Selamat

Sabtu, 19 Juni 2021

SENI & BUDAYA

10 Juni 2021|17:35 WIB

Nagari Atar, Kampung Halaman Para Juragan Fotokopi

90% perantau asal Atar berprofesi sebagai "tukang" fotokopi

Penulis: Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageTugu fotokopi di Nagari Atar. Antara-HO/dok

JAKARTA - Sumatra Barat, menjadi salah satu provinsi penyumbang perantau di tanah Jawa. Banyak dari mereka yang berdagang, berkiprah di lingkup pemerintahan, hingga menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan.

Di antara arus itu, ada satu kelompok perantau dengan identitas dan kisah yang cukup unik. Adalah mereka para perantau asal Nagari (setara kelurahan) Atar, Kecamatan Padang Ganting, Tanah Datar. Mereka sangat identik dengan satu hal, bisnis fotokopi.

Yup, Atar adalah nagari penghasil para pengusaha fotokopi sukses, yang tersebar di berbagai daerah, baik di Sumatra dan Jawa. Saking sukses serta melekatnya identitas itu, dibangunlah Tugu Fotokopi, yang berada persis di samping Kantor Wali Nagari Atar.

Tugu Fotokopi di Atar dibangun sejak tahun 2012. Pembangunannya dimaksudkan sebagai lambang identitas masyarakat Atar, yang kadung sangat identik dengan bisnis fotokopi, atau ‘tukang’ fotokopi. Istilahnya, ingat fotokopi, ingat Atar.

Dari mana identitas itu bermula?

Atar adalah satu dari dua nagari yang ada di Kecamatan Padang Ganting. Luas wilayahnya sekitar 50,25 kilometer dengan tipografi wilayah pebukitan. Masyarakat yang menetap di kampung halaman umumnya bertani dan berkebun. 

Pertanian di daerah ini sangat tergantung pada musim, sebab kondisi sawah yang tinggi tak bisa mendapat aliran air dari sungai, hanya menampung air hujan. Karenanya, potensi pertanian pun tidak begitu besar di Nagari Atar.

Inilah yang menjadi faktor pendorong sebagian warga Nagari Atar pergi merantau, demi mencari kehidupan yang lebih layak. 

Menurut penelitian Irwandi dalam jurnal Komunitas Vol. 11, No. 2 Tahun 2020, sekitar 30% warga Nagari Atar pergi merantau. Dan dari semua yang merantau itu, 90% diantaranya menjalani usaha fotokopi di perantauan.

Bermula di Bandung

Fenomena tersebut karena adanya ikatan kekeluargaan yang kuat antara sesama perantau Atar. Ikatan itu menjadi pendorong bagi setiap yang baru mulai merantau untuk terjun pula ke ranah usaha yang serupa dengan para pendahulunya.

Menurut cerita, kisah perantau Atar dengan bisnis fotokopinya bermula dari seorang bernama Yuskar, atau dikenal Haji Yuskar. Tokoh inilah orang Atar yang pertama kali membuka usaha fotokopi di Bandung, sekitar tahun 1974.

Konon Haji Yuskar merantau ke Bandung hanya dengan membawa uang Rp27.500. Tiba di Bandung, ia memulai usahanya dengan menjual alat tulis. Singkat cerita, penjualan alat tulis itu lancar dan terus berkembang, hingga akhirnya Haji Yuskar mampu membeli mesin fotokopi. Dari sinilah, bisnisnya kemudian terus berkembang.

Tabiat umum orang Minang yaitu selalu ingin merangkul sanak-saudara, kerabat dekat hingga jauh untuk juga meraih keberhasilan. Itu pula yang dilakukan Haji Yuskar yang kemudian mengajak sejumlah perantau dari Atar untuk kemudian bekerja bersama. Dari awalnya dipekerjakan, sampai akhirnya bisa pula membuka usaha sendiri.

Dari Bandung, bisnis toko fotokopi orang Atar menyebar ke berbagai daerah. Di kemudian hari, para perantau yang lebih muda pun sulit untuk lepas dari jejaring bisnis fotokopi tersebut. Hari ini para perantau ini tergabung dalam Ikatan Warga Atar (Iwatar) Nusantara.

Hingga hari ini, bisnis fotokopi menjadi tulang punggung bagi sebagian besar perantau asal Atar. Lebih lagi, bisnis ini juga yang turut memajukan kampung halaman karena para perantau yang sukses selalu pulang dan membangun kampung halamannya. 

Kontribusi para perantau itu mulai dengan membangun tugu, mendirikan masjid, hingga dalam hal pembiayaan pendidikan bagi generasi muda Atar.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA