Selamat

Rabu, 20 Oktober 2021

29 September 2021|21:00 WIB

Sang Realis Film Animasi

Hayao Miyazaki membuat animasi sebagai sublimasi khayalan dan kenyataan

Penulis: Arief Tirtana,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageHayao Miyazaki. Sumber Foto: Shutterstock/dok

JAKARTA – Pada tahun 2014, Hayao Miyazaki membuat geger pecinta animasi Jepang. Namanya mencuat menjadi buah bibir pecinta animasi. Banyak yang menghujat, tak sedikit juga yang membela. 

Di puncak polemik, muncul sebuah meme bergambar wajahnya, lengkap dengan tulisan, "Anime was a mistake. It's nothing but trash". Meme ini viral di berbagai platform. 

Hal yang menjadi pemicu adalah pernyataannya dalam sebuah wawancara di sebuah media. Kala itu ia berujar, "Hampir semua animasi Jepang diproduksi dengan dasar yang tidak diambil dari mengamati orang sungguhan. Animasi tersebut diproduksi oleh manusia yang tidak tahan melihat manusia lain. Dan itulah mengapa industri ini penuh dengan ‘otaku’," kata HayaoMiyazaki.

Sebenarnya, kata-kata yang tercantum dalam meme tersebut memang tak pernah diucapkan Hayao Miyazaki. Melainkan, itu hanya sebuah sindiran yang dibuat oleh seseorang untuk mendramatisasi wawancara itu.

Ujung dari peristiwa itu, membuat banyak orang kadung menilai bahwa Hayao Miyazaki membenci animasi, sesuatu yang telah membesarkan namanya dan dicintainya sejak kecil. 

Padahal sebagai seorang animator, director, producer, screen writer, author, dan manga artist, apa yang diucapkan oleh pendiri studio animasi Ghibli itu, tak lebih dari sebuah keresahan. Bahwa banyak animator yang membuat karya animasinya tanpa peduli dengan realita yang terjadi di kehidupan nyata. Seolah hanya peduli pada diri mereka sendiri, selayaknya seorang otaku.

Otaku sendiri merupakan sebutan dalam istilah budaya populer Jepang kepada seseorang yang bisa diterjemahkan sebagai "kutu buku dengan minat obsesif". Atau lebih dari itu, juga bisa dikonotasikan sebagai seseorang "antisosial yang merusak."

Karakter Animasi
Sebagai sutradara, dalam karya-karya film animasi yang dibuat Hayao Miyazaki, penonton memang masih bisa menjumpai karakter-karakter ajaib, yang mustahil ditemukan di dunia nyata. Sosok penyihir, monster, peri, hewan yang bisa berbicara, hingga manusia yang berubah menjadi babi adalah karakter yang biasa muncul.

Dalam setiap karakter, Hayao Miyazaki selalu berusaha menggambarkannya sebagai sosok yang memiliki kepribadian selayaknya karakter manusia di dunia nyata. Dalam artian, karakter dibuat dengan kepribadian serealistis mungkin. 

Bukan menggambarkan mereka sebagai karakter protagonis yang cantik, sempurna dan tanpa cela. Atau sebaliknya, karakter antagonis yang selalu digambarkan kelam dengan keburukan tanpa henti. Miyazaki membuat sosok-sosok di karyanya ‘hidup’ layaknya individu dengan kepribadian berbeda-beda yang biasa ditemui di kehidupan keseharian.

Sebagai contoh adalah Spirited Away. Film buatannya yang sukses memenangkan penghargaan Oscar sebagai film animasi terbaik pada 2001.

Di film itu, Hayao Miyazaki menghadirkan karakter utama bernama Chihiro, sosok anak perempuan berumur 10 tahun yang biasa, polos dan tidak memiliki kelebihan apa-apa.

Karakter tersebut dibuat setelah mengamati putri seorang temannya. Dia menyadari bahwa tidak ada film di luar sana yang ditujukan untuk anak seumuran 10 tahun, yang bisa secara langsung menggambarkan keseharian mereka. 

Misalnya, tidak langsung menjawab saat orang tua mereka memanggil, sampai menunggu dipanggil dua atau bahkan tiga kali baru menghampiri.

"Setiap kali saya menulis atau menggambar sesuatu tentang karakter Chihiro dan tindakannya, saya bertanya pada diri sendiri apakah putri teman saya atau teman-temannya akan mampu melakukannya. Itulah kriteria saya untuk setiap adegan di mana saya memberi Chihiro tugas atau tantangan lain," terang Hayao dalam konfrensi pers di pemutaran perdana Spirited Away di Eropa tahun 2001.

Pada film-film lainnya, dengan karakter lebih memiliki unsur fantasi, pria kelahiran 5 Januari 1941 itu juga selalu berupaya melahirkan karakter serealistis mungkin. Dirinya tak segan untuk memasukan adegan yang secara langsung tak berpengaruh pada alur film. Namun, itu bisa menjadi penting untuk mengambarkan betapa realistisnya karakter pada film tersebut.

Seperti ketika karakter tersebut ditampilkan duduk sejenak, menghela napas, diam melihat arus sungai yang mengalir, atau melakukan sesuatu tak penting lainnya. Yang di banyak film animasi buatan Disney, hampir pasti skena itu akan dihindari keberadaannya.

"Kami memiliki kata untuk itu dalam bahasa Jepang. Itu namanya 'ma', kekosongan. Itu ada di sana dengan sengaja," jelas Miyazaki dalam wawancara dengan kritikus film pemenang Pulitzer Award, Roger Ebert pada 2002.

Adegan-adegan tersebut, diyakini Miyazaki dapat membuat filmnya tumbuh ke dimensi yang lebih luas. Dirinya mengatakan kepada Ebert bahwa film-film Amerika dengan langkah tergesa, sering takut pada keheningan tersebut. Bahwa 'ma' dianggap bisa menghadirkan kebosanan.

Namun sebaliknya, sudah sejak tahun 1970-an, Miyazaki mencoba sedikit menenangkan diri dengan kehadiran 'ma' pada filmnya.

Baginya, film jangan hanya membombardir penonton dengan kebisingan. Sebaliknya harus pandai mengikuti jalan emosi dan perasaan anak-anak saat menonton film.

"Jika Anda tetap setia pada kegembiraan, rasa takjub dan empati, Anda tidak harus menghadirkan (adegan) action dan kekerasan. Mereka akan mengikuti Anda. Ini adalah prinsip kami," tukas Miyazaki.

Tema Film
Selain kelihaiannya dalam menggambarkan karakter, ide besar dalam setiap cerita film-film buatan Hayao Miyazaki juga yang menjadikannya sering kali disejajarkan dengan seorang Walt Disney.

Bahkan, tak sedikit yang berpandangan bahwa dari segi tema, Miyazaki bisa mengungguli Disney. Pada saat film-film Disney lebih banyak didasarkan pada dongeng yang sudah dikenal. Sementara film Miyazaki, adalah cerita orisinal atau gabungan adaptasi dari pengalaman-pengalaman hidupnya yang sudah dimulai sejak era Perang Dunia Kedua.

Dalam hal tersebut, banyak film Miyazaki yang mengambil tema dan cerita mengenai lingkungan. Bahkan sebelum studio Ghibli dibentuknya, dalam film Nausicäa of the Valley of the Wind (1984).

Film tersebut berlatarkan dunia pasca-apokaliptik, di mana manusia hidup berkerumun di tepi hutan beracun. Namun ternyata di bawahnya ada semak belukar yang subur, tempat serangga raksasa seperti jangkrik tinggal di sana, menyimpan dendam terhadap manusia yang telah meracuni habitat mereka.

Di film itu, Hayao Miyazaki juga menunjukkan ketidaksukaannya akan militerisme. Karena latarbelakangnya sebagai seorang anak dari pemilik perusahaan pesawat, yang justru mendapatkan untung ketika Perang Dunia Kedua terjadi.

Pengalamannya berpindah-pindah tempat tinggal di masa perang tersebut, termasuk salah satunya ke Kota Utsunomiya- yang berbatasan langsung dengan hutan, membuat Hayao Miyazaki terinspirasi dengan kehidupan di dalam hutan. Hutan yang dihuni oleh berbagai makhluk, termasuk yang diyakininya sebagai Dewa Hutan, menginspirasi dasar cerita film My Neighbor Totoro.

Di film itu juga bisa ditemukan, cerita persis yang diambil berdasarkan kisah sedih ibunya yang harus tinggal di rumah sakit, akibat menderita TBC tulang belakang selama kurang lebih tiga tahun. Di antara berbagai tema tersebut, isu lingkungan pada akhirnya memang menjadi hal yang paling disoroti oleh Miyazaki.

Miyazaki selain memperhatikan individu kain, juga diperhatikan banyak orang. Dalam buku The aesthetics and ethics of Hayao Miyazaki's enchanted forests, Pamela Gossin menggambarkan bahwa dalam segi tema, film-film Miyazaki kerap kali mengeksplorasi dampak manusia terhadap lingkungan dan alam. 

Namun, semua itu dilakukan dengan tidak secara terang-terangan, menunjukkan bahwa manusia secara langsung memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

Dengan demikian menurut Pamela, Miyazaki dalam filmnya tidak berusaha memposisikan diri sebagai seorang ahli ekologi. Melainkan sebagai seorang 'eko-filsuf', yang mengeksplorasi dinamika hubungan antara manusia dan lingkungan.

"Beberapa perhatian penting yang disoroti Miyazaki dalam kaitannya dengan lingkungan adalah "imajinasi manusia tentang lingkungan, hubungan kita dengannya, dan tindakan empati terhadapnya," tulis Pamela Gossin.

Kejeniusan Hayao Mizaki dalam mengangkat tema film-film animasinya, bukan hanya menarik minat anak-anak, tetapi juga disukai orang dewasa. Bahkan diakui langsung oleh sutradara film animasi Toy Story, John Lasseter.

Diungkapkan John Lasseter, ketika dirinya atau para animator di studio Pixar lainnya, 'terjebak' pada sebuah proyek. Mereka kerap kali pergi ke ruang pemutaran dan menonton film Miyazaki, untuk kembali mendapatkan inspirasi.

"Saya suka film-filmnya. Saya mempelajari film-filmnya. Saya menonton film-filmnya ketika saya mencari inspirasi," ungkapnya. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER