Sang Pemberdaya Desa Panggungharjo | Validnews.id

Selamat

Jumat, 26 November 2021

17 November 2021|21:00 WIB

Sang Pemberdaya Desa Panggungharjo

Di desa ini, sejahtera mungkin bukan sekadar utopia

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

Sang Pemberdaya Desa PanggungharjoWahyudi Anggoro Hadi. Youtube/Kelurahan Panggungharjo

Wahyudi Anggoro Hadi bukan kepala desa biasa. Bisa dikatakan, dia adalah sosok serba cemerlang dalam segala urusan. Lewat gagasan, kebijakan, dan aksi-aksinya, ia membangun desa menjadi ruang hidup yang layak bagi segenap warganya.

Di Desa Panggungharjo, Bantul, Yogyakarta, ia dipanggil Lurah, sebutan lokal untuk posisi Kepala Desa. Di sinilah pengabdian Wahyudi tercurahkan, sejak memimpin desa pada 2012 silam. Waktu itu, penduduknya sekitar 28 ribu orang.

Perlahan, desa tersebut berubah, berkembang menjadi desa yang maju dalam berbagai bidang. Hingga saat ini, Desa Panggungharjo pun menjadi potret desa ideal yang dimiliki Indonesia.

Bagaimana tidak, desa ini berhasil membangun sistem sosial dan perekonomian mandiri bagi warganya, lewat berbagai program desa. 

Di desa ini, setiap anak dijamin hak pendidikannya. Begitu pula hak kesehatan dan hak hidup layak bagi lansia, menjadi tanggung jawab desa. 

Anak-anak mendapat asuransi pendidikan, ibu hamil mendapatkan jaminan pelayanan konsultasi hingga bersalin. Begitulah desa ini memperlakukan warganya. 

Semua ini tak terlepas dari kehadiran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berkontribusi memberi penghidupan bagi banyak warganya. BUMDes ini memiliki berbagai unit usaha, seperti di bidang pariwisata, pengolahan produk hasil alam, marketplace produk UMKM, hingga usaha coworking space milik desa.

Unit-unit usaha itu adalah hasil inisiatif Wahyudi bersama warganya, untuk membangun sumber-sumber pendapatan sekaligus ruang-ruang pekerjaan bagi banyak orang.

Berbagai program pelayanan ataupun perekonomian desa itu, pada akhirnya menjadi sistem jaring pengaman sosial bagi setiap warga Panggungharjo. 

Masyarakat yang membutuhkan pekerjaan bisa bekerja untuk desa. Sementara itu, yang tak mendapatkan kesempatan bekerja, dibantu dalam bentuk lain, yaitu jaminan kesehatan hingga pendidikan.

Ekosistem sosial-ekonomi yang mandiri itu telah mengantarkan Panggungharjo tampil di kancah nasional maupun internasional. Desa ini pernah menjadi desa teladan terbaik tingkat nasional pada 2014.

Sementara itu, di forum internasional, desa ini pernah menyabet penghargaan 4th ASEAN Leadership Award on Rural development and Poverty Eradication tahun 2019 atas kemandirian ekonomi.

Sudah barang tentu, semua cerita sukses Desa Panggungharjo itu bukan sesuatu yang instan. Ada cerita yang sangat panjang mengenai proses pemberdayaan desa yang dilakukan oleh Wahyudi dari tahun ke tahun, sehingga desa tersebut sampai di titik saat ini.

Penggerak Kesadaran Kolektif
Jauh sebelum menjabat sebagai Kepala Desa Panggungharjo, Wahyudi adalah pemuda penggerak yang membangun ekosistem kolektif di Kampung Dolanan, salah satu kampung budaya yang populer di Yogyakarta. Ia menggerakkan kampung tersebut sejak 1999, dan mengalami perkembangan pesat pada 2007.

Dalam rentang yang cukup panjang itulah, ia berhasil menanamkan kesadaran masyarakat sekitar akan potensi budaya yang mereka miliki.

Bisa dibilang, apa yang terbangun di Kampung Dolanan adalah perwujudan gagasan Wahyudi tentang suatu transformasi sosial, untuk masyarakat yang maju, mandiri, berbudaya, dan berkesadaran kolektif. Menurutnya, dengan ekosistem masyarakat seperti itulah, setiap anak di dalamnya bisa tumbuh dengan layak dan bermartabat.

Namun, Wahyudi menyadari satu hal penting dari pengalamannya menggerakkan Kampung Dolanan, yaitu waktu yang lama dan terbatasnya dampak yang dihasilkan dari gerakan non-struktural seperti itu.

Pertanyaan tentang seberapa cepat perubahan bisa terjadi jika didorong lewat pendekatan struktural itulah, pada akhirnya membawa Wahyudi memutuskan menjajal kursi Kepala Desa pada 2012.

"Ketika kemudian memutuskan menjadi kepala desa itu, didorong oleh suatu keinginan untuk melakukan sebuah eksperimentasi sosial, bagaimana kemudian sebuah transformasi sosial itu didorong dari sisi pemerintah atau negara. Jadi pendekatannya adalah pendekatan struktural,” ungkap Wahyudi saat berbincang dengan Validnews, Minggu (14/11) lalu.

Singkat cerita, Wahyudi pun terpilih sebagai Kepala Desa Panggungharjo, setelah melewati kontestasi tanpa politik uang. Dengan jabatan dan wewenang barunya itu, Wahyudi ingin melanjutkan gagasannya tentang desa yang mandiri dan berbudaya.

Hal pertama yang ia gerakkan yaitu transformasi aspek pelayanan masyarakat oleh pemerintah desa. Di masa-masa sebelumnya, relasi antara aparat desa dengan warga desa nyaris tak pernah ada, kecuali dalam praktik pelayanan administratif belaka.

Hal inilah yang membuat pemerintah desa menjadi berjarak dengan warga, sehingga sulit untuk melibatkan warga dalam gerakan kolektif yang diharapkan Wahyudi.

Karena itu, ia memperluas dimensi pelayanan pemerintah desa dari yang sebelumnya hanya administratif, meluas ke pelayanan barang dan jasa. Cakupan pelayanan baru itu memposisikan pemerintah desa sebagai pelayan segala urusan masyarakatnya, mulai dari soal pendidikan, kesehatan, ekonomi, fasilitas desa, pengelolaan lingkungan hingga pengembangan literasi.

“Fungsi pemerintah tidak sekadar memberikan layanan administratif. Negara itu diwajibkan oleh Undang-Undang, untuk mengatur dan mengurus segala kepentingan masyarakat. Tidak hanya urusan administratif harusnya,” jelas Wahyudi.

Konsekuensi dari meluasnya dimensi pelayanan itu adalah, bertambahnya konteks komunikasi antara warga dengan pemerintah desa. Desa menghadirkan program kesehatan gratis, sehingga setiap warga yang ingin berobat, harus berurusan dengan kantor desa untuk mendapatkan surat pengantar berobat. Begitupun dalam hal pengelolaan lingkungan, desa mengurusi pengelolaan sampah.

Di aspek lainnya, program jaminan pendidikan juga dibuat untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Karenanya, sekarang setiap keluarga yang anaknya mengalami masalah pemenuhan biaya pendidikan, bisa berkomunikasi dengan pemerintah desa.

Pola itu pada akhirnya berhasil membangun relasi yang lebih intens antara pemerintah dengan warganya. Ujungnya terbentuk hubungan yang solid dan lahirnya kepercayaan warga terhadap pemerintah desa.

Pendeknya, prasyarat utama untuk pemberdayaan kolektif pun sudah terpenuhi. Pekerjaan Wahyudi selanjutnya adalah memanfaatkan modal sosial itu untuk pembangunan yang dicita-citakannya.

Berdaya Lewat Usaha Milik Desa
Tahun 2013, Wahyudi mengembangkan Badan Usaha Milik Desa yang membawahi unit-unit usaha desa. Ada Kampung Mataraman, sebuah usaha di bidang pariwisata dengan memanfaatkan lanskap budaya dan kuliner lokal.

Wujud program ini, sebuah kawasan wisata kuliner dan budaya. Tempat ini kemudian berkembang menjadi destinasi yang didatangi wisatawan, baik dari dalam desa maupun luar daerah.

BUMDes kemudian juga mengembangkan unit usaha di bidang pengelolaan sumber daya alam, lagi-lagi memanfaatkan potensi yang ada di dalam desa. Wujudnya, usaha produksi minyak nyamplung atau yang dikenal dengan nama Tamanu Oil, minyak untuk produk kosmetik.

Lalu, ada pula pasar desa digital dalam bentuk marketplace pasardesa.id. Di sini, produk-produk UMKM, hasil pertanian ataupun kerajinan warga, hingga promosi wisata dijalankan oleh masyarakat Panggungharjo.

Ada pula usaha co-working space. Selain sebagai tempat berkarya, lokasi ini dibuat sedemikian rupa layaknya areal rekreasi dan tempat bercengkrama bagi banyak anak muda. Terakhir, ada unit usaha pengelolaan sampah milik desa, yang menampung sampah-sampah rumah tangga untuk diolah dan kemudian dikembangkan lagi menjadi produk bernilai jual.

"Jadi prinsip dasarnya adalah kita melakukan jasa pengelolaan lingkungan. Dari mulai penjemputan, kemudian pengelolaan sampah rumah tangga menjadi beberapa produk turunan yang bisa kita jual ke beberapa industri. Misalnya industri pemanfaatan maggot, building material, dan sebagainya," terang Wahyudi.

Berbagai unit usaha itu memberikan dampak yang besar bagi warga Desa Panggungharjo. Kelima unit usaha itu hingga saat ini telah menyerap hampir 100 tenaga kerja yang diambil dari warga Desa Panggungharjo sendiri.

Lebih penting dari itu, kehadiran unit-unit usaha tersebut bukan saja berfungsi untuk membuka ruang-ruang perekonomian lokal saja, namun juga memiliki peranan strategis sebagai penopang program-program desa yang dijalankan di Panggungharjo.

Unit-unit usaha yang dikembangkan dengan serius, dengan melibatkan banyak orang yang kompeten di bidangnya itu terbilang sukses dari waktu ke waktu. Unit marketplace pasardesa.id misalnya, mampu meraih omzet hingga miliaran rupiah setiap tahunnya. Begitu pula dengan unit-unit usaha lainnya, seperti Kampung Mataraman ataupun co-working space.

Kesuksesan itu berdampak positif pada keuangan desa yang dikelola oleh pemerintah, yang kemudian dimanfaatkan secara optimal untuk realisasi berbagai program pemerintah desa. Seperti telah disinggung sebelumnya, Panggungharjo memiliki sejumlah program yang terbilang sangat progresif.

Program jaminan pendidikan, misalnya, menerapkan skema asuransi pendidikan. Setiap anak dari keluarga tidak mampu di desa ini didata. Kemudian, akan didaftarkan asuransi pendidikannya ke pihak penyedia layanan pendidikan swasta. Dalam hal ini, desa atau pemerintah desa lah yang bertanggung jawab membayar preminya.

Jaminan pendidikan adalah salah satu prioritas pemerintahan Wahyudi. Sebab, menurut sang Lurah, melalui pendidikan, orang-orang akan memiliki kesempatan lebih baik untuk meningkatkan status ekonominya di kemudian hari.

"Pendidikan itu satu satunya cara untuk memutus kemungkinan. Karena karakteristik kemiskinan yang ada di Panggungharjo itu karakter kaum miskin kota, kerja informal, pendidikannya hanya sampai SMA. Mereka susah untuk meningkatkan ekonomi karena tak memiliki aset, tak memiliki pekerjaan di sektor formal, sehingga mereka akan terjebak dalam situasi yang tidak berubah,” paparnya.

Selain jaminan pendidikan, juga ada program jaminan kesehatan bagi warga, serta khusus bagi ibu hamil, yang dijalankan melalui skema kerja sama dengan rumah sakit maupun klinik sekitar.

Panggungharjo juga memiliki program sekolah non-formal berupa kelompok belajar, TK hingga, sekolah dasar yang disediakan secara gratis untuk masyarakat. Operasional program tersebut tentunya membutuhkan biaya. Di sinilah, relasi antara unit usaha dengan program-program desa tersebut terbangun. 

Gagasan Mendasar
Meski sudah cukup berhasil, Wahyudi masih punya mimpi. Ia mengusung target, dalam beberapa tahun ke depan, seluruh warga Panggungharjo pun bisa hidup dengan status sejahtera.

Ia tak berbicara utopis. Ia memiliki pandangan tersendiri tentang desa dan masa depan. Menurutnya, di masa depan, desa akan menjadi pusat dari kualitas kehidupan di seluruh dunia. Karena desa memiliki sumber pangan, air dan udara yang bersih. Sesuatu yang akan semakin bernilai mahal di masa depan.

Menurutnya, desa yang dikelola dan dikembangkan dengan benar akan mampu berdiri lebih tangguh dalam menghadapi berbagai dinamika di masa depan. Satu hal lagi, modal penting untuk menghadapi itu semua adalah solidaritas sosial dalam masyarakatnya.

“Ketika kemudian yang tumbuh ialah solidaritas, kemudian kekeluargaannya menguat, aktif bermusyawarah, serta berkolaborasi untuk bangkit, itu menandakan kepercayaan sosialnya relatif tangguh,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA