Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

VISTA

19 Mei 2021|21:00 WIB

Pejuang Kesetaraan Ras

Perlakuan buruk di transportasi publik akibat diskriminasi ras, telah meletupkan keberanian Rosa Parks, untuk menginisiasi serangkaian protes, menuntut kesetaraan.

Penulis: Gemma Fitri Purbaya,

Editor: Yanurisa Ananta

ImageRosa Parks, aktivis hak asasi Afro-Amerika yang disebut dijuluki "Ibu pergerakan Hak Asasi Manusia Modern". Sumberfoto: Wikipedia/dok

JAKARTA – Seperti malam-malam sebelumnya, Rosa Parks, menaiki bus menuju rumah selepas bekerja. Perempuan 42 tahun itu biasa pulang larut karena pekerjaan sebagai tukang jahit di Department Store Montgomery Fair, Montgomery, Amerika Serikat, mengharuskannya demikian. Namun sesuatu yang tidak biasa terjadi malam itu, 1 Desember 1955.

Saat bis yang ditumpangi melaju, si sopir melihat dari kaca spion, ada banyak penumpang kulit putih berdiri di lorong bus. Sejurus kemudian, sopir menghentikan kemudinya dan meminta empat penumpang Afro-Amerika menyerahkan tempat duduk untuk penumpang kulit putih, termasuk ke Rosa Parks.

Sebenarnya aturan tersebut tidak pernah benar-benar ada. Namun supir bus Montgomery sudah terbiasa meminta penumpang kulit hitam menyerahkan kursi ke penumpang kulit putih. Jika penumpang kulit hitam protes, sopir bus berwenang menolak dan memanggil polisi.

Mendengar instruksi sopir, tiga penumpang kulit hitam beranjak dari kursi dengan berat hati. Namun, tidak Rosa Parks.

Sopir itu bertanya, “Mengapa Anda tidak berdiri?”. Parks menjawab, “Saya rasa, saya tidak harus berdiri,”. Bukan karena lelah sepulang bekerja, ia menolak karena merasa bosan selalu menyerah pada ketidakadilan selama bertahun-tahun. Ia meyakini semua penumpang memiliki hak yang sama.

Sopir tidak peduli dengan jawaban itu. Ia segera menelepon polisi dan Rosa Parks ditangkap.

Pada masa tersebut, ketidakadilan atas dasar warna kulit menjadi etalase nyata di kehidupan masyarakat Montgomery. Bus kota  menetapkan kebijakan bahwa sepuluh kursi yang ada di depan, dikhususkan untuk penumpang kulit putih. Apabila kursi untuk penumpang kulit putih penuh, warga kulit hitam harus merelakan kursi mereka untuk penumpang kulit putih. 

Selain itu, aturan Kota Montgomery mengharuskan semua transportasi umum memisahkan untuk kulit putih dan hitam. 

Sopir bus juga memiliki kuasa seperti polisi atas apapun yang terjadi di dalam bis. Penumpang kulit putih berada di bagian depan, sedangkan penumpang Afro-Amerika berada di belakang.

Aturannya, ketika seorang penumpang Afro-Amerika naik bis, mereka harus naik bus dari depan untuk membayar tiket. Kemudian mereka harus turun dari bus dan naik lagi melalui pintu belakang.

Rosa Parks muak dengan aturan itu. Ia mempertanyakan mengapa pada usianya yang ke-40 praktik diskriminasi masih saja terjadi, sama persis seperti yang dialaminya saat anak-anak silam. Tidak ada perubahan. Parahnya, terjadi di transportasi umum.

“Dia lelah. Dia berusia 40 tahunan, bukan anak-anak. Dia tiba di satu titik untuk bilang, ‘Tidak, saya juga warga. Ini bukan cara yang layak untuk memperlakukan saya,” ujar Elaine Steele, teman lama Parks, dikutip dari New York Times tahun 2005.

Parks ditahan polisi, meski malam itu juga ia bebas dengan jaminan. Namun, Parks harus menjalani pengadilan Senin depannya, 5 Desember 1955, dengan tuduhan melanggar hukum kota yang mewajibkan pemisahan ras di transportasi umum. 

Boikot Perusahaan Bus
Parks bukan orang nahas pertama yang ditangkap karena melanggar hukum serupa di Montgomery. Namun aksi sederhananya jelas tidak bisa disepelekan bila melihat kemunculan gerakan boikot perusahaan bus oleh masyarakat pasca insiden itu.

Penangkapan Parks membuat orang-orang marah, khususnya dari kalangan kulit hitam. Komunitas Afro-Amerika pun memboikot bus sebagai bentuk protes atas diskriminasi, dimulai 5 Desember 1955, tepat pada hari persidangan Parks.

Orang-orang diminta tetap berada di rumah. Kalaupun harus berpergian, disarankan menggunakan kendaraan pribadi, naik taksi yang dimiliki orang kulit hitam, atau berjalan kaki saja. 

E.D. Nixon menjadi yang pertama menyusun rencana boikot itu, sejak Parks pertama kali ditangkap. Ia beriklan di koran-koran lokal dan menyebar selebaran di lingkungan masyarakat kulit hitam.

“Jangan naik bus untuk bekerja, ke kota, ke sekolah, atau ke manapun di hari Senin,” tulisnya di selebaran itu.

Ketika Parks tiba di gedung pengadilan didampingi pengacaranya, Fred Grey, mereka disambut sekitar 500 pendukung lokal. Mereka menyaksikan persidangan yang berlangsung selama 30 menit, dan geram saat Parks dinyatakan bersalah, seraya didenda US$10 dengan biaya pengadilan US$4.

Aksi boikot itu menyebabkan lusinan bus umum menganggur. Perlahan, keuangan perusahaan-perusahaan angkutan itu pun lumpuh. 

Tidak terima, perusahaan bus melakukan perlawanan dengan kekerasan. Gereja-gereja kulit hitam dibakar, rumah Nixon dihancurkan, dan warga kulit hitam ditangkap karena melanggar undang-undang kuno yang melarang boikot. 

Anggota komunitas Afro-Amerika pun mengambil tindakan hukum. Mereka bersikukuh menyuarakan penghapusan ketidakadilan dalam aturan pemisahan ras di sistem angkutan umum. Tanggal 13 November 1956, Mahkamah Agung AS pun menyatakan, regulasi tersebut tidak konstitusional.

Saat perusahaan moda transportasi umum mengalami kerugian finansial, sistem hukum Montgomery akhirnya resmi mencabut aturan segregasi penumpang bus umum berdasarkan warna kulit. Boikot pun berakhir secara resmi pada tanggal 20 Desember 1956. 

Peristiwa pemboikotan bus Montgomery itu menjadi satu gerakan massa terbesar dan paling sukses dalam melawan segregasi rasial dalam sejarah. Semua berkat pemantiknya, Rosa Parks.

Nama Rosa Parks mulai dikenal masyarakat luas sejak ia menolak memberi kursi bus untuk penumpang kul it putih. Perlawanannya kala itu memantik masyarakat untuk menuntut perlakuan setara ras di moda transportasi umum.

Akhir Cerita
Rosa Parks lahir dengan nama Rosa Louise McCauley pada tanggal 4 Februari 1913 di Tuskegee, Alabama. Saat berusia dua tahun, Rosa tinggal bersama ibunya di Pine Level, Alabama. Mereka hidup bersama kedua orangtua ibunya, Rose dan Sylvester Edwards. Kakek-nenek Parks dulu pernah menjadi budak, oleh karenanya sangat mendukung kesetaraan ras di Alabama.

Masa kecil Parks dibalut cerita-cerita diskriminasi ras dan aktivitas yang mendukung kesetaraan ras. Pada suatu hari, kakeknya pernah berdiri di depan rumah dengan shotgun di tangan ketika anggota Ku Klux Klan melakukan pawai di jalanan. Ku Klux Klan merupakan kelompok supremasi kulit putih ekstrem yang menargetkan orang Afro-Amerika.

Parks menempuh pendidikan di sekolah yang tidak memiliki perlengkapan pengajaran memadai, rasialis pula. Siswa-siswi keturunan Afro-Amerika dipaksa berjalan kaki ke sekolah. Sementara bus, hanya untuk siswa kulit putih.

Saat berusia 11 tahun, Parks masuk sekolah khusus perempuan di Montgomery. Namun ia memutuskan keluar di 1929 karena neneknya sakit di Pine Level.

Parks memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah, kemudian bekerja di pabrik baju di Montgomery. Dia lantas menikah di usia 19 tahun pada tahun 1932 dengan Raymond Parks, seorang tukang cukur yang juga anggota aktif di NAACP, atau National Association for the Advancement of Colored People.

Raymond mendorong Parks menamatkan sekolah, paling tidak hingga jenjang SMA. Parks pun menuruti, hingga lulus pada tahun 1933. Sejak itu, ia aktif terlibat dalam organisasi yang bergerak di bidang hak masyarakat sipil dan bergabung dengan NAACP pada tahun 1943.

Usai ditangkap, Parks kehilangan pekerjaan. Raymond pun kena getah, dipecat karena majikannnya melarang berbicara mengenai Parks beserta kasus hukumnya.

Suami istri tersebut kemudian pindah ke Detroit untuk tinggal bersama ibu Parks. Parks bekerja sebagai sekretaris dan resepsionis di kantor kongres Perwakilan AS John Conyer.

Pada tahun 1987, Parks bersama dengan temannya, Elaine Eason Steele mendirikan “Rosa and Raymond Parks Institute for Self-Development”. Organisasi itu menjalankan tur menggunakan bus, bertema Pathways to Freedom. Tujuannya, mengenalkan peran penting hak sipil di transportasi umum, khususnya kereta bawah tanah kepada anak muda.

Pada 24 Oktober 2005, Parks meninggal di apartemennya bilangan Detroit, pada usia 92 tahun. Tahun sebelumnya, ia didiagnosis menderita demensia. Parks dimakamkan di Pemakaman Woodlawn Detroit, di antara suami dan ibunya. Kurang lebih 50 ribu oran mengantarkannya ke peraduan terakhir, seraya mengingatnya sebagai pahlawan kulit hitam yang lantang memperjuangkan penghapusan diskriminasi ras di Amerika.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER