Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

VISTA

28 April 2021|21:00 WIB

Penerjemah Jagat Raya

Di antara sakit yang melemahkan tubuh, fisikawan Stephen Hawking susah payah menyelesaikan buku legendaris: A Brief History of Time.

Penulis: Muhamad Fadli Rizal,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageStephen Hawking. Sumberfoto:Ist/dok

JAKARTA – Stephen Hawking hanya bisa pasrah berbaring di ranjang rumah sakit. Sekujur tubuhnya dipasangi alat penopang hidup. Benda-benda itu sudah pasti dicopot kalau saja istrinya, Jane Wilde, menyetujui saran dokter untuk menyudahi jalan hidup Hawking.

Kalau saja, sekali lagi kalau saja, Jane tak mengambil keputusan untuk menerbangkan sang suami ke Addenbrooke's Hospital di Cambridge, Inggris, bisa jadi ajal sudah menjemput Hawking pada 1985.

"Dokter-dokter di sana mencoba memulihkan keadaan saya, tapi akhirnya mereka harus melakukan trakeostomi," tulis Hawking dalam buku My Brief History, dikutip Senin (19/4). Trakeostomi adalah tindakan bedah untuk membuat lubang pada saluran udara (trakea) agar dapat dipasangi tabung pernapasan. 

Sebelum saluran pernapasannya dibedah dan dipotong, kondisi Hawking waktu itu memang sudah payah. Berjalan sulit, bernapas dan menelan makanan bikin tersedak.

Semua itu terjadi karena ALS alias Amyotrophic Lateral Sclerosis, penyakit perusak sel saraf yang sudah menyerang Hawking sejak usia 21 tahun. 

Operasi itu bukan sekadar menyelamatkan Hawking semata, tapi juga turut menjaga perkembangan ilmu pengetahuan. Karena saat itu, Hawking sedang menyusun A Brief History of Time, buku sains soal jagat raya yang disebut-sebut paling renyah.

Hawking Menjalani Hidup Sebelum ALS

Tepat 300 tahun setelah kematian Galileo Galilei, astronom, filsuf dan fisikawan asal Italia yang terkenal itu, Hawking menangis untuk pertama kali, sesaat setelah keluar dari rahim ibunya. Tak ada yang mengira, bayi mungil itu kelak tercatat sebagai tokoh besar dalam sejarah dunia.

Hawking lahir pada 1942, ketika Inggris dan Jerman masih sibuk mengatur strategi tempur pada Perang Dunia II. Selama dan sesudah perang, Hawking tinggal di Highgate, London Utara. Sebuah lingkungan yang dekat dengan ilmu pengetahuan. Selain itu, ayah Hawking pun seorang periset.

"Waktu itu selama dan sesudah Perang Dunia II, Highgate adalah tempat tinggal kalangan ilmuwan dan akademis," ujar Hawking.

Hawking kecil kepincut dengan kereta api listrik mainan. Sampai-sampai, ketika umur tiga tahun, ia harus membongkar tabungan untuk membelinya. 

Keingintahuannya terus terawat hingga remaja.Ketimbang bermain dengan kawan sebaya atau berleha-leha sembari berbaring, Hawking memilih berkutat merakit model pesawat terbang atau kapal. Dorongan untuk memahami cara kerja benda-benda itu begitu kuat. Dia berpikir apabila bisa menguasainya, bukan mustahil dia mampu mengendalikan sesuatu tersebut. Hal itulah kelak yang menjadi pijakan Hawking ketika ingin mengetahui cara kerja alam semesta.

Dari Highgate, Hawking pindah ke St. Albans, Inggris. Ia melanjutkan pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas di sana. 

"Saya tidak pernah berada di peringkat di atas rata-rata kelas, pekerjaan saya di kelas sangat tidak rapi, dan tulisan tangan saya memusingkan guru," ujar Hawking.

Pengamalan Hawking itu lumrah belaka, karena berada di kelas unggulan.

Meski kerap berulah hingga membuat guru-guru pusing, Hawking dijuluki Einstein oleh kawan-kawannya. Mereka seolah melihat pertanda baik dalam diri Hawking kala itu.

Selama sekolah, Hawking hanya punya kurang dari 10 sahabat. Mereka adalah orang-orang yang bersedia meluangkan waktu untuk bertemu, berdebat panjang lebar hingga dongkol, lalu tertawa lagi. Bukan pergi karena kesal akibat perbedaan.

Biasanya, beragam topik menyelinap di antara obrolan, mulai asal usul radio kontrol sampai persoalan agama, dari soal psikologi hingga fisika.

"Salah satu yang kami bahas adalah asal usul alam semesta dan apakah perlu ada Tuhan untuk menciptakan dan menggerakannya," ujar Hawking.

Di luar perdebatan-perdebatan soal Tuhan dan alam raya, Hawking punya pemaknaan mendalam yang bisa jadi tak disadari kawan-kawannya. Bagi Hawking, pelajaran fisika merupakan hal membosankan. Kendati begitu, dari fisika Hawking percaya bisa sedikit lebih memahami asal-usul manusia serta alasan keberadannya.

"Saya ingin merenungi luasnya alam semesta. Barangkali saya sudah sedikit berhasil, tapi masih banyak yang saya ingin ketahui," kata Hawking.

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah, Hawking kemudian melanjutkan ke Universitas Oxford, Inggris. Ia masuk bangku kuliah pada usia 17 tahun, empat tahun sebelum menyadari terdapat kerusakan sistem saraf dalam tubuhnya.

Hawking menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa Oxford nyaris biasa-biasa saja, malahan ia mengaku cenderung tidak giat. Kemalasan yang lumrah dilakoni mahasiswa Oxford.

"Sikap yang lumrah di oxford waktu itu anti bekerja. Kami harus tampil sangat brilian tanpa terlihat berusaha. Sebab bekerja keras untuk mendapat kelas atau gelar lebih tinggi dianggap pertanda manusia kelabu, sebutan terburuk dalam kosakata Oxford," ujar Hawking.

Momok Bernama ALS

Meski terus berusaha terlihat baik-baik saja, berangsur-angsur Hawking mulai merasakan kejanggalan dalam dirinya. Dia gampang lelah dan mudah tersungkur. Bahkan, keadaan itu terus mendera hingga dia lulus dari Oxford.

Hawking lantas beranjak ke Cambridge, meneruskan belajar di program pascasarjana pada Oktober 1962. Sebagai mahasiswa lanjutan, Hawking harus memiliki tema riset. Waktu itu, dia tertarik dengan fisika zarah dasar dan kosmologi.

"Saya datang ke Cambridge untuk meneliti kosmologi, dan kosmologi lah yang mau saya garap. Jadi saya membaca buku-buku lama tentang relativitas umum," ujar Hawking.

Hawking mesra makin kikuk melewati hari demi hari di Cambridge. Dia beberapa kali ke dokter, namun ia hanya diminta untuk mengurangi alkohol saja. Hingga pada satu Natal, Hawking kembali tersungkur dan tak bisa bangun. Kali ini ia jatuh dari atas papan seluncur ketika sedang melesat di atas danau St. Albans yang membeku.

“Tak lama sesudah ulang tahun ke 21, saya ke rumah sakit untuk dites,” ujar Hawking.

Di rumah sakit, serangkaian tes pun dijalaninya selama dua minggu. Kata Hawking, dokter mengambil sampel otot dari lengan, menusukkan elektroda, menyuntikkan cairan yang tak tembus sinar X ke sumsum. 

Beberapa waktu kemudian, diagnosis keluar. Batin Hawking terguncang saat mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit yang tak bisa sembuh dan bisa membunuh dalam beberapa tahun ke depan. Pelan-pelan, perasaan bosan hidup menggerayangi dirinya. 

“Tampaknya tak ada yang layak diupayakan. Tapi tak lama sesudah keluar dari rumah sakit, saya bermimpi akan dihukum mati. Tiba-tiba saya menyadari bahwa ada banyak hal yang layak dilakukan. Bagaimanapun jika saya akan mati mending berbuat baik dulu,” kata Hawking.

Para dokter menyarankan supaya Hawking kembali ke Cambridge dan melanjutkan risetnya yang baru dimulai, mengupas relativitas umum dan kosmologi. Namun, Hawking mengaku tak mendapat kemajuan berarti, sebab tak memiliki dasar matematik memadai. Selain itu, dia merasa susah fokus bekerja akibat dibayang-bayangi kematian.

"Saya merasa menjadi tokoh tragis," ujar Hawking.

Beruntung, Jane Wilde setia di sampingnya. Perempuan itu terus memupuk semangatnya agar bangkit dari keterpurukan. Hawking pun terpacu. Dia mengumpulkan semangat untuk menolak kematian sebelum menikah. 

Dan tekad itu tercapai. Keduanya resmi menjadi suami-istri pada Juli 1965. Pernikahan itu berlangsung ketika Hawking sudah mulai kesulitan untuk menulis menggunakan tangannya. Kakinya pun mulai tak kuat menopang tubuh. 

Jane, kata Hawking, membuatnya memiliki hidup yang layak dijalani. Sayang, pada 1995 keduanya bercerai. Di tahun yang sama, Hawking pun melanjutkan hidup bersama mantan perawatnya, Elaine Mason. Pernikahan kedua itu hanya bertahan hingga 2007.

A Brief History of Time

Pertanyaan akbar soal kosmologi di tahun 1960-an ialah soal titik mula kejadian alam semesta. Banyak ilmuwan yang menentang teori Ledakan Besar alias Big Bang. 

"Dua alternatif skenario pun diajukan, satu adalah teori keadaan tunak. Alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir," ujar Hawking. 

Meski demikian, Hawking menganggap teori tersebut kurang kuat. Apalagi pada 1963, teori keadaan tunak telah diuji oleh grup astronomi radio Martin Ryle di Cavendish Laboratory. Dua tahun kemudian, teori itu tak berlaku, setelah muncul penemuan latar belakang radiasi gelombang mikro.

Teori radiasi gelombang mikro itu mengatakan bahwa di masa lampau, semesta pernah mengalami tahap sangat panas dan rapat. Namun, Hawking kembali meragukannya. 

Pada tahun-tahun itu, Hawking tak hanya dikelilingi perdebatan soal awal mula penciptaan jagat raya. Namun juga tentang lubang hitam di antariksa, sebuah pembahasan yang sudah ada sejak 1783.

Suatu siang pada 1982, Hawking ketiban gagasan untuk menulis buku A Brief History of Time. Selain untuk mendapatkan penghasilan, dia juga bermaksud memberi kabar baik kepada siapapun yang tertarik mengulas kosmologi.

 "Saya ingin menjelaskan sejauh apa pemahaman kita mengenai alam semesta. bagaimana mungkin kita dekat dengan penemuan teori lengkap yang bakal menjabarkan alam semesta dan segala isinya," ujar Hawking.

Hawking ingin buku pertama itu menjadi mahakarya. Target yang realistis, mengingat kondisinya tak lagi bugar. Jika harus menghabiskan waktu dan usaha untuk menulis satu buku, maka dia ingin tulisan itu dibaca sebanyak mungkin orang.

 Hawking sadar betul, tulisannya di masa lalu yang diterbitkan beragam jurnal, susah dimengerti awam sebab berisi hal-hal teknis dan dipenuhi istilah-istilah tak populer. Karenanya dia ingin membuat perbedaan, dengan menulis soal kosmologi menggunakan bahasa yang mudah dicerna. Namun Hawking kepayahan. Menulis ringan ternyata bukan gayanya.

Pada 1984, Hawking mengirim naskah mentah kepada agen penerbit, Al Zuckerman. Agen itu berfungsi sebagai tangan kanan Hawking dalam mencari penerbit. Setelah beberapa waktu, Hawking sepakat karyanya diterbitkan melalui Bantman Books, penerbit populer di Inggris masa itu.

Walau dikenal sebagai penerbit yang tak pernah merilis buku sains, Bantman nekat menerabas kebiasaan. Seorang editornya, Peter Gizzardi, menggebu-gebu ingin mencetak, sebab tertarik dengan pemikiran Hawking.

Gizzardilah yang mendampingi sekaligus mendorong Hawking agar menulis ulang buku itu supaya bisa dimengerti khalayak selain ilmuwan. 

"Tiap kali saya kirimi dia bab yang sudah ditulis ulang, dia mengirim balik daftar panjang berisi kritikan dan pertanyaan," ujar Hawking.

Sebetulnya Hawking yakin, hampir semua orang tertarik dengan cara kerja alam semesta, tapi tak bisa mengikuti persamaan-persamaan matematika. Hawking sendiri, memilih untuk tak terlalu peduli dengan persamaan matematika. Melalui buku itu ia hanya ingin menjelaskan melalui kata-kata, soal bayangan-bayangan dalam kepalanya. 

