Selamat

Jumat, 24 September 2021

19 Agustus 2021|20:30 WIB

Prakarsa Serasi Selamatkan Pertiwi

Dunia tengah berhadapan dengan perubahan iklim yang kian mengerikan. Banyak yang ingin menyelamatkan, dengan caranya sendiri-sendiri.

Penulis: Gemma Fitri Purbaya, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageWarga berjalan di atas jembatan kayu di perkampungan nelayan Muara Angke, Jakarta Utara. NASA memperkirakan Jakarta bagian Utara akan tenggelam akibat perubahan iklim.

JAKARTA – Juni 2021, gelombang panas terjadi di Amerika Serikat, hingga memecahkan rekor di beberapa negara bagian. Temperatur di sana mencapai lebih dari 47 derajat celsius dan terjadi hingga berhari-hari. Gelombang panas ekstrem ini bisa memicu terjadinya kekeringan hingga kebakaran.

Data dari Climate.gov menyebutkan, lebih dari 20% negara bagian mengalami kekeringan. Laporan lainnya juga menyebut bahwa terjadi kebakaran di beberapa daerah akibat gelombang panas ini, seperti California, Arizona, Colorado, Utah, dan Montana.

Pada Juli 2021, giliran bagian barat Eropa, seperti Jerman, Belgia, dan Belanda yang dilanda bencana. Hujan besar terjadi hingga menyebabkan banjir yang sangat dahsyat. Rumah-rumah dan jalanan rusak, ratusan orang meninggal.

Kejadian yang sama juga menimpa provinsi Henan, China. Curah hujan tinggi selama tiga hari menyebabkan banjir besar. Badan Meteorologi Zhengzhou China mengatakan, hujan tersebut merupakan kejadian langka yang terjadi sekali dalam ribuan tahun. Curah hujan itu diketahui setara dengan hujan yang terjadi di daerah itu, dalam kurun waktu satu tahun.

Penyebab terjadinya rangkaian peristiwa itu tidak lain adalah karena perubahan iklim.

Secara klimatologis, Juli memang bulan terpanas dalam setahun. Namun, Juli di 2021 mencatatkan rekor terpanas dari banyak bulan Juli sebelumnya di berbagai belahan dunia. Bahkan, Badan  Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) Amerika Serikat menyebutkan Juli 2021 merupakan bulan Juli dengan suhu tertinggi dalam 142 tahun terakhir. NOAA mencatat cuaca tiap bulan sejak 1880.

NOAA melansir, suhu permukaan daratan global pada Juli 2021 mencapai 1,4 derajat Celsius di atas rekor rata-rata dan tertinggi bulan Juli kemarin.

Menurut pakar lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, perubahan iklim terjadi bukan sejak satu, dua atau sepuluh tahun terakhir. Jika melihat sejarahnya, perubahan iklim ditengarai terjadi sejak adanya revolusi industri di abad ke-17.

Kala itu, penduduk mendorong banyak terjadinya pembangunan. Saat itulah, industri mengalami peningkatan tajam yang diikuti dengan semakin sejahtera masyarakat dan kesehatan yang semakin membaik.  Namun, segala kemajuan itu pada akhirnya menjadi bumerang.

Perubahan di berbagai lini kehidupan, mendorong penggunaan energi fosil yang menjadikan polusi udara. Belum lagi penebangan hutan untuk keperluan pertanian dan pemukiman, sehingga menyebabkan terjadinya emisi karbon.

Emisi karbon inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Di mana emisi karbon di atmosfer meningkat hingga dua kali lipat sejak abad ke-17, dari saat terjadi revolusi industri. Kondisi itu sangat mempengaruhi kehidupan flora dan fauna, seperti pada proses penyerbukan yang membuat proses pertanian terganggu, jenis hewan jadi berkurang. Ujungnya, berdampak terhadap kesehatan manusia juga.

"Pada intinya terjadi kerusakan lingkungan global. Kerusakan ekosistem seperti hutan deforestasi, pemanasan global karena industri berjalan terus. Jadi, sekarang yang terjadi adalah kerusakan global dan yang terasa saat ini adalah pemanasan global," tutur Mahawan saat berbincang dengan Validnews, Jumat (13/8).

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Ada banyak contoh konkrit bencana yang diakibatkan dari perubahan iklim. Mahawan sendiri mengatakan, sekitar 90% bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi atau fenomena alam yang terjadi berkaitan dengan lapisan atmosfer, hidrologi, dan oceanografi.

Hal ini dapat dilihat dari tiga bencana besar yang kerap terjadi di Indonesia, banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Sejak tahun 2000 hingga 2019 pun diketahui, angka kejadian bencana alam itu meningkat lebih dari 20 kali lipat.

Masyarakat dunia tidak tinggal diam atas hal ini. Para peneliti dan ilmuwan pun tengah berupaya untuk mengatasi perubahan iklim, khususnya mengurangi emisi karbon atau gas rumah kaca yang menjadi inti permasalahan perubahan iklim.

Hingga akhirnya dibuatlah Kesepakatan Prancis pada 2015, dengan tujuan untuk memperkuat respon global terkait ancaman perubahan iklim, dengan menjaga kenaikan suhu dunia agar tetap di bawah 2 derajat Celsius. Pada pertemuan, 186 negara yang hadir sepakat untuk mengeluarkan hanya 25% emisi gas karbon di 2030, agar suhu tidak menembus 1,5 derajat Celsius.

Akhir tahun ini, perubahan iklim akan kembali dibicarakan, mengingat masih banyaknya intervensi yang perlu dilakukan dari berbagai sektor.

Peran Komunitas
Tidak dapat bergerak sendirian, pemerintah juga membutuhkan peran serta berbagai pihak dalam menangani isu lingkungan dan perubahan iklim.

Salah satunya adalah Carbon Ethics, sebuah yayasan yang memiliki visi-misi mengurangi laju krisis iklim. Byan Mara, selaku Senior Manager Social Impact Yayasan Carbon Ethics sadar betul bahwa saat ini bumi telah berjalan menuju titik krisis iklim.

Hal ini ditandai dengan musim yang sudah mulai tidak jelas, karang yang memutih akibat laut semakin panas, dan masih ada sejumlah tanda lainnya. Untuk itu, mereka pun melakukan beberapa inisiasi agar jejak karbon bisa berkurang semaksimal mungkin.

"Kita melakukan gerakan ‘menebus dosa’ atau menebus jejak karbon kita melalui penanaman karbon biru. Portfolio kita itu ada di mangrove, bakau, rumput laut, dan juga karang laut. Ini merupakan ekosistem daerah pesisir dan laut,” tutur Byan kepada Validnews, Rabu (18/8).

Menurutnya, karbon biru bisa menyerap emisi 10 kali lebih besar dibandingkan yang bisa diserap oleh tanaman di hutan. Sehingga bisa membantu mengatasi perubahan iklim akibat emisi karbon

Carbon Ethics sendiri punya tiga proyek konservasi, yaitu di Kepulauan Seribu, Pulau Bintan, dan Bali. Di tiga lokasi itu, mereka melakukan program komunitas seperti meningkatkan kapasitas petani, penanggulangan sampah, ekowisata, dan pemberdayaan perempuan.

Mereka juga melakukan donasi bagi masyarakat yang ingin ‘menebus dosa’ atas jejak karbonnya. Masyarakat mendonasikan uang yang nantinya akan dipakai untuk membeli bibit mangrove dan pihak Carbon Ethics yang akan menanamnya.

Komunitas lain yang juga aktif menyelamatkan lingkungan adalah Marine Buddies Jakarta. Sebuah komunitas yang diinisiasi oleh Yayasan WWF Indonesia di tahun 2008 lalu. Komunitas ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan mengenai konservasi, sebagai upaya dalam menjaga kesejahteraan ekosistem laut.

Awal pertama berdiri, sebenarnya komunitas ini fokus kepada isu perdagangan hiu yang cukup marak di Jakarta. Tetapi melihat permasalahan ekosistem laut yang semakin banyak belakangan ini, akhirnya Marine Buddies Jakarta ikut mengangkat isu-isu lingkungan laut yang lebih luas. Harapannya, bisa menjadi agen konservasionis, khususnya di Jakarta.

"Sekarang, isu dan masalah yang terkait dengan ekosistem laut di Jakarta menjadi semakin banyak. Seperti marine debris, sampah plastik di laut, massive tourism, ekologi dan biota, dan sumber daya laut. Untuk itu, kita harus meningkatkan kepedulian supaya kita bisa hidup dengan lebih bertanggung jawab,” kata Koordinator Kota Marine Buddies Jakarta, Ashma Hanifah kepada Validnews, Rabu (18/8).

Sebelum pandemi, Marine Buddies Jakarta melakukan program Conservation Through Educational Travel (CORAL) yang dilakukan rutin setiap tahunnya. Kegiatan ini merupakan salah satu cara mereka memberikan edukasi terkait ekosistem laut melalui berwisata yang bijak dan bertanggung jawab, sambil memperkenalkan ekosistem laut dan biota laut.

Mereka juga melakukan penanaman mangrove di Kepulauan Seribu dan PIK, sebagai bentuk implementasi dari kegiatan pengenalan tentang ekosistem pesisir, selain dari memberikan edukasi melalui seminar.

Meski begitu, bukan berarti perjalanan yang dilaluinya cukup mulus. Ashma mengatakan, seringkali mereka menemukan sudut pandangan dan persepsi yang berbeda dari masyarakat terkait isu ekosistem laut. Semisal, ketika memberikan edukasi terkait pelarangan penggunaan bom ketika melakukan penangkapan ikan.

Buat nelayan, itu merupakan metode paling cepat dan mudah untuk mendapatkan ikan.

"Itulah tantangannya, bagaimana kita bisa memberikan pengertian dan mengedukasi tanpa harus menyinggung perasaan mereka. Selain itu, kita juga harus memberikan contoh-contoh aksi konservasi yang patut ditiru oleh masyarakat. Semisal berhenti menggunakan produk plastik sekali pakai atau melakukan hal-hal sederhana seperti membawa botol minum sendiri,” cerita Ashma.

Hidup Ramah Lingkungan
Lain lagi dengan komunitas Zero Waste Nusantara, yang diinisiasi oleh Jeanny Primasari. Apa yang digagasnya sebenarnya sangat sederhana, mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, dengan cara meminimalkan sampah sekali pakai.

Sejak pertama kali didirikan pada tahun 2015, komunitas mereka semakin berkembang dan telah memiliki anggota yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Saat itu, Jeanny melihat kondisi masyarakat Indonesia yang terlalu manja akan barang-barang sekali pakai. Sementara gerakan zero waste atau nol sampah sendiri masih belum ada di Indonesia. Karenanya, ini didirikan untuk mendukung masyarakat yang ingin atau sudah mengadopsi gaya hidup minimal sampah.

"Orang-orang tahu kalau kita punya masalah lingkungan. Orang bisa kepikiran untuk melakukan sesuatu, tetapi eksekusinya kurang. Jadi kita tidak ingin orang hanya memahami isu tersebut, tapi juga bisa melakukan sesuatu terhadapnya. Itu edukasi yang ingin kita berikan, agar orang bisa melakukan sesuatu pada lingkungan dengan mulai saja dulu dari diri sendiri,” cerita Jeanny, Sabtu (14/8).

Ia mencermati, banyak orang yang ingin menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Tapi kebanyakan masih bingung harus mulai darimana.

Misalnya, kebijakan dari pemerintah yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai saat berbelanja. Banyak yang mendukungnya, namun bingung mencari alternatif kantong plastik sekali pakai. Di sanalah peran komunitas untuk mendampingi dan membantu masyarakat dalam menerapkan gaya hidup ini.

Tidak dimungkiri memang, komunitas memiliki peranan cukup penting berkaitan dengan isu lingkungan. Pakar lingkungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Enri Damanhuri mengatakan, komunitas seringkali menawarkan solusi dengan cara yang berbeda, ketika terjadi kebuntuan. Apalagi menurutnya, komunitas yang ada saat ini kebanyakan diisi oleh anak-anak muda. Enri menilai, peran mereka penting untuk mengingatkan.

"Umumnya mereka (komunitas) golongan muda. Banyak hal-hal kreatif yang mereka usung. Menurut saya itu sangat baik, terlepas apa latar belakang pendidikan mereka. Isu lingkungan adalah masalah kita bersama, yang harus dipecahkan bersama, dan saling bersinergi,” katanya pada Senin (16/8).

Namun, soal efektifitas gerakan berbagai komunitas, diakuinya sulit untuk diukur. Tidak mudah untuk mengukur efektivitas suatu kegiatan yang tolak ukurnya kualitatif. Apalagi, pada masyarakat yang sudah terpengaruh dari kegiatan-kegiatan sejenis.

"Yang jelas, saya perhatikan dari internet, kegiatan-kegiatan itu tambah meningkat, khususnya dari mereka yang mempublikasikannya via media online. Mungkin yang silent, lebih banyak lagi. Jadi untuk soal efektif atau apakah kegiatan mereka sudah menyebar di seluruh negeri, saya tidak bisa menjawab,” katanya.

Di sisi lain, rintisan ini penting untuk menghubungkan sektor yang satu dengan yang lainnya, khususnya dalam memecahkan masalah terkait lingkungan. Semisal, mereka membuat aplikasi yang menghubungkan kelompok sektor informal dengan sektor industri recycling

Sektor informal seperti pelapak, bank sampah, dan lainnya mempunyai barang semisal plastik, tetapi tidak tahu harus dijual kemana agar bisa memiliki nilai yang bagus. Kemudian, barang yang disetor pun dikelola oleh sektor industri daur ulang.

Pada akhirnya, sedikit atau banyak yang dilakukan, pasti menginspirasi orang-orang untuk lebih peduli lingkungan.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA