Pemberdaya Disabilitas Untuk Bangsa | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

24 November 2021|20:31 WIB

Pemberdaya Disabilitas Untuk Bangsa

Nicky Clara merupakan seorang wanita tangguh yang harus menjadi penyandang disabilitas sejak usia satu tahun.

Penulis: Dwi Herlambang,

Editor: Rendi Widodo

Pemberdaya Disabilitas Untuk BangsaNicky Clara. Ist./Dok.

JAKARTA – Sudah 31 tahun berlalu, tetapi Nicky Clara masih terus berproses menerima apa yang telah menimpa dirinya. Memutar memori ke belakang, dia masih ingat betul bagaimana dokter di salah satu rumah sakit melakukan operasi amputasi kaki kirinya. 

Kejadian itu terjadi tepat ketika dirinya menginjak usia satu tahun. Padahal, di usia itu, kebanyakan anak-anak menikmati indahnya momen belajar berjalan.

Operasi amputasi tersebut terpaksa dipilih oleh kedua orang tua Nicky karena pertumbuhan kaki kiri yang tidak sempurna. Pada usia kandungan tiga bulan, ibu Nicky sempat didiagnosis keguguran. Dia harus melakukan operasi kuret. 

Ketika melakukan operasi tersebut, keajaiban datang. Nicky ternyata bayi yang kuat bertahan di rahim sang ibu. Akan tetapi, bayi lucu itu punya masalah pada kakinya.

Besar dan tumbuh sebagai seorang disabilitas bukanlah perkara mudah. Di usianya yang masih balita, Nicky kesulitan untuk mendapatkan teman. 

Kaki palsu yang ada di tubuh Nicky adalah hal aneh di mata anak-anak seusianya. Ia pun sering kali dihujani pertanyaan apa yang sebenarnya ia gunakan, kenapa dirinya berbeda, dan apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Tidak bisa menjawab, Nicky kecil hanya menangis. Air matanya deras keluar setiap kali menerima pertanyaan tersebut. 

Beruntung ia punya keluarga yang terus mendukung dan menyemangatinya. Mereka menekankan bahwa menjadi orang yang berbeda bukanlah sebuah kesalahan. Sebaliknya, mereka yang berbeda adalah orang-orang terpilih yang sejatinya istimewa.

Kekuatan itulah yang membuat Nicky selalu kembali sembuh dari kesedihan dan berani menghadapi dunia. 

Genap berusia enam tahun, dengan lantang ia menginginkan bersekolah di sekolah dasar (SD) umum, bukan sekolah luar biasa (SLB). Gelombang cobaan baru pun membentang bak tembok besar di hadapannya.

SD umum bukanlah tempat yang ramah, lingkungan pendidikan tersebut bagaikan sarang hewan buas yang membuat Nicky seperti mangsa di dalamnya. Hari demi dari, ia selalu menerima perundungan mulai dari verbal, fisik, hingga psikis dari teman-temannya.

“Bully adalah makanan sehari-hari. Dulu aku dijulukinya adalah Nicky si kaki boneka dan kaki besi,” kata Nicky membuka ceritanya kepada Validnews, Selasa (23/11).

Tidak terhitung berapa banyak tisu di kamar yang ia gunakan untuk menyeka air matanya setiap kali pulang dari sekolah. Dalam baringnya, ia berfikir kenapa ia menjadi yang paling berbeda di antara teman-teman lainnya.

Akan tetapi, dalam lamunan itu lagi-lagi orang tua adalah sosok tangguh yang terus memberikan dukungan pada Nicky agar tidak menyerah.

Bagi Nicky kala itu, ia tidak pernah mengenal tentang bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri. Satu hal yang ia tahu, setiap kali tangisnya pecah, selalu ada keluarga yang akan menyambut dengan senyuman di rumah. 

Kedua orang tuanya pun tidak pernah memaksakan kehendak mereka. Pilihan selalu sepenuhnya diberikan kepada Nicky untuk menangis dan mengontrol emosinya sendiri.

“Mereka (orang tua) bilang bahwa semua orang punya kekurangan tetapi bagaimana caranya kita tidak berlarut pada kekurangan kita tapi harus menunjukkan kelebihan,” ujarnya.

Semuanya membangkitkan semangat Nicky. Logika Nicky bermain liar, ia berpikir untuk bisa diterima oleh teman-temannya harus menjadi orang yang pintar. 

Dari situlah Nicky berusaha belajar sungguh-sungguh dan berjanji pada dirinya bahwa harus menjadi sosok yang unggul dalam akademis dibandingkan teman-teman yang mencemoohnya.

“Dan aku merasa pas aku pintar orang enggak ngatain aku disabilitas tapi orang akan melihat aku seperti nanya PR dan apakah aku sudah mengerjakan PR,” imbuhnya.

Cara tersebut ternyata ampuh. Pelan tapi pasti, Nicky mendapatkan lingkungan yang cukup ramah bagi dirinya sebagai penyandang tuna daksa. 

Dia mulai peroleh banyak teman. Mereka ada dari untuk belajar bersama hingga mengerjakan PR dari guru. Pada akhirnya, kehidupan selayaknya orang normal pun bisa ia dapatkan.

Nicky pun menemukan semangat tambahan saat ada seorang staf Kementerian Luar Negeri Indonesia era Presiden Soeharto merupakan seorang tuna daksa. Staf tersebut menggunakan tangan palsu, dan hebatnya lagi—bagi Nicky—ia adalah seorang diplomat dan bisa berkarier di luar negeri.

“Aku mau nunjukin ke orang-orang, kalau kaum disabilitas bisa masuk TV dan berjalan-jalan ke luar negeri,” imbuhnya tergelak.

Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, pada saat lulus dari sekolah menengah atas (SMA) Nicky pun mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI) di salah satu universitas negeri di Bandung. 

Sayangnya, baru dua bulan berkuliah, ia harus kembali ke Jakarta karena sang ayah meninggal dunia. Setelahnya, ia mengambil kuliah jurusan psikologi karena kondisi dan atas saran orang tuanya.

Akan tetapi, berkuliah psikologi jelas bukan hidupnya. Namun, ibunya berkata bahwa manusia tidak pernah tahu kejutan-kejutan apa yang menanti di kemudian hari. 

Untuk mendapatkan semangat baru, Nicky pun bergabung bersama komunitas FISIP UI untuk berdiskusi tentang Politik, Kebangsaan, dan Kenegaraan yang sesuai dengan kesukaannya, di samping menyelesaikan pendidikan psikologinya sebagai bentuk tanggung jawab. 

Sampai pada 2017, saat sudah bekerja di perusahaan multinasional, ibunya bertanya satu hal penting yang selama ini tidak pernah terpikirkan. 

Kala itu sang ibu bertanya apakah dirinya tidak mau mengetahui tentang komunitas difabel yang ada di Indonesia. Pertanyaan tersebut membuat Nicky mencari tahu dan membaca tentang komunitas difabel.

Dalam satu momen, ia melihat televisi dan melihat Angkie Yudistia yang merupakan seorang tuna rungu pendiri Thisable Enterprise. Thisable ialah wadah pemberdayaan para penyandang disabilitas agar dapat mandiri secara ekonomi melalui berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan disabilitas dan pasar tenaga kerja.

“Saya DM Angkie (di Instagram) dan bilang aku seorang disabilitas ‘what can i do for disabled community at Indonesia’,” ujarnya menirukan percakapannya kala itu. 

Mendapatkan pesan tersebut Nicky berujar bahwa Angkie mengajaknya bertemu dan meminta ia bergabung dalam Thisable Enterprise. 

Akan tetapi, tawaran tersebut tidak langsung diterima, dia masih memiliki impian untuk menjadi seorang manajer di perusahaan multinasional dan merasa ijazah S2-nya akan sayang jika tidak dimanfaatkan.

Lantas, ia pun melakukan perjalanan wisata ke India bersama adiknya. Dalam perjalanan tersebut, ia sengaja tidak menggunakan jasa tour guide dan berjalan seperti backpacker

Kemudian, yang membuatnya terkesan selama perjalanan tersebut ia merasa aman dan tidak mendapatkan perundungan atau perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat di India.

Bahkan dengan sistem sharing cost bersama wisatawan lainnya Nicky merasa ia diperlakukan dengan sangat santun oleh wisatawan lainnya yang kebanyakan adalah seorang laki-laki. 

Dari situlah Nicky menyadari dan memberikan sebuah surat elektronik kepada Angkie yang pada intinya ia siap menerima tawaran untuk bergabung dengan Thisable Enterprise tanpa memikirkan besaran biaya atau gaji yang akan diterima.

“Mau dibayar berapapun aku jalan aja sudah. Di sisi lain aku tetap jalanin EO, bantu bisnis teman dan masih mengajar les untuk anak-anak,” ujarnya.

Memberdayakan Disabilitas
Bergabung dengan Thisable membuat perspektif Nicky pada kaum disabilitas berubah 360 derajat. Di hadapan 70-80 orang disabilitas ia melihat kenyataan getir yang sebelumnya tidak pernah ia lihat, bahwa orang-orang yang berada di hadapannya itu—pada tahun 2017—belum memiliki kesempatan yang sama seperti dirinya. Mulai dari merasakan penerimaan dari lingkungan dan mendapatkan pendidikan yang setara.

Dari sana ia berpikir untuk membantu mereka dan menemukan satu masalah terbesar dari kaum difabel adalah aksesibilitas. Mulai dari jenjang dasar seperti pendidikan, pekerjaan, mobilitas, dan lingkungan yang inklusif. Bahkan di tengah sudah kerasnya suara para aktivis tentang kesetaraan bagi kaum difabel kepada pemerintah.

Pemerintah pun sudah mengatur tentang hak-hak kaum difabel tentang lingkungan yang inklusif melalui peraturan-peraturan yang sudah dibuat. Atas dasar itulah pekerjaan yang harus Nicky lakukan adalah menimbulkan kesadaran kesetaraan tersebut kepada masyarakat luas sekaligus mengajak kaum difabel untuk berani keluar dari rumah dan bersinar.

Demi mewujudkan hal tersebut Nicky membuat program yang lebih masif untuk melakukan pemberdayaan bagi kaum difabel. Pada saat sama, banyak nada sumbang yang mencibir kemungkinan sukses program itu. 

Kala itu Nicky menanamkan bahwa teman-teman disabilitas bisa berdaya bersama di bidang ekonomi. Ia juga menekankan mindset setiap manusia tidak bisa memilih untuk terlahir sebagai atau dari siapa, akan tetapi kaum difabel bisa memilih untuk menjadi siapa nantinya.

Bertahun-tahun menjalani kehidupan seperti apa yang ia suka, pada tahun 2019 akhirnya ia menemukan peluang baru yaitu membuat Tenoon.id bersama temannya Pratiwi Hamdhana. Tenoon sendiri adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam pemberdayaan kaum marginal dan difabel melalui pelestarian budaya tenun.

Melalui fair trade partnership dengan penenun di Indonesia, khususnya Indonesia Timur, Tenoon ingin menyebarkan kecintaan terhadap kain tenun Indonesia melalui inovasi produk yang ditawarkan dari tangan-tangan kaum difabel dan marginal.

Tidak sampai di situ, pada 2020 Nicky juga membuat Berdayabareng.com yang merupakan platform pemberdayaan penyandang disabilitas. Di platform ini ia menyediakan akses terhadap lapangan pekerjaan serta peningkatan kapasitas dan kapabilitas para difabel untuk menjadi SDM unggul di Indonesia Timur.

Terakhir pada 2021, Nicky membuat brand fesyen bernama Kamu Wear yang mengangkat konsep sustainability fashion yang melibatkan pemberdayaan penyandang disabilitas. Bagi Nicky ketika berbicara tentang pemberdayaan disabilitas harus ada pentahelix kolaborasi antara pemerintah, komunitas, swasta, akademisi dan media.

Menurutnya sejak pagelaran Asian Para Games 2018 sudah banyak pihak yang peduli terhadap kaum difabel. Hal tersebut bisa dilihat dari jumlah hadiah yang didapatkan atlet difabel sama besarnya dengan apa yang diperoleh oleh atlet umum lainnya. Pun pada event tersebut seluruh pihak telah menciptakan kolaborasi yang berguna bagi kaum disabilitas.

Dari sisi pemerintah, menurut Nicky, dalam waktu dekat akan dibangun Komite Nasional Disabilitas (KND) yang tugasnya adalah untuk mengurus segala regulasi yang berpihak pada permasalahan kaum difabel. 

Perlu diketahui saat ini diperkirakan sebanyak 37 juta orang atau 12% penduduk Indonesia adalah masyarakat yang tertantang aksesibilitasnya sebagai difabel. Jumlah yang tidak sedikit itulah yang harus diberdayakan dan seharusnya bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan masyarakat lainnya.

“Nah aku dari sisi wadahnya bagaimana mempersiapkan teman-teman disabilitas untuk siap di dalam menyambut pentahelix kolaborasi. Nah, kita siapkan mereka untuk lingkungan yang inklusif mulai dari pendidikan hingga lapangan pekerjaan,” jelasnya,

Lebih lanjut, menurut Nicky, ketika pendidikan sama rasa sama rata ini sudah berjalan dan kaum difabel sudah lulus berkuliah maka lapangan pekerjaannya pun sudah harus siap. 

Atas dasar itulah mengapa berbagai program yang ia buat seluruhnya terkait pada pendidikan dan pelatihan tambahan bagi kaum disabilitas. Tujuannya agar kelompok difabel ini bisa dan siap bersaing di dunia kerja profesional.

Sepanjang tahun 2020, lewat Thisable Nicky sudah memberikan program pelatihan untuk sedikitnya 3.000 penyandang disabilitas. 

Dari data yang terkumpul, baik di Thisable, Tenoon.id, Berdayabareng.com, dan Kamu Wear tercatat setidaknya sudah ada 45.000 kaum difabel yang sudah menerima pelatihan dan pemberdayaan untuk menjadi manusia yang unggul.

“Aku ingin apa yang aku kerjakan sekarang dan ketika momen itu sudah ada mereka enggak kaget bahwa kapasitas mereka sudah baik dan tahu arahnya ke mana. Dan masyarakat juga sudah mulai membuka di bidang pekerjaan dan pendidikan. Ketika penyandang disabilitas telah capable, untuk bisa bersaing setara di dunia kerja tentu sudah bukan masalah,” tutupnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER