Selamat

Selasa, 21 September 2021

25 Agustus 2021|21:00 WIB

Mengukir Prestasi Bersama Lesatan Longboard

Berawal dari patah hati, Jessica justru mencatatkan prestasi membanggakan yang bukan hanya untuk dirinya, tapi juga Indonesia

Penulis: Arief Tirtana,

Editor: Satrio Wicaksono

ImageJessica Putri Sibarani. Sumber foto: Instagram/@jprfsjessica

JAKARTA – Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Jessica Putri Sibarani memilih berolahraga, sebagai jurus penyembuh luka usai putus cinta. Paling tidak, kesibukan itu bisa mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang mantan kekasih.

Iseng-iseng dia jelajahi dunia maya, mencari pilihan jenis olahraga yang menarik untuk dipilih, meski di benaknya sudah menyimpan bayangan permainan longboard. Semacam skateboard, namun dengan papan yang sedikit lebih besar dan panjang.

Waktu itu, Jessica merasa menjajal longboard akan lebih mudah ketimbang harus belajar skateboard yang dipenuhi trik rumit, walau sama-sama dilakukan dengan berdiri di atas papan beroda.

"Agak terlalu telat buat belajar (skateboard), karena terlalu banyak trik dan mesti terbang-terbangan. Akhirnya aku nemuin longboard, yang kebetulan feel-nya lebih sama kaya surfing," tutur dara asal Sumatra Utara itu kepada Validnews, beberapa waktu lalu.

Akhirnya, Jessica memutuskan bergabung ke sebuah komunitas yang ada di Jakarta. Namanya, Longboard Girl Crew Indonesia (LGCI).  

Bermodal papan yang dipinjam dari sesama anggota komunitas, dia seolah tak terkendala dalam berlatih. Keterampilan dasar bisa cepat dikuasainya. Hingga akhirnya dia jatuh cinta pada kegiatan itu.

Bermula hanya ingin melupakan mantan kekasih, gadis itu lantas menambatkan hati ke permainan yang populer di Amerika Serikat sejak tahun 1940 tersebut.

"Akhirnya aku beli papan sendiri. Dari situ kalau ada lomba-lomba, aku ikut. Lama-lama keterusan," kenangnya.

Meluluhkan Sang Papa
Tak seperti skateboard yang lazim dimainkan di taman atau skatepark, hingga trotoar, para rider, sebutan peselancar longboard, butuh jalan raya beraspal sebagai arena meluncur. Itu pun masih harus ditambah syarat: jalanan mesti menurun curam, agar papan beroda dengan panjang sekitar 130 cm itu bisa melesat. 

Jelas saja, dengan jalur ekstrem itu potensi cedera niscaya dialami tiap pemainnya. Tak terkecuali dengan Jessica.

Lecet dan luka, jadi perkara biasa. Jessica pun enteng saja menerima risiko itu. Yang penting, dia puas dengan peningkatan kemahirannya waktu demi waktu. 

Namun, perasaan orang tuanya justru berkebalikan. Luka-luka akibat gesekan kulit Jessica dengan aspal, membuat mereka khawatir. Terutama sang Papa, yang saat itu berharap anak gadisnya mau mengganti aktivitas ke jenis yang lebih lazim.

"Kamu tuh perempuan, kenapa sih suka hal-hal yang buat kamu tidak terlihat kayak perempuan," tutur Jessica menirukan pertanyaan sang Papa.

Tak mudah buat Jessica untuk meyakinkan kedua orangtuanya. Butuh waktu tiga tahun sampai dia benar-benar direstui. 

"Akhirnya aku membuktikan pas ada event. Puji Tuhan, aku selalu menang. Dari situ sering diundang menjadi narasumber, masuk TV, main iklan. Dari situ Papa aku luluh juga," terangnya.

Capaian Prestasi
Tak butuh waktu lama buat Jessica untuk bisa disebut sebagai atlet longboard.

Dua tahun sejak pertama berselancar, wanita kelahiran 26 Februari 1988 itu sudah bisa tampil sebagai juara di berbagai kejuaraan longboard Tanah Air. Mulai dari gelaran lokal, hingga ajang besar yang dihadiri atlet-atlet mancanegara.

"Sebenarnya ikut lomba kayak latihan saja. Motivasinya seru-seruan. Supaya dapat papan baru, karena hadiahnya kebanyakan papan, kan!" kata Jessica.

Prestasi pertama Jessica, terukir pada tahun 2013, dalam Jakarta Street Bomb. Di perhelatan bergengsi itu, Jessica sukses meraih juara dua dari nomor slide

Pada tahun yang sama, dia juga berhasil membawa pulang gelar juara pertama di ajang, "Jangan Sampe Takut Halloween Party", dalam nomor atau kategori Slalom.

Sejak itu, prestasi perempuan yang juga bekerja sebagai freelance make up artis itu, terus melonjak. Di rentang 2013 hingga 2015, nyaris tiap tahun dia mampu menyabet dua gelar juara. 

Termasuk satu yang paling prestisius, yakni ketika dirinya mendapat juara satu Class Women Division di Longboard Festival 2014, yang berlangsung di kawasan perbukitan Talegong, Garut, Jawa Barat.

SEA Games 2019
Capaian-capaian gemilang kian membuat Jessica bersinar. Sangat wajar jika lima tahun setelah kemenangan di Garut, dia terpilih mewakili Indonesia dalam SEA Games 2019 di Filipina.

Jessica terkejut saat menerima penunjukan itu. Lantaran dalam beberapa tahun terakhir, dirinya vakum dari kegiatan longboard, karena kesibukan sebagai make up artis. Namun, dia tak kuasa menolak, seraya merasa tertantang untuk memenangi. 

Memang, bukan ajang longboard yang akan diterjuninya, melainkan Skateboard. Namun terdapat kategori Downhill Skateboard, yang secara teknis sama persis dengan aturan longboard. Pada kelas itulah kemudian Jessica membawa Panji Indonesia. Lagi pula, tahun 2019 itu, menjadi waktu yang istimewa, sebab untuk pertama kali, SEA Games resmi memasukkan cabang olahraga skateboard dalam perlombaan.

"Sebenarnya aku enggak nyangka bahwa aku bisa bawa nama negara. Ternyata mereka kaya udah cari tahu gitu, aku sudah pernah menang di mana saja, sempat ikut event apa saja," terang Jessica.

Jessica tak sempat menjalani seleksi akibat waktu persiapan SEA Games yang mepet. Namanya langsung ditunjuk bersama sejumlah atlet skateboard lain. Dia kemudian dikirim ke pusat latihan, serta sejumlah uji coba, antara lain yang berlangsung di Barcelona, Spanyol.

Meski gagal membawa pulang medali di SEA Games Filipina 2019, tapi Jessica berhasil menempati peringkat terbaik dalam kelas Conci Class, atau pertandingan antaratlet yang kalah di babak semifinal.

"Kalau di longboard (downhill skateboard) itu kan yang kalah (di semifinal) diadu lagi. Di kelas yang kalah itu, aku juara satu. Jadi kalau dari rangking (seluruh atlet kategori downhill skateboard) aku juara lima," terang Jessica.

Longboard di Indonesia
Meski pernah mewakili Indonesia di ajang internasional, namun Jessica masih ragu untuk menyebut dirinya atlet profesional.

Selain merasa belum benar-benar hidup seperti kelumrahan atlet, ketiadaan perhatian pemerintah terhadap longboard sebagai sebuah cabang olahraga, juga menjadi alasan lain.

Hingga kini, longboard masih dipandang sebelah mata. Hanya dilirik, saat dibutuhkan. Inilah yang terus diperjuangkan Jessica bersama komunitasnya, LGCI, serta pemerhati longboard lain di Indonesia. 

Yang paling baru, misalnya, sebuah proposal sudah mereka ajukan ke Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk mendapatkan dukungan pada gelaran pertandingan longboard yang akan berlangsung di Yogyakarta, September esok, dalam rangka Hari Olah Raga Nasional.

Apapun hasilnya nanti, entah bakal mendapat perhatian pemerintah atau tidak, Jessica merasa, longboard sudah menjadi olahraga menyatu dengan kesehariannya.

Dia bertekad tak akan berhenti memacu papan luncurnya hingga masa-masa mendatang.

"Waktu mulai (mengenal longboard) kan karena aku ngalamin putus cinta. (Jadi) kayak, ya sudah, kalau misalnya ada masalah sedikit, main longboard bisa menghilangkan masalahku," tukas Jessica.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA