Menyambung Asa Pengidap Skizofrenia | Validnews.id

Selamat

Sabtu, 27 November 2021

27 Oktober 2021|21:00 WIB

Menyambung Asa Pengidap Skizofrenia

Dari pengalamannya merawat kakaknya, Bagus Utomo mendirikan KPSI, sebagai wadah edukasi dan informasi seputar gangguan mental Skizofrenia

Penulis: Chatelia Noer Cholby,

Editor: Satrio Wicaksono

Menyambung Asa Pengidap SkizofreniaBagus Utomo, Pendiri KPSI. Sumber Foto: Youtube/Peduli Skizofrenia

JAKARTA – Suasana santai sore di ruang keluarga, seketika berubah menjadi kepanikan yang luar biasa. Jantung Bagus Utomo berdebar.

Kakaknya yang baru saja pulang dari mengajar, berlari masuk ke dalam rumah seperti orang ketakutan sambil berteriak-teriak histeris. Tanpa basa-basi dan berucap salam, sang kakak langsung menuju kamar dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.

Sambil menenangkan hati, Bagus seketika menggiring kelima adiknya masuk ke kamarnya masing-masing. Suara-suara teriakan semakin keras terdengar, membuat kondisi semakin riuh. Bagus bingung apa yang terjadi pada kakaknya.

Tak banyak yang bisa dilakukannya, selain duduk di kursi meja makan. Sementara sang ibu mencoba menenangkan, mengelus-elus dan memeluk abangnya. Satu jam hampir berlalu, sampai akhirnya kondisi sang kakak mulai bisa dikendalikan. Perlahan, kondisi rumah semakin tenang.

"Aneh. Karena sebelumnya enggak pernah ada kejadian seperti itu. Apalagi kakak saya ini termasuk orang yang humoris," kata Bagus saat bercerita kepada Validnews, Minggu (24/10).

Sayangnya, itu bukan terakhir kali sang kakak berulah. Di sore-sore berikutnya, sang kakak sering ‘kumat’. Emosinya naik-turun tidak terkontrol. Begitu seterusnya selama enam bulan. Sampai-sampai sang kakak harus pensiun dini dari profesinya sebagai guru di salah satu STM.

Bagus merasa kondisi rumahnya pada tahun 1995 itu seperti "neraka". Tak ada kenyamanan di tempat tinggalnya, akibat kegaduhan yang selalu dibuat kakaknya. Mungkin, siapapun tak akan betah untuk sekadar singgah sekalipun.

Medis dan Non-medis
Kian hari, kondisi saudara kandungnya itu semakin parah. Akhirnya, keluarga memutuskan untuk membawanya ke psikiater di salah satu rumah sakit kawasan Pondok Gede Raya, Jakarta Timur

"Kami sekeluarga saat itu hanya berpikir kalau kakak saya ini cuma stres. Bahkan psikiater juga enggak bilang apa-apa," ungkapnya, sambil menjelaskan, kala itu kakaknya hanya diberi obat yang harus dikonsumsi.

Waktu terus berjalan, namun tak ada perubahan berarti yang terjadi pada kakaknya. Ia dan keluarga pun hampir putus asa atas kondisi tersebut. Sempat terpikir, apa yang dialami kakaknya merupakan penyakit non-medis, seperti santet misalnya.

Saking bingungnya harus berbuat apa, keluarganya pun membawa laki-laki itu kepada ahli supranatural. Akan tetapi tetap saja nihil. Upaya untuk mendapatkan kesembuhan dengan berbagai cara belum juga membuahkan hasil, justru semakin parah. Padahal kocek yang dikeluarkannya pun tak sedikit.

Sebagai seorang pustakawan, Bagus kemudian berpikir, mengapa dirinya tidak mencari informasi tentang penyakit yang menyelimuti kakaknya di internet. Akhirnya dia menemukan sebuah artikel kesehatan yang ciri-cirinya mirip dengan apa yang diderita kakaknya saat itu.

Berangkat dari rasa penasarannya itu, Bagus mulai kembali mengingat gejala yang dialami sang kakak. Ia pun sampai pada kesimpulan, apa yang dialami kakaknya mirip dengan gejala skizofrenia yang ia temukan informasinya di internet.

Artikel-artikel itu diprint, dan dipelajarinya lebih dalam. Hingga dirinya yakin bahwa apa yang dialami kakaknya itu adalah gejala dari skizofrenia.

Lewat literasi yang ditemukannya, ia pun memiliki sebuah keyakinan, sang kakak dapat pulih kembali. "Jadi, bukan karena santet atau apapun. Ini memang benar-benar gangguan mental," jelasnya.

Ya, patut diingat, skizofrenia sendiri merupakan gangguan mental yang mengakibatkan seseorang punya halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap.

Rehabilitasi
Secercah harap pun muncul atas keyakinannya itu. Apa yang diyakininya itu pun diungkapkan kepada ibu dan adik-adiknya.

Meski begitu, keluarga Bagus tidak langsung memberikan penanganan dari ahli. Finansial menjadi salah satu penyebabnya. Saat itu, opsi yang bisa diambil hanya tetap merawat sang kakak di rumah dengan sekuat tenaga.

Satu bulan kemudian, Bagus memilih untuk menuangkan semua peristiwa yang dialaminya itu ke dalam sebuah blog. Dengan lancar, jemarinya mulai merangkai kata untuk menggambarkan situasi yang mewarnai kehidupannya selama ini.

Kurang lebih satu tahun setelah tulisannya tayang, ada nomor asing yang menghubungi ponselnya. Ternyata, seorang dokter kejiwaan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo meneleponnya. Dokter tersebut menghubungi setelah membaca blog milik Bagus.

Bagus berkisah, dokter itu tertarik untuk mengajak dirinya diskusi tentang apa yang dialami kakaknya. Sebab, tidak biasanya keluarga pasien penderita gangguan mental itu mau terbuka terhadap kondisi yang dialami.

"Ditambah lagi, kesehatan mental masih menjadi isu yang erat dengan stigma sosial di kalangan masyarakat pada saat itu," tuturnya.

"Saya pun mengiyakan ajakan beliau untuk bertemu. Ketika jam istirahat kantor, saya pun langsung pergi ke RSCM," sambung Bagus.

Dokter itu pun mengamini, apa yang diderita kakaknya adalah gejala-gejala dari skizofrenia. Lantas, diberikannya sebuah alamat panti rehabilitasi mental yang berada di daerah Ciganjur, Jakarta Selatan. Namun, lagi-lagi masalah biaya menjadi penghambat lamgkahnya.

"Waktu itu biaya kan mahal. Jadi, saya enggak bisa langsung bawa kakak saya kesana," ungkapnya.

Kembali lagi, Bagus dan keluarga harus berkutat dengan keseharian yang cukup menguras energi. Bertahun-tahun mereka harus bersabar menghadapi perilaku sang kakak.

Sebagai manusia, kesabarannya benar-benar diuji. Apalagi ketika ia menemukan ulah sang kakak, setelah ia lelah bekerja.

Hingga suatu saat, emosi kakaknya tak terbendung. Barang-barang di rumah mulai dihancurkan hingga dibakar.

Itulah yang kemudian membulatkan tekad Bagus untuk menyeretnya ke panti rehabilitasi mental. Dengan ambulans panti, sang kakak dijemput di kediaman mereka. Namun, tak semulus yang dibayangkan, sang kakak berontak. Ia mengamuk dan berteriak histeris saat dipaksa masuk ke mobil ambulans.

Tiga bulan keluarga harus merelakan sang kakak mendapatkan perawatan intensif. Buah manis pun menyertai upayanya. Kakaknya bisa pulang dengan keadaan yang jauh lebih sehat.

Ia bisa kembali berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga seperti sedia kala. Meski tetap harus mengonsumsi obat dan berkonsultasi secara rutin.

Mendirikan Komunitas
Berangkat dari pengalaman pribadinya tersebut, akhirnya Bagus mendirikan sebuah wadah yang diberi nama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI). Komunitas ini lahir sebagai tempat berbagai bagi para pengidap skizofrenia maupun keluarga pasien tersebut.

"Sebenarnya, tujuan dibentuk komunitas ini agar masyarakat lebih terbuka dengan isu kesehatan mental. Tidak seperti keluarga saya yang dahulu masih minim informasi," tuturnya.

Sebenarnya, proses pembentukan wadah ini sudah dimulai sejak tahun 2001. Lewat blog yang ditulisnya itulah, ia memulai semuanya. Pada tahun yang sama ia juga membuat sebuah grup mailing list untuk membahas kondisi-kondisi serupa.

Lewat grup berbasis email tersebut, ia mencoba membahas apa yang dirasakannya kala itu. Ternyata, tidak sedikit orang yang mengalami gejala tersebut di Indonesia.

Namun, masih banyak orang yang bungkam akan kondisi mental seperti itu. Lewat komunitas ini, Bagus ingin mereka tak sampai harus merasakan keputusasaan, seperti apa yang pernah ia alami. Perlahan, Bagus mencoba memberikan edukasi perihal gangguan skizofrenia ini.

Anggota grup kian bertambah, hingga akhirnya Bagus memindahkan grup tersebut ke media sosial Facebook pada tahun 2009. Lewat akun resmi Komunitas Peduli Skizofrenia tersebut, kini sudah memiliki sekitar 71 ribu anggota.

Bukan hanya sekadar sebagai wadah bertukar informasi, namun KPSI ini juga memberikan beberapa pelatihan bagi para pengidap skizofrenia. Mulai dari pelatihan kreativitas, seni, hingga ke arah wirausaha.

Salah satu pelatihan yang kerap dilakukan oleh komunitas ini adalah pembuatan lilin aroma terapi. Lewat pelatihan tersebut, para anggota dapat menghasilkan suatu karya yang bisa dijual. Dengan begitu, para pengidap Skizofrenia menjadi lebih produktif lewat kreativitas dan usaha tersebut.

"Kami membuat pelatihan memang yang arahnya bisa mendatangkan pendapatan buat pasien dan keluarganya," ungkapnya.

Dengan kegiatan pelatihan ini, para pengidap skizofrenia pun dapat mengontrol emosi yang dimilikinya, sehingga tingkat kecemasan maupun halusinasinya turun berkurang. Apalagi para anggota ini juga mendapat teman-teman baru yang dapat saling mendukung untuk dapat sembuh.

Tentunya, cara tersebut setidaknya dapat membuka peluang para pengidap untuk dapat kembali pulih. Bagus pun melihat, kini keterbukaan dan penerimaan terhadap skizofrenia ini mulai terbuka lebar. Bahkan, penyakit ini mulai populer dibicarakan oleh masyarakat.

Dengan hadirnya KPSI ini juga, Bagus dan teman-teman lainnya ingin meluaskan informasi terkait skizofrenia tersebut. Sebab, isu kesehatan jiwa ini bukan lagi masalah bagi pasien maupun keluarganya saja.

Isu ini menyangkut kepentingan kita semua. Pasalnya, sekalipun kita dan orang terdekat kita terlihat sehat, tanpa kita sadari, bisa saja memiliki gangguan kejiwaan, dengan beragam jenis dan level gangguan.

"Kita harus sadar, stop stigma, dan peduli terhadap kesehatan mental. Karena siapa saja bisa mengalami hal ini. Kepedulian kepada sesama juga perlu ditingkatkan agar masalah kesehatan jiwa bisa dideteksi sejak dini," pungkasnya. 

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER