Selamat

Rabu, 5 Oktober 2022

KULTURA | Validnews.id

KULTURA

21 Juni 2022

08:52 WIB

Pasien PTM Akibat Gaya Hidup Sedentari Meningkat

Gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari bisa meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM)

Editor: Satrio Wicaksono

Pasien PTM Akibat Gaya Hidup Sedentari Meningkat
Ilustrasi orang menjalankan aktivitas di tempat tidur. Freepik

JAKARTA - Jumlah pasien penyakit tidak menular (PTM) mengalami peningkatan, akibat gaya hidup sedentari. 

Peningkatan kasus PTM secara signifikan ini tentunya akan menambak beban masyarakat dan pemerintah, mengingat penanganannya membutuhkan banyak waktu, biaya besar, serta teknologi tinggi.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, proporsi penduduk Indonesia dengan gaya hidup sedentari atau pola hidup yang minim aktivitas fisik mengalami peningkatan, dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018.

“Artinya 1 dari 3 orang menjalani gaya hidup sedentari,” kata Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Kesmas Kementerian Kesehatan, dr. Imran Agus Nurali, dikutip dari Antara, Selasa (21/6) 

Untuk diketahui, gaya hidup sedentari sendiri merupakan gaya hidup yang lebih banyak dihabiskan dengan berdiam atau minim aktivitas fisik, seperti duduk, tidur-tiduran. Dalam bekerja misalnya, sebagian besar orang menghabiskan waktunya dengan duduk di depan komputer.

Menurut Imran, kampanye edukasi masyarakat dan deteksi dini PTM merupakan cara yang paling efektif dan efisien untuk mengendalikan faktor risiko. 

Ia mengimbau agar masyarakat menjalani gaya hidup sehat serta mengurangi GGL (garam, gula, dan lemak) untuk mencegah PTM salah satunya juga termasuk diabetes.

Melalui kampanye edukasi, ia berharap cara tersebut dapat menginspirasi masyarakat untuk melakukan deteksi dini atau skrining kesehatan sebagai bagian dari gaya hidup gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS).

Salah satu PTM yang menjadi sorotan adalah kerusakan saraf atau neuropati. Ketua Pokdi Neuro Fisiologi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), dr. Manfaluthy Hakim menjelaskan, neuropati merupakan gangguan pada sistem saraf tepi dengan gejala umum seperti kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi terbakar di tangan dan kaki yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien.

“Saraf tepi atau perifer menghubungkan sistem saraf pusat dengan semua bagian penting tubuh,” kata Manfaluthy.

Ia mengimbau agar masyarakat membekali diri dengan lebih mengenal gejala-gejala neuropati dan melakukan deteksi dini agar pengobatan lebih awal dapat dilakukan termasuk pemberian vitamin neurotropik.

“Hal tersebut (deteksi dini) bertujuan untuk mencegah dampak neuropati yang lebih berat, karena kerusakan saraf dapat bersifat irreversible jika lebih dari 50% serabut saraf telah rusak,” katanya.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER