Selamat

Senin, 23 Mei 2022

KULTURA | Validnews.id

KULTURA

26 Januari 2022

18:38 WIB

Sentuhan Yayan Ruhian di Balik Aksi Laga “Ben & Jody”

Menjadi sosok antagonis utama dan fighting choreographer di film “Ben & Jody”, Yayan Ruhian mengatakan bahwa ia membuat adegan tarung dengan sangat detail.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Rendi Widodo

Sentuhan Yayan Ruhian di Balik Aksi Laga “Ben & Jody”
Official poster “Ben & Jody”. Dok. Visinema

JAKARTA – Film “Ben & Jody” produksi Visinema Pictures siap untuk menghibur penonton tanah air dengan kisah berikut aksi laga yang memukau. Film terbaru arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini diproduksi dengan melibatkan aktor kelas Hollywood, Yayan Ruhian sebagai pemeran sekaligus fighting choreographer.

“Ben & Jody” berkisah tentang perjalanan baru dua sahabat, Ben dan Jody. Film ini menghadirkan latar kawasan hutan yang menjadi wilayah konflik antara masyarakat adat dengan pembalak hutan. Di sinilah aksi-aksi tarung dihadirkan, di mana Ben dan Jody bertaruh nyawa dalam melawat para pembalak.

Proses produksi film ini dilangsungkan saat masa PSBB Covid-19, di sebuah kawasan daerah Sukabumi, Jawa Barat. Selama 45 hari produksi, Yayan Ruhian bertindak sebagai juru kunci setiap konsep tarung yang hadir dalam film.

Yayan mengaku menikmati proses produksi “Ben & Jody”, karena menurutnya semua orang yang terlibat pun menunjukkan kesungguhan yang sama besarnya dalam memberikan yang terbaik untuk film. Ditambah lagi cerita yang diangkat pun terasa membumi dan menyentuh bagi Yayan pribadi.

“Pas bikinnya itu pakai hati, pakai rasa. Nanti, para penonton juga pasti bisa ikut merasakan. Saya pribadi merasa ikut ditegur oleh kisah yang dibuat oleh Angga,” Tutur Yayan sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu (26/1).

Menjadi sosok antagonis utama dan fighting choreographer di film “Ben & Jody”, Yayan yang memerankan karakter Aa Tubir mengatakan bahwa ia membuat adegan tarung dengan sedetail mungkin. Membedakan gaya bertarung tiap tokoh sesuai dengan karakter yang diperankan.

“Sebagai seorang fighting choreographer, tentu saya sering berdiskusi dengan Angga selaku sutradara filmnya. Bersama-sama, kami membicarakan dan membuat adegan berantem dari masing masing karakter dengan sedetail mungkin,” tuturnya.

Yayan mencurahkan segenap ide dan kreatifitas untuk menciptakan gaya bela diri pada masing-masing aktor di dalam film tersebut. Tantangannya cukup besar, mengingat pemain bintang utama, yaitu Chicco dan Rio tidak memiliki latar belakang bela diri.

Tidak mengonsep gaya bela diri para pemain saja, Yayan juga bertanggung jawab dalam pemilihan senjata bagi masing-masing karakter. Mulai dari senjata yang digunakan Ben dan Jody, para pembalak, hingga senjata warga pedalaman, yang tentu berbeda dengan senjata yang digunakan di kota besar.

Karakter para warga pedalaman yang dimaksud Yayan merujuk pada sejumlah tokoh yang juga dominan di kehadirannya di film. Mereka yaitu Rinjani (Hana P. Malasan), Tambora (Aghniny Haque), dan Jago (Reza Hilman). Ketiganya adalah pentolan dari komunitas masyarakat adat yang berjuang melawan pembalak, bersama Ben dan Jody.

“Karena memang, setiap karakter kami buat spesial dengan memiliki gaya bertarung mereka masing-masing. Karakter-karakter dari Desa Wanareja yang sudah akrab dengan bela diri, tentu treatment dan koreografi bertarungnya berbeda dengan karakter Ben dan Jody yang bisa dikatakan awam,” terang Yayan.

Sebagai informasi, Ben dan Jody adalah dua tokoh utama dalam film “Filosofi Kopi” (1 dan 2). Dengan kata lain, film ini merupakan pengembangan dari semesta itu. Bedanya, cerita “Filosofi Kopi” bernuansa drama persahabatan. Sementara “Ben & Jody” adalah semesta yang baru, dengan kisah-kisah menegangkan di dalamnya.

Nah, bagi pecinta film yang penasaran, film “Ben & Jody” akan tayang sebentar lagi, yaitu 27 Januari, di seluruh bioskop Indonesia.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER