Selamat

Minggu, 25 Juli 2021

VISTA

16 Juni 2021|21:00 WIB

Perempuan Perangkul Ibu-ibu Tunggal Indonesia

Usai melalui masa-masa berat selepas bercerai, dia merintis forum produktif untuk berbagi dukungan kepada ibu-ibu tunggal seluruh Indonesia.

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageMaureen Hitipeuw, Pendiri Komunitas Single Moms Indonesia. Sumberfoto: Instagram/(@maureen.hitipeuw)

JAKARTA – Perceraian adalah satu hal yang tidak pernah terlintas di benak Maureen Hitipeuw. Siapa yang tidak? Sama seperti pasangan menikah lain yang mendamba kebahagiaan hingga akhir hayat. Namun, kenyataan kerapkali tak selaras harapan. Dunia perempuan yang kala itu berusia 31 tahun, berubah drastis saat memutuskan berpisah dengan suami, pada 2010 silam. 

“Tidak ada satu orang pun yang ingin sebuah perceraian. Namun, itu keputusan yang harus diambil saat ikatan cinta ini tak dapat dipertahankan lagi,” ujarnya saat berbincang dengan Validnews, Selasa (08/06).

Tahun-tahun pertama sebagai ibu tunggal, dijalani terseok-seok. Dengan satu anak laki-laki, Maureen harus menghadapi tantangan keuangan, gelombang emosional, dan stigma buruk masyarakat terhadap statusnya.

Keluarga Maureen, yang terbilang religius dan tak memiliki riwayat perceraian sejak leluhur, menyayangkan keputusan itu. Tanpa dukungan, Maureen pun merasa sendirian. 

Di antara berbagai kepelikan, Maureen mencari teman berbagi. Ia memanfaatkan teknologi internet, untuk menelusur keberadaan komunitas apapun, yang mendukung ibu tunggal di Indonesia. Hasilnya, nihil! Komunitas sejenis itu hanya lazim di luar negeri.

“Saya merasa butuh support, teman ngobrol, dan dikuatkan secara emosional atas permasalahan yang terjadi. Akhirnya, saya coba cari komunitas yang concern dengan single mother, tapi memang belum ada di Indonesia,” tuturnya.

Ketiadaan itu malah melecut Maureen untuk mendirikan sendiri komunitas yang sesuai kebutuhannya. Bukan hanya menjadi ruang berbagi, tapi juga mampu memberdayakan ibu-ibu tunggal di Indonesia, untuk bisa mandiri secara finansial dan tangguh emosional.

Persimpangan Lara
Maureen kembali mengingat masa-masa krisis, saat rumah tangganya di ambang perceraian. Dia mengaku, dua tahun sebelum resmi berpisah, berbagai masalah sudah lalu-lalang mengganggu ketentraman pernikahan. Malam ke malam terlalui menyesakkan. Tak jarang, dirinya menangis mempertanyakan banyak hal. 

Sampai-sampai, Maureen kesulitan merangkai kata untuk sekadar mengadukan penderitaan kepada orang terdekat. Bahkan melalui tulisan pun tak mampu. Padahal, Maureen mahir menulis. kemampuan yang dimiliki Maureen sejak muda, tetap sukar dilakukan. Karena itu, ia memilih menutup diri, menyimpan semua keluhan rapat-rapat.

“Saya sulit bercerita dengan lingkungan sekitar. Soalnya, rata-rata teman saya baru pada menikah, saat saya galau bercerai atau tidak. Saya juga takut untuk bercerita ini kepada mereka, jadi semuanya dipendam sendiri,” kisah Maureen.

Batin Maureen bergolak. Meski keinginan bercerai begitu deras, terdapat pula dorongan rasa untuk mempertahankan keutuhan keluarga. Maureen dan pasangan bahkan sempat berkonsultasi dengan penasehat pernikahan, berikhtiar menyembuhkan luka rumah tangga. 

Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Setelah tiga kali pertemuan, keputusan untuk berpisah tetap tak berubah.

“Saya coba tetap bertahan kali itu, karena berpikir, 'baru menikah segini saja. Masa, sih , sudah menyerah?" ceritanya.

Maureen dan anaknya, kemudian tinggal bersama orangtua. Kendati tak lagi menyatu, mantan suaminya sepakat untuk merawat buah hati mereka, bersama-sama.

Tantangan Menjadi Ibu Tunggal
Selepas resmi bercerai pada Oktober 2010, beragam rasa takut mulai bermunculan. Ada keraguan dalam diri Maureen ketika pertama kali menjalani peran ibu tunggal. Apalagi masa itu, dia tidak memiliki pekerjaan, setelah lima tahun fokus sebagai ibu rumah tangga. 

Keadaan itu tak berlangsung lama. Maureen segera bangkit, seraya berburu pekerjaan. Dia bertekad, enggan membebani kedua orangtua, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri. 

“Saya menunjukkan walaupun bercerai, hal tersebut tidak membuat diri ini terpuruk banget. Nah, caranya itu saya mencari pekerjaan baru agar tidak menjadi beban orangtua karena waktu itu tinggal bersama mereka,” ungkapnya.

Hingga sekitar dua tahun pasca perceraian, Maureen berhasil mengubah diri. Dia menjelma sosok ibu menyenangkan, bisa berdamai dengan kenyataan, dan jauh lebih kuat menghadapi segala masalah hidup. 

“Anak itu akan happy, kalau ibunya juga happy. Jadi, pasca bercerai saya berusaha mencari kebahagiaan baruku agar anak juga happy melihat ibunya tersenyum,” katanya.

Kelahiran Komunitas Single Moms Indonesia
Kemarakan penggunaan internet, telah membuka kesempatan bagi Maureen untuk berbagi cerita hidup, ke khalayak. Kepiawaiannya menulis tersalurkan melalui catatan-catatan blog. 

Ternyata, kisah-kisah Maureen menarik perhatian. Sampai datang satu kesempatan di mana Maureen diundang ke salah satu peluncuran buku berjudul "The Single Moms"Di perhelatan itulah, Maureen bertemu dengan beragam ibu-ibu yang berperan sebagai orangtua tunggal.

“Momen launching itu mempertemukan saya dengan dua rekan yang sekarang bergabung di Single Moms Indonesia. Kita memiliki mimpi yang sama, yaitu membangun komunitas yang mewadahi para single moms di Indonesia," ucapnya. 

Tahun 2014, dibantu dengan dua rekan, komunitas idaman Maureen berdiri, ditandai dengan pembuatan Grup media sosial Facebook bernama "Single Moms Indonesia”. Peserta forum pun perlahan tumbuh, dari kosong sama sekali hingga saat ini mencapai 5000 anggota.

“Mungkin kalau komunitas lain bangga dengan banyaknya jumlah anggota, saya justru sedih. Jumlah member di komunitas ini menunjukkan tingginya angka perceraian yang terjadi,” tuturnya.

Anggota komunitas tersebut terbagi tiga kategori. Pertama, single moms yang bercerai, lalu single moms karena suami meninggal. Terakhir, kelompok lain-lain, misalnya single moms akibat hamil di luar nikah. 

Melalui forum rintisan Maureen itu, ibu-ibu tunggal dibebaskan bercerita, tanpa harus takut dicemooh. Satu sama lain saling dukung dan menguatkan.

Seiring waktu, pergaulan di dalam grup “Single Moms Indonesia” meluas pada kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Kelas-kelas online dibuka, mengajarkan memasak, contents marketing, menciptakan produk, kesehatan mental, hingga pemanfaatan media sosial. Aktivitas produktif itu membuahkan hasil positif. Tidak sedikit ibu tunggal yang bisa memiliki pendapatan sendiri.

“Lewat kelas-kelas online di komunitas Single Moms Indonesia, para anggotanya diajarkan bagaimana caranya menjalankan usaha untuk menghidupi dirinya dan anak. Sebenarnya, para single moms itu butuh di-support agar mereka percaya diri. Ketika sudah percaya diri, maka mereka akan berdaya hingga mampu memperbaiki kehidupan anak-anaknya,” ucapnya.

Pesan Singkat Maureen
Kini Maureen sudah menyandang status single mother selama 11 tahun. Sejauh itu, tidak ada yang disesalinya. Ia justru berterima kasih kepada Tuhan karena sudah membuka babak baru kehidupan, meskipun harus melalui perceraian yang pahit. Ia berharap, keadaan buruk yang pernah dilaluinya, tak dialami orang lain.

Kepesatan perkembangan komunitas rintisannya, juga telah membuka kesempatan baginya untuk berkarier lagi. Maureen sempat tercenung menyaksikan keantusiasan para ibu tunggal bergabung. Bukankah itu sekaligus menunjukkan betapa besar angka perceraian di Indonesia? 

“Saya harap cerita ini bisa bermanfaat bagi wanita yang belum menikah. Dan jangan sampai cerita ini membuat kamu takut melangkah. Bagi para ibu tunggal di luar sana, kalian adalah wanita hebat dan ibu yang hebat,” pungkasnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER