Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

VISTA

02 Juni 2021|20:44 WIB

Semangat Membara Pakar Hukum Dan Kriminologi

Keseriusan pada tiap pengabdian yang ditekuni telah membawanya pada berbagai pencapaian gemilang

Penulis: Arief Tirtana,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageProf. Mardjono Reksodiputro, Sang pelopor PJJ Di Ilmu Kepolisian. Sumberfoto: mardjonoreksodiputro.b logspot.com/dok
JAKARTA – Dengan perlahan dan terbata-bata Prof. Mardjono Reksodiputro SH. MA. memberi sambutan dalam seminar daring (online) yang di gelar Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), Jumat, 23 Oktober 2020. Suaranya tidak lagi selantang dahulu, serak, dan tidak bertenaga.

Semula, pakar hukum pidana dan kriminologi itu diminta menjadi pembicara kunci. Namun, kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan, membuat pria 84 tahun itu hanya tampil beberapa menit.

"Mohon maaf keadaan kesehatan saya, tidak memungkinkan saya berbicara lama. Karena itu saya tidak dapat memenuhi permintaan panitia, menjadi pembicara kunci atau keynote speaker pada acara ini," tuturnya perlahan.

Kehadiran Mardjono sangat penting pada acara itu. Sebab agendanya, di sana bakal dibedah buku biografi Mardjono sendiri, yang berjudul “Semangat Tak Pernah Padam” karya Nina Pane. 

Apalagi, perhelatan tersebut juga bertujuan menganugerahkan penghargaan kepadanya sebagai "Bapak Pelopor Pembelajaran Jarak Jauh di Ilmu Kepolisian, Universitas Indonesia". Ya, jauh sebelum Pembelajaran Jarak Jauh populer di era pandemi covid-19, Mardjono sudah menginisiasi lebih dulu, ketika mengajar di program studi Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia tahun 2013 silam.

Mardjono bercerita, ia menggelar Perkuliahan Jarak Jauh karena prihatin melihat kelasnya yang kerap sepi. Banyak mahasiswanya sulit menghadiri perkuliaha, karena tetap harus menjalankan tugas sebagai polisi. 

Sebenarnya, Mardjono memaklumi kenyataan itu. Namun, ia juga tak bisa mendiamkan keadaan begitu saja. Sesuatu mesti dilakukan agar para mahasiswa yang sekaligus polisi itu, tetap lancar menempuh pendidikan.

"Tentang PJJ, dimulai dengan keluhan saya kepada pak Benny Mamoto tentang sering tidak hadirnya atau berhalangan hadirnya mahasiswa dalam perkuliahan kajian ilmu kepolisian yang saya asuh. Beliau menjelaskan bahwa banyak mahasiswa kepolisian yang tetap ada tugas dinas, meskipun waktu itu waktu kuliah saya. Dan saya kemudian maklum," tutur Mardjono menceritakan.

Tak lama berselang, Mardjono mendapat informasi, bahwa Kampus UI Depok memiliki fasilitas studio pembuatan video. Atas saran Benny Mamoto juga, Mardjono mendatangi tempat tersebut untuk memulai perekaman Pembelajaran Jarak Jauh. Langkah sederhana itu berujung kepuasan. Banyak polisi asal berbagai daerah, merasa terbantu dengan cara itu. 

Buat Prof. Boy—sapaan akrab Mardjono—keberhasilan cara itu, hanyalah segelintir dari sekian banyak capaiannya selama puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan dan hukum di Indonesia. Meski demikian, terlihat jelas rona kebanggaan di wajah Mardjono saat menerima penghargaan sebagai Pelopor Perkuliahan Jarak Jauh. Bahkan matanya berkaca-kaca, hampir menangis, saat manyampaikan sambutan.

"Saya sangat berterima kasih atas diselenggarakannya acara bedah buku saya ini. Dan acara menamakan saya pelopor perkuliahan jarak jauh untuk kajian kepolisian. Saya dan keluarga merasa sangat bangga dengan acara ini," tutur Mardjono sambil berkaca-kaca.

Catatan Perjalanan Karier
Dalam seminar yang sama, Guru Besar Kriminlogi UI Prof. Adrianus Meliala menyebut Mardjono Reksodiputro sebagai sosok yang berkontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. 

Dia menjadi figur penting di balik pendirian sejumlah program dan institusi. Mulai dari Kajian Ilmu Kepolisian di UI, departemen Kriminologi, Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, serta program Magister Hukum UI.

Seperti judul buku yang diterbitkannya tahun lalu, "Semangat Tak Pernah Padam", semangat Mardjono Reksodiputro memang tak surut sejak memulai karier di tahun 60-an.

Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1962, Mardjono melanjutkan pendidikan ke University of Pennsylvania, Amerika Serikat, yang memberinya gelar Master of Arts pada 1967. Setelah itu, dia kembali ke Indonesia untuk mengajar di almamaternya, sekaligus dipercaya memimpin Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia.

Di periode yang sama, dirinya juga menerima ajakan Ali Budiardjo untuk menjadi konsultan hukum dan ekonomi. Hingga kemudian membentuk Firma Hukum bernama ABNR, kependekan dari Ali Budiardjo, Nugroho, dan Reksodiputro. ABNR menjadi firma hukum modern pertama di Indonesia dan masih menjadi satu yang terbesar hingga saat ini.



Sejak muda, pria kelahiran 13 Maret 1937 itu sudah memiliki semangat luar biasa. Bahkan, Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa tahun 60-an, sempat memujinya sebagai sosok muda yang serius kala bekerja. Pernyataan itu tercatat dalam satu artikel di Majalah Mahasiswa, edisi 7 Juli 1969.

Keseriusan itu pula yang menggiring Mardjono ke jenjang karir yang makin tinggi. Di tahun 1984, dirinya sudah dipercaya menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia sampai tahun 1990. Setelahnya, ia menjabat sebagai Sekretaris dan Ketua Konsorsium Ilmu Hukum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hingga tahun 2002.

Pada periode tersebut, Mardjono juga masih aktif mengajar sebagai dosen, sekaligus merangkap berbagai jabatan. Seperti, Ketua Program Kajian Ilmu Kepolisian pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia (1996-2006), Ketua Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Ketua Program Kekhususan Hukum Pidana pada Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan juga sebagai Sekretaris Komisi Hukum Nasional (2000-2014).

Bersama sejumlah rekan, Mardjono juga mendirikan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera pada 1 Juli 2011. Sekolah ini memiliki visi, "menjadi penyelenggara pendidikan tinggi hukum yang merupakan penggerak pembaruan hukum di Indonesia".

Totalitas pengabdian Mardjono di dunia pendidikan hukum tersebut, membuat pihak Universitas Indonesia menggunakan nama Mardjono Reksodiputro sebagai juluk untuk satu gedung mereka di Salemba, Jakarta Pusat.

Mardjono Reksodiputro dan Soe Hok Gie
Meski dibesarkan sezaman, Mardjono dan Soe Hok Gie tidak tumbuh dalam lingkungan yang sama. Mardjono yang berasal dari Fakultas Hukum, sama sekali tak mengenal Soe Hok Gie yang belajar di Fakultas Sastra. Mardjono baru mengenal aktivis legendaris itu, sepulang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Mereka berkenalan karena sama-sama akrab dengan Sejarawan Onghokham.

“Saya kenal dengan Hok-Gie setelah pulang dari Amerika Serikat,” kata Mardjono, dikutip dari hukumonline. “Saya memang dekat dengan sejawaran Onghokham. Ia sering main ke rumah. Onghokham itu kenal dekat dengan Soe Hok-Gie. Dari Onghokham pula saya kenal Parsudi Suparlan, yang pernah menulis tentang gembel dan orang-orang miskin di kolong jembatan,” jelasnya menambahkan.

Setelah pertemuan itu, keduanya makin dekat. Ketertarikan pada isu-isu keadilan yang sedang menyeruak di Indonesia pada pertengahan tahun 60-an itu menjadi perekatnya.

Gie beberapa kali sengaja mendatangi Mardjono di kantornya. Mereka lantas berdiskusi mengupas kasus-kasus mutakhir. 

Sebuah kisah yang membuat Gie tak segan memuji Mardjono sebagai sosok serius dalam bekerja adalah cerita mengenai mayat mencurigakan.
 
Kepada Gie, Mardjono bertutur, pernah mendapati mayat mencurigakan yang dibawa ke Lembaga Kriminologi UI. Tubuh mayat itu kurus, beratnya hanya sekitar tiga puluh kilogram. Ketika datang, Polisi hanya mengatakan mayat tersebut adalah orang gila yang menolak makan di penjara. Tapi Mardjono tak langsung percaya begitu saja.

Setelah melakukan pemeriksaan, kecurigaan Mardjono terbukti. Pria yang sudah menjadi mayat itu bukan tidak mau makan seperti yang diutarakan polisi, melainkan menderita penyakit mulut, sehingga membuatnya susah makan.

Dari situ Mardjono berkesimpulan, jika polisi segera membawa pria itu ke dokter, mungkin cerita akan berakhir lain. Namun apa daya, nasi terlanjur menjadi bubur. Bahkan setelah mendapati fakta tersebut, tak banyak yang bisa diperbuat Mardjono, di tengah situasi yang saat itu serba tidak kondusif.

Mardjono dan Gie juga sering bertukar pikiran mengenai keadilan dan nasib-nasib orang tertindas. Seperti, mengapa orang bisa terkatung-katung nasibnya di penjara tanpa kejelasan hukum, saat semakin banyak lulusan hukum muncul dari berbagai universitas?

Diskusi itu kemudian menginspirasi Mardjono untuk mendirikan Laboratorium Hukum. Saat itu, ia menjabat sebagai Sekretaris Konsorsium Ilmu Hukum, yang bertugas menyusun kurikulum Fakultas Hukum tahun 1992.

Di Laboratorium Hukum, mahasiswa lebih bisa mengaplikasikan ilmu secara lebih nyata. Dimulai dengan menjalankan praktik di kelas, juga dengan pendirian lembaga-lembaga bantuan hukum kampus, atau yang dinamai Biro Bantuan Hukum. Tempat mahasiswa berdedikasi tinggi bisa menerapkan ilmu untuk membantu orang lain yang butuh bantuan hukum.

Meski hanya sebentar bergaul, karena Gie berpulang pada 16 Desember 1969, pujian Gie kepada Mardjono sebagai sosok yang serius dalam bekerja, terbukti tidak pernah luntur hingga puluhan tahun ke depan.

Mardjono konsisten mengikuti perkembangan hukum politik dan keadilan yang terjadi di Tanah Air. Bukan hanya di panggung resmi dunia pendidikan, dirinya juga aktif menyoroti berbagai isu terbaru lewat tulisan-tulisan di blog pribadinya.


Bahkan, meski tak lagi bisa aktif berkontribusi dengan mengajar. Dihari-hari tuanya, sebelum wafat pada Jumat, 21 Mei 2021, Prof. Boy masih tetap membagikan pengetahuan dengan menjadi pembicara di berbagai seminar daring, meski dalam kondisi kesehatan yang tak sepenuhnya baik.


Selain itu, sepanjang karier, Mardjono juga telah menghadirkan lima buku penting bagi dunia hukum Indonesia berjudul “Pembaharuan Hukum Pidana” (1955), “Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan” (1994), “Menyelaraskan Pembaruan Hukum” (2009), “Perenungan Perjalanan Reformasi Hukum” (2013) dan terakhir buku biografinya, “Semangat Tak Pernah Padam” (2020) yang disusun Nina Pane. (Arief Tirtana)
Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER