Selamat

Senin, 26 Juli 2021

GAYA HIDUP

10 Juli 2021|17:47 WIB

Mereka Menolak Kalah

Digitalisasi memang menjadi kunci. Banyak pengusaha justru peroleh ide bisnis baru akibat pandemi

Penulis: Arief Tirtana,

Editor: Yanurisa Ananta

ImagePerajin memotret makanan olahan cokelat dengan karakter topeng Panji untuk diunggah di pasar digital di Malang, Jawa Timur, Senin (5/7). ANTARAFOTO/Ari Bowo Sucipto

JAKARTA – Kata ‘cuan’ terdengar sebagai kemuskilan di tengah pandemi. Rasanya hampir tidak mungkin menjaring cuan di tengah kondisi serba terbatas seperti ini.

Pekerja ketar-ketir khawatir terkena PHK, pendapatan disimpan baik-baik untuk berjaga di kondisi darurat. Sebaliknya, pengusaha tak henti memutar otak berinovasi agar bisa bertahan.

Satu demi satu sektor usaha tumbang tak mampu bertahan. Bisnis event organizer (EO), misalnya, menjadi salah satu bisnis yang paling terdampak pandemi. Sedikit yang bertahan. Lainnya terjungkal atau gulung tikar.

Akan tetapi, banyak jalan menuju Roma. Sejumlah pebisnis EO mengubah model usahanya. Mereka mengadopsi perubahan melalui pandemi, sebuah disrupsi yang tak diperkirakan.

Semula semua ditujukan lewat interaksi secara langsung, kini menjadi serba virtual bermodal gadget dan jaringan internet.

Chief Operating Officer CV. Amanah Transporter, Dwi Prakoso, mengaku sudah cukup merugi sejak awal kemunculan pandemi. Awalnya, dia cukup optimistis pandemi segera berakhir. 

Akhirnya, ia dan tim memutuskan mengubah model bisnis menjadi virtual EO atau menyelenggarakan acara online untuk pribadi atau korporat. Roda bisnis harus tetap berjalan.

“Pertama kami tetap optimis. Pikir kami virus ini cepat berlalu, kami break sejenak. Tapi ternyata virus ini berkepanjangan. Jadi kami mempunyai ide. Kami yang awalnya event organizer offline, menjadi virtual EO,” tutur Dwi kepada Validnews, Kamis (1/7).

Dwi sadar bahwa perusahaannya tak cepat beralih. Agustus 2020 baru mereka menjadi virtual EO. Sadar hampir tertinggal dengan pemain usaha yang sama, semua peralatan, seperti kamera, greenscreen, laptop, lighting dan lain-lain disiapkan secara prima.

“Ini ibaratnya jadi sumber pencarian yang baru dari bisnis kami. Alhamdulillah, sudah mulai menutupi kerugian yang kemarin. Waktu kami tidak ada job dari tour travel dan juga EO offline,” ungkap Dwi.

Sekarang, Amanah Transporter bisa kembali menjalankan roda bisnisnya. Mereka menawarkan jasa mulai dari virtual event, virtual event exhibition, virtual talkshow, virtual graduation, virtual wedding hingga event kecil seperti Zoom meeting.

Serba Digital
Digitalisasi memang menjadi kunci. Beberapa pengusaha justru mendapat ide bisnis baru di tengah pandemi. Seperti yang dialami Dita Widodo, pemilik event organizer Prasasti Selaras.

Dita yang semula fokus menjalankan usaha EO untuk family/employees gathering, gala dinner, pesta perpisahan, ulang tahun perusahaan, dan unveiling ceremony, pada masa pandemi malah melebarkan sayap ke bisnis tanaman dan furnitur.

“Kebetulan teman di Malang ada yang produksi pot anggrek. Ada juga yang produksi minuman herbal. Kami akhirnya coba berjualan itu juga lewat digital marketing,” kata Dita, Rabu (30/7).

Serupa dengan yang dialami Amanah Transporter, Prasati Selaras juga mau tidak mau beralih menjadi virtual EO. Meski memiliki lini bisnis yang lain, virtual EO tetap menjadi penggerak utama bisnis Prasasti Selaras.

Pada masa awal pandemi, Dita mengaku berusaha sebisa mungkin tidak melakukan PHK kepada karyawannya, minimal sampai enam bulan ke depan.  Bersama awaknya, Dita mencari ide.

Dia punya hobi merawat tanaman, dan sempat merintis bisnis jual beli seorang diri dengan nama Mutiari Garden.  Untuk tetap bertahan,  Prasasti Selaras kemudian juga menekuni usaha jual beli tanaman, pot, minuman herbal dan belakangan juga fokus ke penyewaan tanaman.

Insting bisnis Dita tak berhenti sampai disitu. Memanfaatkan karyawan yang biasa membuat dekorasi event, Dita kemudian mengembangkan usaha ke sektor furnitur. Produk awal seperti disinfectant chamber dan wastafel portabel cukup laku di pasaran.

Dari yang awalnya pesimis, Dita kini memiliki tiga jenis usaha dalam satu payung Prasasti Selaras. Mulai dari Virtual EO, jual beli dan penyewaan tanaman (Mutiari Garden), hingga produksi furnitur dengan nama Prasasti Wood and Steel.

“(Penghasilan) masih belum sebesar sebelum pandemi, karena semuannya ini kan masih baru. Namun goodnews-nya kami masih, survive,” ucap Dita yakin.

Bisnis Tahan Banting Kala Pandemi
Terhadap perkembangan bisnis pada kala pandemi, pengamat ekonomi digital dan coach business service, Yudi Candra mengamati, tidak semua masyarakat Indonesia mengalami penurunan daya beli.

Buktinya, saat pusat perbelanjaan atau mal di buka pasca pembatasan ketat di tiga bulan awal pandemi, masyarakat berbondong-bondong berbelanja. Cuan, menurutnya masih bisa didapat.

“Menurun, pasti ada penurunan (daya beli). Hanya saja kalau kita bicara tentang daya beli, kita harus lihat bahwa salah satu cara untuk mencari peluang di masa pandemi itu, harus jual ke orang yang punya uang,” ungkap Yudi yang juga pemilik PT Duta Sukses Dunia.

Yudi mengelompokkan bisnis yang mampu bertahan dan berkembang di masa pandemi menjadi tiga. Ada “bisnis yang bikin orang keren”, “bisnis barang pokok” dan “bisnis yang bikin orang sehat”.

Bisnis yang bikin orang keren maksudnya, bisnis yang berkaitan dengan gengsi seseorang atau yang berkaitan dengan hobi, misalnya bisnis modifikasi mobil atau sneakers.

Pebisnis usaha ini biasanya bermula dari hobi sembari mengisi waktu luang selama pandemi. Selain karena hobi, pastinya mereka memiliki uang atau modal.

“Jadi logikanya: gengsi itu mahal dan kadang orang itu bersedia melakukan sesuatu demi gengsi,” cetus Yudi.

Kemudian “bisnis barang pokok”, sesuai namanya berkaitan dengan kebutuhan pokok, seperti sembako, bisnis makanan, atau bisnis virtual event. Orang-orang mau tak mau harus membutuhkan dan melakukannya lantaran tak bisa saling bertemu langsung karena pandemi.

Terakhir “bisnis yang bikin orang sehat”. Bisnis ini tidak hanya bersangkutan dengan obat-obatan atau perlengkapan kesehatan seperti masker dan hand sanitizer saja.

Akan tetapi juga, termasuk bisnis tanaman organik, yang sedang banyak diminati orang seiring meningkatnya kesadaran akan hidup sehat.

Tips Memulai Bisnis
Memang tak semua orang bisa berubah dengan mudah, juga usahanya. Banyak juga yang kebingungan.  Namun, ide bisa dicari melalui belajar, mencari informasi, berdiskusi dengan teman, membaca buku, hingga mencari mentor.

Satu hal lainnya yang tak kalah penting, sambung Yudi, mulailah bisnis dengan melihat masalah yang ada pada orang-orang terdekat. Dari masalah, biasanya akan muncul peluang ide bisnis.

Yudi memberi contoh bisnis reseller dan dropshipper. Bisnis tersebut mulai ramai peminat karena banyak orang merasa berbisnis itu susah.

Sementara kedua jenis bisnis ini mudah. Tinggal beli barang langsung dari distributor atau penjual lain, kemudian menjual barang yang sama ke orang lain dengan harga yang sedikit naik.

Hal inilah yang dilakukan Penny Wijaya untuk menambah penghasilan keluarga kalau-kalau suaminya mendadak terkena PHK akibat pandemi. Awalnya, Penny hanya bergabung dalam grup WhatsApp yang berisi para distributor barang-barang ekspor dari luar negeri.

Namun kemudian ibu satu orang anak ini memutuskan menjadi distributor dengan membuat grup baru yang berisi member-member, baik itu orang yang akan menjual lagi barang yang dibeli darinya atau orang yang memang ingin memakai langsung barang yang dijual.

Dari situ, Penny kemudian mulai membuka toko online dengan nama Mamimei Store pada Agustus 2020. Untuk menekan harga awal barang impor, Penny yang kala itu merasa belum mampu menjadi distributor langsung secara penuh, mencoba mencari supplier tangan pertama, dari grup-grup yang ada di media sosial Facebook.

Perlahan grup WhatsApp Penny semakin berkembang. Jumlah anggota dan jenis barang yang dijualnya semakin bertambah, mulai dari masker, pakaian dan tas, hingga berbagai jenis mainan anak-anak.

Dari yang tadinya hanya berniat menambah penghasilan keluarga, Penny kini telah memiliki jaringan bisnis reseller dan dropshipper yang menurutnya sangat menjanjikan ke depannya.

“Ternyata banyak banget member yang terbantu karena suaminya dipecat karena (pandemi) covid. Jadi mereka jualan barang buat penghasilan (utama) mereka tiap bulan,” urai perempuan berusia 32 tahun ini.

Meski menimbulkan ketidakpastian, pandemi secara tidak langsung telah membantu dirinya mengembangkan bisnis. Sebab, pandemi semakin mengubah pola konsumsi masyarakat dari yang tadinya datang langsung ke pasar atau pusat perbelanjaan menjadi belanja online.

Apa yang dialami Dwi, Dita, dan Penny serta banyak pengusaha lainnya berimbas dari perubahan lanskap bisnis dampak pandemi.

Yudi Candra juga mengamini, teknologi akan semakin mengambil peran penting ke depannya. Tidak hanya karena pola konsumsi yang berubah, perlahan orang-orang mampu beradaptasi dengan situasi pandemi.

Yudi memprediksi, bekerja dari rumah (work from home/ WFH) akan menjadi kebiasaan baru ke depannya. Sebab, orang sudah kadung merasa nyaman kerja dari rumah. Mereka bisa lebih produktif, tanpa perlu membuang banyak waktu untuk sekadar jalan menuju ke kantor.

Banyak usaha akan mengadopsi model kerja ini. Industri yang mendukung model kerja ini, dan turunannya, diyakini juga tetap ‘berkibar’ ke depan.

Banyak riset dunia mendukung hipotesis ini. Bahkan, WFH akan diadopsi sebagai gaya hidup.

“Bicara mengenai EO online dan lain-lain itu akan stay (bertahan). Sebagai contoh, dari sisi perusahaan, kalau meeting lewat online beres, kenapa harus meeting offline? Bayarnya lebih mahal, padahal, kan, yang penting ada hasilnya.” tutup Yudi. (Arief Tirtana)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER