Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

VISTA

10 Juni 2021|10:00 WIB

Penaja Geliat Reog Ibu Kota

Melalui serangkai ikhtiar, Reog dibawa dari jalanan berpindah ke panggung-panggung modern yang selaras zaman.

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageReog Ponorogo. Sumberfoto: Shutterstock/dok

JAKARTA – Siapa tak kenal Reog? Kesenian rakyat asal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang konon bermula pada zaman Majapahit itu, sudah masyhur di antero negeri. Kini, Reog berkembang menjadi kesenian populer yang dimainkan di berbagai daerah.

Tak terkecuali di Jakarta. Para perantau dari Ponorogo ataupun daerah sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah, banyak yang terdorong membentuk kelompok-kelompok Reog. 

Mereka menggelar pertunjukan di jalan-jalan, atau mengisi aneka perhelatan warga. Beberapa darinya muncul dan eksis di ibu kota, sejak periode 1970 sampai 1980-an.
 
Namun, kala itu, keberadaan mereka belum terorganisasi rapi. Meruyak, namun tak terdata. Satu sama lain, tidak berinteraksi. Jadi, sulit untuk melacak jumlah pasti kelompok-kelmpok tersebut.
 
Ketika itulah, beberapa pegiatnya, merintis pembentukan Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek. Satu tokohnya, bernama Begug Purnomosidi.
 
Catur Yudianto, yang akrab disapa Cak Yud, adalah saksi hidup perkembangan Reog di Jakarta pada dekade 1980-an. Dia bercerita, Begug adalah tokoh yang dekat dengan banyak seniman di Jakarta dan sekitarnya.
 
Meski bukan pelaku teknis dalam kesenian, dia diposisikan sebagai ketua paguyuban Reog yang baru terbentuk. Begug sendiri, pada kemudian hari, menjabat Bupati Wonogiri, periode 2005–2008.
 
Kehadiran paguyuban, membawa angin segar bagi perkembangan Reog. Satu per satu kelompok lama bergabung. Bersamaan itu, yang baru pun bermunculan.
 
"Namanya kesenian reog itu memang kesenian yang amat merakyat, ya. Saking banyaknya grup itu akhirnya kita merasa memerlukan sebuah naungan agar kita tumbuh lebih kuat,” jelas Cak Yud kepada Validnews, beberapa waktu lalu.
 
Cak Yud menuturkan, saat awal pembentukan, tercatat ada 80 grup Reog yang tergabung. Paguyuban menjadi penaung untuk saling berjejaring dan mengembangkan program-program bersama.
 
Membangun mutu Reog beserta para senimannya, menjadi tujuan utama. Langkah pertamanya dengan menghadirkan pertunjukan yang lebih tertata sehingga diapresiasi semua kalangan. Apalagi, zaman itu, reog kadung tercitra sebagai kesenian jalanan spontan, dengan pola gerak yang seolah sesuka pemain.

"Kalau dulu, pertunjukan-pertunjukan reog itu seenaknya, tidak ada pola gerak tersusun. Seniman-senimannya pun, kalau sudah bisa beli peralatan atau kostum pertunjukannya, sudah bisa mempertunjukkan reog," jelasnya.
 
Paling tidak, terdapat 5 lakon dalam kelaziman pertunjukan Reog yaitu Warok, Jathil, Bujang Ganong, Klono Sewandono, dan Dadak Merak. Idealnya, semua dihadirkan dalam pertunjukan yang terpola dan saling mendukung. Namun praktiknya, sulit dilakukan oleh banyak grup saat itu.
 
“Dulu, masing-masing item ini, karena fungsinya hanya ngarak, ya sudah kalau Warok misalnya jawara gagah berani, ya sudah yang penting gagah saja, tapi gerakannya tidak nyambung dengan item lainnya. Dadak Merak juga, yang penting kuat ngangkat Dadak Merak, sudah bisa,” tutur Cak Yud.
 
Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek lantas membenahi masing-masing lakon dalam pertunjukan, agar tiap kelompok bisa tampil sealur. 

“Dulu Kabupaten Ponorogo mengeluarkan 'buku kuning' (sebutan untuk buku panduan dari para seniman Reog), itu buku tentang pola garap Reog, ada dirumuskan kalau tari Jathil misalnya menggambarkan ini, geraknya begini, demikian juga yang lain, dadak merak juga,” terang Cak Yud.

 
Dari Jalanan ke Panggung Modern
Terdapat hikayat yang menyebut, bahwa pada masa akhir Majapahit, Reog pernah digunakan sebagai media kritik. Melaluinya, rakyat menyisipkan pesan-pesan ketidaksetujuan pada sikap raja Brawijaya V, yang lebih sibuk menuruti kehendak permaisuri ketimbang mengurusi negara.
 
Seorang Demang bernama Ki Ageng Kutu, lantas mencipta berbagai perlambang untuk mewakili kritik-kritik itu. Jejaknya hingga kini masih terlihat, utamanya pada Barongan: karakter berkostum kepala harimau yang ditunggangi burung merak. Maknanya yaitu keperkasaan yang ditundukkan oleh hal-hal indah.
 
Sebagai kesenian yang lahir dari rakyat, Reog lekat sebagai hiburan tradisional yang dimainkan di jalan-jalan, hingga lapangan. Perannya masih sebatas pengisi keramaian. Baru pada tahun 1990-an, atau sejak paguyuban terbentuk, Reog terunggah ke panggung-panggung modern. Lebih tertata dan elegan. Sayangnya, tak ada catatan pasti kelompok Reog mana yang jadi pelopornya. 

"Mulai tahun 1997-an, reog sudah mulai menemukan kemasan baru. Misalnya kemasan di panggung, terus ada alur ceritanya, lalu soal kepenarian, musik, dan lain-lain juga tergarap dengan baik,” tutur Cak Yud.
 
Seiring waktu, penyebutan kesenian itu terpilah dua. Pertama adalah Reog festival, lazim ditampilkan di pentas teater. Sementara yang kedua adalah Reog Obyok, yang masih bertahan menggunakan cara-cara pagelaran tradisional.
 
Sejalan dengan semangat membawa reog ke panggung modern, paguyuban juga menghadirkan Reog secara berkala, yang kenal sebagai Gelar Reog Purnama Suro. Hingga kini, rutinitas tersebut masih dijalankan. Selain itu, dihelat pula festival tahunan Reog di Jabodetabek, dengan melibatkan semua kelompok dalam paguyuban. 

Keberlangsungan acara-acara itu, berangsur-angsur mendorong grup-grup reog untuk lebih serius membenahi diri agar tampil memuaskan.
 
"Reog itu kalau diperlombakan, kan harus ada standar. Ada pola gerak, tertata. Mulanya itu, reog mulai kita bawa ke panggung, kita garap dengan baik. Untuk lomba perlu petunjuk teknis yang jelas, maka kita ada pola reog yang pakem,” tutur Cak Yud.
 
Bahkan, di bawah pembinaan paguyuban, DKI Jakarta juga aktif mengikuti festival Reog tingkat nasional yang digelar di Ponorogo. Kiprahnya pun berbuah memuaskan. Gelar juara selama tiga kali berturut-turut berhasil disabet. Yakni pada tahun 1997–1999, serta dua kali juara, 2002 dan 2003.

 
Regenerasi dan Transformasi
Selain membenahi teknis pertunjukan, sisi-sisi lain juga digarap paguyuban. Cak Yud menuturkan bahwa pendataan juga dilakukan. Sekaligus pula, menggencarkan pelatihan, menyiapkan regenerasi, dan mewadahi kompetisi reog.
 
Paguyuban membuat database seputar grup-grup sekaligus para seniman reog di Jabodetabek. Saat ini, tercatat 54 kelompok telah ternaungi. Mereka tergabung dalam delapan koordinator wilayah (korwil), yaitu Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Tangerang Selatan.
 
Regenerasi seniman Reog juga dipikirkan. Menurut Cak Yud, itu merupakan satu orientasi penting paguyuban. Penjaringan dan pembinaan seniman-seniman baru kerap dilakukan melalui berbagai pelatihan. Termasuk, rajin mengenalkan Reog kepada anak-anak. 

"Kami membina dari anak-anak, sampai ia remaja dan dewasa. Setelah dia kerja atau kawin, kebanyakan mereka berhenti, namun ada juga yang jadi pelatih. Tapi generasi berikutnya muncul lagi. Begitu polanya. Kalau tidak seperti itu, mungkin sudah tak ada ada reog ini," ucap Cak Yud.
 
Sudah tiga dekade sejak Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek berdiri. Program-programnya telah menyambung napas kesenian itu untuk terus hidup di Jakarta dan sekitarnya. 

Sekarang, mereka bermarkas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), diketuai Cak Yud.

Pada masa pandemi kini, grup-grup reog dituntut untuk beradaptasi. Mereka terus mencari bentuk-bentuk pertunjukkan agar tak terlupakan. Bahkan, dituturkan Cak Yud, Reog bakal dikemas dalam bentuk sinema. Satu ikhtiar, demi menyelaraskan warisan leluhur dengan geliat zaman.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA