Selamat

Rabu, 23 Juni 2021

PARIWISATA

11 Mei 2021|20:15 WIB

Mereka Akal Menjaga Dusun

Tradisi mudik tak selaras dengan upaya penuntasan pandemi. Kebijakan individu jadi penentu

Penulis: Dwi Herlambang, Andesta Herli Wijaya,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageWarga memasang spanduk larangan mudik. Antara foto/dok

JAKARTA – Tak ingin tergocek aturan pemerintah lagi, Era Julita pun bersiasat. Bahkan, dua pekan sebelum hari raya, dia sudah tiba di kampung halamannya, di Tanah Datar, Sumatra Barat. 

Kerinduan yang sudah tidak terbendung akan tanah kelahiran dan berkumpul saat Idulfitri, memaksanya mengambil langkah itu. Maklum saja, dua kali lebaran kemarin dia harus merayakannya di perantauan, Ibu Kota Jakarta.

Kebetulan, pekerjaannya masih dilakukan secara work from home (WFH). Itu juga yang semakin membuatnya lebih ingin melenggangkan kaki untuk bisa mudik di tahun ini. Tak ada masalah baginya, asal pekerjaan yang dibebankan, bisa tertuntaskan. 

Terlepas dari rasa bahagianya bisa berkumpul dengan orang-orang terdekat, dia paham betul konsekuensi. Pandemi masih ada. Paparan virus corona bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Maka dari itu, Era melakukan swab test saat berangkat dan tiba di Tanah Minang.

Baginya, kepulangan tak harus dipertanyakan. Di benaknya, mudik atau tidak mudik, virus covid-19 masih bisa menyebar. Intinya, bagaimana bisa mengurangi mobilitas diri.

"Lagian di rumah saya tidak akan kemana-mana. Paling hanya menghabiskan di rumah saja. Kalau bertemu orang juga tidak akan berlama-lama," tuturnya optimistis kepada Validnews, Jumat (7/5).

Era bukan satu-satu orang yang ‘colong start’ untuk mudik. Ada ribuan orang yang berpikiran sama dengan dia. Para perantau itu tak ingin "terjebak" di tanah pengembaraan. Mereka pulang kampung dengan berbagai alasan dan kepentingan. 

Hal yang menjadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana desa-desa menerima mereka? Apa dan bagaimana mereka merespons arus pemudik pada saat pandemi masih menghantui?

Validnews telah berbincang dengan beberapa penggawa daerah. Dari situ, muncul beragam perspektif bagaimana desa-desa menghadapi kedatangan pemudik.

Antara Tradisi dan Ancaman

Kepala Desa Dawuan, Majalengka, Jawa Barat, Abdul Rahiman Baehaki bercerita tentang dilema saat menghadapi musim mudik Lebaran. Di satu sisi, kepulangan para perantau adalah sesuatu yang tak bisa dicegah, karena berkaitan dengan sisi tradisi dan kemanusiaan. Namun, kedatangan itu memberi beban lebih besar bagi desa pada masa pandemi.

"Corona tahun depan mungkin masih ada, tapi keluargakan tahun depan juga belum tentu masih ada," ungkap Baehaki saat berbincang, Kamis (6/5).

Desa Dawuan sendiri saat ini berstatus sebagai zona hijau, tak ada satu pun kasus covid-19 aktif di desa tersebut. Dia berharap, status itu tetap bertahan, meski ada arus mudik dan potensi keramaian saat hari Lebaran. 

Karenanya, ada langkah antisipasi yang telah disiapkan. Termasuk menyiagakan satuan tugas (satgas) covid-19 tingkat desa.

"Beberapa hari lalu sudah ada pemudik yang tiba di desa, dan itu mereka pun membawa surat hasil pemeriksaan kesehatan. Kalau sekiranya mereka enggak bawa surat maka kita adakan swab di sini oleh satgas desa,” jelasnya.

Baehaki juga memastikan setiap pemudik akan menjalani karantina mandiri selama lima hari. Aturan itu harus dipatuhi oleh semua pemudik. Sekalipun konsekuensinya tidak bisa ikut Salat Idulfitri secara berjemaah di masjid.

Jika sudah selesai masa karantina dan dipastikan sehat oleh satgas desa, barulah si pemudik bisa bergabung bersama masyarakat. Si pemudik baru boleh ke masjid, mengunjungi sanak-saudara atau melakukan aktivitas lainnya di kampung halamannya itu.

Jauh dari Desa Dawuan, ada Kelurahan Lontong Pancur di Kota Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. Caranya dalam menghadapi pemudik hampir sama seperti yang dilakukan Desa Dawuan, yaitu mengedepankan protokol kesehatan.

Seperti diungkapkan Lurah Lontong Pancur Dedi Chandra kepada Validnews pada kesempatan berbeda, wilayah kelurahan ini mengandalkan pendataan dan pemantauan. Satgas Covid-19 mendata dan mengamankan momen perayaan Lebaran.

Kelurahan Lontong Pancur juga mewajibkan isolasi mandiri bagi para pemudik yang baru tiba dari luar daerah. Isolasi itu wajib dipatuhi, sebagai konsekuensi pilihan mereka untuk mudik Lebaran. Menurut Dedi, tak ada ‘pilih tebu’ terhadap pemudik.

"Itu risiko mereka. Kalau tidak mau isolasi, kita laporkan ke satgas kota. Yang membandel itu langsung kita bawa, kita angkut pakai ambulans dan langsung dia dikarantina," jelas Dedi.

Berkaca pada pengalaman Lebaran tahun 2020, kata dia, rata-rata para pemudik mengerti dan bersedia tunduk pada protokol.

Dedi pun tidak menampik, fenomena mudik lebaran di masa pandemi bakal menjadi beban tambahan. Maka, ia mengimbau bagi para perantau untuk memikirkan ulang rencana mudiknya. 

Namun, bagi yang sudah telanjur tiba di kampung halaman, tidak ada pilihan lain selain menerima kedatangan mereka. 

Tutup Wisata Kuliner

Lain lagi cerita dari Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sudah sejak lama desa ini menjalankan berbagai strategi pemantauan dan pencegahan covid-19. Salah satunya lewat aplikasi digital untuk keperluan informasi harian warga.

Kepala Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi mengatakan, aplikasi tersebut dibuat oleh Satgas Desa. Isinya berupa laporan harian gejala, aktivitas perjalanan, hingga kasus yang muncul di desa, semacam e-hack yang bisa diakses oleh warga.

Mendekati Lebaran, pemerintah desa menambah jenis laporan harian baru, yaitu laporan rumah dengan pelaku perjalanan atau disingkat RDPP. Konsepnya yaitu, setiap keluarga yang kedatangan anggota keluarga yang melakukan perjalanan mudik, akan diinformasikan di aplikasi, dengan diberi label RDPP.

"Kita atur, ketua RT yang memantau dan melaporkan langsung. Kalau keluarga enggan melaporkan ke RT, tetangga juga bisa melaporkan juga, demi kebaikan bersama," papar Wahyudi.

Sebagai kepala desa, Wahyudi mengaku sudah jauh-jauh hari meminta seluruh warganya menganjurkan keluarganya untuk menahan rencana mudik.  Ia mengatakan bahwa pemudik juga tidak akan dibiarkan bergerak leluasa di desa. Perangkat desa menyiapkan proses karantina yang harus dijalani.

Bagi perantau yang telanjur mudik, jelas Wahyudi, rumah keluarganya akan tercatat sebagai RDPP. Itu otomatis akan membuat para tetangga di sekitar mahfum dan tidak melakukan kunjungan ke rumah tersebut di hari Lebaran. Di samping itu, kewajiban karantina juga harus dijalankan dan akan dipantau secara ketat.

Kemudian, mulai H-3 hingga H+3 lebaran, pemerintah desa juga menutup pusat-pusat wisata kuliner yang ada di beberapa titik di desa tersebut. Tujuannya agar tidak terjadi kerumunan di saat Lebaran.  

"Pilihannya sulit, pada sempit semua, tidak ada yang nyaman betul. Covid-19 itu kan penyakit yang belum tahu karakteristinya sepenuhnya. Sehinga tidak ada satu pendekatan tunggal yang dipercaya menyelesaikan persoalan," tandasnya.

Beban Nakes

Lebaran dan mudik, ibarat dua sisi keping mata koin yang tidak bisa terpisahkan. Momen hari raya yang juga menjadi momen pemudik untuk berwisata bersama keluarga di kampung halamannya tak selaras dengan upaya menghentikan pandemi. Mobilitas lokal berpotensi menjadi laku penyebaran virus. 

Maka dari itu, Ahli Emergency dari Balitbangkes Kementerian Kesehatan, Tri Maharani sangat mewanti-wanti. Jangan sampai program vaksinasi yang sudah berjalan dijadikan tameng bagi mereka. Ingat! Vaksin tidak menjadikan orang kebal akan virus corona. Apalagi, saat ini sudah banyak varian virus yang tak bisa diantisipasi oleh vaksin yang ada, seperti varian India, Inggris hingga varian dari Afrika.

Tri mengimbau, agar masyarakat yang berencana berlibur saat lebaran, benar-benar mematuhi protokol kesehatan dengan serius. Disarankan, bagi masyarakat yang berencana berwisata, hendaknya memilih tujuan wisata yang tidak ramai, serta menjalankan sejumlah strategi aman, semisal membawa bekal sendiri.

"Namanya Lebaran kita susah bilang jangan jalan-jalan. Nah, jadi enggak apa-apa jalan-jalan, habis itu pulang, mandi, keramas, ganti baju, jadinya bersih," ucapnya.

Tak hanya masyarakat awam, para tenaga kesehatan juga diharap benar-benar menjaga diri. Dia mengingatkan, jangan ada rumah sakit yang membiarkan tenaga kesehatan bekerja lebih dari jam normalnya, karena itu akan berisiko bagi keselamatan nakes itu sendiri.

"Untuk nakes, jangan buat Anda capek dengan situasi lebaran,” pesannya. (Andesta Herli, Dwi Herlambang)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA