Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

KULTURA | Validnews.id

KULTURA

24 September 2022

08:03 WIB

Pentingnya Literasi Digital Kelompok Lansia

Kelompok lansia kerap menjadi sasaran empuk dari kejahatan digital, oleh karenanya memberikan edukasi tentang teknologi menjadi keharusan.

Penulis: Tristania Dyah Astuti,

Editor: Satrio Wicaksono

Pentingnya Literasi Digital Kelompok Lansia
Ilustrasi lansia sedang gunakan gadget. Freepik

JAKARTA - Masyarakat lanjut usia (lansia) menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi kemajuan teknologi. Literasi yang terbatas akan dunia digital membuat kelompok ini menjadi sasaran empuk kejahatan digital.

Bentuk kejahatan digital yang paling sering menyerang adalah phising dan scaming. Di mana kejahatan tersebut bertujuan untuk memperoleh data pribadi atau pun materi dari para korbannya. 

Co-Founder Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), Santi Indra Astuti mengatakan, para penjahat digital kerap mengelabui korbannya dengan memanfaatkan kelalaian serta kondisi psikologis ketika cemas.Cara ini dikenal juga dengan istilah social engineering atau rekayasa sosial. 

Biasanya para penipu akan menggunakan berbagai trik melalui pesan singkat ataupun telepon, seperti mengaku dari suatu perusahaan, aplikasi, atau rumah sakit dengan alasan mengkonfirmasi data pribadi. Selain itu, meminta untuk mengganti password akses keuangan maupun menipu dengan melalui iming-iming memenangkan hadiah. 

Beberapa kasus yang terjadi, penipu kerap melontarkan tuduhan pada korbannya seperti dituduh melakukan tindak pidana karena mengakses data rahasia, atau memesan barang online tanpa membayar.

“Manusia itu gampang cemas kan? Kalau sudah cemas suka tidak banyak pikir makanya gampang dikasih perangkap yang aneh-aneh. Kalau dengar begitu, insting selalu ingin cari selamat. Nah saat itulah pikiran kritis kita tidak bekerja, itu modusnya,” jelas Santi dalam webinar bertajuk “Waspada! Jangan Mudah Terpancing Link Phising”, Jumat (23/9).

Lansia juga mudah membagikan informasi yang belum tentu kebenarannya, terutama pada pesan berantai yang diterima di aplikasi pesan seperti WhatsApp. Pesan yang didapatkan biasanya akan di forward ke grup karena dianggap sebuah informasi yang menguntungkan.

Padahal, pesan yang dibagikan biasanya berisi link phising yang jika diklik atau diakses, memungkinkan data-data serta dokumen penting di dalam gawai akan tercuri.

Sebab itu, lansia perlu mendapatkan banyak bimbingan dan pengawasan dalam mengakses ruang digital. Santi menghimbau agar generasi muda mau turut andil memberikan informasi terkait bahaya phising dan scaming kepada keluarga yang lebih tua.

Dia memahami bahwa menyampaikan literasi digital kepada lansia tidaklah mudah. Maka, Santi memberikan tips agar mudah memberikan berbagai informasi terkait digitalisasi kepada para lansia.

Pertama, pahami karakter dari masing-masing individu lansia. Pasalnya setiap orang memiliki karakternya masing-masing. Dengan demikian, pilih cara yang paling nyaman agar edukasi yang diberikan bisa benar-benar tersampaikan. 

“Ada yang tidak suka ditegur di muka umum. Kalau kita langsung merespon di grup apapun, yang kita omongkan akan diabaikan karena dianggap sebagain serangan pribadi. Jadi kasih tahunya coba japri saja,” jelasnya.

Selanjutnya, dalam memberikan informasi sertakan pula bukti konkrit seperti link atau screenshot berita yang menjelaskan pesan-pesan tersebut adalah penipuan. Lalu bisa pula menggambarkan kerugian yang dialami korban phising, ini bertujuan untuk membangkitkan empati agar lebih mudah menerima informasi.

“Sampaikan dengan bahasa yang sangat sederhana pakai analogi dan bangkitkan empatinya. Biasanya orang tua lebih mudah tersentuh jadi lebih mudah paham,” tambah Santi.

Generasi muda juga bisa berperan dan berkolaborasi dengan tokoh setempat atau orang tua yang dituakan, dihormati atau disegani untuk memberikan pelatikan digitalisasi agar dapat meningkatkan literasi para lansia.




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER