itu. Padahal, sebelumnya saya hanya mimpi melihat para idola tampil di layar kaca,” katanya.

Merajut mimpi yang jadi nyata
Kesuksesan album pertama, lantas mengubah rutinitas Sasha. Jadwal manggung di berbagai acara, membuatnya harus disiplin, agar tak mengganggu belajar maupun kesempatan bermain. Seluruh kegiatan bernyanyi diatur sedemikian rupa, sehingga hanya boleh dilangsungkan setelah jam pulang sekolah hingga jam 8 malam. Di luat itu, permintaan pentas ditolak.

Sepanjang menjadi penyanyi cilik, Sasha selalu diperlakukan sesuai kelaziman usianya. Dari urusan baju sampai riasam, semua khas anak-anak.

“Dulu, tuh setiap ada acara pasti selalu di make-up sama MUA nya. Pokoknya yang mengatur tuh mereka. Menariknya, tampilan wajah kita pun dibuat layaknya anak-anak yang enggak menor,” ceritanya.

Sasha sangat menikmati dunia panggung anak-anak yang dilaluinya. Ketika bernyanyi, dia merasa tidak sedang bekerja. Sebab, dirinya diperlakukan layaknya anak yang sedang menuangkan hobi.

“Ketika saya bernyanyi pun enggak ada rasa beban. Soalnya, di-treatment layaknya anak-anak sehingga asyik aja gitu. Jadi, pas masih kecil itu enggak merasa lagi kerja,” tuturnya.

Industri musik yang diselaminya tergolong ramah anak. Jumlah penyanyi cilik sebayanya juga banyak, sehingga riuh mewarnai tayangan-tayangan hiburan televisi.

Sunyi industri lagu anak
Perjalanan karier Natasha di dunia musik anak terhitung pendek, yakni kurang lebih 5 tahun. Usia yang makin bertambah membuatnya tak lagi cocok menyanyi lagu anak-anak.

Hingga usia remaja, label “penyanyi cilik” masih melekati Sasha. Orang-orang yang mengenal, masih memperlakukannya bak anak kecil. Tak pelak, keadaan itu sering membuatnya tak percaya diri. Bahkan, dia pernah merasa tidak pantas menyanyikan lagu remaja yang identik dengan percintaan.

“Saat masa itu saya merasa seperti bukan Natasha aja kalau nyanyi lagu remaja. Mungkin karena sudah diperlakukan layaknya anak-anak. Ketika sudah beranjak remaja, seperti bukan seperti diri sendiri aja pas dulu,” tuturnya.

Saat yang sama, kondisi industri lagu anak Indonesia makin menyurut. Acara-acara musik anak mulai hilang dari layar kaca. Tayangan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para bocah itu lantas digantikan dengan sinetron atau acara dewasa lainnya. 

Kepudaran industri musik anak berdampak pada situasi memprihatinkan yang lain. Yakni, anak-anak lebih akrab menyerap lagu-lagu dewasa sebab ketiadaan pilihan hiburan baginya. 

“Rasanya nyelekit di hati aja gitu, saat anak-anak lebih tau hal tentang orang dewasa. Beberapa orang mungkin melihat anak yang menyanyikan lagu dewasa tuh lucu. Namun, saya malah sedih karena mereka tidak bisa merasakan euforia lagu anak,” jelasnya.

Setetes harap
Satu kali pada tahun 2016, Sasha tersentak ketika mendapati satu lagu anak yang berlirik soal perselingkuhan. Dia tertegun menyaksikan video klip lagu tersebut, yang menampakkan seorang anak perempuan berusia 12 tahun asal madura, menyanyikan lagu bertema dewasa. Video itu kemudian viral di media sosial.

“Dengan konten seperti itu, saya khawatir anak yang dewasa sebelum waktunya akan semakin banyak,” ujarnya.

Masygul sekaligus geram dengan tayangan itu, Sasha pun terdorong melakukan sesuatu. Sudah saatnya anak-anak mendapatkan hiburan sesuai usianya. Dia pun bertekad memulai gerakan penyelamatan musik dan lagu anak-anak.

Pada bulan Ramadan di tahun yang sama, dia berkumpul bersama sahabat-sahabat yang juga mantan penyanyi cilik. Dalam acara buka puasa bersama itu, Sasha mengungkapkan kekhawatirannya pada tontonan anak.

Ternyata, kegelisahan sejenis juga dirasakan mantan penyanyi cilik yang lain. Diskusi pun tergelar. Masing-masing hadirin menuangkan gagasan, hingga akhirnya dicetuskan lah satu gerakan bertajuk #SaveLaguAnak. 

"Jadi, project selamatkan lagu anak ini memang sengaja dibuat oleh para mantan penyanyi cilik," tutur Sasha yang juga jadi salah satu project manager #SaveLaguAnak.

Lewat gerakan #SaveLaguAnak itu, Sasha bersama para rekannya berusaha mengembalikan hiburan yang layak bagi anak-anak. 

“Kita tuh melihat kayaknya kok sangat minim banget hiburan untuk mereka. Sebetulnya, gerakan ini bukan hanya bicara soal lagu anak aja. Namun, juga hiburan kayak film, sinetron, atau kuis anak-anak," katanya.

Selain diisi oleh para mantan penyanyi cilik, turut serta pula pencipta lagu kenamaan: almarhum Papa T. Bob. Secara khusus dia menciptakan lagu berjudul, “Save Lagu Anak” untuk mendukung misi gerakan.

Sasha berharap, gerakan tersebut bisa menjadi pelecut kepedulian bagi pihak-pihak lain agar makin peduli dengan hiburan yang layak untuk anak-anak. 

“Saya sangat berharap semua orang bisa memiliki kesadaran yang sama. Mereka berhak mendapatkan hiburan yang layak sesuai usianya. Dan mereka berhak berkembang dengan waktunya sehingga mereka tidak kehilangan momen-momen penting saat masa kecilnya," tutup Sasha penuh harap.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA