Selamat

Selasa, 21 September 2021

14 September 2021|18:30 WIB

Naomi Watts Perankan Ibu Korban Penembakan

Tragedi penembakan di sekolah, berkali terjadi pada tahun ini di AS. Dicatat, sudah terjadi 43 insiden penembakan di sekolah.

Penulis: Kevin Sihotang,

Editor: Rikando Somba

ImageNaomi Watts di film Lakewood. Instagram/@naomiwatts

JAKARTA – Aktris Naomi Watts bermain dalam film yang menceritakan tentang kasus penembakan massal di sekolah berjudul Lakewood. Meski sudah tayang perdana di Festival Film Toronto pada 12 September lalu, belum banyak yang mengetahui isi film ini. Fokus film ini adalah seorang ibu bernama Amy Carr yang diperankan Naomi Watts. Diceritakan, putra Amy Carr terjebak dalam penembakan di sekolahnya. 

Daya tarik dari cerita film Lakewood pada akhirnya membuat Naomi Watts setuju untuk mengambil proyek film tersebut. Terlebih yang menulis naskahnya adalah Chris Sparling yang pernah bekerja sama dengannya. 

Adapun akhir cerita dari film tersebut masih belum diketahui apakah sang putra adalah korban atau malah tersangka penembakan. Hal itu hanya diketahui oleh orang-orang yang hadir di Festival Film Toronto. 

Lakewood dikerjakan oleh sutradara asal Australia, Phillip Noyce.  Fokus cerita yang dipilih Noyce adalah kepanikan Amy Carr yang tengah berlari mati-matian melewati hutan untuk menuju sekolah sang anak. 

Dalam film tersebut, Amy Carr mengetahui kabar kasus penembakan di sekolah anaknya ketika ia sedang berlari pagi. Noyce sendiri memilih untuk tidak menampilkan adegan kekerasan dalam film tersebut dan produser senang dengan keputusan itu.

“Kami sepenuhnya mendukung visi Phillip (Noyce) utnuk tidak mengagungkan aspek kekerasan atau (karakter) si penembak,” kata salah satu produser film Lakewood, Zack Schiller, dikutip dari The Hollywood Reporter, Selasa, (14/9). 

“Saya pernah bekerja dengan Chris di Sea of Tress (2015), yang ia tulis, dan saya tahu dia telah menulis film lain, Buried (2010) dengan Ryan Reynolds, yang juga berisi cerita, (yang) diceritakan dari sudut pandang satu orang,” tutur Naomi Watts. 

“Saya pikir itu adalah pendekatan yang layak untuk dibongkar. Karena saya juga hidup dengan ketakutan yang sama, rasa takut yang dimiliki kebanyakan orang terkait seputar subjek materi ini,” lanjut aktris kelahiran 28 September 1968 silam tersebut.

Diproduksi Saat Pandemi
Mayoritas adegan di film Lakewood direkam di kawasan Northern Ontario, di sebuah hutan di dekat North Bay, sekitar 4,5 jam jarak tempuh ke arah utara dari kota Toronto. Lokasinya terpencil dan jumlah kru yang terlibat relatif sedikit. Hal itu menjadi sebuah konsep yang ideal untuk pengambilan gambar film di tengah pandemi covid-19.

Sang produser juga mengklaim bahwa proyek film Lakewood merupakan proyek film pertama yang diproduksi dan diselesaikan di tengah pandemi di kawasan Amerika Utara.

“Kami adalah proyek pertama yang memulai produksi di Amerika Utara, di tengah (pandemi) covid-19, dan yang pertama selesai,” kata Zack Schriller. 

“Kami masuk dan keluar, tanpa ada yang sakit (covid-19,red.),” lanjutnya.

Alih-alih mengambil gambar-gambar pendek seperti pada produksi film pada umumnya, Lakewood direkam dengan adegan penuh di mana Naomi Watts harus berlari cepat menyusuri hutan luas yang membuatnya terengah-engah. 

Dalam adegan itu, sambil berlari, Watts harus melakukan adegan menelepon polisi atau memanggil siapa pun yang dapat membantunya.

Tim produksi film Lakewood juga sangat sigap dengan menghadirkan tim medis dan ahli terapi fisik di lokasi syuting untuk berjaga-jaga. Pasalnya, kebanyakan adegan berlari tersebut juga membuat Naomi Watts kewalahan meski ia mengaku cukup bugar untuk melakukannya. 

“Saya memiliki sedikit latar belakang kebugaran, dan saya menganggap diri saya cukup gesit,” ujar Watts.

“Tetapi saya perlu berlatih untuk mengembalikan tubuh saya ke tempat di mana saya bisa menangani banyak adegan berlari. Untungnya, mereka (tim produksi) memiliki ahli terapi fisik di lokasi syuting yang adalah seorang wanita jenius,” lanjutnya.

Melekat di Amerika
Terkait inti cerita film ini, kasus penembakan massal yang terjadi di sekolah-sekolah di Amerika Serikat seakan sudah “lumrah” terjadi dan seolah sudah melekat serta menjadi aspek tak terlepaskan dari kehidupan pendidikan di sana. 

Dilansir dari situs lembaga riset keamanan senjata Everytown, pada tahun ini, di AS sudah terjadi 43 insiden penembakan di sekolah. Semua insiden tersebut menyebabkan sebanyak 12 orang meninggal dunia dan 19 orang mengalami luka-luka. 

Dalam situs tersebut juga dikemukakan bahwa sejak tahun 1981, diperkirakan ada lebih dari 3.000 anak-anak dan remaja di AS menjadi korban tewas dalam insiden penembakan di sekolah, sementara sebanyak lebih dari 15.000 menjadi korban yang menderita luka-luka. 

Kemudian, sebanyak kurang lebih 3 juta siswa sudah menyaksikan tragedi mengerikan tersebut secara langsung di masing-masing sekolah mereka. Hal ini tentu menimbulkan masalah baru, yakni perasaan cemas dan depresi di kalangan anak sekolah dan orang tua.

Sering Dibuat Film
Tragedi mengerikan tersebut lantas kerap diangkat menjadi film. Film-film tersebut dibuat sebagai lambang protes dan bentuk perlawanan terhadap kebijakan atau budaya yang mendukung kekerasan senjata api di Amerika. 

Seperti halnya film dokumenter besutan Michael Moore berjudul Bowling for Columbine (2002). Film ini mengungkit salah satu tragedi penembakan sekolah paling mematikan di AS pada tahun 1999 lalu, tepatnya di SMA Columbine. Dalam kasus tersebut, sebanyak 15 orang termasuk dua pelaku tewas. Kemudian sebanyak 24 orang mengalami luka-luka.

Kemudian ada film Elephant (2003) yang menceritakan seolah-olah tragedi penembakan di sekolah sebagai hal yang biasa terjadi. Lalu film We Need to Talk About Kevin (2011) yang memfokuskan cerita pada sosok ibu dari tersangka penembakan yang diperankan Tilda Swinton. Di film tersebut diceritakan bagaimana sang ibu mempertanyakan dirinya sendiri terkait pengasuhannya terhadap sang anak yang sudah melakukan tindakan keji itu.

Selanjutnya ada film Vox (2018), diperankan oleh Natalie Portman yang mengambil fokus cerita tentang bagaimana tragedi pembantaian di sekolah ini bisa terjadi berulang-ulang. Dalam film ini juga digambarkan bagaimana reaksi media-media di AS yang dinilai justru menimbulkan trauma bagi sebagian besar kaum muda Amerika. 

Teranyar, ada film berjudul Run Hide Fight (2020) yang karakter utamanya diperankan Isabel May, Di dalamnya juga terdapat aktor-aktor senior seperti Thomas Jane dan Radha Mitchell. 

Film ini memfokuskan secara langsung pada tragedi penembakan yang terjadi, tidak jarang adegan-adegan kekerasan juga ditampilkan. Alur cerita film ini mirip dengan Die Hard (1989), di mana Isabel May menjadi tokoh kunci laksana John McClane-nya Bruce Willis, yang menyelamatkan beberapa siswa untuk kabur dari gedung sekolah yang sudah dikepung oleh para pelaku penembakan.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

INFOGRAFIS

TERPOPULER