Namun, pengabaian Hawking pada persamaan matematika membawa kesulitan lain saat menulis. Sebab, ada beberapa gagasan yang sukar dijelaskan tanpanya. Saat itu, Hawking punya sepasang pilihan. Terus menjelaskan dengan risiko pembaca bakal terjebak dalam kebingungan, atau melewatkan gagasan di kepalanya begitu saja. 

Ada dua konsep yang ingin Hawking sampaikan. Pertama, mengenai jumlahan sejarah atau sum over histories, yakni gagasan bahwa sejarah alam semesta tak hanya tunggal. Ada berbagai kemungkinan yang sama-sama berpeluang menjadi kebenaran. Lalu yang kedua, mengenai waktu khayal atau imaginary time. Gagasan tersebut berfungsi untuk mengetahui jumlahan sejarah alam semesta secara matematis.

Hawking menulis dengan susah payah di tengah kondisi tubuh yang lemah. Bahkan diwarnai insiden tersedak dan harus menjalani operasi trakeostomi pada 1985.

Operasi itu membuat Hawking kesulitan bicara. Selama proses penyuntingan, Hawking bekerja di kursi roda pemberian Walt Woltosz, seorang pakar komputer asal California, yang prihatin ketika mendengar keadaan Hawking.

"Dia mengirimi saya program komputer yang ia tulis, bernama Equalizer. Alat itu membuat saya bisa memilih kata-kata dari serangkaian menu di layar dengan menekan tombol di tangan," ujar Hawking. Melalui alat itu, setelah menulis apa yang hendak dikatakan, Hawking bisa mengirim data itu ke alat pengucap kata.

Alat itu sangat membantu Hawking dalam menjawab daftar pertanyaan yang ditulis Gizzardi. Bahkan dengan narasi yang lebih bagus. Inilah yang memengaruhi cara bertutur A Brief History of Time sehingga lebih renyah dibanding naskah awal.

"Saya yakin hampir semua orang tertarik dengan cara kerja alam semesta, tapi tak bisa mengikuti persamaan-persamaan matematika," kata Hawking.

Tepat 300 tahun setelah kematian Galileo Galilei, Stephen Hawking lahir ke dunia. Tak ada yang mengira, bayi mungil itu akan mencatat sejarah dunia. Namanya selalu identik dengan teka-teki alam semesta. Meski mengidap penyakit kerusakan syaraf, Hawking mampu membuka mata dunia melalui “A Brief History of Time”.

Namun, cerita soal buku belum selesai usai penyusunan. Soalnya, ketika buku itu diterbitkan, seorang ilmuwan yang diberi satu eksemplar awal untuk diresensi di majalah Nature mencak-mencak. Ilmuwan yang tak mau disebut nama itu terkejut dan langsung menghubungi si penerbit, Bantman. 

Menurutnya, buku itu penuh dengan kesalahan, dengan foto maupun diagram yang keliru tempat serta keterangan. Kabar itu sontak membuat Bantman memutuskan menghentikan proses pencetakan. 

Hawking dan Bantman membutuhkan waktu tiga minggu untuk menyelesaikan tetek bengek perbaikan buku.

Setelah terbit, buku itu membawa berkah bagi Hawking. A Brief History of Time berhasil masuk ke dalam buku laris New York Times selama 147 pekan, dan di Times London selama 237 pekan. Menjadi buku terlaris selama 237 minggu itu membuat Hawking berhasil memecahkan rekor baru.

Kemudian, A Brief History of Time juga diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dan terjual lebih dari 10 juta eksemplar di seluruh dunia.

"Di tahap pemeriksaan contoh cetak, saya nyaris menghilangkan kalimat terakhir, yaitu bahwa kita bakal mengetahui isi pikiran tuhan. Andai itu saya lakukan, jumlah buku yang terjual mungkin berkurang separuhnya," ujar Hawking.

Kesuksesan A Brief History of Time menggiring Hawking untuk menulis buku sains lain, seperti Black Holes and Baby Universe, The Universe in a Nutshell dan The Grand Design. Hawking percaya bahwa masyarakat perlu punya pemahaman dasar sains agar bisa membuat keputusan cerdas dalam dunia yang makin ilmiah dan penuh teknologi. (Muhammad Fadli Rizal)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER